Mengubah Telepon Seluler Menjadi Kalkulator Ujian

Telepon seluler menjadi sebuah kalkulator ujian?

“Wah, kami tidak dapat melakukan hal tersebut. Siswa tidak dapat membawa telepon seluler mereka ke sekolah. Walaupun diijinkan, bukan untuk dibawa masuk ke dalam kelas. Aplikasi apa yang dapat dipakai sebagai kalkulator ujian? Dan bagaimana hal tersebut dilakukan?”

Banyak pertanyaan dan kekuatiran berkaitan dengan “diijinkan” kalkulator dipakai di dalam kelas tadi. Bagaimana jika kalkulator digunakan di kelas Matematika, bukan membuat siswa pandai matematika malah membuat “bodoh” dalam berhitung dan tidak cepat dalam berpikir taktis matematis untuk menjawab soal-soal. “Kekuatiran” banyak rekan guru Matematika sepertinya 🙂 . Sementara untuk guru-guru yang mengajar berdasarkan silabus Cambridge, mungkin tidak masalah dengan penggunaan kalkulator oleh siswa.

Kalkulator saja sudah berat permasalahan perijinannya, lalu ditambah pula dengan kalkulator di dalam telepon seluler. Kalkulator grafik pula. Bagaimana ceritanya ya?

Saya ingin membagikan cerita mengenai penggunaan kalkulator grafik pada saat tes harian di kelas saya minggu lalu.

Saat ini, semua siswa saya memiliki telepon seluler pribadi. Kebijakan sekolah kami mengijinkan telepon seluler boleh dibawa ke sekolah dan ditaruh dalam loker penitipan. Jika dibutuhkan dalam pembelajaran di dalam kelas maka telepon dapat diambil dan digunakan di bawah pengawasan guru bidang studinya.

GeoGebra (sebuah perangkat lunak matematika dinamis untuk segala level pendidikan yang membuat geometri, aljabar, “spreadsheets”, grafik, statistik dan kalkulus, menjadi suatu paket yang mudah digunakan), per 19 September 2017 (dari blognya Geogebra) lalu meluncurkan sebuah aplikasi kalkulator ujian. Di mana hal ini telah dikembangkan untuk menciptakan solusi yang mudah digunakan pada saat ujian tertulis (paper based exam). Telepon dengan aplikasi GeoGebra Grafik Kalkulator menggantikan grafik kalkulator tradisional. Selama ujian berlangsung, siswa akan offline dan hanya dapat menggunakan aplikasi GeoGebra – tidak ada yang lain. Semua ini tanpa perangkat lunak dari pihak ketiga atau setup yang rumit untuk para guru.

Di mode ujian ini, kita dapat terus-menerus memonitor bahwa telepon yang dipakai sedang dalam keadaan offline dan hanya aplikasi GeoGebra yang sedang berjalan. Ada garis (di bagian paling atas layar telepon) berwarna yang mudah terlihat (warna hijau = semua bagus, warna merah = peringatan telah terjadi indikasi kecurangan) menunjukkan kapan saja apakah siswa tersebut telah meninggalkan aplikasi GeoGebra atau tidak. Selain itu, ada pencatat waktu berjalan di latar belakang yang mencatat semua kejadian menjadi log ujian. Dengan demikian seorang siswa tidak dapat meninggalkan layar kalkulator atau memulai kembali mode ujian tanpa pemberitahuan dari guru. Log ujian mereka akan menunjukkan waktu berbeda  (bisa lebih singkat) daripada siswa lainnya. Log ujian dapat diperiksa oleh guru setiap saat.

Begini cara kerja menggunakan grafik kalkulator di telepon seluler:

Siswa melakukan hal berikut:

  • Sudah mengunduh (melakukan “download”) aplikasi GeoGebra Grafik Kalkulator pada telepon seluler mereka.
  • Mengaktifkan “Airplane Mode” dengan maksud menunda transmisi sinyal frekuensi radio oleh perangkat, sehingga menon-aktifkan Bluetooth, telepon, dan Wi-Fi.
  • Pada aplikasi tersebut, mereka membuka tombol menu di pojok kiri atas, dan memilih mode ujian (“ExamMode”).
  • Setelah siap, tekan tombol “Start”.

