Menjelang Ujian Nasional (lagi)

“Sebuah Refleksi”

Mengikuti berita seputar Ujian Nasional, belum ada habisnya. Masih “seru” dan kadang benar-benar membuat gereget. Pro dan kontra di luaran sana kurang lebih terjadi sama seperti yang menjadi pemikiran saya selama ini.

Anak saya sekarang duduk di kelas 9. Semenjak Oktober lalu, sudah dua kali menjalani TUKPD atau UCUN (semacam “try out” menjelang UN). Walaupun saya bingung, mengapa trial sudah dari Oktober? Mengapa tidak dipakai untuk belajar? Mengapa masih “mendewakan” UN? Jadi sebenarnya kadar UN yang sudah tidak lagi sebagai standar kelulusan itu berarti atau tidak ya? Mengapa masih sangat penting peringkat UN di mata sekolah-sekolah yang bernaung di bawah dinas ini? (Memang ada sekolah yang tidak bernaung di bawah dinas? 😉 #pertanyaaniseng). Walaupun sekolah anak saya sudah menjelaskan bahwa dengan diadakan trial ini maka mau tidak mau para siswa akan belajar. Saya manggut-manggut (tanda mengerti sekaligus juga tanda tidak habis pikir, karena, iya betul siswa belajar, tetapi belajar dari kertas soal-soal yang dibagikan beberapa hari sebelum trial tadi untuk latihan, jadi ya itulah namanya “teaching for the test”).

Screen Shot 2015-12-16 at 3.03.55 PM
Tempo.co, January 2015

Tahun 1985, Ebtanas pertama digaungkan, dan saya adalah angkatan pertama yang terlibat dalam Ebtanas SD (Sebelumnya apa ya? Ada yang bisa bantu mengingatkan? Yang saya tahu ada kerabat saya yang tidak lulus SMA karena tidak lulus ujian akhir dan diminta mengulang setahun lagi yang menyebabkan dia “drop out”). Seingat saya, saya tidak merasa sekolah memperlakukan kami sebegitu takutnya akan nilai yang akan diraih. Yang ada adalah ketakutan akan kesukaran menjawab soal pilihan ganda, soal sebab akibat dan soal pilihan lebih dari satu. Entahlah, kurun waktu yang sudah sedemikian lama, bisa jadi menjadi tidak sahih lagi untuk diungkapkan karena faktor “lupa”.

Tahun berganti tahun, masa berganti, pemimpin berganti, Presiden baru ganti 7 kali 😉 , Menteri ya 7-9 kali ganti (tidak yakin), tapi sistem pendidikan berada di titik yang sama terus.

Apa lagi ya yang mau saya ceritakan? Menjadi pendidik / guru yang sudah menjadi pilihan dan panggilan hidup, mau tidak mau selalu membawa saya bersentuhan dengan yang namanya “Ujian Nasional” alias Ebtanas yang saya kenal pertama kali di tahun 1985 tadi.

Dulu di awal, saya meyakini sebagai bentuk ujian yang memang menjadi syarat kelulusan siswa dalam satu level / jenjang pendidikan untuk naik ke jenjang berikutnya. Setelah dua kali Ebtanas dan menjelang Ebtanas yang ketiga di kelas SMA 3, saya memiliki pemikiran ini “hmmm, saya kan sudah diterima di salah satu perguruan tinggi, dengan peringkat 2, cicilan uang masukpun sudah dibayarkan, dan ini terjadi sebelum UN  saya lakukan, jadi untuk apa saya ambil UN? Ini perguruan tinggi bercanda ya masih mencari nilai UN? Jadi label peringkat 2 test masuk, apa gunanya ya? Ada yang salah nih, pikir saya”. Kenyataannya, peringkat dua untuk pembayaran uang masuk yang lebih murah dari peringkat 5 🙂 dan ikut UN SMA untuk mengeluarkan ijasah SMA (saja).

Walaupun setelah itu, masih banyak orang yang menghibur dengan mengatakan bahwa nilai UN itu nanti untuk masuk perguruan tinggi negri, untuk masuk bla bla bla….. tetap saja saya merasa ada yang salah. PTN? kan ada SNMPTN (dulu Sipenmaru)…. ah gak benar deh, begitu terus terngiang. Imbasnya? Mudah sekalilah, semangat belajar menurun (aneh ya, bagi anak lain mungkin meningkat 🙂 ) membuat peringkat akhir SMA 3 saya turun 5 point, dari 1(atau 2 ya?) ke 6, terlebih ada faktor lain lagi yaitu saya pun sudah bisa mencari uang sendiri dengan memiliki murid les kurang lebih 10 adik-adik kelas 🙂 #outofrecord 😀

Panggilan hidup (demikian mungkin definisinya) membawa saya kembali bersentuhan dengan guru dan UN.

Namun tetap ada hal-hal yang saya yakini bahwa belajar itu memiliki tujuan akhir beragam:

1. Kebanggaan nilai hasil akhir yang tinggi dan memuaskan.

2. Kebanggaan untuk diri sendiri dan orang tua plus untuk “nama sekolah”.

3. Kebanggaan sebagai kenangan jika si siswa telah menjadi dewasa dan memiliki keturunan sendiri, saling berbagi kepada anaknya nanti.

4. Belajar itu tidak pernah habis dan tidak ada “due date” nya. Yang membedakan adalah tempat belajarnya, kadang ada orang yang tidak perlu lulus S2, S3, tetapi pengetahuannya sangat bagus, nalar dan logikanya sangat baik. Tetapi lingkungan sering memaksa orang harus bersertifikat level pendidikan tertentu untuk menjamin secara finansial. Lulusan S2, S3 tetapi sebenarnya hanya di selembar ijasah, apalagi dari luar negri, menjadi tampak “wah” kalau kembali bekerja di dalam negri.

5. Belajar untuk menjadi bisa, bukan belajar demi test dan test dan test dan test. Betul bahwa test dibutuhkan sebagai alat ukurnya, kadang sebagai garda terakhir menentukan seorang siswa berhasil atau tidak.

Hal ini kadang kurang disadari oleh kebanyakan orang, baik guru maupun orang tua. Kemampuan otak manusia yang beragam, tentu saja membuat siswa memiliki keistimewaan satu sama lain. Siswa mampu di bidang matematis belum tentu fasih berbahasa dan berkomunikasi. Siswa cantik di bidang seni, belum tentu terampil hitung matematis. Maka hal tersebut sejalan dengan gaya belajar siswa yang beragam. Mungkin ada beberapa orang sedikit bosan mendengar saya bicara hal ini lagi 🙂

6. Belajar untuk diri sendiri. Jangan hanya “lifelong learner” sebagai slogan saja, namun jadikan sebagai pribadi yang mau belajar dan berubah. Belajar memakai alat bantu teknologi baru, misalnya. Atau berubah sikap dengan tidak melulu menyalahkan siswa sebagai oknum yang tidak mau belajar.

Demikian, dalam 4-5 bulan ke depan, saya akan kembali berhubungan mesra dengan kata-kata UN (dan keluarganya) lagi. “Anakku ayo belajar….”, “kapan kamu akan Uprak?”, “kapan kamu akan Ujian Sekolah?”, “Ayo belajar….belajar…. besok ada try out (ke 1, 2, 3 atau 7 bahkan 10 #lebay)?

TechDays 2015 – Sebuah Laporan Pandang Mata

TechDays 2015 yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia ini rupanya berlangsung lumayan meriah selama beberapa hari. Tentu saja bagian yang paling menjadi sorotan saya adalah Microsoft dalam bidang pendidikan. Dan untuk itu, Microsoft mengadakan seminar singkat tentang peran teknologi Microsoft dalam pendidikan umumnya di Indonesia.

Saya berhasil “diterima” pendaftarannya setelah beberapa hari menunggu notifikasi karena “Due to the popularity of this event…..”. Jadi, jika saya berhasil datang  ke acara yang populer ini berarti wow dong ya? 😉

Acara dimulai cukup tepat waktu oleh para pembicara yang merupakan rekan-rekan dari Microsoft Indonesia khusus department edukasi nya. Visi mereka adalah mengembangkan pendidikan di Indonesia berbasis teknologi di era abad 21 ini.

Seminar disampaikan dalam bahasa Indonesia, sementara di ruangan Raffles 1 di Balai Kartini ada peserta berbahasa asing. Agak kurang sinkron jadinya.

Pembicara pertama, bapak Benny Kusuma, Education Lead, Microsoft Indonesia, memberikan pandangannya tentang pengaruh (positif tentunya) teknologi dalam dunia pembelajaran saat ini. Kadang sekolah ingin memanfaatkan teknologi tetapi pola pikir sekolah sendiri yang bisa  menghambat perkembangannya, seperti contoh, sekolah yang kuatir bila siswanya memiliki akses internet di sekolah maka siswa mengakses situs-situs tertentu yang dianggap sekolah berbahaya. Atau sekolah merasa kurangnya budget untuk urusan bandwith yang akan dipakai. (Saya  melirik ke arah tiga orang wakil dari sekolah yang sering mengadakan seminar orang tua tentang bahaya internet bagi usia remaja, berpikir mungkin mereka sudah mulai sadar, karena tentu saja kehadirannya di seminar ini, jika pola pikir selalu negatif maka akan terus negatif 😉 ).

Berturut-turut pembicara berikutnya, bapak Tony Seno, bapak Arthur Renaldy dan Mr. Lalit Mohan membahas sedikit tentang masa depan teknologi dalam dunia pendidikan, tentang apa itu ruang kelas modern dan ruang kelas virtual.

Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan merubah cara belajar, mengajar dan bekerja.  Maka dari itulah Microsoft menyediakan dan menawarkan Office 365 for Education yang mampu menjembatani proses hadir di abad 21 ini.

Beberapa layanan Office 365 for education tersebut antara lain Email, Kalender, Kontak, Perlindungan dari spam, 50 GB mailbox per orang, Audio/Video Konperensi, Office Web Apps, Media Kolaborasi, OneDrive 1TB, App Katalog, e-Discovery, dan lain-lain.

Dengan membangun kompetensi yang dibutuhkan dunia saat ini, siswa diharapkan dapat berpikir kritis, mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan temannya, serta berkreativitas / melakukan inovasi.

Increase Collaboration

Meningkatkan kolaborasi antara peserta didik dan pendidik dengan memberikan kemudahan akses berbagi file, dokumen dan informasi.

Asynchronous Learning

Mendukung kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

1 to 1 Tutoring

Menyediakan akses layanan komunikasi untuk berkonsultasi dengan pendidik. Selain itu dapat digunakan juga untuk layanan konsultasi dengan orang tua murid.

Virtual Classroom

Mendukung kelas pembelajaran jarak jauh yang dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik dari tempat mereka masing-masing.

E-Learning

Mendukung peningkatan pengalaman mengajar baik di dalam maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

Online Lab

Mendukung peningkatan pengalaman belajar dan berkolaborasi antar sesama siswa.

Seminar berakhir pukul 12:00, dan sharing mereka semakin meyakinkan saya bahwa memang masa depan itu telah hadir di sini, bahkan dari beberapa tahun yang lalu. Hanya kadang orang tak sadar, sudah seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan kita.

The future is already here — it’s just not very evenly distributed. (William Gibson).

Sharing yang cukup menarik, mengingat masih banyak sekolah dan para pelaku pendidikan saat ini yang sebenarnya masih menutup diri dengan teknologi.

Dengan berbekal alasan bahwa teknologi bukan satu-satunya alat untuk pembelajaran, dengan asumsi sekolah adalah tempat berinteraksi fisik bukan hanya terpaku pada gadget, maka seringkali saya jumpai pelaku pendidikan yang tidak mendukung pemakaian teknologi tadi di sekolah. “Ujian kita ujung-ujungnya pakai kertas dan tulis, anak tidak boleh dibiasakan enak tanpa menulis sehari-harinya”.

Sebaliknya, tidak sedikit pula yang merasa sudah berteknologi dengan menggunakan presentation (berbasis komputer) di kelas, meletakkan material / catatan di platform e-learning tertentu, tetapi pola pikir diakses kapanpun di manapun tidak berlaku karena nanti keenakan siswanya bisa dibantu kerjanya kalau di rumah.

Semoga perkembangan terus menghasilkan perubahan yang lebih baik, serta pola pikir yang semakin terbuka akan perubahan tersebut.

Berikut Materi dari Acara tersebut:

Edu TechDays 2015 Welcome Speech

Embracing Future Technology Trend in Education

TechDays Education

 

—————————————————————————————————-

 

Refleksi:

Beberapa artikel terkait dengan perkembangan teknologi dalam cara saya bersikap, merubah pola pikir, mengerti dan menjalankan hal-hal baru dengan bantuan teknologi, menjelang 20 tahun aktivitas belajar mengajar saya.

Pengajaran dan Pembelajaran Abad 21 – dari Perspektif Saya 21 , iPad for Lesson, Lembar Kerja Abad 21.

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake