X

Sebuah Renungan – Lompatan si Belalang

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Ia adalah belalang yang lompatannya paling tinggi di antara sesama belalang. Ia sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-hari ia melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian memakan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon, ia dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul keinginan di dalam hatinya untuk pergi ke sana suatu saat.

Suatu hari, saat yang dinantikan itu tiba. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya terbang. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat, mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya, mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.

Si belalang bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu dan apakah yang kamu lakukan di sini?”

“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini”, jawab anjing dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi, “hmm, tidak semua binatang dapat kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat. Kita akan tahu siapakah yang lompatannya paling tinggi di antara kita.”

“Baik”, jawab si anjing. “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding dan membuktikan siapakah yang bisa melompati pagar tersebut”. Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Si anjing mendapat kesempatan yang pertama. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu berlari dengan kencang, melompat dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut. Sekarang adalah kesempatan si belalang muda. Dengan sekuat tenaga, si belalang melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan ia jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia mencoba melompat lagi dan lagi, tetapi ternyata tetap gagal.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata, “Nah, belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah kalah”. “Belum”, jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua?” “Apapun tantangan itu, aku siap”, tukas si anjing. Belalang berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tetapi dari berapa kali tinggi tubuhnya.”

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, tetapi ketinggian lompatannya ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. “Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga”, kata si anjing.

“Tidak perlu”, jawab si belalang. “Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah yang menentukan standar perlombaan. Pada lomba pertama, kamu yang menentukan standar perlombaan dan kamu yang menang. Sedangkan pada lomba kedua, saya yang menentukan, dan saya pula yang menang. Intinya adalah kamu dan saya punya potensi dan standar kemenangan yang berbeda. Tidaklah bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati dicapai ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standar dirimu sendiri. Iya nggak sih?”

kutipan cerita Mindset Therapy, Andrias Harefa