 

 

 

 

 

 

Guru melakukan hal berikut:

  • Mengingatkan siswa bahwa mereka tidak boleh meninggalkan aplikasi selama ujian berlangsung. Jika hal itu terjadi, tanda bar merah di atas layar telepon akan muncul.
  • Memastikan semua siswa memulai ujian dalam waktu yang bersamaan. Misalkan dengan menghitung mundur “5, 4, 3, 2, 1, Mulai…!”
  • Memastikan semua siswa menekan tombol “Start” pada telepon mereka, dan mulai saat itu pencatat waktu akan bekerja.
  • Selama ujian berlangsung, guru dapat dengan mudah melakukan pengecekan pada bar hijau pada layar telepon siswa bagian atas sambil memastikan tidak ada yang meninggalkan aplikasi.
  • Di akhir ujian, guru memerintahkan siswa untuk kembali ke menu dan memilih tombol untuk keluar ujian (“Exit Exam”) dan biarkan data Log ujian (“Exam Log”) di layar telepon untuk melakukan cek terakhir pada bar warna hijau dan pelaksanaan waktu ujian yang bersamaan.

 

 

 

 

 

 

Kembali ke polemik menggunakan kalkulator untuk ujian, apakah diperkenankan?
Saya pribadi menjawab, mengapa tidak?

Mari kita lihat definisi kalkulator. Kalkulator adalah sebuah alat bantu berhitung. Grafik Kalkulator adalah alat bantu menggambarkan grafik secara tepat. Jadi kalau dimanfaatkan sesuai fungsinya, tidak ada masalah bukan? Dan juga berada pada indikator penilaian yang akan diujikan.

Adapun yang terjadi di kelas saya minggu lalu adalah sebagai perwujudan pembelajaran berdasarkan kurikulum “Cambridge IGCSE”, dengan mengutip dua silabus yang terdapat di sana yaitu:

  1. Mengintegrasikan teknologi informasi (TI) untuk meningkatkan pengalaman matematis – “Integrate information technology (IT) to enhance the mathematical experience”.
  2. Mendapatkan kegembiraan dan kepuasan untuk terlibat dalam pencarian matematis, dan mendapatkan apresiasi terhadap keindahan, kekuatan dan kegunaan matematika – derive enjoyment and satisfaction from engaging in mathematical pursuits, and gain an appreciation of the beauty, power and usefulness of mathematics.

Maka berdasarkan silabus di atas, dan indikator pembelajaran adalah membuat siswa mampu menghitung luas bidang datar yang dibatasi dua atau lebih kurva fungsi, ide memanfaatkan penggunaan grafik kalkulator online dari GeoGebra muncul. Tentu saja hal ini tidak dilakukan jika indikator pembelajaran adalah siswa mampu menggambarkan grafik beberapa fungsi secara manual.

Siswa diuji ketrampilan menghitung luasan dengan menggunakan integral, bukan kepada menggambar grafik kurva fungsinya. Dalam waktu satu jam pelajaran (50 menit) di kelas, efektifitas pengujian tersebut menjadi meningkat, karena siswa mampu menggambarkan luasan yang dimaksud dengan lebih tepat dibantu oleh grafik kalkulator. Siswa saya tidak ada yang memiliki kalkulator dengan fungsi grafik. Karena kalkulator tersebut juga tidak diijinkan dipakai pada saat ujian Cambridge.

Namun masalah tidak memiliki grafik kalkulator menjadi mudah terselesaikan dengan kepemilikan telepon seluler oleh semua siswa. Dan gratis pula. Serta, fasilitas mode ujian, menambah nilai positif penggunaan “GeoGebra Graphing Calculator Exam Mode” ini di dalam kelas.

Berikut foto-foto dan video yang terekam selama ujian berlangsung di kelas.

 

 

Reward and Punishment

If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed.  ~ Albert Einstein

Reward dan Punishment, masihkah relevan dengan pendidikan saat ini?

Kalau saya melihat masa hidup Einstein, yang lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1955, dan memberikan quote seperti di atas, rasanya Einstein melihat betul bahwa era kelahirannya di akhir revolusi industri sudah berbeda dengan era beliau beranjak dewasa.

Jadi seperti menegaskan, hati-hati dengan ungkapan Reward dan Punishment ini. Digunakan saat kapan, dan kepada siapa. Itu menjadi faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Jika kita menonton pertunjukan aksi hewan di sebuah sirkus katakanlah, kita menyaksikan secara langsung, sang pawang yang memberikan reward berupa ikan kecil kepada anjing laut apabila bisa melakukan atraksinya dengan benar. Lalu kita juga melihat ada semacam tali untuk dipecutkan, seolah-olah pelatih / pawang menegur hewan yang dilatih untuk tidak salah melakukan atraksinya seperti yang diajarkan, seperti memberi tanda “saya hukum kamu kalau tidak benar atraksinya”.

Lalu bagaimana menggunakan Reward dan Punishment di dalam pendidikan anak-anak? Menurut saya, definisi anak-anak pun harus terbagi dalam beberapa jenjang. Anak TK – SD kelas 2, kelas 3 – 5, kelas 6 – 8, kelas 9 – 10, dan kelas 11 – 12. Perlakuan kepada mereka harus dibedakan.

Saya bukan pakar dalam hal ini, namun pengalaman belajar dan mengajar, mendorong saya untuk menghindari Reward dan Punishment dalam manajemen kelas saya. Menghindar di sini bukan berarti tidak mendukung Tata Tertib Peraturan Sekolah. Peraturan tetap harus ada. Konsekuensi terhadap tidak berjalannya peraturan secara benar juga tetap ada.

Meyakini “Reward” adalah memberikan motivasi kepada siswa dengan metode “personalized learning” lebih bermakna bagi saya dibanding memberi reward dengan menambah point urusan akademik dan non akademik. Personalized learning membuat siswa tertentu merasa dihargai kemampuan akademiknya dan (semoga) lebih terpacu motivasi belajarnya. Berat melakukan personalized learning? Iya. Selalu melakukannya? Tidak.

Sama seperti meyakini “Punishment” adalah bukan sekedar menghukum siswa yang ketahuan tidur di kelas saya, yang datang terlambat, yang tidak mengerjakan tugas, yang tidak berseragam lengkap. Lebih bermakna dengan membangunkan siswa tersebut dan meminta cuci muka lalu membantu saya mengerjakan hal lain. Datang terlambat? Ayo duduk paling depan. Tidak mengerjakan tugas, mari kerjakan bersama saya di kelas, sekarang. Temanmu tugas B, kamu tetap A dan bersama saya.

Pasti seorang Guru bermimpi dan berangan untuk memiliki siswa ideal yang berkarakter baik, berdaya juang tinggi, rajin dan hormat kepada Guru maupun teman. Namanya saja ideal, semua ingin, tetapi hampir tidak mendapatkan kondisi ideal tersebut, bukan?

Membuat siswa muncul dengan karakter baik bukan hanya dengan diberi hukuman karena salah yang bisa ditolerir. Salah tidak buat tugas sekali dengan salah memukul teman, adalah dua hal berbeda. Salah karena telat masuk kelas juga berbeda dengan salah meninggalkan kelas karena pura-pura sakit. Atau sebaliknya dengan diberi penghargaan kalau melakukan hal yang benar, benar di mata siapa? Apakah penghargaan berhak didapat siswa jika dia “hanya” sekali dapat 60 dari sekian nilai 40 nya? Atau berhak untuk siswa yang ranking 1 di kelas saja? Atau siswa berpakaian paling sesuai aturan?

Guru dan sekolah masih sering terjebak pula dengan sistem ini. Satu sisi sekolah ingin mendisiplinkan siswanya. Sejarah menorehkan catatan sekolah yang terkenal dengan pendidikan disiplinnya dan nilai akademik akan selalu menjadi sekolah favorit dan diminati oleh calon siswa dan orang tuanya. Demikian pula sekolah yang lebih murah secara biaya tentu saja punya peminat tersendiri 🙂

Dibuatlah berbagai buku tiket (yang dirobek kalau mau dipakai), tiket keterlambatan, tiket kedisiplinan, tiket kelengkapan seragam, dan lain-lain sesuai nama dan fungsi buku tiket tersebut (mungkin). Atau semuanya dirangkum dalam satu tiket bernama tiket konsekuensi untuk apapun pelanggaran siswa. Dengan nama konsekuensi menjauhkan paradigma sebagai sebuah hukuman langsung.

Diberikanlah sangsi pengurangan nilai baik akademik maupun non akademik untuk mendapatkan penghargaan dari guru atau sekolah di akhir tahun akademik. Pengurangan nilai akademik digadang-gadang masih menjadi senjata ampuh untuk mengendalikan tindakan siswa. Pengurangan nilai non akademik yang dipakai sebagai alat ukur karakter siswa, secara individu atau grup. Penilaian grup dimaksud untuk mendidik kekompakan, kebersamaan dan toleransi di antara siswa dalam satu grup. Nilai yang tidak berkurang atau justru penambahan itulah akan menjadi Reward yang diberikan guru dan sekolah kepada siswanya.

Datang terlambat, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai sepatu seluruhnya hitam, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Seragam kemeja keluar dari celana atau rok, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak pakai dasi, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai kaos kaki / kaos kaki hanya di bawah mata kaki, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak membawa buku pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berbicara di dalam kelas dengan teman, dapat tiket. dan pengurangan nilai.

Tidak mengerjakan PR atau tugas atau proyek, dapat tiket.

Rambut siswa laki-laki menutup alis mata / siswa perempuan tidak diikat untuk panjang lebih dari sebahu, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Rambut dicat gelap natural orang Indonesia umumnya / pirang / warna warni, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Membalas kata-kata gurunya / berani berargumentasi dengan gurunya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidur di dalam kelas saat pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berkelahi / bercanda kasar di lingkungan sekolah, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mencuri uang atau barang bukan miliknya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mengucapkan sengaja atau tidak sengaja kata-kata tidak pantas, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Pelaku bullying / korban bullying yang membalas dengan tindakan yang menyebabkan perkelahian, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Bapak Ibu ingin menambahkan daftar di atas? Silahkan 🙂 , dari saya sementara ini cukup dulu. Jenis pelanggarannya berbeda-beda bukan? Setujukah untuk tidak menghukum semuanya sama rata?

Kalau ingin siswa menghargai suatu pelajaran, mengapa dia diberikan tiket konsekuensi ngeyel / tidak sopan pada gurunya pada saat dia berargumen mencari kebenaran versinya sendiri akan pelajaran yang belum terlalu dimengerti olehnya.

Kalau ingin siswanya tidak tidur di dalam kelas saat guru menjelaskan atau saat diberikan evaluasi, mengapa tidak mencoba metoda pengajaran selain ceramah di kelas yang membosankan, mengapa tidak memberikan evaluasi / penilaian cara lain selain “pencil and paper based test”.

Kalau ingin siswanya mengerjakan semua tugas pelajaran dengan baik, mengapa guru-gurunya tidak memberikan berdasarkan jadwal yang baik, semua guru ingin nampak memberikan tugas yang “wah” (ingin menunjukan berada dalam kerangka SAMR di M-Modification, salah satunya meminta siswa dengan tugas melaporkan dalam bentuk video). Mengapa tidak menjalankan metode “Integrated Curriculum”. Satu tugas berintegrasi dengan beberapa mata pelajaran. Guru memberikan tugas kepada siswa membuat video selama 5 menit, pokoknya siswa harus kumpul video, tanpa pernah menjelaskan ataupun membantu “platform” video apa yang lebih mudah dan nyaman bagi siswa (jangan-jangan gurunya tidak mengerti, contohnya video laporan sampai 5 menit, sementara iklan di media saja cukup sekian detik sampai 1-2 menit. 5 menit? itu bukan laporan tapi membuat film pendek).

Jika sekolah mendukung penggunaan teknologi secara tepat guna dan benar, pakar teknologi integrasi amat dibutuhkan. Pakar ini bisa membantu guru mendisain tugasnya, serta membantu siswa dengan solusi-solusi alat bantu yang tepat. Bayangkan, guru Bahasa Indonesia meminta tugas video drama, guru biologi meminta tugas video peredaran darah, guru Sejarah meminta tugas video drama sejarah, guru Pkn meminta video kunjungan museum dan kantor pemerintahan di Jakarta misalnya…… Kebayangkah bagaimana nasib sang siswa yang harus mengerjakan itu semua? Dia bingung, ditumpuklah sampai hari pengumpulan tiba dan hanya bisa bilang “susah bu, susah pak, gak bisa, minta tugas tambahan deh pak yang lain, remedial bu…..”.

Kalau ingin siswanya disiplin terus, baju seragam harus selalu dimasukkan, selalu pakai dasi, menurut saya sudah bukan di jaman yang tepat. Modifikasilah baju seragam menjadi tidak perlu model yang dimasukkan ke dalam celana atau rok. Dasi tidak perlu diwajibkan lagi, kalaupun tetap mau wajib, didisain dalam bentuk yang lebih modern bagi siswa perempuan, sementara bagi siswa laki-laki ada rompi modern penutup keseluruhan dasi yang tampak agar lebih modis saja, dan lain-lain.

Kerapian berseragam diberi Reward, itu seperti menyetujui bahwa setiap karakter anak harus sama. Definisi tiap individu bahkan anak tentang kerapihan selalu berbeda-beda satu dengan lainnya.

Mengingatkan anak terus menerus dengan contoh Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates, bisa menciptakan kebosanan. 3 atau katakanlah 200 orang seperti mereka dibandingkan +/- 7,3 Milyar penduduk dunia, tidak adil menurut saya didengungkan terlalu sering kepada siswa.

Sepakat, mereka bertiga dan banyak lagi contoh orang berhasil dan sukses, menjadi motivasi untuk menggiring kesuksesan siswa atau orang lain. Tetapi jika terlalu sering, siswa merasa ini aku datang ke sekolah belajar dengan guru atau kalian guru sudah berubah semua menjadi Merry Riana, sang motivator? Mengingatkan, setuju. Terus menerus, bosan.

Sekolah membantu siswa mendapatkan pendidikan formal. Karena formal, sekolah terjebak berbagai rutinitas. Sekolah membutuhkan dana, ada para guru dan staf yang membantu operasional sekolah dan profesional secara pekerjaan. Dana, berarti uang sekolah adalah salah satunya. Uang sekolah mahal, orang tua berharap anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik. Sekolah melalui para pembuat keputusan berpedoman bahwa pendidikan yang baik adalah seiring sejalan antara pendidikan karakter dan akademik. Karakter dan akademik dituntut untuk ditingkatkan. Jalan termudah, Reward dan Punishment. Terdengar umum? Iya, sebuah lingkaran setan mungkin 🙂 Disiplin dapat dikuatkan tanpa hukuman. Keyakinan dan pola pikir akan hal ini yang perlu hadir dulu dalam kelompok guru dan sekolahnya.

Saya masih terus merindukan sekolah yang seperti didengungkan untuk berubah di era abad 21 ini. Sekarang sudah hampir 18 tahun lewat dari awal abad 21. Lalu, masih begini-begini saja? Balik lagi berharap pendidikan anak harus dari karakter yang mana karakternya tercipta melalui teori dari pelajaran pkn, cb, pramuka, agama, sejarah, bahasa dan alat pacunya adalah Reward dan Punishment? Oh come on……

~Desember 2017~

GeoGebra @EduX – October 2017

On Saturday, 14 October 2017, I joined the event held by EduXpert, in Menara Kibar, Menteng. The event based on their motto, “with the aim of enhancing the integration of technology in the classroom, so that it directly impacts students’ learning attitude and the understanding of teaching materials”, fits for us, the educators.

I had opportunity to share my class with GeoGebra, a tool that exist from 2001. After 16 years, GeoGebra still commit to help students and teachers to discover Math deeper. Solve equations, graph functions, create constructions, analyze data, explore 3D math. Amazing!

Last month, in September 2017, they launched the shiny new GeoGebra Graphing Calculator and Geometry apps. The completely revised design and cool new features are available for all devices.

They also make “Turn your Phone into an Exam Calculator”. The exam mode has been developed to create an easy-to-use solution for paper based exams where phones or tablets with the GeoGebra Graphing Calculator app replace a traditional calculator. During exam mode, students are offline and can only use the GeoGebra app – nothing else.

I (and hopefully Math Teachers 🙂 )love GeoGebra because:

  • It allows me and teachers to continue teaching. GeoGebra doesn’t replace me. It helps me what I do best – teach.
  • It allows me and teachers to plan and deliver better lessons. GeoGebra gives me the freedom to create lessons that I know know my students will find interesting.
  • It allows me and teachers to connect to other teachers as a part of a global math community.

I really do hope for my students and all students who use GeoGebra, to love it, too, because:

  • It makes math tangible. GeoGebra makes visual way, students can finally see, touch and experience math.
  • It makes math dynamic, interactive and fun (fun?? 🙂 ), that goes beyond whiteboard and leverages new media.
  • It makes math accessible and available.
  • It makes easier to learn. The interactions created by GeoGebra fulfill the students’ need in order to absorb mathematical concepts.

So teachers, don’t just wait, please go and explore GeoGebra as much as you can to fulfill your mathematics class’ need and makes your students absorb more concepts 🙂

Below are photos and a video during my sharing session sparks:

 

GESS Indonesia 2017

 

This year, I had opportunity again to join GESS as one of the speaker in their Conference Section.

I shared twice. My personal sharing session on 28 September 2017, and as an Microsoft Innovative Educator Expert on 29 September 2017.

In my personal sharing, I shared about Desmos Classroom Activities, a collection of unique and engaging digital activities, which are free for you and your students.

You can choose bundles from other teachers sharing and use them in your class. Or even you can create your own activities that fit for your students and see how they will learn Math and love learning Math.

Here is my presentation:

In my second sharing, I shared OneNote Class Notebook in Classroom. OneNote is a member of the Microsoft Office family. With OneNote, I bring my students together in a collaborative space or give them individual support in private notebooks. And no more print handouts. I can also organize lessons and distribute assignments from a central content library.

Here is my presentation:

 

 

Siswa Terbaik

Bapak/Ibu Guru, apa definisi siswa terbaik / pelajar teladan / siswa berprestasi menurut anda?

Kebanyakan akan menjawab dengan definisi siswa yang pelajarannya menghasilkan nilai paling tinggi. Pelajar yang keseluruhan dirinya menjadi teladan bagi teman-temannya. Siswa yang seringkali memenangkan pertandingan / perlombaan baik akademis maupun non akademis. Siswa kesayangan guru (? 😉 ).

Singkat kata, siswa dengan definisi di atas adalah siswa idaman para Guru, bukan? Bahagianya kita dengan pekerjaan yang otomatis menjadi enak ini, tidak perlu mendidik berlebihan, tidak perlu bersusah payah menyampaikan pelajaran dengan berbagai metode yang dianggap cocok. Siswa sudah cakap dari “sananya”, dari lahir maksudnya.

Tapi, yang di atas itu kan masih secara umum. Saya masih meyakini ada perbedaan pandangan atau tidak terfokus pada satu stereotip saja. Terbaik, bisa saja menjadi sama-sama baik dalam satu kelompok, bisa terbaik mengalami kemajuan, atau bisa juga terbaik dalam usaha dan perjuangan selama dia bersekolah.

Kadang saya bingung juga jika ada siswa yang “protes” kepada saya, kok saya bilang bagus untuk sebuah nilai yang menurutnya biasa-biasa saja. Maaf, saya datang dari era “pak Tino Sidin” yang selalu bilang bagus untuk karya anak-anak yang dikirimkan kepada beliau 😉 . Jawaban serius saya salah satunya adalah “Jangan menilai dirimu terlalu tinggi di luar batasmu, nak. Tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi. Jangan samakan dirimu dengan si jenius A, si cerdas B, tapi kamu adalah kamu yang sudah istimewa bagi saya memberikan hasil seperti ini”. Idealkah jawaban itu? Balik lagi, tergantung pandangan anda sendiri. Bukan berarti siswa puas dengan jawaban tersebut, mungkin saja malah menggerutu, “aduuuh ini guru kok nyebelin banget ya, jelek dibilang bagus” 😀

Entahlah, tetapi saya percaya, terbaik saat ini, belum tentu melulu menjadi terbaik di masa depan. Tidak semua yang berprestasi sangat baik saja yang mampu menjadi lulusan hebat dari pendidikan tinggi mereka. Selama 21 tahun di sekolah, rasanya saya cukup melihat bukti, bahwa biasa-biasa saja di sekolah, sekarang telah menjadi dokter, menjadi eksekutif di bidang tertentu. Karena siswa yang biasa atau kurang bagus secara akademis tadi, bukan berarti kalah, mereka hanya berproses lebih lama dari teman-temannya untuk menjadi terbaik di jenjang sekolah. Kan tidak mungkin juga semua menjadi terbaik kalau ujung-ujungnya sekolah diminta membuat peringkat tetap memilih yang “ter-” tadi. Atau contoh lain, malah siswa terbaik di SMP dengan mengambil mata pelajaran “all sciences” di SMA, sudah dibanggakan akan menjadi calon dokter, ternyata setelah menyelesaikan dua gelar sarjana, memilih menjadi penulis, dan bukan sembarang penulis, minggu ini buku perdananya diluncurkan oleh penerbit Gramedia. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sebagai Guru, sebagai sekolah, sebenarnya, apa sih tuntutan kita kepada mereka anak-anak? Ingin anaknya berhasil baik dalam hal nilai / prestasi akademis? Untuk siapa? Kebanggaan bapak/ibu? Peringkat sekolah? Bangga posting foto anak-anak itu di pagar sekeliling sekolah? Belum tentu anaknya suka sih fotonya selebar spanduk dipajang di pinggir jalan raya (hmm, sekolah apa ya? adaaa aja 😉 ). Tidak salah menjadi bangga kok, itu hal normal dan manusiawi. Guru memiliki target, sekolahpun sama memiliki target. Namun yang saya sedang bahas di sini adalah dari sisi siswanya.

Sejujurnya saja, namanya manusia yang hidupnya memiliki target, gurupun kadang merasa tantangan mencapai target tadi seperti sebuah perlombaan untuk mengantar siswanya meraih peringkat tertinggi, contohnya waktu saya sedang ikut berdoa bersama siswa menjelang ujian (kebetulan mata pelajaran saya), setelah selesai berdoa, ada rekan yang menghampiri saya dan berkata “wahh doa nih yee supaya dapat bintang”……… Dia tidak tahu kan isi doa saya, jadi “malesin banget” ditanggapi kalau kata anak-anak sekarang, walaupun bisa saja itu hanya ujaran bercanda 😀 .

Sebagai penutup cerita, ada cerita menarik dari seorang siswa yang baru menyelesaikan jenjang SMA, siswa yang hasil nilai akademisnya selalu kurang memuaskan. Dia diganjar predikat siswa terbaik untuk mata pelajaran seni musik. Seorang rekan melontarkan pertanyaan kepada saya, “Tidak salah siswa tersebut mendapat predikat terbaik? (kalimat asli sudah diganti agar lebih halus untuk keperluan tulisan ini 🙂 ). Sebelum saya sempat menjawab atau melawan pernyataan tersebut, guru seni datang menghampiri dan pertanyaan serupa kembali dilontarkan kepadanya. Dan jawabannya, sungguh teramat keren (bagi saya), “eh, justru saya kasih dia yang terbaik karena dia dari tidak bisa apa-apa, sekarang ada niat dan menjadi bisa”. Jawaban Juara <3

Apple Leadership Camp 2016

I was chosen to attend Apple Leadership Camp last month, 23rd – 25th September 2016 in Singapore by my School. With my IPad use in class, I really think that I was lucky and this would be my advantage, personal and people around 🙂 *happy*.

I went to Singapore together with three colleagues from Springfield School.

Day 1:

My first day was started with visiting United World College of South East Asia (UWCSEA) in Tampines, Primary School section. Actually, I chose to visit Singapore American School, Secondary level. However, the capacity for the participant was over limit.

UWCSEA also have Secondary school section, but we only visited to the Primary. That was okay, because through Primary school, I also could see how they applied their curriculum to:

  • develop a child’s natural curiosity
  • use an integrated approach to learning
  • encourage an international perspective
  • extend learning beyond the classroom
  • use specialist teachers for single subject areas
  • use information technology and library resources to support learning
  • recognise parents as partners in a child’s learning process
  • develop a child’s awareness of the importance of service to others

And all are still relate with my G9 and G10 students.

UWCSEA has been recognised as an Apple Distinguished School for 2013–2016 for its strong focus on pedagogy and teacher practice within a technology-rich learning environment.

This is to answer some questions from my colleagues friends, even though teachers and students there use IPad for teaching and learning, they use it sometimes as the tool only, the education software and applications can be taken from many things not just from Apple products. Truly reflects where the Apple Distinguished School designation is reserved for programmes that meet criteria for innovation, leadership, and educational excellence, and demonstrate Apple’s vision of exemplary learning environments.

From UWCSEA East, I continued my trip to Equarius Hotel at Sentosa Island, and join the opening Camp Program as their main session.

A lot of sharing, and two impressed me so much. Sandhya Bala, a-G12 girl from Singapore American School shared her experience to make an apps like Quizlet for Apple. The apps will be released around Feb 2017. Can’t wait to see it. Second one, OMAi CEO Josef Dorninger has a background as a social worker and youth educator. At this occasion, he talked about the story and underlying vision of Tagtool for educational use. This was followed by a brief performance and a hands-on session for the audience.

Day 2:

Breakout session started. On this day, there were 5 sessions that I attended.

Session 1: United World College SEA
Recognised as a leader in research-based pedagogical development, the UWCSEA Learning Technology Team shared their story through a mixture of conversation and case-studies. How they started with solid, shared understandings of good pedagogy and drive all classroom practice, including technology use, from that common start point. They also showed how this approach quickly shifted the conversation from “if” or “why” to “when” and “how”. They support teachers in different areas via the development of subject or pedagogy toolkits.

Session 2: Singapore American School
The Quest program. The program around 4 pillars: Skills for lifelong learning, Personalisation, Community of learners, and Time to be inspired. The program purposefully prioritises skills over content and enriches college applications. Quest advisors and students shared their perspective on the program development, early successes and challenges and how it is impacting students.

Session 3: Defining Your Success: Understanding Ideas and Tools for meaningful measurement and reflection ~ Dr. Damian Bebell
For many educators and school leaders, measurement and data are associated with national testing initiatives, exam results and performance tables. Dr Bebell shared the latest generation of ideas, tools and best practices for putting empirical and simple research based approaches within easy reach of schools which use real-time data visualisations and infographics to portray data collected from international school settings. He also showed us to explore how leveraging simple research and reflection activities may serve to better inform our communities through data stories.

Session 4: Jakarta Intercultural School
How do you use your time and organise your people? How do members of your organisation spend their time? How do you know if you have designed the strongest teams?

Day 3:

Session 5: United World College SEA
Continuing from the first session, this time they showed how they measure the success of technology supported classroom practice and discuss various issues and approaches to measuring the success of technology supported teaching and learning. So many examples given, and some of them already used by me *Horraayy* . EDPuzzle, Desmos, Geogebra, Recording your Feedback or creating mini lessons, Khan Academy, etc.

Finally, I finished all my session here and back to Jakarta with happy feelings <3 Thank you, School, for this opportunity.

Below are pictures taken from my trip. Enjoy!! 🙂

Click [Show as slideshow] below, to open the pictures in slideshow view. To see the title of each picture, move your mouse pointer over the picture.

More photos, can be seen through my google photo album.

Tagtool transforms your iPad into a live instrument for inspired visuals. Paint with light, create animated graffiti or tell improvised stories. Use Tagtool for jams, performances or guerilla interventions. Light up your imagination!

GESS Indonesia 2016

fullsizerender-4

This year, I had opportunity to join in GESS Conference as one of the speaker. Or better saying as a person who willing to share his / her idea or experience on their journey of teaching (If the person is a teacher, like me 🙂 ).

I shared the use of IPad in the classroom to assist learning. I have been using it for several years.

Use your IPad (tablet) as a mobile interactive whiteboard and enjoy a completely untethered teaching experience. Focus on your class and not the whiteboard. Embed rich media elements like graphics, images and videos and leverage a variety of drawing and annotation tools to make your lectures come alive. You don’t need a traditional interactive whiteboard anymore.

Before IPad, I used a wacom (a drawing pad connected to the PPT) since 2008, and one of my sharing can be read here.

I started looking for other alternatives through the IPad. From the first launched in early 2010, I believe that IPad will be a very useful tool for the completeness of my teaching in the classroom.

Let’s see the IPad role in my class, among others:

1. The virtual whiteboard.

2. Presentations that have been made previously in Keynote / PPT / Sway / Video.

3. Live presentation screen recording.

4. Post the presentation directly in to the virtual classroom / online, Schoology based.

5. Browsing certain websites during the lesson. For me, there are some difficult things to explain through presentations that have been made in advance and presented by PPT. Sometimes I need to do in the same time, both explaining and writing. In this case, the IPad, the virtual whiteboard, solved my problems.

How is the workflows of the use of IPad and to connect it to the classroom projector? Check it out here:

1. Install Penultimate.

2. Install Explain Everything.

3. Install Schoology.

4. Internet / wifi connection in the classroom.

5. When I need a virtual whiteboard during my explanation, I open Penultimate. If I want to show images (from my files or from internet), I can easily insert it into my whiteboard screen.

6. If I want to explain with the help of software such as GeoGebra / desmos calculator, I also can easily replace the display board into browsing screen to access the website.

7. To display the virtual whiteboard on a projector screen, can be helped by these ways:

a. VGA cable connection with IPad to the projector.

b. If no cable like above, and your desktop is iMac or MacBook (desktop connected to the projector), IPad screen first transferred via USB cable connection to the iMac or MacBook use Quick Time Player Recording, and then to the projector (By doing this, I can easily record my screen presentation).

c. Use Apple TV: wireless, your mobile virtual whiteboard.

8. To create screencast lesson video, I use “Explain Everything”. This method used for the purpose of my blended learning / my flipped mastery classroom.

9. And, to store all those materials or classroom?s archive with students, I use online class, LMS, Schoology. Students can easily reach out the materials / teaching materials, anywhere, anytime. And they are also assessed by various formative tests in Schoology.

Some pictures to describe the connection:

screen-shot-2016-09-27-at-10-46-47-am screen-shot-2016-09-27-at-10-47-05-am screen-shot-2016-09-27-at-10-47-36-am screen-shot-2016-09-27-at-10-47-57-am