Gubernur Baru – Presiden Baru

image

*foto dari web  tablet.jaringnews.com

Dapat satu, puji Tuhan…… Dapat dua puji dan syukur pada Tuhan. Kira – kira gambaran seperti itu yang ada di benak saya sewaktu kemaren sore mendengar kabar bahwa calon nomor 1 mengundurkan diri dari pilpres.

Mengundurkan diri di hari yang sama hanya berbeda beberapa jam dengan hari pengumuman resmi siapa pemenangnya sih sebenarnya cocok dengan definisi pengecut. Entahlah, misi politis apa di balik ini semua. Nanti saja bahas bagian yang ini. Punya keseruan tersendiri 🙂

Sorak sorai (mungkin di beberapa tempat) menyambut kemenangan nomor 2. Selamat kepada Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla, atas terpilihnya menjadi Presiden RI ke tujuh untuk masa lima tahun ke depan.

Yang lebih menarik seperti saya sebut di atas adalah, kita dapat dua sekaligus. Pak Jokowi menjadi Presiden dan Pak Ahok menjadi Gubernur. Entah mengapa, saya memang senang melihat kombinasi mereka berdua. Dari semasa kampanye untuk posisi Gubernur dan Wagub Jakarta, sampai telah menjadi pemimpin Jakarta, sampai Jokowi dicalonkan (juga mencalonkan dirinya) menjadi Presiden, sampai Ahok menjadi Plt…. Rasanya memang asiiikk saya suka mereka.

Per hari ini, Jokowi kembali dulu menjadi Gubernur sampai nanti pelantikan resminya. Ahok pun kembali bersiap lagi menjadi orang nomor satu Jakarta. Mereka berdua akan menjalankan visi dan misi mereka kembali membangun Jakarta.

Mereka berdua di beberapa kesempatan sering melontarkan ucapan bahwa jika ingin membangun negara ini maka mulailah membenahi Jakarta karena Jakarta sebagai ibukota negara. “Kalau pak Jokowi jadi Presiden kan enak saya kalau apa apa tentang peraturan bisa langsung seirama dengan negara, kita sudah saling tahu….” Kira-kira itu lontaran Ahok saat menjawab pertanyaan Najwa Shihab tentang pendapatnya mengenai pencalonan Jokowi sebagai Presiden di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu (bayangkan ucapan tersebut dengan dialek dan gaya bicara Ahok ya 🙂 ).

Awalnya berpasangan dan kini mereka akan terpisah. Sedih juga sih kita rakyatnya (saya sih maksudnya) hehe… Tapi “life must go on”. Jokowi orang yang paling tepat saat ini berdiri di garda terdepan negara ini. Dan Ahok di ibukota. Kerjasama mereka patut berlanjut sampai pemerintahan masing masing berakhir. Bagaimana Jakarta mau menerapkan disiplin kalau pemerintahnya membuang badan mengatakan “itu urusan Jakarta” , wah repot kan, kemana logikanya (sedikit menguak yang pernah terjadi sewaktu Jokowi – Sby berseberangan masalah kebijakan, kemacetan, musibah banjir, seperti kutipan dari detik.com berikut).

Walau sampai detik ini masih terus muncul pertentangan akan kemampuan Jokowi sebagai Presiden, bagi saya Jokowi tetap harus mendapat kesempatan menyesuaikan diri terhadap tugas yang akan jauh lebih besar dari biasanya.  Apapun itu Jokowi telah membuktikan dengan tindakannya terhadap Jakarta. Beberapa sungai atau kali yang selama ini tidak pernah kita lihat rapi, dua tahun ini jauh lebih rapi. Waduk pluit, dari kumuh segitunya menjadi seperti sekarang. Banyak lembaga yang sudah mendapat “peringatan” , Lurah / Camat / Walikota “nakal” dicopot. Jokowi punya sosok kepribadian yang dapat membuat orang tunduk dan patuh dalam arti positif. Sebuah revolusi mental yang benar benar menjadi sebuah revolusi atas apa yang selama ini penuh dengan tipu intrik dan kepentingan sendiri. Semoga.

Demikian juga Ahok, yang tegas, serius tapi santai. Terbukti banyak orang membencinya dan  menolak beliau menjadi Gubernur. Tetapi, yuk mari “fair”, begitu banyak pula orang yang kagum dengan beliau, yang ingin beliau memimpin bangsa ini melalui ibukota, yang menyadari beliau seorang pemimpin Islami yang tidak perlu ber KTP Islam.

Ahok dan Jokowi yang tidak pernah menutupi kekayaan pribadi mereka. Mereka jelas bukan sekaya para konglomerat, tetapi mereka juga bukan orang tak mampu. Janganlah ada orang yang sok sok memuji Jokowi dengan mengatakan beliau rakyat miskin anak petani. Bukankah model itu sudah klise ? Sudah lewat OrBa nya. Jokowi adalah pengusaha mebel, jelas itu, tidak perlu dimiskin miskinkan  atau orang yang ingin ambil keuntungan dari beliau dibilang miskin. Jokowi orang mampu, tetapi beliau rendah hati dan sangat bijaksana menempatkan diri dimanapun beliau berada.

Mereka berdua lebih “real” dan semoga harapan inilah yang mampu menjadikan Indonesia (berikut Jakartanya sebagai ibukota) lebih baik, maju, dan bangsanya memiliki mental yang sehat dan baik.

Semua sehat….

Semua bahagia…..

Semua damai…..

Semua teratur dan mau diatur…….

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *