Menuju Pendidikan 4.0

Artikel Pilihan di Kompasiana

Edu 4.0 – menurut opini saya.

Pertanyaan untuk rekan-rekan pendidik, sejujurnya, apakah yang ada di benak Bapak/Ibu mengenai pemahaman edu 4.0?

Sudahkah Bapak/Ibu Guru dijejali berbagai seminar tentang edu 4.0? Sudahkah dianjurkan (baca: dipaksa) memakai bermacam-macam alat bantu dengan teknologi dalam mengajar para siswa supaya berkesan sekolah sedang menuju edu 4.0? Sudahkah diajak (baca: dengan terpaksa) mengganti kurikulum yang (katanya) lebih bagus, bukan “teaching for the test”? (Padahal semua kurikulum ya sama saja sebenarnya, tergantung sejauh mana sekolah dan seluruh orang yang terlibat di dalamnya mampu mengadaptasinya).

Untuk membuat kita bisa introspeksi diri, mari kita lihat satu persatu rangkuman bagian-bagian edu dari 1.0 sampai 4.0.

Dimulainya Edu 1.0 dengan ditandai adanya bangunan-bangunan sekolah. Murid datang ke sekolah, duduk rapi dalam aturan tempat duduk dan pengajaran hanya satu arah, dari guru ke murid. Guru adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan di sekolah tersebut, dan tentu saja si guru didukung oleh buku-buku pelajaran, catatan-catatan, “handouts”, juga video-video yang mendukung sumber belajar tadi. Lingkupnya hanya terjadi di sekolah saja. (…..uuhhmm tunggu, masih adakah Bapak/Ibu guru yang hanya memiliki nuansa sekolah yang seperti ini? semoga tidak ya, karena kita sekarang sudah di tahun 2019, terlalu jauh jika masih di sini 🙂 ).

Lalu mari sekarang kita lihat Edu 2.0. Di era ini sudah mulai berkembang adanya berbagai metode pengajaran, tidak hanya dari guru ke murid, tetapi sudah terjadi antar murid saling belajar dan berbagi (Metode Jigsaw umpamanya). Hampir seluruh pembelajaran terjadi di dalam kelas dan sekolah, tetapi sudah dimulai dengan pembelajaran secara online. Sama seperti edu 1.0, di edu 2.0 guru- guru masih dipandang sebagai tenaga profesional, dan semakin memiliki lisensi profesional pendidik maka makin sah dan komplit sebagai pengajar siswa di sekolah. Waahh, bersertifikat pendidik secara profesional nih, berarti boleh dong kita makin rajin mengumpulkan berkas dan melaporkan kembali per tahun walaupun berulang dan dipersulit untuk kasus mutasi guru (pengalaman pribadi dan akhirnya tak melanjutkan urusan berkas apalagi tunjangan / baca: “bodo amat” – Red). tetapi yang penting tetap bersertifikat (sekaligus terima tunjangan 😉 ). Jadi Bapak/Ibu masih di era edu 2.0? Jrengg.. 😉

Berikutnya, Edu 3.0, dimulainya era pembelajaran secara kontekstual. Belajar hal-hal nyata yang bebas dan siap didapat dari berbagai sumber. Belajar antar guru, antar siswa, tak menutup peluang guru belajar dari siswa. Pengetahuan siswa bisa bertumbuh dari lingkungan sosial budaya mereka, dan melalui guru/pendidik memperluas apa yang para siswa itu ketahui sebagai dasarnya. Bukan mencekoki siswa dengan sendok “pengetahuan” tapi mendampingi dan memfasilitasi pelajaran dari proses konstruksi yang sudah ada sebagai dasar siswa tersebut.

Pelajaran ditingkatkan dengan penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari. Pemakaian platform LMS sudah melekat dalam proses belajar siswa. Integrasi penggunaan teknologi untuk menunjang proses belajar mengajar sudah menjadi menu sehari-hari bukan lagi kemewahan.

Sampai di sini, mari kita evaluasi diri sendiri dulu. Jika masih aktif terlibat dalam status sebagai guru di sekolah, ada di manakah kita? Sudah di Edu 3.0? Masih di edu 2.0? Semoga bukan di edu 1.0 🙂 .

Bagi beberapa orang, menuju edu 3.0 ini masih cukup keteteran. Belum mencoba memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu belajar. Masih “lecture style” dalam menyampaikan pelajaran. Masih merasa diri sebagai pusat informasi. Namun sebaliknya, ada juga yang terlalu percaya diri mengungkapkan bahwa sekarang ya artinya sudah berada di edu 4.0. Kan sudah buat ujian online? Artinya sudah super canggih dong. Pokoknya ujian tidak pakai kertas kan? Sayangnya, edu 4.0 tidak sesempit itu.

Semua ingin masuk era edu 4.0, karena sudah pasti yang paling mendukung Industri 4.0. Yakin? Benar? Tidak tersinggung kalau siswanya bilang “saya tak butuh belajar ini karena saya bisa cari sumbernya sendiri.” Atau “saya mau dites bagian ini tapi saya belum siap sekarang, minggu depan saja ya.” Siswa tidak butuh semua dipelajari dalam satu hari 8 jam pelajaran, 7 period, 5 blok, apapun penjadwalan sekolahnya. Bukan semua dijejali di satu kepala siswa, yang setelah dites melalui “standard based test” juga bisa langsung lupa.

Karena edu 4.0 sebagai pendidikan masa depan (yang dalam beberapa tempat, kenyataan masa depan ini sudah terjadi) yang akan benar-benar berubah dari sistem yang kita kenal saat ini.

Ekstrimnya, siswa bisa memilih sendiri apa yang ingin dipelajarinya, bahkan seperti “mendisain” sendiri kurikulum yang ingin dipakainya. Dan memilih mentornya sendiri. Luar biasa.

Jadi masih adakah sekolah? Sekolah sebagai lembaga mungkin masih ada, sekolah sebagai bangunan? Menurut saya sekolah sebagai bangunan seperti sekarang ini sih kemungkinan sudah tidak ada lagi, yang ada semacam “co-work space” untuk pilihan pelajaran yang ingin dipelajari sekelompok siswa saja, atau bahkan hanya membutuhkan ruang pertemuan online. Lalu bagaimana memperoleh ijasah atau sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan suatu jenjang pelajaran? Jika saat ini tiba, semua ujianpun akan dapat dilakukan secara online, sehingga, sertifikatpun akan didapatkan secara online pula.

Mungkin ada yang berpikir, eh sekarang juga sudah dong? Buktinya banyak bimbel online keren-keren. Lha iya, bimbel ada tapi sekolah masih saja dengan “cram” semua pelajaran dan tes bertubi-tubi. Lalu, eh sekarang juga ada “homeschooling”? Nah mungkin ini lebih mendekati era edu 4.0. Jadi jika sekarang sekolah masih mendominasi pendidikan, suatu ketika di masa depan dengan edu 4.0 ini, model seperti “homeschooling” akan lebih dominan, dan namanyapun saya rasa sudah berubah menjadi “learning space” (contohnya).

Walau sayapun masih meragukan “homeschooling” yang berbentuk bangunan seperti sekolah normal di Jakarta telah benar-benar menjalankan fungsinya, karena saya ingat di tahun 2013 lalu, salah satu mantan siswa saya memutuskan untuk meneruskan pendidikan SMA nya melalui homeschooling di suatu tempat di Jakarta Selatan. Namun yang terjadi, anak ini berangkat ke rumah sekolah itu tiap hari dan belajar pelajaran yang sama seperti di sekolah pada umumnya dengan jadwal pelajaran yang sama padatnya bahkan mewajibkan siswa mengambil pelajaran matematika yang sebenarnya merupakan mata pelajaran pilihan di kurikulum tersebut.  Jadi sedikit ragu juga menyamakan kenyataan homeschooling yang seperti itu dengan sekolah masa depan dari edu 4.0. Kita lihat saja nanti.

Lalu kemudian pikiran-pikiran saya membayangkan, di masa depan (yang mungkin sudah dimulai sekarang ini) terdengarlah percakapan antar siswa:

EDU 3.5: (versi sendiri – Red. Karena butuh proses dong sebelum 4.0 🙂 )

“Eh, belajar Geografi yuk, kita buat rute perjalanan keliling dunia kita dengan Google Tool Builder”. “Yuk, ketemuan di LS (Learning Space) kedai kopi “Kenangan Terindah” ya, kamu hubungi Ms. XXX untuk ikutan ajarin kita. pokoknya kita patungan biaya pelajaran 1 minggu. Sip” Sementara itu di kedai baso “Taman” berkumpul siswa-siswa yang sedang belajar Matematika untuk mengambil ujian online dari Cambridge di bulan November bersama guru Mr. YYY.

EDU 4.0:

“Saya ingin belajar dan mencari tahu mengapa mobil membutuhkan bahan bakar untuk bergerak. Jadi saya pikir saya harus belajar fisika, mekanik dan kinematik. Tapi saya juga perlu belajar berhitungnya, jadi rasanya butuh matematika”.

“Saya ingin menciptakan alat bantu membersihkan rumah saya sendiri. Jadi saya perlu belajar matematika, coding, robotik dan tentu saja fisika.”

“Saya ingin membuat aplikasi alat pembayaran di beberapa bisnis orang tua saya suatu hari nanti. Maka saya butuh belajar matematika, bahasa pemrograman, elektronika, strategi ekonomi pemasaran.”

*****

Sebagai Guru / Pendidik, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk masa depan itu? Banyak caranya. Tidak ada salahnya memulai dengan berani berubah. Mencoba beragam teknologi penunjang perubahan tadi termasuk tidak reaktif melihat siswa memegang telepon genggam di sekolah. Tidak juga langsung menuduh dan berkesimpulan siswa yang tidak menampilkan akademik baik sebagai pemalas saja. Belajar menempatkan diri di masa siswa kita sekarang, bukan meminta mereka belajar seperti jaman kita dahulu. 

“If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.” ― John Dewey

Smart Board – Masih “Smart” kah?

Kilas Balik

Teringat 21 tahun lalu, setelah sekitar 2 tahun memulai profesi guru, alat bantu presentasi di kelas adalah OHP projector. Dengan ruangan kelas sendiri, OHP menjadi alat mewah (bagi saya) untuk menemani mengajar.

Kepala Sekolah dulu memberikan apresiasi pada saat saya menjelaskan beberapa bagian geometri seperti membagi sebuah sudut menjadi dua bagian sama besar (garis bagi pada segitiga), menggambar lingkaran dalam dan luar sebuah segitiga, menggunakan jangka langsung pada plastik transparant di atas layar kaca OHP, sambil mengatakan “lho kok jadinya saya lebih ngerti sekarang ya, pasti lebih gampang nih bagi siswa mengikutinya”. Wah bangganya, aku “hi-tech” sekali 😉.

Pemakaian OHP berlanjut sampai sekitar 5-6 tahun berikutnya. Oh ya, OHP bukan jadi satu-satunya alat bantu di kelas ya, melainkan hanya salah satu saja dan pemakaian tergantung topik dan keadaan serta RPP.

 

 

 

 

 

 

Foto-foto di atas adalah contoh plastik presentasi dengan OHP Projector. Masih tersimpan rapi satu file yang ini. Ini plastik utama, saat penjelasan ditumpuk dengan plastik kosong untuk coretan langsung 😛. #nostalgia

Selanjutnya presentasi di kelas berkembang dengan penggunaan PPT. Beberapa orang (mungkin guru) mampu membuat PPT interaktif, namun tak sedikit pula guru yang curhat tidak adanya waktu untuk membuat PPT canggih seperti itu. Hehe urusan waktu bagi guru memang sudah melegenda, kurang selalu apalagi jika guru dihantui berlebihan seputar pekerjaan kelengkapan administrasi dan menjadi EO acara sekolah (yang guru pasti paham benar soal EO ini 😁).

Namun saat itu, belum ada sarana komputer permanen di dalam kelas, jadilah sering meminjam lab komputer untuk memindahkan kelas ke sana, demi bisa presentasi PPT. PPT nya pun dilengkapi dengan suara, agar memudahkan siswa mengerti secara individual. Jadilah rekam-rekaman suara untuk dimasukkan ke dalam PPT, dan waktu itu dilakukan di rumah di saat anak saya masih balita. Setiap mau rekam suara, si balita diminta keluar rumah dulu karena dia pasti dengan lucunya selalu ikut-ikutan.

Papan Tulis Pintar

Bertahun-tahun setelah itu, di tahun 2008, akhirnya masuklah komputer (tabung) ke dalam kelas beserta jaringan internet dan projector, maka semakin mudahlah menggunakan alat bantu PPT maupun menunjukan video atau gambar-gambar dari web tertentu.

Namun seperti pernah saya ceritakan di tulisan-tulisan terdahulu, bahwa kekuatan PPT saya bukanlah terletak pada daya tarik tampilannya saja, warna-warni, blink-blink, namun lebih kepada memanfaatkan fungsinya sebagai papan tulis pintar. Sentuhan tulisan tangan (bantuan wacom pad dan pen nya) pada beberapa bagian penjelasan yang sudah diletakkan terlebih dahulu di PPT, menurut saya menambah kekuatan guru untuk tetap terlibat langsung sewaktu menjelaskan di depan siswa. Dengan posisi tubuh tetap menghadap siswa (tidak perlu membelakangi karena tidak menulis di papan tulis biasa lagi), interaksi berjalan lebih lancar. Dan saya selalu katakan bahwa itulah papan tulis pintar saya. “My Smart Board – interactive whiteboard”. Lihat artikel di sini.

Lalu sayapun memimpikan memakai smart board yang sesungguhnya. Namun sayang, tidak pernah kesampaian. Beberapa sekolah menyiapkan smart board di ruangan khusus, tetapi karena hanya satu jadilah eksklusif dan hanya dapat diakses oleh guru tertentu yang dianggap berhubungan erat dengan kemampuan smart board, guru ilmu sosial dan guru bahasa. Anggapan ini menurut pihak sekolah lho ya. Guru matematika tidak dapat akses? Mengapa? Ya karena matematika adalah berhitung, mengajarkan berhitung kok pakai smart board? Sedih deh guru matematika ini 🙁. Haha

Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, saya mendapatkan sebuah tablet, IPad beserta apple tv nya. Mula-mula hanya digunakan jika butuh saja untuk melihat video. Namun semenjak tahun 2014, kedua  alat tersebut tidak pernah lepas  dari kehidupan mengajar saya. Masih butuhkah saya dengan smart board yang sebenarnya? Hmm rasanya sudah tidak tertarik lagi, IPad membawa saya untuk berekplorasi semudah menggunakan smart board asli. Untuk presentasi, disertai tulisan tangan, menjadikan dua layar untuk menampilkan grafik matematika di sisi sebelahnya, atau live browsing, semua sangat mudah dilakukan.

Walaupun masih ada kesan “teacher-centered”, interaktif smart board bisa digantikan dengan penggunaan 1:1 device di kelas (bisa laptop, tablet/IPad, smartphone), melalui aplikasi software kolaborasi. Kebetulan di sekolah saya yang sekarang, dimana dikondisikan BYOD (Bring Your Own Device), 90% nya menggunakan produk Apple, jadi jika dibutuhkan, transfer file semudah “airdrop”. Sama atau beda produkpun, tetap bisa berkolaborasi melalui google apps, onenote class notebook, ataupun berbagai apps yang lain. Dan semua siswa dapat bekerja di halaman kerja yang sama.

Contoh foto di atas menggambarkan suasana di kelas pada saat belajar Persamaan dan Fungsi Kuadrat kelas 9, dengan aktivitas kegiatan menggunakan software Student Desmos Activity, yang langsung dapat dipantau oleh guru secara online langkah kerja mereka. Sesaat saya iseng menyebut “say cheese” dan mata mereka spontan melihat layar 😊.

Contoh video di atas adalah sewaktu pembelajaran revisi menjelang ujian. Siswa berkelompok, satu kelompok bertugas mengumpulkan soal dan menyajikan secara online kemudian menjawab soal dari kelompok lain, dan sebaliknya.

Link berikut ini, juga merupakan contoh bagaimana saya menerapkan penggunaan IPad sebagai papan tulis pintar saya. Silahkan klik di sini.

Jadi, sekolah yang masih menganggap investasi melalui satu atau dua buah smart board mungkin sudah tidak tepat lagi. Selain menghabiskan uang dalam jumlah besar, termasuk sekolah harus menyiapkan pelatihan dan distribusi informasi untuk memastikan guru-gurunya pun  mampu mengoperasikan si smart board, kadang penggunaannya pun tidak maksimal, tidak semua guru akan mendapatkan pengalaman mengajar maupun siswa mendapatkan pengalaman belajar. Kecuali sekolah yang sanggup menyediakan di setiap ruang kelasnya, maka akan lain ceritanya. Di beberapa sekolah dengan sumber siswa dari orang tua yang cukup secara ekonomi, strategi BYOD bisa menjadi solusi terbaik untuk membangun sistem belajar kolaborasi, tidak melulu terpusat hanya pada guru saja. Device pun beragam variasinya, beragam pula harganya, jadi penggunaan device di era ini bukanlah lagi menjadi eksklusif atau sekolah kaya atau siswa kaya, melainkan sudah jamannya.  Mengaku miskin tapi tetap pakai smartphone untuk chatting atau bermain sosial media terus menerusNah mending untuk belajar kan.

Selamat Belajar!

Serba Serbi (Dagelan) Sidang MK – Terkait Pendidikan

Kali ini saya mau mengangkat tema seputar sidang MK. Politik sedikit deh, tapi pasti bukan mau “politicking” 😁.

Mengapa saya kaitkan dengan menyebut pendidikan? Karena saya  merasa bahwa ini masih berhubungan dengan pendidikan di negara ini, setidaknya pendidikan politik pada khususnya dan pendidikan pada umumnya.

Bicara panjang pendek tentang meningkatkan pendidikan melalui berbagai seminar semisal berjudul “transformasi pendidikan menuju  era Industry 4.0”, meributkan penempatan siswa baru, mendiskusikan kurikulum yang tepat, dan banyak lainnya. Namun dalam 5 hari ini kita disuguhkan suasana ruang sidang penuh “dagelan” dan keanehan (kalau tak enak disebut sebagai kebodohan) oleh para pemangku jabatan, para saksi (konon ahli), penasehat hukum, sekaligus media. Judulnya keren sidang sengketa pilpres namun isinya begitulah.

Belum lagi penasehat hukum yang sensasional bercerita saat menuju gedung MK melewati kawat berduri, demi apa? Entah. Lalu salah satu tim BPN yang selalu mengomentari jalannya sidang melalui cuitan akun twitternya dan selalu tendensius. Ini orang konon S3. Ada pula orang yang pernah sesumbar di media bahwa dirinya tidak akan memilih Jokowi sebagai Presiden namun pada sidang sengketa ini menjadi ketua tim hukum paslon 1.

Yang seperti inikah yang ingin dipertontonkan kepada khalayak, kepada dunia, kepada generasi muda? Di manakah nilai pendidikannya?

Ingat 5 tahun yang lalu sewaktu MK masih dipimpin oleh Hamdan Zoelva? Ada saksi ibu-ibu dari paslon Prabowo-Hatta, Novella, yang “nge-gas” sewaktu ditanya para hakim tapi ujungnya ya tidak kompeten, yang penting lucu dan mencairkan suasana. Dagelan juga kan.

Dan hal yang sama diulang lagi 5 tahun kemudian? Apakah ini akan menjadi momen 5 tahunan dan pendidikan politik bagi generasi muda bangsa ini bahwa sekali capres abadi tetap abadi, atau apa?

Salah satu keuntungan menjadi guru adalah mendapat hari libur minggu-minggu ini. Jadi bisa menonton siaran langsung sidang MK, sidang sengketa pilpres 2019. Tentulah tidak menonton terus menerus, tidak ada juga yang sanggup menonton siaran “dagelan” tanpa henti. Dari lucu sampai bisa mual.

Dari beberapa cuplikan yang tertangkap oleh saya antara lain:

1. Saksi IT dari paslon 02, Agus Maksum, tidak dapat membuktikan 17,5 juta DPT fiktif di dalam sidang, “…kalau begitu, saya minta maaf, saya tidak dapat membuktikan…”. Lha? Dagelan 1.

2. Saksi dari paslon 02, Idham Amiruddin, hadir untuk memberikan kesaksian terkait penemuam DPT invalid. Dalam rangka tanya jawab, sedikit memanas antara termohon KPU dan para hakim, tiba-tiba meringis dan minta ijin ke toilet. Dagelan 2.

3. Masih saksi yang sama, mengaku tinggal di desa / kampung, dicecar hakim  bahwa DPT yang diketahui hanya dari kampung yang bersangkutan kan, mengapa bawa-bawa se Indonesia? Nah sebagai pengacara paslon 02, Bambang Widjoyanto membela Idham dan mengatakan sebagai orang kampung tetap bisa melihat dunia luar, jangan meremehkan orang kampung. Dan jrengggg Hakim Arief Hidayat langsung membuka ancaman agar Bambang stop bicara kalau tidak silahkan keluar ruang sidang. Pak Bambang gak nyambung. Dagelan 3.

4. Pada saat Teuku Nasrullah, salah satu tim hukum paslon 2 yang pernah terkena kasus pelecehan seksual (dagelan 4) ingin bertanya kepada saksi Hermansyah, saksi tentang kelemahan dalam sistem Situng KPU, hakim Arief berseloroh melarang Hermansyah menengok ke Nasrullah melainkan tetap pandangan ke hakim dan layar besar, sambil berucap “Pak Nasrullah kelihatan lebih besar dan lebih cakep daripada aslinya….”. Dagelan 5.

5. Sidang hari Rabu berlangsung sampai hari kamis subuh jam 5 pagi. Entahlah, menurut saya bersidang melewati tengah malam sampai subuh apakah efektif? Dagelan 6.

5. Saat awal pihak kuasa hukum paslon 2 mengajukan ke MK tanggal 24 Mei 2019 lalu dilakukan menjelang batas waktu yaitu tengah malam. Mengapa musti menunggu tengah malam? Di saat orang-orang pun sudah lelah dan jam kerja pun sudah lama lewat? Dagelan 7.

6. Saksi paslon 02, Beti Kristiana, memberikan kesaksian tentang jalan tempuh tak beraspal dari Teras ke Juwangi selama 3 jam, padahal kenyataannya jarak 50 km tersebut ditempuh hanya cukup 1 jam 15 menit dengan kondisi semua beraspal. Lalu saksi Beti pun bisa menjawab “saya tidak bisa menjawab” sewaktu ditanya oleh hakim, padalah saksi sudah di bawah sumpah untuk memberikan keterangan terkait statusnya sebagai saksi di persidangan ini. Dagelan 8.

7. Menanggapi saksi Beti di atas, salah satu tim BPN, Dahnil Anzar, mengeluarkan pernyataan melalui akun twitter nya bahwa pihak KPU terlihat ragu menanggapi kesaksian Ibu Juwangi, yang menempuh medan berat dan jalan kaki selama 3 jam hanya untuk memastikan suara paslon 02 tidak dicurangi dan memastikan demokrasi yang jujur dan adil sebagai bentuk militansi. Hello Dahnil, Juwangi itu nama daerah, ibunya bernama Beti. Dagelan 9.

Dan, tetap masih banyak dagelan-dagelan lainnya. Namun sudahlah cukup dituliskan segini saja. Toh ini catatan pribadi 😁. Merasa kasihan dengan anak-anak muda yang bersemangat belajar banyak hal, melihat kejadian sidang ini mendapati kok orang-orang yang “katanya pintar” cuma begini saja. Kok para saksi yang seharusnya berperan sebagai saksi, ujung-ujungnya terlihat dari jejak digital merupakan tim pemenangan (penggembira) salah satu paslon? Masih banyaklah kok kok yang lain.

Mengakhiri tulisan ini, apakah sidang ini benar-benar serius sebuah sidang MK? Saya menjadi sepakat dengan pendapat bahwa dengan kekalahan di sidang ini, pihak 02 bisa menunjukan (pura-pura) berbesar hati menerima putusan hukum. Daripada mengaku kalah setelah hasil resmi pemilu, kan lebih bergengsi jika kalah demi hukum, “kami taat hukum” jargon yang ingin dibawa. Seperti kata SBY lalu yang mengapresiasi keputusan Prabowo untuk ke MK, mungkin maksudnya daripada hanya perayaan kemenangan dan sujud syukur beberapa kali di Kertanegara. Ke MK akan menyisakan sejarah bahwa Prabowo adalah orang yang taat hukum dan menjunjung konstitusi. Dagelan 10 (eh sudah-sudah, kok hitung dagelan lagi 😛).

Catatan:

Jumlah dagelan mungkin akan ditambah, mengingat tulisan ini hanya berdasarkan beberapa kejadian di sidang ke 2-4. Hari ini sidang ke-5, dan belum melihat TV jalannya sidang lagi 😁

Tambahan: (3 hari kemudian)

Sidang sudah berakhir sampai sidang ke-5. Hasil keputusan masih tunggu beberapa waktu lagi. Dan setelah sidang ada foto berikut ini. Saya senang lihat fotonya, seperti sekelompok peserta retreat yang saling bersaudara, duduk santai selonjoran di lantai. Ataupun seperti para peserta training google educator yang penuh inspirasi dan ingin maju. Saya rasa semua senang ya. 🤗🤗

Setelah senang lihat foto, langsung berpikir, bisa toh foto dengan pose seperti ini. Lalu MENGAPA HARUS SIDANG? Mengapa harus ada saksi-saksi “dagelan” di dalam sidang? Mengapa harus ada emosi- emosi yang ditunjukkan? Mengapa jadi semakin menunjukkan sebuah hiburan / tontonan yang tidak mndidik sama sekali? Berapa biaya untuk penyelenggaraan sidang ini? Akhirnya benarlah bahwa semua itu seperti panggung sandiwara dan sandiwara ini berjenis dagelan.

 

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake