Zaman Now

Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun diucapkan dalam sebuah percakapan.

Setelah itu, seperti biasa, banyak deh semua kejadian dihubungkan dengan istilah “jaman now”, seperti “kids jaman now’, “emak-emak jaman now”, “guru jaman now” dan lain-lain.

Saya mau berpendapat soal jaman now ini. Sebenarnya sih menurut saya, setiap masa, setiap generasi, setiap periode tertentu, pasti ada perbandingan antara yang lalu dengan yang sekarang. Biasa saja. (Kurang seru nih, saya tidak kekinian, jaman now itu “happening” lho, masak saya anggap biasa-biasa saja….hehe).

Membandingkan untuk mencari kelebihan, itu wajar kok. Pastilah terucap, semodel “lho kok sekarang lebih enak ya”, “dulu itu ya bersih deh sungainya”, “sekarang enak lho ada rumah lapis, eh kue lapis lezat”. Wajar kan?

Nah, yang kadang berlebihan pada saat membandingkan adalah penggunaan ungkapan “jaman now” yang kesannya mewakili dulu baik dan sekarang buruk. Bukankah kita semua akan mengalami fase perubahan dulu dan sekarang? Manusia sering lupa bahwa fase sekarangnya adalah kelanjutan dari dulunya. Dulu dia tidak mengalami lalu sekarang melihat kok ada yang mengalami dan itu harus dihindari, maka muncullah “anak jaman now kok suka clubbing, dulu mah kita main volley”. Ya kamu main volley, yang clubbing dulu juga banyak, kalau nggak, mana ada dulu Lipstick (ups, ketauan umur).

Anak remaja usia 16 tahun. “wah itu anak SD sekarang gayanya sok tua amat ya, berani lawan anak SMA, dasar anak jaman now”. Nah dulu kalian SD, merasa sudah besar belum? Lalu kalau anak SMA nya nakal, kalian sebagai anak SD tidak boleh melawan untuk kebenaran?

Ibu-ibu yang memiliki anak remaja. “Aduh Nak, kamu kok malas ya tidak mau belajar, main hape melulu. Dulu mama ini, belajar terus, kamu tuh ya anak jaman now, maunya enak saja…..” Mama, dulu mama kecil tidak ada hape soalnya, lalu sekarang mama punya hape yang diberikan secara sadar kepada anaknya (kecuali anaknya mencuri atau beli sendiri), mama suka belajar karena mama memiliki sifat itu, anak mama sekarang belajar juga(kadang baca dari hape sambil chat say hello dengan gebetan), anak mama memilih belajar yang dia sukai. Mama kesal? Iya wajar, sayapun maklum sekali. Tetapi yuk coba rasa kesal kita, kita bawa ke hal lain agar si anak remaja ini lebih menghargai waktunya.

Media gosip memberitakan artis yang diduga menjadi perusak rumah tangga orang lain. “Itu artis J, gak tahu malu ya, artis jaman now…….”. Ada yang dulu masih bayi berarti tidak dengar gosip mobil menabrak tembok rumah mewah 🙂

Bapak ibu Guru pusing melihat siswanya tidak belajar. “Aduh, anak jaman now, tidak bertanggung jawab dengan sekolah. Besok ujian, malah jalan-jalan ke mall dan di kelas tidak gigih berpikir untuk menjawab soal malah bobo”. Iya betul, ada yang begitu. Introspeksi kita apa? Hanya menyalahkan karena mereka anak jaman now, hidupnya keenakan dari lahir? Sementara kita melihat bahwa sistem pendidikan sekolah kita juga ada beberapa makin ngawur? KKM dibuat setinggi mungkin demi nama keren sekolah. KKM sekolah banyak yang 75 lho. Hebat kan. Lalu guru membuat soal ujian yang hebat sampai satu angkatan kelas harus mengulang karena terlalu banyak yang gagal? Sekolah yang efektif katakanlah 5 bulan, ada segala rupa ujian wajib bernama UTS, UAS/PAS. Ujian masih bersifat tertulis. Pelajaran tidak relevan bagi anak-anak. Banyak pelajaran harus dihapal mati. Dan jika siswa menjawab tidak sesuai kunci jawaban langsung salah pula.

“Murid jaman now, nyonteknya canggih”. Maksudnya mungkin bapak-ibu guru dulu kebetulan tidak suka mencontek dengan canggih tetapi hanya salin PR 🙂 hehe…. Bapak ibu tidak pernah mendengar cerita mencontek massal satu angkatan demi menghapal butir-butir Pancasila kan? Dulu belum lahir atau masih balita mungkin 😉

“Anak jaman now kurang tanggung jawab, terlalu dimanja dari lahir, semua-semua dipenuhi, hidup ini keras, kapan mau belajar?”. Pak, Bu, waktu lahir, bayi, anak kecil, bapak ibu tidak dimanja orang tuanya? Jika orang tua bapak ibu sanggup dengan finansialnya, bapak ibu pun bahagia dengan dipenuhi berbagai kebutuhan dan sedikit kemewahan kan? Bapak Ibu kecil dulu tahu kalau hidup bakalan keras? dulu makan kue batu? Periode per periode usia kita lah yang membawa kita lebih dewasa (semoga), lebih tahu, lebih bijak karena kita lebih dahulu mengalami berbagai persoalan dalam hidup. Kan kita lahir duluan. Dan lagi, bapak ibu guru bicara ini seperti menyalahkan orang tua, bapak ibu sudahkah jadi orang tua? Sudah sempurnakah gaya mendidik kita yang kebetulan menjadi guru ini terhadap anak-anak kita sendiri? Nanti guru-guru anak kita menyatakan hal yang sama, siapkah kita bapak ibu? Jadi tenanglah, manusia selalu memiliki masa / periode nya masing-masing 🙂

Jadi karena kita ada di periode sekarang, melihat yang terjadi sekarang, jika bukan bercanda, kurangilah membandingkan anak-anak sekarang dengan yang dulu kita alami. Beda. Dan tidak selalu relevan.

Contoh alat bantu mengajar saya jaman old dan jaman now 😉
                               

Mengapa OHP? Dulu tersedia di kelas.

Mengapa Apple TV? Tersedia Projector HDMI di kelas dan jaringan wifi.

Dua era yang berbeda bukan?

Gubernur vs Gabener

Uhm… Sudah 6 bulan 14 hari, kalau tidak salah, pak Ahok di penjara. 6 bulan? Bagi saya yang jadi guru, berasa cepat, satu semester ajaran telah berakhir. Bagi pak Ahok? euuh entahlah, pasti lama. Bagi keluarganya? Jelas lama banget.

Pak Ahok ini masih menjadi “the one and only” Gubernur saya sih. Sekarang ini Jakarta kehilangan Gubernur sebenarnya. Yang ada hanya penguasa dan yang merasa berkuasa. Sok… monggo…

Kata kaum sana, jika masih membicarakan pak Ahok, artinya belum bisa “move on”. Emang siapa di sini yang 42% bisa move on dari Gubernur kita? Kayaknya gak ada kan? Ya kalau kaum sana yang 58% marah dan tersinggung dengan ketidak “move on” an kita, ya silahkan dong, kan yang punya kelompok JKT58 ya kalian, bukan kami. Hehe…

Kenapa sih memilih tidak mau move on? Sebenarnya saya pribadi sih bukan masalah bisa move on atau tidak. Saya hanya tidak menganggap ada Gubernur lain setelah pak Ahok dan pak Djarot. Gabener sih ada dong, Gubernur yang tidak ada.

Bagaimana mau bener, kalau nafsu menang mengalahkan segalanya, menjual kata-kata manis untuk kebanyakan penduduk yang (maaf) memang masih bodoh. Mengancam lewat agama. Sumpah, itu sudah bagian yang paling menunjukkan kualitas manusia paling rendah. Wait…. emang Gabener manusia? Ya kali.

Apa ya contoh-contoh yang membuat Anies itu semakin tak ada nilainya di mata saya? Pertama, raut mukanya itu lho, ya ampun…… Tapi benar kok, raut wajahnya menunjukkan ada keberpihakan dari suatu kegelapan, kemunafikan, ketamakan, keegoisan, kebodohan dan lain lain….

Apakah dia politikus sejati? Jika politikus didefinisikan sebagai jilat sana jilat sini, bicara sebentar A, sebentar B, bisa jadi si Anies ini politikus handal.

Dahulu mengatakan visinya yang ingin menenun kebangsaan, tetapi sekarang mendukung NKRI bersyariah. Dahulu menyatakan ormas tertentu tidak sesuai dengan Pancasila, saat Pilkada malah memuja sang ketua ormas di hadapannya bahwa inilah sang pemersatu bangsa. Gilak apa ya. Dahulu menyatakan kita adalah bangsa Indonesia, sekarang rebut Indonesia karena kita pribumi harus kembali mengambil alih negara ini. Super gila.

Bagi saya, yang paling “memuakan” dari kelakuan Anies adalah menyalahkan pak Ahok terlebih dahulu untuk sebuah keputusan gila yang dia perbuat. Harus salah pak Ahok dulu, lalu seenaknya berkicau ke mana-mana di media. Dan tertangkap basah telah salah bicara, enak saja bilang (contohnya) “salah alamat pengiriman masih bisa ditolerir”. Mau menaikkan APBD sedemikian besar? Tanggung jawabkan sendiri, ini malah menutupi borok dengan menyalahkan orang lain. Pengecut dan main kasar. Pak Ahok sedang dipenjara, beliau tidak bisa membela dirinya, lalu dua sontoloyo ini selalu melempar kesalahan kepada beliau? Duh, rendahnya.

Sebegitu takutnyakah mereka yang 58% memilih pemimpinnya yang seperti ini? Bolehkah saya bertanya, apakah penyebab ketakutan kalian akan pemimpin benar dan adil namun berbeda keyakinan dengan kalian? Yakin sih, gak bakal ada yang mau jawab. Sudahlah, saya tidak mau bermain pula dengan keyakinan dan Agama itu.

Memecah belah masyarakat dengan perkataan “kaum pribumi harus merebut kembali….”, tak apa asalkan santun. APBD melonjak, tak apa asal santun. Memfitnah orang lain, tak apa asal santun. Mendukung perubahan falsafah negara, tak apa asal santun. Anies termakan oleh gayanya dan pencitraannya sendiri yaitu ingin santun. Maaf, santun adalah jauh dari Anies. Lihatkah kalian cuplikan-cuplikan video Anies saat menjadi jubir Jokowi di tahun 2014 lalu? Dan bandingkan dengan gaya Anies di Pilkada dan saat ini? Seperti melihat kepribadian ganda kah? Atau lihat orang mabok? Hilang ingatan? Anda paham kan maksud saya?

APBD Jakarta 2018 mencapai lebih dari 77 trilyun rupiah (dari tahun sebelumnya 71 trilyun), yang mana di dalamnya terdapat sejumlah 28,99 milyar rupiah untuk TGUPP), dan dana hibah di beberapa bidang. Salah satunya HIMPAUDI 40.2 milyar dan PGRI 367 milyar. Lalu terbitlah selebaran yang berseliweran di grup WA guru-guru swasta tentang “Persyaratan Pendataan Guru Swasta Untuk Mendapat Tunjangan dari Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Wow bukan? 🙂 Lalu organisasi Guru yang lain seperti FSGI, IGI dan lain-lain merasa cemburu, mengapa dana hibah disalurkan hanya melalui PGRI…… jreng jreng jreng….. selamat lah kalian guru yang akan meminta dana hibah tersebut. Gaji guru swasta yang hanya 1 juta rupiah bersaing dengan yang sudah mencapai 10 juta rupiah, ditambah dengan tunjangan sertifikasi, sekarang berebut dana hibah. Saya hanya mampu berucap selamat mengejar hibahmu 😉   *Cari makan gak gitu-gitu amatlah tapi Anies Sandi mengadu domba guru semua.

Kebetulan dan untungnya di sini adalah, saya tidak pernah merasa terjebak “menyukai” sosok Anies yang di awal kemunculannya dahulu menyulut orang banyak untuk kagum dan terpesona dengan kata-kata yang santun dan bahasa-bahasa nan indah yang sering dia ungkapkan. Sejak awal, saya kurang menyukainya.  Mungkin karena saya tidak sreg dengan orang yang suka berkata-kata terlalu muluk, jadi rasanya ada yang tidak berkenan melihat sosok ini. Ya tentu saja ditambah gaya Anies yang kalau bicara disertai dengan memelet lidah ke bibir, entah apa maksudnya, tidak suka saja. Titik!!

Ketidaksukaan ini pernah saya ungkapkan dalam pembicaraan di media pesan online dengan seorang rekan senior yang kebetulan pula merupakan tetangga Anies semasa di Jogya. Rekan ini mencoba menasehati saya dengan mengatakan susah mencari orang baik sebagai pemimpin, Anies orang baik. Baiklah. Saya mencoba menyikapi dengan kebetulan mendapat undangan berada di ruang yang sama dengan “mantan Mentri Pendidikan” ini di suatu acara di bulan Mei 2016. Di mana rekan-rekan guru lain berebut mengambil foto bersama Anies, dan saya ingat saat itu saya merasa baiklah saya mau satu ruangan dengannya, tetapi ambil foto? gak lah, mending saya berfoto bersama Denny Chandra, sang host 🙂

27 Juli 2016, jabatan menteri pendidikan itupun dicopot oleh Presiden Jokowi. Pertanda apa? Hanya Presiden yang tahu persis dan Tuhan tentunya 🙂

Dicopot, lalu berambisi menjadi DKI 1, lalu berhasil menjungkalkan pak Ahok, bahkan sampai ke penjara.  Ow, tentulah, ini akan disanggah toh sama Anies, ya pasti dan tak apa-apa. Tetapi rekam jejak, kelakuan Anies dan tim sukses yang membawa agama ke dalam perpolitikan, jubir Pandji, penasehat Eep, kenyataan Riziek bisa satu lokasi dengan Anies, pak Djarot yang notabene Islam namun diusir dari Mesjid, semuanya makin menunjukkan bahwa Anies adalah penjilat, kemaruk kekuasaan, menghalalkan segala cara dan mengemasnya dengan kata-kata buaian yang menyejukkan sebagian orang yang menurut saya itulah hipnotis kata-kata oleh Anies. Alhasil, yang terpengaruh 58%, yang menjadi korban adalah kita semua. Terngiang kata-kata “Anies orang baik”……. saya percaya pada dasarnya semua manusia adalah baik, tetapi jika di hati seseorang ditumbuhkan jiwa iri, dengki, jahat, hawa nafsu menguasai, membuka diri untuk pengaruh ketidakbaikan tadi, maka yang seharusnya manusia adalah baik, lambat laun akan berubah menjadi manusia tidak baik.

Sedih memikirkan Jakarta. Setelah puluhan tahun hidup di Jakarta, paling berkesan dengan jaman pak Ahok, perubahan itu nyata, kali bersampah menjadi kali bersih, jalanan berantakan, menjadi jalanan lebih mulus, banjir menjadi berkurang di beberapa titik utama banjir selama ini. Dan kebaikan itu diganti bagai hujan sehari, oleh orang semodel Anies. Jika memang diganti oleh orang yang bukan Anies, menang Pemilu secara wajar, saya rasa kita sedih kehilangan tetapi akan melanjutkan dengan Gubernur baru.

Sekarang? sudah mual dengan Gabener Anies dan Sandi (tolong jangan dilupakan ini paket bersama 😉 ). Sulit untuk tidak sedih melihat kenyataan sehari-hari, ada saja berita-berita tentang mereka yang luar biasa tidak masuk akal.

Kangen pak Ahok, adalah ungkapan perasaan hati banyak rakyat Jakarta yang benar-benar memahami perubahan terbaik untuk Jakarta. Kangen ketegasan pak Ahok memelihara sejarah Jakarta, seperti Monas, dengan tidak mengijinkan dipakai sebagai sarana pesta keagamaan tertentu. Karena Monas adalah Monumen Nasional, bukan gedung / lapangan untuk tempat sembahyang. Yang oleh Anies kembali dipakai pertama kali untuk acara shalawat, lalu sebenarnya berlanjut untuk reuni (pasangannya reuda – red 🙂  jayus) 212. Kelihatan kan polanya, memberi ijin di awal, untuk sesuatu yang lebih besar demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, ingin mengubah falsafah negara Pancasila menjadi NKRI bersyariah. Pejabat Pemerintah ikut di dalamnya? Aneh? iya, bagi saya sangat aneh semua ini.

Tetap sehat di Mako Brimob ya pak Ahok. Berkarya dari balik jeruji. Kuatkan hati, iman dan fisik. Tuhan berkati.

Siswa Terbaik

Bapak/Ibu Guru, apa definisi siswa terbaik / pelajar teladan / siswa berprestasi menurut anda?

Kebanyakan akan menjawab dengan definisi siswa yang pelajarannya menghasilkan nilai paling tinggi. Pelajar yang keseluruhan dirinya menjadi teladan bagi teman-temannya. Siswa yang seringkali memenangkan pertandingan / perlombaan baik akademis maupun non akademis. Siswa kesayangan guru (? 😉 ).

Singkat kata, siswa dengan definisi di atas adalah siswa idaman para Guru, bukan? Bahagianya kita dengan pekerjaan yang otomatis menjadi enak ini, tidak perlu mendidik berlebihan, tidak perlu bersusah payah menyampaikan pelajaran dengan berbagai metode yang dianggap cocok. Siswa sudah cakap dari “sananya”, dari lahir maksudnya.

Tapi, yang di atas itu kan masih secara umum. Saya masih meyakini ada perbedaan pandangan atau tidak terfokus pada satu stereotip saja. Terbaik, bisa saja menjadi sama-sama baik dalam satu kelompok, bisa terbaik mengalami kemajuan, atau bisa juga terbaik dalam usaha dan perjuangan selama dia bersekolah.

Kadang saya bingung juga jika ada siswa yang “protes” kepada saya, kok saya bilang bagus untuk sebuah nilai yang menurutnya biasa-biasa saja. Maaf, saya datang dari era “pak Tino Sidin” yang selalu bilang bagus untuk karya anak-anak yang dikirimkan kepada beliau 😉 . Jawaban serius saya salah satunya adalah “Jangan menilai dirimu terlalu tinggi di luar batasmu, nak. Tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi. Jangan samakan dirimu dengan si jenius A, si cerdas B, tapi kamu adalah kamu yang sudah istimewa bagi saya memberikan hasil seperti ini”. Idealkah jawaban itu? Balik lagi, tergantung pandangan anda sendiri. Bukan berarti siswa puas dengan jawaban tersebut, mungkin saja malah menggerutu, “aduuuh ini guru kok nyebelin banget ya, jelek dibilang bagus” 😀

Entahlah, tetapi saya percaya, terbaik saat ini, belum tentu melulu menjadi terbaik di masa depan. Tidak semua yang berprestasi sangat baik saja yang mampu menjadi lulusan hebat dari pendidikan tinggi mereka. Selama 21 tahun di sekolah, rasanya saya cukup melihat bukti, bahwa biasa-biasa saja di sekolah, sekarang telah menjadi dokter, menjadi eksekutif di bidang tertentu. Karena siswa yang biasa atau kurang bagus secara akademis tadi, bukan berarti kalah, mereka hanya berproses lebih lama dari teman-temannya untuk menjadi terbaik di jenjang sekolah. Kan tidak mungkin juga semua menjadi terbaik kalau ujung-ujungnya sekolah diminta membuat peringkat tetap memilih yang “ter-” tadi. Atau contoh lain, malah siswa terbaik di SMP dengan mengambil mata pelajaran “all sciences” di SMA, sudah dibanggakan akan menjadi calon dokter, ternyata setelah menyelesaikan dua gelar sarjana, memilih menjadi penulis, dan bukan sembarang penulis, minggu ini buku perdananya diluncurkan oleh penerbit Gramedia. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sebagai Guru, sebagai sekolah, sebenarnya, apa sih tuntutan kita kepada mereka anak-anak? Ingin anaknya berhasil baik dalam hal nilai / prestasi akademis? Untuk siapa? Kebanggaan bapak/ibu? Peringkat sekolah? Bangga posting foto anak-anak itu di pagar sekeliling sekolah? Belum tentu anaknya suka sih fotonya selebar spanduk dipajang di pinggir jalan raya (hmm, sekolah apa ya? adaaa aja 😉 ). Tidak salah menjadi bangga kok, itu hal normal dan manusiawi. Guru memiliki target, sekolahpun sama memiliki target. Namun yang saya sedang bahas di sini adalah dari sisi siswanya.

Sejujurnya saja, namanya manusia yang hidupnya memiliki target, gurupun kadang merasa tantangan mencapai target tadi seperti sebuah perlombaan untuk mengantar siswanya meraih peringkat tertinggi, contohnya waktu saya sedang ikut berdoa bersama siswa menjelang ujian (kebetulan mata pelajaran saya), setelah selesai berdoa, ada rekan yang menghampiri saya dan berkata “wahh doa nih yee supaya dapat bintang”……… Dia tidak tahu kan isi doa saya, jadi “malesin banget” ditanggapi kalau kata anak-anak sekarang, walaupun bisa saja itu hanya ujaran bercanda 😀 .

Sebagai penutup cerita, ada cerita menarik dari seorang siswa yang baru menyelesaikan jenjang SMA, siswa yang hasil nilai akademisnya selalu kurang memuaskan. Dia diganjar predikat siswa terbaik untuk mata pelajaran seni musik. Seorang rekan melontarkan pertanyaan kepada saya, “Tidak salah siswa tersebut mendapat predikat terbaik? (kalimat asli sudah diganti agar lebih halus untuk keperluan tulisan ini 🙂 ). Sebelum saya sempat menjawab atau melawan pernyataan tersebut, guru seni datang menghampiri dan pertanyaan serupa kembali dilontarkan kepadanya. Dan jawabannya, sungguh teramat keren (bagi saya), “eh, justru saya kasih dia yang terbaik karena dia dari tidak bisa apa-apa, sekarang ada niat dan menjadi bisa”. Jawaban Juara <3

Catatan Sehari Pilkada

(Sebelum dan Setelah)

image1

Sewaktu press conference setelah debat 3 berlangsung kemaren tanggal 10 Februari 2017, Agus ada menyatakan jika dia tidak suka ditanya kemungkinan kalah karena dengan berani maju sebagai calon gubernur artinya harus mengupayakan sebuah kemenangan. Jangan berpikir kalah. Saat itu saya langsung agak ngeri mendengarnya. Satu sisi, saya mengerti ada semangat kalau bertanding, milikilah mental juara jangan berpikir kekalahan. Tetapi bagi saya, ini bukan soal tanding biasa, ini politik dan itulah yang membuat rasa ngeri tadi.

Sempat terpikir, gila nih, apa yang akan terjadi jika Agus beneran kalah. Akankah dia mencak-mencak dan seluruh pasukan mantan presiden juga akan mengacak-acak Jakarta? Lebay sih saya, tapi iya, saya ngeri.

Lalu seiring munculnya “pepo” kembali di layar curhat twitter, di mana isinya menuduh sana sini, menuduh Presiden Jokowi, menuduh pemerintah, menuduh siapapun yang tidak pro dia seolah-olah menfitnah dan menzoliminya, semakinlah saya melihat sosok Agus segitunya hanya karena demi peponya, tidak mampu lagi berpikir realistis dan menunjukkan karakternya sendiri bukan bentukan pepo dan “memo” nya.

Melengkapi kejengahan pada Agus adalah dengan munculnya pembela Agus di twitter, instagram (dan path?) dari Ibas dengan “wahai rakyatku”nya, Aliya yang membela Ibas, memo dengan ya begitulah, Anisa yang dari sebelum-sebelumnya juga hmm….. Capai lho lihat dan bacanya. Capai karena bagi saya segitu saja seorang SBY, Jendral, yang merasa tampuk kekuasaan hanya milik keluarganya sehingga dari dirinya harus jatuh kepada anaknya. Dia pikir ini kerajaan Indonesia? Prihatin saya.

Hari pilkada datang. Saya memilih no.2, pak Ahok. Sudah pastilah saya memilih beliau. Rawabuaya, area tempat tinggal saya, yang masuk TV hanya karena banjir, sudah tidak ada genangan dua tahun terakhir ini. Setiap saya melewati pinggir kali di belakang jalan Daan Mogot (area Indosiar), sudah bisa melihat sungai yang walau tidak bersih 100%, tetapi tidak hitam lagi dengan bau menyengat dan sampah yang menumpuk di atasnya. Tempat-tempat sampah rapi berjejeran di pinggir sungai. Melewati daerah Menteng, Banjir kanal, sama rapinya. Melewati daerah Grogol, apartemen “Season City”, baik sungai maupun sepanjang jalan tepi sungai telah bersih dan rapi. Terlalu banyak daerah yang akan disebut untuk menunjukkan keberhasilan Ahok. Jadi singkat cerita, hatiku padamu pak Ahok.

Dan terjadilah Agus di urutan terakhir (ke-3). Ada sedikit kuatir, wah bakal ada apa nih ya? Puji Tuhan, semua baik-baik saja. Dan yang makin membuat baik adalah sikap Agus yang cukup “gentlemen” dan rendah hati dengan menelpon Ahok dan Anies (Anies tidak sempat terhubungi saat itu) untuk memberikan selamat telah sukses di putaran pertama dan berhasil masuk ke putaran kedua. Di press conference nya semalam, Agus mengatakan hal tersebut dan yang saya tangkap, Agus menerima kekalahannya dengan baik dan mengakui bahwa kali ini ada yang lebih baik dan seperti namanya pertarungan, ada yang kalah dan ada yang menang.

Wah senangnya hati ini, yang saya kuatirkan tidak terjadi dan malah sebaliknya merasa tenang. Selamat pak Agus, anda menunjukkan kualitas yang baik. Perasaan saya saat ini kepada Agus adalah perasaan beberapa waktu lalu yang menghargai seorang Agus tidak terpengaruh dengan panas politik ayah dan keluarganya, namun memilih berkarir sendiri di bidang militer (terlepas katanya karir dibeli dan tidak ada prestasi), terserah apa kata berita tetapi saya lihatnya begitu. Makanya kaget juga waktu dia melepas karir militer demi pencalonan ini. Agus seperti ditunggangi pepo memonya untuk jadi penerus tahta kerajaan. Eneg lah kita, wajar. Padahal Agus punya (konon) segudang prestasi di bidang lain.

Setidaknya Agus tidak seperti penampakan mengerikannya (menurut saya) sewaktu mengatakan tidak boleh kalah. Malah cenderung memperlihatkan tatapan teduh dan lapang dada.

Apakah inilah yang namanya politik? Dulu lawan, sekarang kawan, ataupun sebaliknya. Tidak memiliki “perasaan” orang biasa lagi, siapa menguntungkan diambil, siapa merugikan dibuang? Entahlah. Mereka memang para pemain politik, sementara saya hanya warga jujur yang lihatnya dari kacamata hitam atau putih saja. Suka dan tidak suka. Ingat dulu memiliki rekan kerja dengan jabatan kepala sekolah saja tetapi politicking rasanya sudah mau muntah. Apalagi politik negara. (Sudahlah, mengajar lagi saja Hed…….*Red* 🙂 )

Balik kepada pilihan saya, saya tidak suka dan meradang dengan semua keadaan yang memojokkan Ahok, sindiran-sindiran Agus, Anies, Sylvi, Sandi yang menyerang Ahok sewaktu debat resmi. Bikin eneg dan mau muntah. Belum lagi ada kenalan di grup WA yang tiba-tiba mengirim tulisan tentang dijatuhkannya ayat dari Tuhan tentang memilih pemimpin harus seiman. Capeklah main iman. Kalau main iman, jelas saya pilih Ahok karena seiman dengan saya. Tetapi bukan itu sama sekali.

Sekarang, menghadapi putaran kedua, kita lihat siapa yang akan menjadi gubernur lima tahun ke depan. Ahokers, kalau saya boleh sebut begitu, bermain jugalah yang fair. Jangan jadi pembuli. Menunjukkan sama saja kalian tidak punya kualitas dan “dignity”. Jika terus-terusan menghina dan membuli kelompok lain, apa tidak nanti hasilnya akan sama saja kalian yang diperlakukan demikian? Sedikitlah berubah. Bagaimana kita tunjukkan posisi di atas angin, bukan sombong, bukan nantangin, bukan anggap enteng, tetapi elegan.

Sementara, calon pasangan 3, yang akan menuju putaran 2 bersama Ahok, yaitu Anies……….hmm……. saya berhenti dulu sampai di sini. Kehabisan kata-kata menggambarkan Anies ini. Saya guru, 20 tahun mengajar, tetapi belum pernah tersentuh dan terkesima dengan ucapan, ungkapan, motivasi dia yang konon untuk menenun kebangsaan. Nanti sajalah urusan tenun menenun kalau dalam 3 tahun terakhir saja, yang ditunjukan sifat kutu loncat kesana kemari, politicking kesana kemari. Saya cukupkan dulu sampai di sini.

Salam Dua Jari image1

Apple Leadership Camp 2016

I was chosen to attend Apple Leadership Camp last month, 23rd – 25th September 2016 in Singapore by my School. With my IPad use in class, I really think that I was lucky and this would be my advantage, personal and people around 🙂 *happy*.

I went to Singapore together with three colleagues from Springfield School.

Day 1:

My first day was started with visiting United World College of South East Asia (UWCSEA) in Tampines, Primary School section. Actually, I chose to visit Singapore American School, Secondary level. However, the capacity for the participant was over limit.

UWCSEA also have Secondary school section, but we only visited to the Primary. That was okay, because through Primary school, I also could see how they applied their curriculum to:

  • develop a child’s natural curiosity
  • use an integrated approach to learning
  • encourage an international perspective
  • extend learning beyond the classroom
  • use specialist teachers for single subject areas
  • use information technology and library resources to support learning
  • recognise parents as partners in a child’s learning process
  • develop a child’s awareness of the importance of service to others

And all are still relate with my G9 and G10 students.

UWCSEA has been recognised as an Apple Distinguished School for 2013–2016 for its strong focus on pedagogy and teacher practice within a technology-rich learning environment.

This is to answer some questions from my colleagues friends, even though teachers and students there use IPad for teaching and learning, they use it sometimes as the tool only, the education software and applications can be taken from many things not just from Apple products. Truly reflects where the Apple Distinguished School designation is reserved for programmes that meet criteria for innovation, leadership, and educational excellence, and demonstrate Apple’s vision of exemplary learning environments.

From UWCSEA East, I continued my trip to Equarius Hotel at Sentosa Island, and join the opening Camp Program as their main session.

A lot of sharing, and two impressed me so much. Sandhya Bala, a-G12 girl from Singapore American School shared her experience to make an apps like Quizlet for Apple. The apps will be released around Feb 2017. Can’t wait to see it. Second one, OMAi CEO Josef Dorninger has a background as a social worker and youth educator. At this occasion, he talked about the story and underlying vision of Tagtool for educational use. This was followed by a brief performance and a hands-on session for the audience.

Day 2:

Breakout session started. On this day, there were 5 sessions that I attended.

Session 1: United World College SEA
Recognised as a leader in research-based pedagogical development, the UWCSEA Learning Technology Team shared their story through a mixture of conversation and case-studies. How they started with solid, shared understandings of good pedagogy and drive all classroom practice, including technology use, from that common start point. They also showed how this approach quickly shifted the conversation from “if” or “why” to “when” and “how”. They support teachers in different areas via the development of subject or pedagogy toolkits.

Session 2: Singapore American School
The Quest program. The program around 4 pillars: Skills for lifelong learning, Personalisation, Community of learners, and Time to be inspired. The program purposefully prioritises skills over content and enriches college applications. Quest advisors and students shared their perspective on the program development, early successes and challenges and how it is impacting students.

Session 3: Defining Your Success: Understanding Ideas and Tools for meaningful measurement and reflection ~ Dr. Damian Bebell
For many educators and school leaders, measurement and data are associated with national testing initiatives, exam results and performance tables. Dr Bebell shared the latest generation of ideas, tools and best practices for putting empirical and simple research based approaches within easy reach of schools which use real-time data visualisations and infographics to portray data collected from international school settings. He also showed us to explore how leveraging simple research and reflection activities may serve to better inform our communities through data stories.

Session 4: Jakarta Intercultural School
How do you use your time and organise your people? How do members of your organisation spend their time? How do you know if you have designed the strongest teams?

Day 3:

Session 5: United World College SEA
Continuing from the first session, this time they showed how they measure the success of technology supported classroom practice and discuss various issues and approaches to measuring the success of technology supported teaching and learning. So many examples given, and some of them already used by me *Horraayy* . EDPuzzle, Desmos, Geogebra, Recording your Feedback or creating mini lessons, Khan Academy, etc.

Finally, I finished all my session here and back to Jakarta with happy feelings <3 Thank you, School, for this opportunity.

Below are pictures taken from my trip. Enjoy!! 🙂

Click [Show as slideshow] below, to open the pictures in slideshow view. To see the title of each picture, move your mouse pointer over the picture.

More photos, can be seen through my google photo album.

Tagtool transforms your iPad into a live instrument for inspired visuals. Paint with light, create animated graffiti or tell improvised stories. Use Tagtool for jams, performances or guerilla interventions. Light up your imagination!