Kawan atau Lawan?

image

Pengantar

Siapa lawanmu? Siapa kawanmu? Seringkah pertanyaan itu dilontarkan kepadamu? Pepatah bijak seringkali mengatakan bahwa janganlah mengoleksi lawan tapi perbanyaklah kawan. Karena sudah bijak, saya tidak ingin memprotesnya, ataupun mengatakan tidak setuju. Sepakatkah untuk manusia normal ingin memiliki sejumlah kawan dari pada lawan?

Manusia menurut definisi sebagai serupa dengan Tuhan hakikatnya menjauhkan diri dari lawan dan membentuk komunitas kawan yang positif dan saling membangun. Ideal sekali, bukan? Kalau kondisi demikian ideal, saya rasa tidak ada kejahatan di dunia ini, semua manusia kembali kepada kodratnya ingin membentuk komunitas yang baik sebagai mahluk sosial. Tetapi mengapa kenyataan yang kita hadapi nyaris bertolak belakang?

Jikalau kamu ditanya, Palestina itu kawan atau lawanmu? Israel itu kawan atau lawanmu? Apa jawabmu? Serupa dengan pertanyaan Partai mana yang kamu usung? Dia kawanmu?

Apakah kawanmu selalu baik dan berpihak padamu dan lawanmu selalu berkebalikannya?

Bisakah kita tidak memiliki keduanya? Tidak perlu memiliki lawan, kita tidak perlu mencari perimbangan dengan mengorbankan orang lain, atau bertanding hanya untuk kepuasan sendiri. Tidak perlu juga berkata kawan jika mengenal dengan baik saja tidak, melakukan suatu hal bersama juga tidak pernah, hanya demi mengesankan kehidupan sosial yang baik berkata “dia kawan saya, kamu sahabat saya”.

Definisi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, lawan sebagai kata benda berarti imbangan, tandingan, bandingan. Sementara kawan berarti orang yg sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu (contoh bermain, belajar, bekerja).

Contoh mana kawan dan mana lawan

Dari definisi itu, siapa yang suka salah kaprah seperti berikut ini? Rekan kerja sering jadi dianggap lawan padahal kerjaan kita misalkan bagian marketing dan dia bagian finance, tidak imbang. Teman dari kelas lain dianggap lawan padahal jelas tidak imbang karena teman itu kelas 7 dan kita kelas 9. Sesama guru atau guru dengan kepsek seolah saling saingan menunjukkan kepiawaian menjalankan metoda pengajaran, padahal ya tidak imbang, kita guru, dia kepsek, kita guru biologi, dia guru seni musik.

Betul sekali tidak sesimpel itu, ada banyak hal dan faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir seseorang memperlakukan orang lain sebagai kawan atau lawan.

Rekan belajarmu seyogyanya adalah kawanmu. Bila rekanmu ini kemudian hanya memanfaatkan dirimu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sekolah kalian dan tanpa usahanya sendiri tetapi kalian selalu mendapatkan nilai sekolah yang sama, maka rekan ini telah berubah definisi dari kawan menjadi lawan (karena dia menganggap pekerjaan sekolah tersebut mempunyai imbangan, untung rugi, untung jika nilai kalian sama terus dan rugi jika nilainya kalah dengan nilaimu).

Tetanggamu adalah kawanmu karena kalian bersama-sama berhubungan misalnya dalam Rukun Tetangga yang sama atau anggota suatu rumah ibadah yang sama dan mungkin telah lama pula kita kenal. Tapi, secepat itu pula bisa langsung berbalik menjadi lawan jika sang tetanggamu selalu membandingkan rumput halaman rumahmu kok lebih hijau dibandingkan dengan dengan rumput halaman rumahnya (kata “bandingan” tadi sudah menjadi indikasi tetanggamu menjadikanmu lawan). Hmm atau kamu yang menjadikan tetanggamu itu dari kawan menjadi lawan? 🙂

Dalam Pemilu Presiden kemaren, capres 1 dan capres 2 saling menjadi lawan. Berdasarkan definisi, tentu benar, karena mereka sedang bertanding meraih simpati rakyat untuk memberikan suaranya dan suara terbanyak adalah pemenang. Harusnya telah selesai posisi saling menjadi lawan setelah hasil suara akhir KPU menyatakan capres 2 unggul dalam perolehan suara, tetapi seperti kita ketahui, pihak capres 1 masih saja bersikap menjadi lawan……

Bukan kawan apalagi lawan

Pimpinanmu di kantor terlihat sangat dekat denganmu dan selalu menyebut namamu di depan rekan kerja yang lain. Gembiralah, itu pujian untukmu. Tetapi, lihat apa kelanjutannya, jika hari demi hari hanya itu yang terlontar plus berbumbu dengan bualan kamu adalah sahabatnya yang baik, pakai namamu untuk menegur sesama rekan kerjamu, bahkan kamu sebenarnya tidak pernah di”appraisal” dengan baik, pimpinanmu bukan kawan, dia sedang memakaimu sebagai perimbangan dirinya agar terkesan bos yang baik. Dan mungkin saja rekan kerjamu memberi label lawan pada dirimu karena kamu dianggap tidak bersama-sama dalam tim kerja dan juga karena pekerjaan mereka selalu dibandingkan denganmu oleh pimpinan tadi.

Lalu apakah pimpinan yang demikian adalah lawanmu? Bukan juga. Anggaplah dia tetap sebagai pimpinanmu di tempat kerja.

Israel lawanmu? Kamu sedang mengalami perimbangan apa dengan mereka? Tidak ada? Berarti bukan lawanmu. Lalu menjadi kawanmu? Kamu kenal dengan mereka, pernah berhubungan dengan mereka? Tidak pernah? Berarti bukan kawanmu.

Pertanyaan yang sama untuk Palestina. Jangan-jangan Palestina adalah sebuah suku bangsa saja kita tidak paham. Bahwa Palestina bukan Muslim atau Kristen, kita juga tidak tahu sebelumnya.

Menurut hemat saya, bagi yang mengusung atas nama membela satu pihak karena alasan agama yang sama adalah tidak masuk akal.

Kemanusiaan, mengasihi sesama manusia, mahluk yang sama diciptakan oleh Tuhan, itulah gambaran yang paling tepat menaruh hati saya untuk menyikapi permasalahan mereka. Bukan sok pro sebagai kawan atau lawan.

Jadi siapkah mengatakan, kamu bukan lawan saya, kamupun bukan kawan saya. Kamu dan saya memiliki relasi yang tidak memerlukan kita melakukan sesuatu secara bersama sama. Kita adalah sesama mahluk sosial yang memang hakikatnya harus berinteraksi karena Tuhan telah menciptakan begitu banyak ragam manusia seperti sejumlah bintang di langit 🙂

 

Gubernur Baru – Presiden Baru

image

*foto dari web  tablet.jaringnews.com

Dapat satu, puji Tuhan…… Dapat dua puji dan syukur pada Tuhan. Kira – kira gambaran seperti itu yang ada di benak saya sewaktu kemaren sore mendengar kabar bahwa calon nomor 1 mengundurkan diri dari pilpres.

Mengundurkan diri di hari yang sama hanya berbeda beberapa jam dengan hari pengumuman resmi siapa pemenangnya sih sebenarnya cocok dengan definisi pengecut. Entahlah, misi politis apa di balik ini semua. Nanti saja bahas bagian yang ini. Punya keseruan tersendiri 🙂

Sorak sorai (mungkin di beberapa tempat) menyambut kemenangan nomor 2. Selamat kepada Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla, atas terpilihnya menjadi Presiden RI ke tujuh untuk masa lima tahun ke depan.

Yang lebih menarik seperti saya sebut di atas adalah, kita dapat dua sekaligus. Pak Jokowi menjadi Presiden dan Pak Ahok menjadi Gubernur. Entah mengapa, saya memang senang melihat kombinasi mereka berdua. Dari semasa kampanye untuk posisi Gubernur dan Wagub Jakarta, sampai telah menjadi pemimpin Jakarta, sampai Jokowi dicalonkan (juga mencalonkan dirinya) menjadi Presiden, sampai Ahok menjadi Plt…. Rasanya memang asiiikk saya suka mereka.

Per hari ini, Jokowi kembali dulu menjadi Gubernur sampai nanti pelantikan resminya. Ahok pun kembali bersiap lagi menjadi orang nomor satu Jakarta. Mereka berdua akan menjalankan visi dan misi mereka kembali membangun Jakarta.

Mereka berdua di beberapa kesempatan sering melontarkan ucapan bahwa jika ingin membangun negara ini maka mulailah membenahi Jakarta karena Jakarta sebagai ibukota negara. “Kalau pak Jokowi jadi Presiden kan enak saya kalau apa apa tentang peraturan bisa langsung seirama dengan negara, kita sudah saling tahu….” Kira-kira itu lontaran Ahok saat menjawab pertanyaan Najwa Shihab tentang pendapatnya mengenai pencalonan Jokowi sebagai Presiden di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu (bayangkan ucapan tersebut dengan dialek dan gaya bicara Ahok ya 🙂 ).

Awalnya berpasangan dan kini mereka akan terpisah. Sedih juga sih kita rakyatnya (saya sih maksudnya) hehe… Tapi “life must go on”. Jokowi orang yang paling tepat saat ini berdiri di garda terdepan negara ini. Dan Ahok di ibukota. Kerjasama mereka patut berlanjut sampai pemerintahan masing masing berakhir. Bagaimana Jakarta mau menerapkan disiplin kalau pemerintahnya membuang badan mengatakan “itu urusan Jakarta” , wah repot kan, kemana logikanya (sedikit menguak yang pernah terjadi sewaktu Jokowi – Sby berseberangan masalah kebijakan, kemacetan, musibah banjir, seperti kutipan dari detik.com berikut).

Walau sampai detik ini masih terus muncul pertentangan akan kemampuan Jokowi sebagai Presiden, bagi saya Jokowi tetap harus mendapat kesempatan menyesuaikan diri terhadap tugas yang akan jauh lebih besar dari biasanya.  Apapun itu Jokowi telah membuktikan dengan tindakannya terhadap Jakarta. Beberapa sungai atau kali yang selama ini tidak pernah kita lihat rapi, dua tahun ini jauh lebih rapi. Waduk pluit, dari kumuh segitunya menjadi seperti sekarang. Banyak lembaga yang sudah mendapat “peringatan” , Lurah / Camat / Walikota “nakal” dicopot. Jokowi punya sosok kepribadian yang dapat membuat orang tunduk dan patuh dalam arti positif. Sebuah revolusi mental yang benar benar menjadi sebuah revolusi atas apa yang selama ini penuh dengan tipu intrik dan kepentingan sendiri. Semoga.

Demikian juga Ahok, yang tegas, serius tapi santai. Terbukti banyak orang membencinya dan  menolak beliau menjadi Gubernur. Tetapi, yuk mari “fair”, begitu banyak pula orang yang kagum dengan beliau, yang ingin beliau memimpin bangsa ini melalui ibukota, yang menyadari beliau seorang pemimpin Islami yang tidak perlu ber KTP Islam.

Ahok dan Jokowi yang tidak pernah menutupi kekayaan pribadi mereka. Mereka jelas bukan sekaya para konglomerat, tetapi mereka juga bukan orang tak mampu. Janganlah ada orang yang sok sok memuji Jokowi dengan mengatakan beliau rakyat miskin anak petani. Bukankah model itu sudah klise ? Sudah lewat OrBa nya. Jokowi adalah pengusaha mebel, jelas itu, tidak perlu dimiskin miskinkan  atau orang yang ingin ambil keuntungan dari beliau dibilang miskin. Jokowi orang mampu, tetapi beliau rendah hati dan sangat bijaksana menempatkan diri dimanapun beliau berada.

Mereka berdua lebih “real” dan semoga harapan inilah yang mampu menjadikan Indonesia (berikut Jakartanya sebagai ibukota) lebih baik, maju, dan bangsanya memiliki mental yang sehat dan baik.

Semua sehat….

Semua bahagia…..

Semua damai…..

Semua teratur dan mau diatur…….

Amin.

Diskriminasi Di depan Mata

Pagi ini, seorang rekan mengejutkan saya dengan sebuah cerita berbau diskriminasi. Lagi??? pernah dengar hal yang sama beberapa kali tetapi selalu mencoba berpikir positif bahwa akan lebih baik suatu hari.

Ternyata, rupanya, bahkan dalam kurun waktu lewat 10-20 tahunpun, masih sama saja, kok bisa ada masyarakat yang memiliki pola pikir seperti itu.

Rekan saya akan menikah dua bulan lagi, dan hal penting untuk memulai sebuah keluarga adalah memiliki tempat tinggal. Mereka memilih untuk menyewa suatu rumah yang terletak di daerah Tangerang. Singkat cerita, rumah idaman terpilih, pemilik telah menyetujui dan kemaren sepulang dari gereja, mereka berniat untuk memantapkan hati dengan pilihan rumah tersebut dan berencana untuk melihat-lihat kondisi dalam rumah dengan cara meminjam kuncinya.

Kunci rumah dititipkan oleh sang pemilik kepada orang kepercayaannya di daerah tersebut. Begitu rekan saya tiba di rumah sang kepercayaan, untuk membuat dirinya yakin dengan kedatangan rekan saya yang akan meminjam kunci, dipinjamnya KTP rekan saya, tentu saja wajar untuk melihat dari KTP seperti memang dilakukan kebanyakan orang terhadap warga asing yang datang.

Tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh sebuah diskriminatif. Sang kepercayaan menolak memberikan pinjaman kunci bahkan serta merta menolak kehadiran rekan saya untuk mengambil rumah sewaan di daerah tersebut karena alasan agama mayoritas di daerah tersebut berbeda dan sang kepercayaan hanya mengijinkan orang dengan agama mayoritas yang boleh tinggal di daerah tersebut.

Duh….sedih amat. Rekan saya kemudian menelpon si pemilik rumah dan menceritakan kejadian yang dialami sambil berharap mungkin ada putusan bijaksana dari pemilik. Namun, setali tiga uang, sang pemilik hanya menyatakan bahwa karena sang kepercayaan adalah warga (katanya) “terhormat” di daerah itu maka pemilik tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya mengatakan maaf tidak bisa menyewa rumahnya. Takut dengan mayoritas? mungkin demikian, supaya aman deh dirinya.

Hampir 20 tahun yang lalu, ada seorang rekan yang lain, ingin mengambil rumah di sebuah komplek perumahan bernuansa Islami. Sewaktu ditanya data dari KTP, pupus peluang membeli rumah, (secara halus – red. semoga) ditolak karena menganut agama yang berbeda dengan tema perumahan tersebut.

Kurang lebih mirip dengan sebuah tempat institusi bernama sekolah kristen (ingin internasional) yang menolak seseorang yang telah datang diwawancara kerja karena namanya berbau keturunan tetapi diakhiri dengan kepanikan bagaimana menolak orang ini karena ternyata beragama bukan kristen.

Agama, selalu agama, lagi-lagi agama. Mengapa pula KTP mencantumkan agama? Bangsa ini senang rupanya hitung-hitungan banyaknya peserta agama tertentu.

Manusia makin melupakan bahwa Tuhan tidak menciptakan agama. Tuhan adalah Allah yang satu. Yang dengan kasihNya mencintai kita sebagai mahluk ciptaanNya. Siapakah manusia merasa dirinya mampu melakukan “judgment” terhadap manusia lain untuk urusan sebuah kerpercayaan.

Saya menghormati Paus Fransiskus dengan quotenya “I believe in God – not in a Catholic God; there is no Catholic God. There is God, and I believe in Jesus Christ, his incarnation. Jesus is my teacher and my pastor, but God, the Father, Abba, is the light and the Creator. This is my Being.”

Bangsa mana yang bisa maju jika selalu diliputi dengan diskriminasi macam begini.

Entahlah….. selalu ujungnya tarik napas panjang….. Tuhan Kaulah penguasa alam semesta. Ampunilah kami semua yang terlalu memanusiakan diri, pikiran dan jiwa tetapi merasa mampu menghakimi sesama kami seperti layaknya Allah.

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake