The Art of Turning Math into a Social Learning Experience

Article was published in Schoology Blog on March 3, 2016. After was acquired by Power School, the blog was erased so here is the copy.

#FeelingNostalgic

_________________________________________________________________________

One must admit, math has some serious problems. Jokes aside, it can be a difficult subject for students in this social, right-brained world we live in. How can a teacher pull students’ attention away from their smartphones and social media long enough to care about learning and solving mathematical equations? 

One teacher solved that problem by not trying to fight it. Instead, she integrated it.

Out With The Old, In with the Internet

Hedy Lim, a mathematics teacher in Jakarta, Indonesia, has utilized Schoology, and its user-friendly mobile app, to make math more user-friendly for her students. “I can write mathematics equations very easily in Assignment and Tests/Quizzes,” says Lim. 

By uploading assignments, quizzes, and equations straight to the program, students can now access and solve their math work online versus sitting down to just pencil and paper. While it may take time to type the math equations out, Lim adds “Looking at the bright side, we save paper and apply ‘going green’ into our daily activities.”

Making Math Class More Social 

Schoology’s social use came into play once Lim installed the mobile app onto her iPhone and turned on the notification feature. “I can be easily contacted by my students anytime, anywhere,” says Lim. “Our students live in a social media era,” she adds. “I try to bring it into their school life too, through Schoology.” 

With the app, Lim sends instant messages and uploads news that students can respond to immediately. Likewise, the students can reach Ms. Lim with an email and she can respond back with instant answers.

Lim noticed that not only is Schoology’s interface and mobile app easy to use, but it is also compatible with other programs she uses in class, making her conversions fast, easy, and most importantly, accessible to her students. 

“I use Penultimate  (Penultimate is the handwriting app for iPad that combines the natural experience of pen and paper with power of Evernote’s sync and search features. Lose the paper, keep the handwriting) as my whiteboard in class,” explains Hedy. “I send snapshots of my whiteboard it to Schoology as an image, a link, or a PDF. 

“I also arrange my Flip classroom videos in Explain Everything, an interactive screencasting whiteboard,” she continues. “And once I export them to my camera roll, I can upload the videos to Schoology’s Media Album, and students can study individually at home at their own pace. 

Zaption is another tool that Heady says she uses in her workflow. This free tool helps her engage her students through interactive videos and ready-to-use video lessons.

Hedy’s students also have access to continuously updated report card through Schoology, enabling them to visualize and keep track of their progress and take more ownership of their learning. Each time an assignment or assessment is completed, the students (and their parents) can see their results in real-time with no need to print periodic report cards.   

Hedy even utilizes her social media accounts to make extra learning opportunities available to her students. 

“Sometimes it’s not convenient for teachers share their social media account to their students, which is normal,” she explains. “However, don’t be afraid to use your social media to spread the enjoyment of learning mathematics. You can separate your private account from the one you share with your students.” 

“I put some extra questions in my instagram and encourage my students to answer them directly through instagram or any social account that I share with them, including Schoology,” Hedy says with a smile. 

Evidently, the days of pencils and paper ruling math class are long gone. Because of technology, and teachers like Hedy Lim, mathematics can now be a social learning experience. 

Hedy Lim

Mathematics Teacher

Springfield School, Jakarta, Indonesia

Educator of the Year Finalist 2016

Play with S W A Y

“….add your content and we will do the rest….”

The purpose of Sway is to convey concepts quickly, easily and clearly. Unlike PowerPoint, it is primarily for presenting ideas onscreen rather than to an audience. Tutorials, topic introductions and revisions are the sort of things to which it lends itself.

Since Sway presentations are backed up to the cloud, and can be easily embedded in websites, so here is my Sway to my students as I reach them personally in class, at their house or in anywhere.

Menjelang Ujian Nasional (lagi)

“Sebuah Refleksi”

Mengikuti berita seputar Ujian Nasional, belum ada habisnya. Masih “seru” dan kadang benar-benar membuat gereget. Pro dan kontra di luaran sana kurang lebih terjadi sama seperti yang menjadi pemikiran saya selama ini.

Anak saya sekarang duduk di kelas 9. Semenjak Oktober lalu, sudah dua kali menjalani TUKPD atau UCUN (semacam “try out” menjelang UN). Walaupun saya bingung, mengapa trial sudah dari Oktober? Mengapa tidak dipakai untuk belajar? Mengapa masih “mendewakan” UN? Jadi sebenarnya kadar UN yang sudah tidak lagi sebagai standar kelulusan itu berarti atau tidak ya? Mengapa masih sangat penting peringkat UN di mata sekolah-sekolah yang bernaung di bawah dinas ini? (Memang ada sekolah yang tidak bernaung di bawah dinas? 😉 #pertanyaaniseng). Walaupun sekolah anak saya sudah menjelaskan bahwa dengan diadakan trial ini maka mau tidak mau para siswa akan belajar. Saya manggut-manggut (tanda mengerti sekaligus juga tanda tidak habis pikir, karena, iya betul siswa belajar, tetapi belajar dari kertas soal-soal yang dibagikan beberapa hari sebelum trial tadi untuk latihan, jadi ya itulah namanya “teaching for the test”).

Screen Shot 2015-12-16 at 3.03.55 PM
Tempo.co, January 2015

Tahun 1985, Ebtanas pertama digaungkan, dan saya adalah angkatan pertama yang terlibat dalam Ebtanas SD (Sebelumnya apa ya? Ada yang bisa bantu mengingatkan? Yang saya tahu ada kerabat saya yang tidak lulus SMA karena tidak lulus ujian akhir dan diminta mengulang setahun lagi yang menyebabkan dia “drop out”). Seingat saya, saya tidak merasa sekolah memperlakukan kami sebegitu takutnya akan nilai yang akan diraih. Yang ada adalah ketakutan akan kesukaran menjawab soal pilihan ganda, soal sebab akibat dan soal pilihan lebih dari satu. Entahlah, kurun waktu yang sudah sedemikian lama, bisa jadi menjadi tidak sahih lagi untuk diungkapkan karena faktor “lupa”.

Tahun berganti tahun, masa berganti, pemimpin berganti, Presiden baru ganti 7 kali 😉 , Menteri ya 7-9 kali ganti (tidak yakin), tapi sistem pendidikan berada di titik yang sama terus.

Apa lagi ya yang mau saya ceritakan? Menjadi pendidik / guru yang sudah menjadi pilihan dan panggilan hidup, mau tidak mau selalu membawa saya bersentuhan dengan yang namanya “Ujian Nasional” alias Ebtanas yang saya kenal pertama kali di tahun 1985 tadi.

Dulu di awal, saya meyakini sebagai bentuk ujian yang memang menjadi syarat kelulusan siswa dalam satu level / jenjang pendidikan untuk naik ke jenjang berikutnya. Setelah dua kali Ebtanas dan menjelang Ebtanas yang ketiga di kelas SMA 3, saya memiliki pemikiran ini “hmmm, saya kan sudah diterima di salah satu perguruan tinggi, dengan peringkat 2, cicilan uang masukpun sudah dibayarkan, dan ini terjadi sebelum UN  saya lakukan, jadi untuk apa saya ambil UN? Ini perguruan tinggi bercanda ya masih mencari nilai UN? Jadi label peringkat 2 test masuk, apa gunanya ya? Ada yang salah nih, pikir saya”. Kenyataannya, peringkat dua untuk pembayaran uang masuk yang lebih murah dari peringkat 5 🙂 dan ikut UN SMA untuk mengeluarkan ijasah SMA (saja).

Walaupun setelah itu, masih banyak orang yang menghibur dengan mengatakan bahwa nilai UN itu nanti untuk masuk perguruan tinggi negri, untuk masuk bla bla bla….. tetap saja saya merasa ada yang salah. PTN? kan ada SNMPTN (dulu Sipenmaru)…. ah gak benar deh, begitu terus terngiang. Imbasnya? Mudah sekalilah, semangat belajar menurun (aneh ya, bagi anak lain mungkin meningkat 🙂 ) membuat peringkat akhir SMA 3 saya turun 5 point, dari 1(atau 2 ya?) ke 6, terlebih ada faktor lain lagi yaitu saya pun sudah bisa mencari uang sendiri dengan memiliki murid les kurang lebih 10 adik-adik kelas 🙂 #outofrecord 😀

Panggilan hidup (demikian mungkin definisinya) membawa saya kembali bersentuhan dengan guru dan UN.

Namun tetap ada hal-hal yang saya yakini bahwa belajar itu memiliki tujuan akhir beragam:

1. Kebanggaan nilai hasil akhir yang tinggi dan memuaskan.

2. Kebanggaan untuk diri sendiri dan orang tua plus untuk “nama sekolah”.

3. Kebanggaan sebagai kenangan jika si siswa telah menjadi dewasa dan memiliki keturunan sendiri, saling berbagi kepada anaknya nanti.

4. Belajar itu tidak pernah habis dan tidak ada “due date” nya. Yang membedakan adalah tempat belajarnya, kadang ada orang yang tidak perlu lulus S2, S3, tetapi pengetahuannya sangat bagus, nalar dan logikanya sangat baik. Tetapi lingkungan sering memaksa orang harus bersertifikat level pendidikan tertentu untuk menjamin secara finansial. Lulusan S2, S3 tetapi sebenarnya hanya di selembar ijasah, apalagi dari luar negri, menjadi tampak “wah” kalau kembali bekerja di dalam negri.

5. Belajar untuk menjadi bisa, bukan belajar demi test dan test dan test dan test. Betul bahwa test dibutuhkan sebagai alat ukurnya, kadang sebagai garda terakhir menentukan seorang siswa berhasil atau tidak.

Hal ini kadang kurang disadari oleh kebanyakan orang, baik guru maupun orang tua. Kemampuan otak manusia yang beragam, tentu saja membuat siswa memiliki keistimewaan satu sama lain. Siswa mampu di bidang matematis belum tentu fasih berbahasa dan berkomunikasi. Siswa cantik di bidang seni, belum tentu terampil hitung matematis. Maka hal tersebut sejalan dengan gaya belajar siswa yang beragam. Mungkin ada beberapa orang sedikit bosan mendengar saya bicara hal ini lagi 🙂

6. Belajar untuk diri sendiri. Jangan hanya “lifelong learner” sebagai slogan saja, namun jadikan sebagai pribadi yang mau belajar dan berubah. Belajar memakai alat bantu teknologi baru, misalnya. Atau berubah sikap dengan tidak melulu menyalahkan siswa sebagai oknum yang tidak mau belajar.

Demikian, dalam 4-5 bulan ke depan, saya akan kembali berhubungan mesra dengan kata-kata UN (dan keluarganya) lagi. “Anakku ayo belajar….”, “kapan kamu akan Uprak?”, “kapan kamu akan Ujian Sekolah?”, “Ayo belajar….belajar…. besok ada try out (ke 1, 2, 3 atau 7 bahkan 10 #lebay)?

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake