Using PowerPoint as Virtual Whiteboard

When I was in school, teachers used to use chalkboard as their tool to present the lessons transferring ideas. … and that means, over 30s years ago 😉 x_x

Different then my first teaching experience, I used “whiteboard” as writing tool, advancing to Over Head Projector and then presentation software.

Since entering the era of 21st Century learning and teaching, medium for education field had been advancing too. Media getting easier to access by teachers or students, to the point that a teacher once said “Good to have YouTube. Just play a mathematics video and we can sit comfortably” (the video mentioned is the one from Salman Khan)  “Aha! with Wolfram Alpha, you don’t need to write down the formula, just run it through Wolfram’s site” x_x uh oh, but er… this is not what i’m going to write about 🙂

Back to the topic of PPT as class presentation media. After created several presentation slide and skilled with “pen stylus”, I asked my self ‘why not combine both?’

Imagine, if presenting through a projector, then a full writeable board is in front of us through a writing medium of 3.6″ x 5.8″, all while we face the students all the time, instead of showing our back to them.

If the presentation slide already filled with the content, we want to add some information while presenting, then we can easily write on the slide.

Here are the steps to write on virtual whiteboard from a blank PPT file:

1. I feel convenient using “pen stylus” commonly used by graphic design industry, but of course, this technique is equally applicable with any mouse (the sample picture showing a pen manufactured by Wacom, Intuos 4)

intuos 4 wacom

2. Prepare the whiteboard through the projector:

CBW1

3. Start writing and explain the material:

CBW2

4. Save one screen after you finished:

CBW3

CBW4

5. In the menu Edit, your writing will turn into a picture.

CBW5

6. Save your PPT as usual and the file can be distributed to the students if necessary. It might help recall students’ memory about what they observe during your lesson. Of course, you can combine this with screen recording technique as was explained in the previous article “Live Recording of Class Teaching” and produce an easily re-playable video to be “fast forwarded or replayed” according to the viewers need.

With the spirit of Curriculum of 2013, I imagine this technique might be combined with “Latex” (mathematics) to wrote down the formulas, with chemistry to have this interesting Molecule structure to sketch, with Bahasa Indonesia to explain words hyphenation and intonation on a sentence. Wow, a lot of practical application.

As mentioned,  these steps are just one from various available media today. Each have their own uniqueness and could be used for the same target, depending on each teachers ability and availability (from the simplest to the most advanced).

For me, this method is most appropriate to communicate with students while keep watching them while doing my explanation in the lecture style classroom, with additional advantage to walk to to closer to middle of the students if the pen stylus have a wireless facility.

Happy Learning!

 

Among Friends and Besties

Thursday, 10 January 2013 was a big day for students because they had “class party” with their firends and besties and also celebrating Christmas after two weeks semester one break.

In the morning, we had mass. After that, students (led by OSIS)  performanced in Gym, and then lunch in their own classroom. Students prepared everything by themselves. Teachers are invited to their classroom and I got invitation from class 9A…. yeayyy….

Anggia led us in prayer, Pak Dharma as their homeroom teacher gave simple speech about the meaning of togetherness and continued by having lunch together…..”Nasi tumpeng”, Indomie goreng (Indonesian simplest favourite food, I guess ;)), fruit punch, magnummmmm, snack, cookies, pudding, and many more 😀

All students had fun and finish their time with free time, chit chat and dance 🙂 shuffling and gangnam style 🙂

Two simple videos below are taken from their free time after having lunch.

Enjoy !!! <3

 

 

 

Menjelaskan Geometri dengan “Geometers Sketchpad”

Untuk memudahkan proses pembelajaran matematika bidang ilmu geometri, salah satunya dapat menggunakan alat bantu Geometers Sketchpad versi 4 atau 5, yang kebetulan dipakai di sekolah. Memang bukan software free tetapi dapat dicoba karena ada link untuk trial saja.

Berikut ini sharing saya tentang pembelajaran matematika menggunakan GSP versi 4.06 yang memperlihatkan dengan mudah dan cepat bahwa panjang garis apotema tali busur lingkaran memenuhi teorema pythagoras. (Memudahkan proses pembelajaran yang hanya satu jam pelajaran di kelas, untuk sketsa lingkaran dan unsur-unsur di dalamnya).

[swfobject]2001[/swfobject]

Silahkan klik link di bawah ini untuk melihat-lihat situs resmi dari produk GSP dan jika berkenan dengan budget sekolah, sangat berguna untuk guru seperti kita. Selamat mencoba 🙂

http://www.dynamicgeometry.com/Getting_Started/Considering_Sketchpad.html

Sebelum menggunakan GSP, untuk memulai belajar membuat animasi sederhana, free software Geogebra pun mudah didapat dan digunakan untuk melakukan coba-coba.

Seven Habits camp, Batch 2, 10 – 12 Sept 2012

Hari ke-1:

Setelah berdoa dari sekolah jam 7.30, saya bersama 6 rekan guru lain yang bertugas mendampingi siswa kelas 7B dan 7F, pergi menuju wisma Santa Monica 1 dengan mengendarai dua buah bus.

Seperti biasa, setiap anak yang pergi bersama-sama dengan teman-teman pasti akan menyambut dengan sangat antusias. Saya berada di bus 7B bersama dengan dua rekan guru lain. Ada anak-anak yang nyanyi-nyanyi, baca buku cerita anak-anak, ngobrol dan masih boleh main handphone yang mereka bawa 🙂

Tiba di wisma Santa Monika 1, sekitar jam 10 pagi, kami disambut oleh rekan-rekan dari Dunamis. Siswa akan didampingi oleh dua orang fasilitator (Kak Teddi dan kak Vonny) dan dua orang asistennya.

Kami berfoto-foto sebentar dengan memegang spanduk kegiatan Seven Habits ini. Lalu seluruh handphone dan gadget yang dibawa siswa harus dititipkan kepada wali kelas.

Setelah itu seluruh hari ini dihabiskan dengan ice breaking, membentuk grup dan mempersiapkan yel-yel group serta sesi training habit ke-1 dan pengantar habit ke-2 yaitu membuat personal mission statement. Sesi training dilewatkan dengan metode ceramah dan interaktif serta games seputar habit 1.

Hari ke-2:

Karena dengan padatnya jadwal di hari kedua ini maka sesi ceramah agaknya seperti dikurangi waktunya dan anak-anak menjalani sesi habit ke-2 sampai dengan ke-7 di sepanjang pagi sampai sore. Tentu saja ada bagian games pendukung semua habit yang diberikan.

Satu yang paling berkesan untuk saya adalah penjelasan mengenai big rocks di habit ke-3. Bagaimana anak-anak diminta untuk mulai mengenal hal apa atau pekerjaan mana yang harus ditempatkan sebagai big rocks dan mana yang small rocks. Foto berikut menunjukkan ilustrasi yang dibuat oleh kak Teddi bahwa orang normal memiliki 1 – 3 big rocks dan idealnya adalah semua big rocks itu dapat diselesaikan. Tetapi jika ditambah 4 – 10, bisa saja selesai tetapi tanpa hasil yang maksimal atau hanya selesai 1 – 2 pekerjaan, dan jika “dipaksakan sampai 11 buah maka yang terjadi malah bisa sebuah kegagalan (satupun tidak ada yang berhasil).

Sore hari diakhiri dengan championship games, terdiri dari tiga permainan air yaitu perang balon air, berjalan di atas bambu yang diletakkan di atas kolam renang dan menangkap ikan. Bisa dibayangkan jika kolam renang yang berukuran sekitar 3 x 5 meter dipenuhi oleh hampir 50 anak 🙂 di akhir acara games.

Malam pun tiba, dan acara api unggun berlangsung cukup baik. Kembali ice breaking dilakukan, kali ini oleh rekan rangers yang akan mendampingi siswa saat kegiatan games luar ruang. Dilanjutkan dengan penampilan dari ke-6 kelompok, ada yang drama dan ada yang bernyanyi. Jam 10 malam acara berakhir, ditemani susu coklat hangat dan jagung bakar.

Hari ke-3:

Jam 7.30 pagi, semua siswa sudah bersiap di lapangan besar untuk mengikuti games luar ruang. Acara kembali dimulai dengan ice breaking dan games bersama. Setelah itu, untuk mengikuti ke-7 games luar ruang, ada peraturan yang harus ditaati peserta dan cara pengumpulan point. Sesuai dengan jenis permainan team building ini, maka seluruh permainan merupakan bentuk kekompakan dan kerjasama solid dalam satu tim. Ke-7 games tersebut adalah:

  1. Mengumpulkan balon air dengan dilemparkan secara estafet dari titik start ke titik akhir.
  2. Mengisi air dalam ember sebanyak-banyaknya dengan memindahkan air dari kolam dengan busa yang diperas airnya dengan cara diduduki.
  3. Memindahkan sebatang bambu tipis dimana seluruh siswa dalam grup hanya boleh menyentuh bambu menggunakan kedua jari telunjuk.
  4. Memindahkan 3 bola pingpong ke dalam tabung bambu dengan cara estafet menggelindingkan bola pada belahan pipa.
  5. Mengarahkan teman yang berjalan dengan mata tertutup melewati rintangan yang terhubung dengan perangkap air otomatis. Jika yang diperintahkan gagal melewati rintangan maka rekan yang memerintahkan akan ketumpahan perangkap air.
  6. Mencari bendera kuning di sepanjang jalan setapak hutan.
  7. Flying fox.

Akhir dari acara ini adalah evaluasi sekitar setengah jam dan setelah penutupan oleh guru pendamping maka berakhirlah acara camp selama 3 hari tersebut. Camp yang rasanya tidak akan dilupakan oleh setiap anak yang menjalaninya. Pasti ada kesan positif selama kegiatan berlangsung.

Kebetulan saya menemani siswa grup 3 dari kelas 7B, mereka adalah Timmy, Nico, Bryant, Maria Sasa, Cindy, Daryn, Pandu, Priscilla, Erina, Jolly, Aditya, Jason. Dan selamat untuk grup 3 yang menjadi juara umum sepanjang kegiatan Seven Habits camp di batch ini.

Berikut cuplikan video yang saya rangkum selama kegiatan keberangkatan, games luar ruang dan beberapa foto sesi games penunjang training.

Video ini sudah saya coba perkecil dari aslinya, tetapi mungkin tetap membutuhkan waktu beberapa saat sebelum tayang dengan lancar

 

My Personal Reflection

Menyisakan pertanyaan bagi saya yaitu trend pendidikan karakter yang ideal itu seperti apa? Apakah keikutsertaan partner yang ditunjuk yang berperan mensuply kurikulum berbasis karakter dan pengejawantahannya sesuai dengan masing-masing sekolah? Apakah definisi mentor sesuai dengan kultur sekolah yang memiliki wali kelas? Bukankah semua guru adalah mentor bagi siswanya? Apakah mendidik karakter seseorang itu harus melalui sebuah administrasi kurikulum yang njelimet? Apakah Seven Habits identik dengan games luar ruang yang pada umumnya selalu dilakukan jika ada kegiatan luar ruangan? Bentuk karakter apakah yang ingin dibangun dari jiwa seorang anak?

Saya akan mencari jawabannya secepat angin berlalu setelah yang satu ini….. 😉