Menjelang Ujian Nasional (lagi)

“Sebuah Refleksi”

Mengikuti berita seputar Ujian Nasional, belum ada habisnya. Masih “seru” dan kadang benar-benar membuat gereget. Pro dan kontra di luaran sana kurang lebih terjadi sama seperti yang menjadi pemikiran saya selama ini.

Anak saya sekarang duduk di kelas 9. Semenjak Oktober lalu, sudah dua kali menjalani TUKPD atau UCUN (semacam “try out” menjelang UN). Walaupun saya bingung, mengapa trial sudah dari Oktober? Mengapa tidak dipakai untuk belajar? Mengapa masih “mendewakan” UN? Jadi sebenarnya kadar UN yang sudah tidak lagi sebagai standar kelulusan itu berarti atau tidak ya? Mengapa masih sangat penting peringkat UN di mata sekolah-sekolah yang bernaung di bawah dinas ini? (Memang ada sekolah yang tidak bernaung di bawah dinas? 😉 #pertanyaaniseng). Walaupun sekolah anak saya sudah menjelaskan bahwa dengan diadakan trial ini maka mau tidak mau para siswa akan belajar. Saya manggut-manggut (tanda mengerti sekaligus juga tanda tidak habis pikir, karena, iya betul siswa belajar, tetapi belajar dari kertas soal-soal yang dibagikan beberapa hari sebelum trial tadi untuk latihan, jadi ya itulah namanya “teaching for the test”).

Screen Shot 2015-12-16 at 3.03.55 PM
Tempo.co, January 2015

Tahun 1985, Ebtanas pertama digaungkan, dan saya adalah angkatan pertama yang terlibat dalam Ebtanas SD (Sebelumnya apa ya? Ada yang bisa bantu mengingatkan? Yang saya tahu ada kerabat saya yang tidak lulus SMA karena tidak lulus ujian akhir dan diminta mengulang setahun lagi yang menyebabkan dia “drop out”). Seingat saya, saya tidak merasa sekolah memperlakukan kami sebegitu takutnya akan nilai yang akan diraih. Yang ada adalah ketakutan akan kesukaran menjawab soal pilihan ganda, soal sebab akibat dan soal pilihan lebih dari satu. Entahlah, kurun waktu yang sudah sedemikian lama, bisa jadi menjadi tidak sahih lagi untuk diungkapkan karena faktor “lupa”.

Tahun berganti tahun, masa berganti, pemimpin berganti, Presiden baru ganti 7 kali 😉 , Menteri ya 7-9 kali ganti (tidak yakin), tapi sistem pendidikan berada di titik yang sama terus.

Apa lagi ya yang mau saya ceritakan? Menjadi pendidik / guru yang sudah menjadi pilihan dan panggilan hidup, mau tidak mau selalu membawa saya bersentuhan dengan yang namanya “Ujian Nasional” alias Ebtanas yang saya kenal pertama kali di tahun 1985 tadi.

Dulu di awal, saya meyakini sebagai bentuk ujian yang memang menjadi syarat kelulusan siswa dalam satu level / jenjang pendidikan untuk naik ke jenjang berikutnya. Setelah dua kali Ebtanas dan menjelang Ebtanas yang ketiga di kelas SMA 3, saya memiliki pemikiran ini “hmmm, saya kan sudah diterima di salah satu perguruan tinggi, dengan peringkat 2, cicilan uang masukpun sudah dibayarkan, dan ini terjadi sebelum UN  saya lakukan, jadi untuk apa saya ambil UN? Ini perguruan tinggi bercanda ya masih mencari nilai UN? Jadi label peringkat 2 test masuk, apa gunanya ya? Ada yang salah nih, pikir saya”. Kenyataannya, peringkat dua untuk pembayaran uang masuk yang lebih murah dari peringkat 5 🙂 dan ikut UN SMA untuk mengeluarkan ijasah SMA (saja).

Walaupun setelah itu, masih banyak orang yang menghibur dengan mengatakan bahwa nilai UN itu nanti untuk masuk perguruan tinggi negri, untuk masuk bla bla bla….. tetap saja saya merasa ada yang salah. PTN? kan ada SNMPTN (dulu Sipenmaru)…. ah gak benar deh, begitu terus terngiang. Imbasnya? Mudah sekalilah, semangat belajar menurun (aneh ya, bagi anak lain mungkin meningkat 🙂 ) membuat peringkat akhir SMA 3 saya turun 5 point, dari 1(atau 2 ya?) ke 6, terlebih ada faktor lain lagi yaitu saya pun sudah bisa mencari uang sendiri dengan memiliki murid les kurang lebih 10 adik-adik kelas 🙂 #outofrecord 😀

Panggilan hidup (demikian mungkin definisinya) membawa saya kembali bersentuhan dengan guru dan UN.

Namun tetap ada hal-hal yang saya yakini bahwa belajar itu memiliki tujuan akhir beragam:

1. Kebanggaan nilai hasil akhir yang tinggi dan memuaskan.

2. Kebanggaan untuk diri sendiri dan orang tua plus untuk “nama sekolah”.

3. Kebanggaan sebagai kenangan jika si siswa telah menjadi dewasa dan memiliki keturunan sendiri, saling berbagi kepada anaknya nanti.

4. Belajar itu tidak pernah habis dan tidak ada “due date” nya. Yang membedakan adalah tempat belajarnya, kadang ada orang yang tidak perlu lulus S2, S3, tetapi pengetahuannya sangat bagus, nalar dan logikanya sangat baik. Tetapi lingkungan sering memaksa orang harus bersertifikat level pendidikan tertentu untuk menjamin secara finansial. Lulusan S2, S3 tetapi sebenarnya hanya di selembar ijasah, apalagi dari luar negri, menjadi tampak “wah” kalau kembali bekerja di dalam negri.

5. Belajar untuk menjadi bisa, bukan belajar demi test dan test dan test dan test. Betul bahwa test dibutuhkan sebagai alat ukurnya, kadang sebagai garda terakhir menentukan seorang siswa berhasil atau tidak.

Hal ini kadang kurang disadari oleh kebanyakan orang, baik guru maupun orang tua. Kemampuan otak manusia yang beragam, tentu saja membuat siswa memiliki keistimewaan satu sama lain. Siswa mampu di bidang matematis belum tentu fasih berbahasa dan berkomunikasi. Siswa cantik di bidang seni, belum tentu terampil hitung matematis. Maka hal tersebut sejalan dengan gaya belajar siswa yang beragam. Mungkin ada beberapa orang sedikit bosan mendengar saya bicara hal ini lagi 🙂

6. Belajar untuk diri sendiri. Jangan hanya “lifelong learner” sebagai slogan saja, namun jadikan sebagai pribadi yang mau belajar dan berubah. Belajar memakai alat bantu teknologi baru, misalnya. Atau berubah sikap dengan tidak melulu menyalahkan siswa sebagai oknum yang tidak mau belajar.

Demikian, dalam 4-5 bulan ke depan, saya akan kembali berhubungan mesra dengan kata-kata UN (dan keluarganya) lagi. “Anakku ayo belajar….”, “kapan kamu akan Uprak?”, “kapan kamu akan Ujian Sekolah?”, “Ayo belajar….belajar…. besok ada try out (ke 1, 2, 3 atau 7 bahkan 10 #lebay)?

TechDays 2015 – Sebuah Laporan Pandang Mata

TechDays 2015 yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia ini rupanya berlangsung lumayan meriah selama beberapa hari. Tentu saja bagian yang paling menjadi sorotan saya adalah Microsoft dalam bidang pendidikan. Dan untuk itu, Microsoft mengadakan seminar singkat tentang peran teknologi Microsoft dalam pendidikan umumnya di Indonesia.

Saya berhasil “diterima” pendaftarannya setelah beberapa hari menunggu notifikasi karena “Due to the popularity of this event…..”. Jadi, jika saya berhasil datang  ke acara yang populer ini berarti wow dong ya? 😉

Acara dimulai cukup tepat waktu oleh para pembicara yang merupakan rekan-rekan dari Microsoft Indonesia khusus department edukasi nya. Visi mereka adalah mengembangkan pendidikan di Indonesia berbasis teknologi di era abad 21 ini.

Seminar disampaikan dalam bahasa Indonesia, sementara di ruangan Raffles 1 di Balai Kartini ada peserta berbahasa asing. Agak kurang sinkron jadinya.

Pembicara pertama, bapak Benny Kusuma, Education Lead, Microsoft Indonesia, memberikan pandangannya tentang pengaruh (positif tentunya) teknologi dalam dunia pembelajaran saat ini. Kadang sekolah ingin memanfaatkan teknologi tetapi pola pikir sekolah sendiri yang bisa  menghambat perkembangannya, seperti contoh, sekolah yang kuatir bila siswanya memiliki akses internet di sekolah maka siswa mengakses situs-situs tertentu yang dianggap sekolah berbahaya. Atau sekolah merasa kurangnya budget untuk urusan bandwith yang akan dipakai. (Saya  melirik ke arah tiga orang wakil dari sekolah yang sering mengadakan seminar orang tua tentang bahaya internet bagi usia remaja, berpikir mungkin mereka sudah mulai sadar, karena tentu saja kehadirannya di seminar ini, jika pola pikir selalu negatif maka akan terus negatif 😉 ).

Berturut-turut pembicara berikutnya, bapak Tony Seno, bapak Arthur Renaldy dan Mr. Lalit Mohan membahas sedikit tentang masa depan teknologi dalam dunia pendidikan, tentang apa itu ruang kelas modern dan ruang kelas virtual.

Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan merubah cara belajar, mengajar dan bekerja.  Maka dari itulah Microsoft menyediakan dan menawarkan Office 365 for Education yang mampu menjembatani proses hadir di abad 21 ini.

Beberapa layanan Office 365 for education tersebut antara lain Email, Kalender, Kontak, Perlindungan dari spam, 50 GB mailbox per orang, Audio/Video Konperensi, Office Web Apps, Media Kolaborasi, OneDrive 1TB, App Katalog, e-Discovery, dan lain-lain.

Dengan membangun kompetensi yang dibutuhkan dunia saat ini, siswa diharapkan dapat berpikir kritis, mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan temannya, serta berkreativitas / melakukan inovasi.

Increase Collaboration

Meningkatkan kolaborasi antara peserta didik dan pendidik dengan memberikan kemudahan akses berbagi file, dokumen dan informasi.

Asynchronous Learning

Mendukung kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

1 to 1 Tutoring

Menyediakan akses layanan komunikasi untuk berkonsultasi dengan pendidik. Selain itu dapat digunakan juga untuk layanan konsultasi dengan orang tua murid.

Virtual Classroom

Mendukung kelas pembelajaran jarak jauh yang dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik dari tempat mereka masing-masing.

E-Learning

Mendukung peningkatan pengalaman mengajar baik di dalam maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

Online Lab

Mendukung peningkatan pengalaman belajar dan berkolaborasi antar sesama siswa.

Seminar berakhir pukul 12:00, dan sharing mereka semakin meyakinkan saya bahwa memang masa depan itu telah hadir di sini, bahkan dari beberapa tahun yang lalu. Hanya kadang orang tak sadar, sudah seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan kita.

The future is already here — it’s just not very evenly distributed. (William Gibson).

Sharing yang cukup menarik, mengingat masih banyak sekolah dan para pelaku pendidikan saat ini yang sebenarnya masih menutup diri dengan teknologi.

Dengan berbekal alasan bahwa teknologi bukan satu-satunya alat untuk pembelajaran, dengan asumsi sekolah adalah tempat berinteraksi fisik bukan hanya terpaku pada gadget, maka seringkali saya jumpai pelaku pendidikan yang tidak mendukung pemakaian teknologi tadi di sekolah. “Ujian kita ujung-ujungnya pakai kertas dan tulis, anak tidak boleh dibiasakan enak tanpa menulis sehari-harinya”.

Sebaliknya, tidak sedikit pula yang merasa sudah berteknologi dengan menggunakan presentation (berbasis komputer) di kelas, meletakkan material / catatan di platform e-learning tertentu, tetapi pola pikir diakses kapanpun di manapun tidak berlaku karena nanti keenakan siswanya bisa dibantu kerjanya kalau di rumah.

Semoga perkembangan terus menghasilkan perubahan yang lebih baik, serta pola pikir yang semakin terbuka akan perubahan tersebut.

Berikut Materi dari Acara tersebut:

Edu TechDays 2015 Welcome Speech

Embracing Future Technology Trend in Education

TechDays Education

 

—————————————————————————————————-

 

Refleksi:

Beberapa artikel terkait dengan perkembangan teknologi dalam cara saya bersikap, merubah pola pikir, mengerti dan menjalankan hal-hal baru dengan bantuan teknologi, menjelang 20 tahun aktivitas belajar mengajar saya.

Pengajaran dan Pembelajaran Abad 21 – dari Perspektif Saya 21 , iPad for Lesson, Lembar Kerja Abad 21.

Belajar Nyata / Nyata Belajar (?)

Screen Shot 2015-09-28 at 3.38.22 PM

“Learning become relevant when we connect it with reality”
~ Robert John Meehan ~

Kemarin, saya dibuat cukup tertawa geli dengan komentar seorang siswi kelas 3 SMP yang sedang belajar matematika menjelang ulangan mid semester nya. Ada soal seperti ini “Jika paman memberikan uang dua juta rupiah kepada bibi maka uang mereka menjadi sama besar. Jika paman memberikan satu juta rupiah tetapi bibi kemudian mengembalikan 500.000 rupiah maka uang paman menjadi 2/3 dari uang bibi. Berapakah uang mereka masing-masing?”. Lalu yang kedua “Dua tahun yang lalu, usia adik 13 tahun lebih muda dari kakak. 11 tahun yang akan datang usia kakak akan menjadi dua kali usia adiknya. Berapa usia mereka dua tahun yang lalu?” (*angka persisnya saya lupa, namun jalan cerita soalnya seperti itu).

Komentar pertama si siswi tersebut adalah “astagahhhh, paman dan bibi kurang kerjaan ya, kasih-kasih uang lalu kembaliin, bikin pusing, ribet amat, kasih saya saja lah uangnya, aneh banget sih, mana mungkin sih benerannya mereka ributin uang kayak begitu?”

Bagi saya, komentar demikian sangat lucu dan spontan. Belum lagi mendengar komentar kedua, makin tersenyumlah saya, rasanya tidak perlu ditulis di sini kan? Sudah terbayangkah bapak-ibu apa komentarnya? Iya betul sekali, si anak berkomentar lihat saja akte kelahirannya 🙂

Kadang sebagai guru (matematika), kita sering terjebak dengan anggapan, mengajari anak matematika harus relevan dong dengan kehidupan sehari-hari, Uang adalah persoalaan sehari-hari, maka jadilah mengarang sebuah soal cerita berhubungan dengan kehidupan sehari-hari adalah ide cemerlang si guru untuk mempersiapkan masa depan mereka. Siswa menghubungkan masalah tadi dengan menerjemahkannya ke dalam kalimat matematika. Sempurna.

Adakah yang salah dalam hal ini? Rasanya bukan persoalan salah atau benar sih menurut saya. Secara “keilmuan”, sah saja ada soal cerita seperti itu. Lalu kalau sebenarnya sah-sah saja, apakah menjadi salah si siswa yang kurang ber-empati pada guru sang pembuat soal sehingga berkomentar yang seperti di atas? Ya tidak juga kan?

Ada beberapa hal yang bisa disimak dalam hal ini:

1. Jadilah guru yang “gaul”, siswa dibuat tertawa dan gembira dulu dengan soal-soal cerita yang akan bisa jadi “lucu-lucu”. Atau malah melakukan modifikasi pada soal yang menanyakan usia, karena yang ditanyakan adalah sebenarnya anak yang baru lahir (usia nol), jadi daripada diberikan pertanyaan “berapa usia mereka dua tahun lalu?” mungkin justru malah sebaiknya ditantang dengan pertanyaan “apakah anak tersebut sudah lahir dua tahun lalu?”

2. Tetap berkaitan dengan logika yang segar dan benar. Agak gimana juga memang tiba-tiba sang siswa diberi soal tentang paman bibi saling memberi uang seperti contoh di atas, sementara sehari-hari di kelas nampak terlalu “serius”. Lebih baik jika soalnya menceritakan menabung dan mengambil uang, misalnya.

3. Hal ini cukup berkaitan erat dengan faktor sosial ekonomi siswa, lingkungan tempat kita mengajar. Mengapa susah-susah memikirkan diberi uang (paman memberikan kepada bibi), mengembalikan uang (bibi mengembalikan uangnya), kalau mereka terbiasa dapat uang jajan berkala. Lebih bijak jika soalnya mengarah kepada “membeli dan membandingkan beberapa produk”, misalnya.

Begitulah memang sulitnya menerapkan pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak cara, saya yakin, sudah beragam cara pula dari yang diterapkan bapak-ibu (yang sudah dan pernah menjadi) guru sekalian.

Namun satu hal kita memang perlu saling mengingatkan bahwa, soal yang “relevant” adalah sederhana bukan mencari relevant dengan kehidupan berarti membuat soal nampak susah karena anggapan kita belajar susah berarti belajar kehidupan.

How Technology help in my Class – an experience

I was invited to share my experience in GEGWJ +1 meet up, event to celebrate their first anniversary community in Google Educator Group West Jakarta, about “How technology help in my Class”.

Technology helps a lot, indeed.

So, I share one experience here, towards the event.

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.06 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.35 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.50 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.08 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.22 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.36 PM

Writing on Penultimate during explanation in front of the class, compile into Evernote, share it through LMS Schoology.

And, when writing in class is not just enough like I said before, make video cast in Explain Everything, share it through LMS, as well.

LMS, another technology that helps me to assist online assessment, in class or at home.

Ini Daerahku, Carilah Daerahmu

Curahan hati pagi hari menjelang upacara memperingati Proklamasi RI ke 70. *ID* #RI70

Alkisah di suatu kota besar nan megah sebagai salah satu kota terbesar di dunia (metropolitan, katanya), ada suatu daerah perumahan megah nan permai, indah merona, aman sentosa, memiliki peraturan hidup yang maha dahsyat.

Di sudut-sudut perumahan ini banyak tertulis spanduk-spanduk peringatan bagi para warganya dan para pelintas yang menggunakan (katanya fasilitas) jalanan warganya.

“Bagi para pengendara, dilarang melawan arus”

“Mobil/motor dilarang ngebut-ngebutan”

“Ini bukan jalan umum untuk dilalui menuju sekolah’

Bagus bukan? Untuk mengingatkan kesadaran semua orang yang melalui jalan tersebut, jelas hal itu bagus dan bermakna. Manusia kalau tidak diingatkan, mudah sekali lupa.

Namun, sayangnya, begitu melewati jalanan utama perumahan yang lebarnya mencapai 10 meter (minimal), mudah sekali menjumpai para pejalan kaki pagi hari, menggunakan jalanan tidak sesuai aturan. Jalan / lari pagi di sisi kanan jalan, di tengah jalan, dengan wajah pongah menunjukkan “Ini punya kami, fasilitas ini kami yang bayar, jadi kami boleh begini. Peraturan itu untuk kalian yang tidak memiliki ini semua”. Mudah sekali membaca pikiran seperti itu dari wajah-wajah yang nampak.

Jadi ceritanya ada sekolah yang dibangun di ujung perumahan yang masih merupakan tanah fasum.

Jika jalanan itu merupakan akses menuju suatu bangunan di tanah fasum (fasilitas umum), maka fasum yang harus tahu diri. Demikian kira-kira jika setiap hari selalu dengan alasan baru menutup akses dengan mengunci pintu-pintu gerbang perumahan untuk mencapai lokasi sekolah yang berdiri di atas tanah fasum tadi.

“Kenapa dong, tidak permisi dulu kepada kita untuk bangun sekolahan di sini, sopan-sopannya situ tahu aturan dong bagaimana musti permisi dulu, kita jadi terganggu kan, masak kita jadi tidak bisa olahraga pagi, polusi, berisik, lalu lalang mobil kalau kalian lewat jalan ini.” Jadi kira-kira begini “Kalau kalian permisi kan kalian tahu tidak bisa bangun sekolah di sini karena kami tidak ijinkan” (oh begitukah?).

“Siapa Pemda yang memberikan ijin mendirikan bangunan sekolah di atas tanah fasum? Eks Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok? Ah mana cukup hanya mereka. Pemda tahu apa sih? Memang Pemda yang kasih makan kita? Memang Pemda yang kasih rejeki sama kita? Enak aja, kita beli kavling sendiri nih, kita kasih makan keamanan di sini buat jagain kita, situ jangan enak aja bilang dapat ijin Pemda……” (tarik napas dulu) Bagaimana tidak hal itu terus yang terngiang di benak saya setiap menyaksikan kejadian pemblokiran jalan yang sudah berlangsung tiga minggu belakangan ini.

Waktu saya tanyakan kepada pak Satpam dan meminta untuk dibukakan celah saja supaya jalan kaki bisa lewat, pak Satpam hanya bilang “kami hanya diperintah bu, kami saja tidak pegang kunci”…. dan seperti lingkaran setan yang butuh ditebas pedang mengkilat tajam, warga kecil dibayar warga ber-uang banyak, lalu harus patuh, melayani, mengikuti, supaya tetap dapat makan, rakyat kecil di bawah, rakyat besar (?) di atas, rakyat bawah sepatutnya ikuti rakyat atas….. Apapun itu, ada sistem yang memang jelas salah di Indonesia. Salah gak salah deh, kan isi Proklamasinya saja ada hal-hal yang mengenai pelaksanaan sebuah negara merdeka masih bagian dari “dan lain-lain” dan bebas saja mendefinisikan “dalam tempo sesingkat-singkatnya”, singkat menurut saya? menurut anda? menurut negara? menurut pendiri sekolah? menurut Pemda pemilik fasum? menurut warga setempat? 🙂

70 tahun sudah kemerdekaan, tetapi mau lewat jalanan umum (umum menurut saya dan pribadi menurut warga setempat) harus distop dan bahkan dilarang karena kunci dipegang penguasa setempat. Kunci “dan lain-lain” perijinan akan diberikan jika pihak sekolah dan Pemda mau bernegosiasi lagi “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Waktu bergulir hampir jam 7.15 dan siswa semakin banyak berdatangan dengan berjalan kaki melewati gerbang yang dipermasalahkan tersebut…… Semoga esok hari lebih baik dan sekarang saya harus bersiap-siap karena upacara akan segera dimulai jam 7.30 nanti.

Apapun itu, Dirgahayu Republikku! Makin maju dan jaya Indonesia!

 

Peran Guru atau Orang Tua (?)

image
Gambar diambil dari http://schools.dekalb.k12.ga.us/salem/parentresources/images/80F0BDFA2FEF4C08AE4DFB384073BC4B.gif

Dua minggu yang lalu, saya berkesempatan mengambil rapor Matthew. Dia sudah menyelesaikan kelas 8 dan akan menempuh kelas 9 semester depan. Sebagai orang tua tentu saja saya merasa “dag dig dug” menghadapi hasil evaluasinya nanti. Saya rasa kebanyakan orang tua mungkin mengalami perasaan yang sama, dengan kadar yang tentu saja berbeda-beda.

Orang tua mana yang tidak bangga mendapati anaknya yang memiliki nilai akademis terbaik atau ada dalam kelompok terbaik.

Atau orang tua mana yang tidak menjadi sedikitpun kuatir mendapati anaknya yang kurang secara akademis ataupun secara pergaulan. Memang betul, banyak sekali pelajaran berharga bagi kita para orang tua tentang kenyataan bahwa bagus tidaknya anak dalam prestasi akademis di sekolah tidak menunjukkan bukti konkret akan keberhasilannya di masa depan. Sayapun melihat, makin banyak orang tua yang makin menyadari bahwa prestasi itu beragam dan prestasi sekolah bukan kunci satu-satunya.

Saya pribadi, sebagai guru, memahami bahwa prestasi siswa atau anak bukan hanya melulu diukur melalui tingkatan peringkat di kelas saja, saya termasuk yang setuju bahwa sekolah yang masih mengedepankan ranking untuk siswanya adalah sekolah yang kurang menghargai proses belajar si siswa itu sendiri.

Kondisi ini berlanjut menjadi kultur di banyak sekolah (atau kalau boleh saya sebut sebut kultur pendidikan di negara kita). Seorang siswa saya dua tahun lalu, anggota penyanyi “Di atas rata-rata” pimpinan Gita Gutawa, anak cerdas, pintar, namun kesibukan dia dan seiring bertumbuhnya dia menjadi remaja, mendapati dirinya ternyata tidak lagi secemerlang waktu SD dalam hal prestasi akademis. Anak ini pernah mengungkapkan bahwa sebenarnya di rumahpun dia sering terkena marah, karena nilai akademis dari sekolah terlalu banyak angka 6. Sebagai gurunya, kita butuh menggali kreatifitas dalam mengajar, anaknya sulit diam, dia pasti banyak bergerak, bergumam lagu, dan pokoknya selalu bergerak, kepalanya, kakinya, tangannya. Coba bayangkan bagaimana dia harus bertahan 8 jam sehari di sekolah untuk duduk manis dan mendengarkan semua pelajaran. Hampir mustahil, bukan? Saya katakan padanya bahwa yang dia butuhkan adalah keseimbangan, seimbang antara kariernya, sekolahnya, dan cara belajarnya, dan berusaha memberi masukan bahwa nilai akademis jangan dijadikan patokan keberhasilannya semata, karena justru di usianya saat ini dia sedang belajar sekaligus dua hal, sebagai pelajar dan penyanyi. Tanggapan anak ini malah berbalik bertanya pada saya apakah saya bisa menjamin bahwa ada sekolah yang tidak menuntut nilai? Yang tidak melulu ribut nilai siswanya di bawah kkm? Yang tidak ributin harus lulus nilai UN?

Kembali pada saya. Sejujurnya, saya paling malas menjawab pertanyaan orang tua yang bertanya “anak saya ranking berapa ya? Kalau tahu rankingnya maka saya bisa mendorong anak saya lebih keras”. Dan banyak lagi pertanyaan seputar ranking tadi. Walaupun malas, ya tetap saja saya jawab pertanyaan-pertanyaan seputar hal itu, karena mungkin memang si orang tua ini ingin memiliki kebanggaan yang nampak saat ini, ya tidak apa-apa juga asal dalam porsi yang masih masuk akal. Tetapi saya pernah mendapati pernyataan yang lebih mengesalkan yaitu pernyataan bahwa si anak akan dapat sangsi jika tidak meraih peringkat satu….ah segitunya. 😊

Tiba waktunya bagi saya untuk mengalami peran sebagai orang tua siswa kelas 8. Di mana siswa ini, anak saya, si Matthew, anak aktif, berusaha kenal dengan semua siswa, sering diajak main gitar, tim futsal, ikutan basket pula, jadi ketua kelas dua semester, tetapi tidak mau bergabung dengan OSIS, sedikit “tipikal” anak abege yang makin cuek akan berasa makin “kewl”.

Tanpa perlu bertanya panjang lebar kepada guru wali kelasnya perihal ranking, yang mana saya juga tidak pernah bertanya duluan tetapi gurunya setiap semester pasti memberitahu perihal ranking (katanya rata-rata orang tua murid pasti bertanya), daftar nama 10 besar peringkat kelas terpampang di papan tulis. Reflek saya menegur Matthew, “wah, kamu merosot nih peringkatnya, kabur dari 10 besar”. Aduh, saya bicara demikian? Senyum sendiri sih tetapi tetap saja saya ambil kesempatan sebagai orang tua dan memberikan nasehat pada Matthew tentang belajar yang lebih tekun.

Matthew bilang ada rasa malu karena prestasinya menurun, otomatis dia menggunakan skala ranking tadi untuk mengukur dirinya. Wah dilema nih, bagaimana mengatakan yang cukup tepat kepadanya bahwa benar bukan ranking sebagai tujuan akhir tetapi ranking adalah imbas dari belajar serius. Di sisi lain, mau tidak mau saya membenarkan, bahwa Matthew harus menyadari kekurangannya. Ketidakseriusannya dalam belajar pelajaran sekolah setidaknya membuatnya berpikir lebih dewasa. Saat ini, di usianya sekarang ini, tugas utamanya berdasarkan status pelajarnya adalah belajar.

Tiba giliran saya berhadapan dengan guru wali kelasnya. Obrolan berlangsung cukup singkat, sang wali kelas mengatakan bahwa Matthew tidak ada masalah, pintar, mau membantu guru dengan tidak pernah mengeluh menjadi ketua kelas dua semester, siswa yang diandalkan bisa menggerakan motivasi kelas, jago futsal dan masuk tim, jago main gitar. Berbunga-bunga lah hati saya sebagai orang tua. Lalu saya mencoba menyeimbangkan pernyataan ibu wali kelas ini dengan menyinggung pelajarannya yang kurang memuaskan sambil melirik Matthew yang juga terlihat lega “tidak dimarahi” gurunya. Tetapi lagi-lagi ibu guru mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah, Matthew butuh sedikit lebih rajin membaca untuk beberapa pelajaran yang memang harus menghapal. “Ah, ibu, tidak apa-apa, itu mah bagus kok, tinggal ditingkatin lebih rajin saja, anak ibu sama sekali tidak ada masalah, pintar kok” demikian tepatnya kata-kata sang wali kelas.

Saya tersenyum sih dalam hati, sebagai guru (dengan idealisme yang saya sebutkan di atas), sadar betul bahwa Matthew meraih prestasi sekolahnya cukup baik, cukup imbang antara akademis dan sosialnya. Tetapi sebagai orang tua, jujur saja, masih gereget dengat kata-kata gurunya, berharap gurunya “menegur” Matthew dan mengatakan “kenapa fokusmu hanya futsal terus dan tidak belajar?” (Hahaha, ya benar sekali, saya seperti sedang mencari pembenaran melalui gurunya 😛).

Matthew pernah menuliskan sebuah catatan tentang pelajaran sejarahnya sewaktu dia kelas 5 SD, dan catatan itu menjadi sebuah artikel yang paling berperan memberikan “hit” terbanyak pada website saya.

Intinya, inilah yang saya katakan kepadanya, bahwa belajar untuk senang dulu pada pelajaran, maka kesenangan belajar akan muncul dengan sendirinya. Benar ada faktor luar yaitu sang pengajar alias guru, tetapi faktor terpenting tetaplah diri kita sendiri.
Jika kita mengabaikan belajar, maka kita yang akan ketinggalan, banyak tidak tahu dan menjadi tidak mau tahu bahwa berkembangnya ilmu di luar sana sudah sangat pesat. Ini bagian susahnya, dan terhadap anak sendiri, nampak lebih susah.

Kenyataan bahwa dunia pendidikan di Indonesia, melihat banyak faktor nilai dan peringkat, saya katakan sebagai bonus dan imbas apabila kita rajin belajar dan selalu siap menghadapi tes apapun, maka keuntungan ganda akan didapat, makin kaya ilmu sekaligus mempermudah kita melenggang ke jenjang pendidikan selanjutnya.