Jalinan orang tua – anak – guru

Diceritakan bahwa Alexander yang Agung, ketika memasuki kota Phyrigia, ia dihadapkan pada sebuah simpul buatan Gordias. Simpul yang sebegitu rumitnya, sampai-sampai dihikayatkan bahwa barang siapa dapat membuka simpul tersebut, akan menguasai Asia.

Kerumitan legendaris simpul ini, membuat saya berpikir mungkin demikian juga dengan berbagai kehidupan seorang anak yang dapat dilihat dengan berbagai cara
Ilustrasi tentang simpul itu kadang mengingatkan saya tentang lingkaran kehidupan orangtua – anak – guru .
Ketika orang tua dianugerahi seorang bayi lucu, serasa semua asa diarahkan ke bayi itu…

…Nak, jadilah kau spt yang kami mau, atau nak, jadilah suatu hari menjadi orang sukses, kami akan bantu mendukungnya, lalu dipersiapkanlah bekal utk anak-anak itu, semua hal yg dibutuhkan di “masa depannya”…..

Usia 1 tahun dimasukkan ke “toddler”, usia 2-3 tahun ke “nursery ” plus sudah mulai harus les bicara / dengar musik,  usia 4-5 tahun ke TK dan les membaca, menulis, menggambar dll, usia 6-11 tahun ke SD plus les les les les les les,  usia SMP orang tua bilang “Ayo sana tambah les mu dari kecil dikasih les kok tidak maju-maju nih” usia SMA jumlah lesnya berpangkat 10 ;)”

Si anak menjadi dewasa…..”Aku bingung mau jadi apa…. ” Lalu menikah, kehidupan berulang, punya anak, “Aku ga sanggup jalanin semua, semoga anakku bisa “meneruskan” semua kekuranganku di masa lalu”……

Setiap orangtua diberikan kepercayaan oleh Tuhan utk melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anak titipan tersebut….. Wajarlah kaum orang tua dalam memikul tanggung jawab “titipan” tadi berusaha sebaik-baiknya untuk memberikan yang terbaik kepada mereka.

Orang tua akan berpikir:

“Kami berusaha menggali apa yang menjadi bakat / talenta dari anak-anak kami. Wah, bayiku nangisnya saja lembut dan merdu, dia akan les vokal saat besar nanti. Kalau bayiku setiap dengar musik pasti dia tenang, dia pasti suka musik, akan ku-leskan piano. Hmm kalau bayiku belum setahun tapi sudah mau lari terus, wah berarti dia suka olah raga, dia harus masuk klub sepakbola anak-anak nanti. Bayiku dong, gak bisa lihat tembok kosong, langsung pegang pensil dan buat coretan, aduuhhh dinding rumahku….tapi gak apa apa deh untuk calon pelukis. Anakku apa ya? Dia sukanya pegang kalkulator dan pencet-pencet tombol angka2 di sana, wah dia suka matematika, akar segala ilmu, masuk kumon ah usia 3 tahun, biar dasar aljabarnya kuat”.

Ketika mulai bisa menentukan pilihannya sendiri, alangkah bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya sesuai dengan “yang diimpikan dan diangankan”. “Ternyata pengorbananku tidak sia-sia, untung dari kecil semua jenis les sudah kuperkenalkan kepadanya sehingga setelah sebesar ini anakku bisa menentukan arah hidupnya sesuai potensi dia yang paling menonjol dan yang paling disukai…..”

Tetapi…..bagaimana yang memiliki anak yang sulit diatur, tidak mau belajar, malas disuruh les. “Mau jadi apa nak jika besar nanti, ayo belajar dong, les ini les itu, supir sudah disediakan, semua fasilitas sudah disiapkan untuk kamu nak…. Tinggal belajar saja tanpa perlu memikirkan apa-apa, gitu aja kok susah sih kamu….”

Sekolah, tugas sekolah, les, menjadi rangkaian yang sulit dipisahkan. “Kami sudah bayar mahal untuk kamu bersekolah di sana, masak sekolahnya tidak memberikan tugas apa-apa untuk kamu, harusnya anak / siswa dikasih tugas yang kreatif dong, bikin agar anaknya tidak sempat lagi buang waktu untuk bermain tapi terus belajar….”

Sebaliknya jika kebetulan bertemu dengan sekolah yang mengharuskan siswa sampai sore hari di sekolah, tetapi masih banyak tugas lain, PR, Project, report, research……wuah banyak deh pokoknya….. “Aduhhh, sekolahmu kasih tugas banyak amat sih, kami kehilangan kamu nih, tiap hari harus kejar tugas lalu harus langsung les matematika, fisika, kimia, english, mandarin, kapan kami bisa ajak kamu makan malam. Kami sekolahkan kamu di sana itu biar belajar kamu cukup di sekolah kan sudah dari pagi sampai sore, masak sore sampai malam masih dikasih tugas lagi? Keterlaluan….. Tempat les akan makin banyak aja, buat apa ada sekolah?”……

Alangkah sulitnya menjadi orang tua….. Anda tipe orang tua yang bagaimana? Kasihan kan anak-anak yang harus menyesuaikan dirinya sebagai mahluk pribadi dengan keunikan sendiri, sebagai anak dari orang tuanya, sebagai siswa dari sekolahnya……..

Kembali pada kisah Alexander yang Agung, ia tentu dapat “mengurai” simpul ini. Ada hikayat yang mengatakan bahwa ia mengambil pedang dan menebas simpul ini. Sementara ada hikayat lain, ia mencabut tiang pancang tempat simpul tersebut terkait, dan karenanya bisa mengurai simpul tersebut tanpa berfokus pada simpulnya. Menurut anda bagaimana?

* Seperti telah dipostkan di http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/19/jalinan-orang-tua-anak-guru/ *

 

One month in my new school

When the first time I saw the list of students, one word came out of my mind “wow”. Is it really matter that I have to say “wow” ? 😉 (somethings are just never meant to be translated….. Garing ya kalo diterjemahkan ke dalam bahasa inggris? x_x)

(212 + 194 + 189) students need to be memorized. Not just their names, but their skills, their potentials, their habits, their talks, the way they smiles, their hand writing, their jokes…..a lot 🙂 *and don’t forget to multiply it all by 595* omaigat 🙂

Year 7 students are quiet similar with my own son, Matthew….. since they are about the same age. I have one at home and now I have 212 at school. How do you feel yourself, Hedy? Wow, again, they are amazing, active, smart, funny… …however they still need to improve their learning attitudes. I believe that they can and will grow up in both character and learning attitude if they work hard and always cooperate with friends and teachers… together we can.

Year 8 students…. YOLO… you only live once as junior high students… As time moves on and bring you to a higher level and become a real adult (because of your age), you will miss this moment. So, keep up the spirit, do the best thing in your life being teenagers in junior high school. Most people said that the best life in junior high school’s life is when you are in grade 8.

Year 9 students… the highest level in junior high school. To be the oldest means, at least for me, you guys are the example for the others. You are going to finish the school in the next 10 months… You must show your responsibility. When you are asked to do things, you know how to put first things first. One of my trust is you are maturing, that is why I allow you to use calculator in math class because I want you to solve the problem and understand the concept better rather than just crunching numbers (especially since it is only 30 minutes).

Okay then, I must continue my working now, I have 595 papers in front of me…. and I’m gonna cryyyyyy 😀 😉 :p

 

Menjadi Pendidik – Antara Angan dan Kenyataan

Sekilas kembali ke masa lalu…… agak aneh membayangkan diri sendiri dulu kok ingin menjadi guru. Cita-citamu apa nak? Menjadi guru, menjadi dokteranda (beberapa guru SD saya dulu bertitel Dra :)), dan itu terus berlanjut sampai remaja. Lalu vakum mencari identitas mau apa sebenarnya, sampai tentu akhirnya benar-benar menjalani dan hidup dari profesi guru.

Beberapa tahun terakhir, saya memang lebih suka menyebut profesi guru sebagai pendidik, seperti kebanyakan rekan-rekan guru lain.

Saat ini, sering sekali terlintas di kepala, andai saya memiliki kesempatan memiliki sebuah wadah untuk mendidik anak-anak yang mau belajar dan berkembang dan mengenal talentanya. Wadah yang biasa disebut sekolah. Bayangkan, anak-anak yang belajar dalam situasi menyenangkan. Mungkin seperti sekolah alam milik bapak Suyudi.

Tempat yang dimana diferensiasi kelas benar-benar berjalan, dan beragam gaya belajar siswa mampu berkembang, dan kecerdasan siswa dapat terlihat dengan kombinasi beragam.
Tempat dimana di kelas-kelasnya, para guru bisa memberikan beragam soal sesuai dengan kemampuan siswa dan tidak ada guru yang ‘saling menyalahkan’, seperti biasa yang sering terdengar dari guru yang biasanya mengajar di level yang lebih tinggi kepada guru yang mengajar di level bawahnya.
“dulu ini anak belajar apa sih?’, “bapak/ibu dulu ajarkan materi itu tidak ya?”, “anak-anak tuh dulu tidak paham apa-apa”, “salah konsep nih dulu waktu diajar sama bapak/ibu” dan tentunya, jangan sampai ada “aduuuhh anak itu memang lemah deh, sudah susah mau diapain juga sudah tidak bisa”.

Bayangkan, lingkungan dimana siswa bisa belajar dengan bebas, dibimbing oleh guru, bukan dimarahi dan “dibuat” takut oleh sang guru, dan tidak ada guru yang berbangga dengan “keberhasilan”nya membuat siswanya “waahhh pelajaran bapak / ibu itu susahhhh, aku dapat 60 aja sudah untung deh” 🙂

Tempat dimana belajar menjadi kegiatan yang membebaskan, dimana benar-benar banyak jalan menuju Roma, sebagai contoh menyelesaikan sebuah soal dengan pendekatan matematis bukanlah melulu harus dengan sebuah cara solusi perhitungan seperti kemauan gurunya saja, tetapi lebih baik jika guru menawarkan beberapa cara dan siswa memutuskan solusi apa yang harusnya dia gunakan sesuai dengan kemampuannya.

Tempat dimana guru bangun pagi dengan bertanya bagaimana cara membimbing karakter siswa agar mereka sadar tentang “keberadaan” diri mereka. Mereka menyadari kehadirannya di dunia ini adalah berkat, anugerah dan rahmat Tuhan. Mereka diarahkan dan dibimbing untuk menyadari talenta mereka dan berbuat lebih untuk talenta tersebut. Mereka menyadari bahwa mereka adalah seorang pemimpin untuk diri mereka sendiri, melakukan hal-hal yang benar tanpa perlu dilihat oleh orang lain.

Sayangnya, antara angan tersebut malah bertabrakan dengan apa yang banyak terjadi saat ini.

Saya jadi teringat dulu saya pernah memiliki seorang guru yang menjadikan saya sebagai bahan olok-olok teman sekelas karena memiliki buku catatan dari kertas-kertas bekas yang saya ciptakan menjadi sebuah buku coretan / catatan coret-coretan. Saya cuman berpikir saat itu, kok beliau begitu ya? Apa gunanya sih beliau bicara itu? Lagipula saya punya buku coretan untuk mencatat cepat sebelum saya pindahkan ke catatan rapi (yang menurut saya, justru kreatif)
Tentu ini hanya contoh bahwa seorang anak bisa terkesan seumur hidupnya kepada orang lain yang berperan dalam hidupnya, positif maupun negatif.

Pengalaman dengan guru tersebut membuat saya bertekad untuk berkomunikasi yang lebih baik dengan teman-teman kaum muda saya yang biasa disebut siswa tadi 🙂
Semoga bisa tetap berkomunikasi lebih baik dengan teman-teman muda tanpa harus menjadi “ih amit amit jangan sampai jadi seperti Ibu/Bapak itu deh”

Yuk berperan positif! Ingat bahwa di balik kesuksesan seseorang ada orang lain yang sukses membantunya. Semua bisa dimulai dengan membayangkan keberadaan diri kita di tengah-tengan siswa dan menjadi fondasi positif yang ada di balik kesuksesan mereka di masa depan.

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake