Kamera Nyala VS Kamera Mati

Artikel Pilihan Kompasiana

Sejak Maret 2020, dengan terpaksa semua sekolah memulai era di mana pembelajaran harus dilakukan secara jarak jauh. Sudah tidak ada tawar menawar lagi.

Banyak opini bahwa sekolah harus tetap berjalan, karena pendidikan tidak boleh terputus begitu saja, bukan? Wah, saya selaku salah satu pendidik di sekolah, setuju pakai banget, bahwa pembelajaran tidak boleh terputus. Secara ini pendidikan dan ini profesi profesional saya. 🙂

Pada saat “terpaksa” harus tetap menjalankan sekolah tadi, maka banyak opini, banyak argumen, mengenai bagaimana cara paling efektifnya. Berlomba-lombalah, para “pakar pendidikan” membagikan tips dan trik untuk kami para guru. Tentu saja, terima kasih atas masukan-masukannya. Begitu banyak, maka kita harus pandai-pandai menyesuaikan mana yang pas, cocok dan terbaik bagi siswa kita.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah opini bahwa mengajar siswa (fokus saya adalah di jenjang SMP-SMA) itu adalah harus melihat siswanya, seperti keadaan normal, bertemu di ruang kelas, di area sekolah dan berkegiatan belajar ataupun penilaian semua diupayakan selaras dengan keadaan normal tadi.

Pertemuan tatap muka secara online. Teknologi telah mempermudah kehidupan manusia. Sudah bertebaran teknologi video call, antar dua individu atau dalam sebuah grup sekaligus. Jadi sebagian berpikir bahwa ini akan memudahkan “perpindahan / pergeseran” pembelajaran dari sekolah ke rumah, “remote learning”.

Maka dimulailah “sekolah online” dengan berusaha sebaik mungkin memindahkan kegiatan sehari-hari di kelas ke dalam ruang tangkapan layar komputer / laptop dengan video konferensi. Guru dan siswa kedua pihak menyalakan kamera agar tatap muka tadi tetap berlangsung sama seperti normal. 

Fokus kepada video konferensi dalam mengajar, mengakibatkan perdebatan antara kamera dinyalakan atau dimatikan.

Pembicaraan, diskusi dengan beberapa kalangan guru, rata-rata menginginkan kamera selalu dinyalakan selama mengajar.

“Bicara di depan layar komputer sendiri tanpa melihat wajah siswa, kok merasa seperti orang aneh, bicara sendiri”. Alasan ini paling banyak, apakah anda juga ada di sini? 😀

“Dengan melihat siswa maka saya dapat tahu, dia memperhatikan pelajaran atau tidak”. Ini pun alasan cukup banyak terungkap. Hati-hati di sini, tips untuk bapak/ibu guru, jangankan wajah di depan kamera, wajah di depan kita saja siswa duduk di dalam kelas, pikirannya bisa menerawang dan tangannya coret-coret di kertas (menulis / menggambar).

“Saya merasa siswa harus melihat mimik wajah saya pada saat menjelaskan pelajaran agar mereka mengerti lebih cepat.” Aha, ini guru yang punya bakat menjadi seorang “entertainer”. 

Masih ada beberapa alasan lain namun tiga di atas rasanya yang paling sering diungkapkan. Rekan-rekan guru sekalian, bagaimana dengan anda. Apakah ada di antara tiga di atas? Bebas saja kok.

Sekarang mari kita melihat sisi siswa. Siswa pun ada yang memiliki tipe “entertainer” tadi, dia suka sekali tampil dan berpose di depan kamera. Bakat, bagus sekali itu. Sementara ada siswa yang jengah menyalakan kamera karena berbagai hal. Latar belakang tempat siswa duduk di rumah agak berantakan, ada anggota keluarga lain yang lalu lalang, perasaan kurang nyaman memperlihatkan wajah ke kamera, dan hal – hal lain yang mereka sendiri susah untuk mengungkapkan.

Sebagai guru, apakah dengan “kekuasaan” yang kita miliki maka kita tinggal perintah “pokoknya harus nyala”?  Tidak menyalakan kamera maka akan ada pengurangan nilai partisipasi kegiatan di kelas, bahkan pengurangan nilai sebuah penilaian akademis. Wah, semoga jangan ya :). 

Prinsip memindahkan sekolah ke rumah maka harus ada pertemuan tatap muka, dan selanjutnya agar bisa menatap siswa maka kamera harus dinyalakan. Kamera yang dimatikan artinya tidak ada proses tatap muka, maka tidak ada persekolahan. Ini yang sebaiknya jangan sampai terjadi. Sukses tidaknya sebuah pembelajaran bukan ditentukan dengan kamera saling menyala baik guru dan siswa.

Namun saya menyadari, hasil dari pengamatan sekitar, pembicaraan dengan rekan-rekan, ungkapan guru-guru melalui media sosial, masih cukup sulit rupanya diterima oleh pemikiran guru dan sekolah bahwa tanpa kamera pun proses belajar masih bisa berlangsung.

Mengajak siswa terlibat saat pembelajaran berlangsung, banyak sekali alatnya, gratis maupun berbayar. Gratis misalnya dengan memanfaatkan papan tulis berbagi, dokumen berbagi, slide presentasi berbagi. Yang berbayar dan personal dengan siswa, misalnya ada pear deck, nearpod. Jadi keterlibatan itu bukan hanya harus melihat wajah saja, kan?

Edutopia mengeluarkan sebuah artikel berisikan strategi untuk membuat siswa yang sungkan menyalakan kamera menjadi berinisiatif menyalakan. Sisi menariknya, menambah informasi bagi kita untuk belajar strategi tersebut. Terutama jika sebagai guru, dirinya juga pandai sekali bercerita dan memecah belah suasana menjadi sebuah “entertainment” bagi siswanya. Namun, di sisi lain, bagi guru yang lebih pendiam, “straight forward”, akan kesulitan dan malah menjadi “garing” jika memaksakan melakukan “ice breaking” atau permainan di jam pelajarannya. Plus, strategi untuk menarik minat menyalakan kamera dengan permainan juga tidak dapat dikatakan sama dengan selama pembelajaran inti setelahnya, iya kan?

Hal yang menarik, sehari setelah ditayangkan artikel tersebut, Edutopia kembali menuliskan dalam lini masa twitternya bahwa jika ada guru-guru lain yang kesulitan dengan meminta siswa menyalakan kamera, silahkan saling berbagi cara lain (yang maksudnya bukan sekedar pemecah suasana dan permainan saja), dan mempersiapkan pengajaran tanpa kamera tadi. Di sini terlihat bahwa memang beberapa pihak mengajukan keberatan bahwa anggapan pembelajaran tanpa kamera menghasilkan hasil yang lebih rendah daripada dengan kamera menyala, sehingga seolah-olah perlu strategi membuat siswa menyalakan kamera. 

Karena semua itu sangat bergantung pada situasi dan kondisi kelas dan pelajarannya. Jika cukup dengan audio yang menyala dan media interaksi yang melibatkan siswa mampu membuat suasana kelas online kita menjadi hidup, maka mengapa harus menyalakan kamera? Saat anak-anak aktif bekerja di media seperti pear deck misalnya, mereka tidak butuh melihat wajah kita gurunya. Namun, guru dapat langsung menegur, menyela, memberi “feedback” pada saat kegiatan pembelajaran itu berlangsung. Lebih seru, bukan? Semoga.

Dua contoh video, pembelajaran menggunakan peardeck. Contoh pertama, setelah metode “synchronous” di kelas, dilanjutkan dengan “asynchronous” untuk siswa yang ingin mereview sendiri.

 

 

Belajar Dari Rumah – Bagian 2

Artikel Pilihan Kompasiana

Pengalaman 7 minggu bersama para siswa menjalani sistem “Belajar Dari Rumah”.

Sebelum berbagi pengalaman, saya ingin menegaskan bahwa ada hal-hal yang tetap merupakan interaksi istimewa antara seorang guru dan siswanya. Maksudnya adalah khusus di dalam periode ini, sangat penting untuk seorang guru belajar banyak hal, membuka diri dan wawasan, mengubah pola pikir, memperkaya metode pengajaran. Dari semua pengayaan tadi guru harus mampu memilih dan memilah, bukan hanya sekedar mengikuti “yang penting sama” dengan cara guru lain. Apalagi cuma copy RPP seperti biasa. *Ooopps 😀

Karena keistimewaan siswa kita berbeda dengan siswa dari guru lain. Sejauh yang guru lakukan dengan bertanggung jawab, kredibel, maka percayalah, anda sudah melakukan hal yang hebat 🙂 .

Nah, silahkan jika sharing pengalaman saya berikut ini bisa menjadi bahan pengayaan rekan-rekan guru lain dalam menentukan manajemen kelas daring (online) nya.

Apa saja yang harus ada untuk mempersiapkan kelas online kita?

1. Memiliki LMS (Learning Management System).

Untuk apa? Karena itulah ruang kelas virtual kita. Bapak/Ibu guru kalau mengajar membutuhkan ruangan bukan? Supaya siswa kita bisa berkumpul di kelas yang benar pada saat kita menyampaikan pembelajaran. Banyak basis LMS, pilihlah salah satu. Saya pernah memakai basis moodle, mathematics.hedy.me, basis Schoology basic, basis Google Classroom dan basis Microsoft Teams. Untuk periode pandemi Covid 2019, saya memilih menggunakan Google Classroom (untuk selanjutnya saya sebut GC). Tanpa LMS, guru akan sulit mengumpulkan kegiatan belajar mengajarnya. Tersebar acak misal file pdf, file dari berbagai drive, file evaluasi siswa, dll.

 

2. Memberikan informasi / pengumuman terkini kepada para siswa. 

Setiap hari ada dua jalur informasi resmi dari saya kepada siswa, yaitu email dan papan pengumuman di GC. Email dikirimkan ke siswa-siswa dalam satu kelas tertentu sebagai pengingat bagi mereka tentang jadwal pelajaran. Dikirimkan biasanya malam hari (untuk pelajaran di pagi hari), atau pagi hari (untuk pelajaran di siang hari). Diharapkan dengan email pengingat ini, siswa akan lebih siap menghadapi pelajarannya.

Lalu setelah email, baru pengumuman sekaligus instruksi di GC. Apa saja kegiatan siswa di hari tersebut.

3. Mulai mengajar. “Synchronous” dan “Asynchronous”.

Yang ideal pastinya berimbang. Saya menerapkan keduanya berdasarkan kondisi kelas masing-masing. Dari 5 kelas berbeda, ada karakter kelas yang cocok secara synchronous, ada yang secara asynchronous. Namun ada juga yang lebih baik keduanya sekaligus. Terlebih di dalam satu kelas saja, dengan 20 siswa, memiliki karakter berbeda setiap siswanya.

Mengajar secara synchronous, dibantu dengan alat bantu Gmeet + Jamboard, yang dengan mudah diakses oleh siswa kapanpun, karena link yang selalu tersedia di google classroom. Saya tidak melulu menggunakan Gmeet dengan video, karena dengan audiopun bisa jadi sangat cukup terlebih disertai dengan papan tulis bersama.

Presentasi langsung dengan bantuan Pear Deck, juga menjadi pilihan saya untuk menyajikan pelajaran secara langsung. Seperti berikut ini:

Mengajar secara asynchronous, dengan catatan, video pelajaran. Mencarikan link yang sesuai dengan topik tertentu ataupun membuat sendiri video, bisa dipilih mana yang lebih cocok dengaan siswanya. Di samping membuat video pelajaran sendiri, ada beberapa hal saya lakukan dengan dibantu alat bantu belajar matematika yang sangat mudah diakses, dapat dilihat dari cuplilan video berikut ini:

4. Memberikan penilaian dan timbal balik / refleksi.

Bagaimana menilai siswa selama masa belajar dari rumah? Saya memberikan semacam kriteria penilaian dengan rubriknya kepada siswa, di mana garis besar kriterianya adalah bergabung, berpartisipasi, perhatian dan fokus, serta melengkapi semua tugas yang diberikan. Tidak ada tes / ulangan? Saya tidak melakukan jenis tes sumatif bergaya “high-stakes exam”, melainkan hanya formatif bersamaan dengan ke-4 kriteria di atas.

Pada saat berkegiatan langsung synchronous dengan pear deck misalnya, ada beberapa pertanyaan yang diselipkan di sana dan meminta respon siswa. Tes per individu saat interaksi melalui papan tulis bersama, bisa langsung memberikan “feedback” seperti contoh ini:

Demikian pula pada saat asynchronous melalui video pelajaran, ada beberapa pertanyaan langsung diajukan melalui google form, atau melalui desmos “class builder”, melalui canvas di graspable math activity. Juga berkolaborasi mengumpulkan soal-soal dan tukeran menjawab soal-soal dari teman-temannya, seperti sudah dibagikan di dalam artikel ini. Setiap kegiatan dan penugasan, sebisa mungkin saya berikan komentar atau “feedback” agar siswa menyadari kekurangan atau kelebihannya di mana.

5. Komunikasi yang baik dan benar.

Saya pernah ditanya seorang rekan, apakah alat bantu terbaik berkomunikasi dengan siswa selama masa belajar di rumah? Jawaban saya, semua alat adalah baik dan dapat digunakan, komunikasi bukan berdasarkan alatnya namun komunikasi adalah konten dan tujuannya. Tentu saja termasuk pemberian “feedback” di dalamnya. Ada guru yang suka menggunakan aplikasi WA saja untuk komunikasi karena cepat untuk kontak individu dan grup kelas, silahkan saja, mengapa tidak? Sejauh dipakai secara konsisten. Banyak lagi yang lain semacam line, kaizala, aplikasi pesan lainnya. Kebetulan saya menggunakan email. Namun tidak menolak untuk beberapa siswa yang berkawan melalui aplikasi instagram dan menggunakan pesan instagram. Menurut pendapat saya, email merupakan bentuk komunikasi praktis, resmi, konsisten dan berkesinambungan saja dengan apa yang saya lakukan di awal untuk memberikan informasi dan notifikasi kegiatan kelas. 

Di samping email, google classroom juga dilengkapi dengan kolom meletakkan komentar atau pesan secara publik atau privat. Itupun alur komunikasi yang benar, karena semua pesan siswa akan memberikan notifikasi kepada saya melalui telepon genggam. Jadi mudah semuanya. Berikut contoh percakapan (feedback tidak disertakan di sini karena isinya lebih personal kepada siswa 🙂 ) melalui email:

 

Demikian pengalaman berbagi ini. Anda punya pengalaman lain? Silahkan dibagikan agar kita dapat sama-sama belajar dan mengadaptasi yang cocok dengan kondisi dan situasi lingkungan belajar kita masing-masing.

Apakah selanjutnya ini akan menjadi kenormalan baru? Entahlah, tetapi sebagai guru, kita harus selalu bersiap untuk beradaptasi, seperti juga kita selalu bersiap menerima paradigma baru dalam pendidikan. 

Selamat Mengajar dan Belajar!

Belajar Dari Rumah – Bagian 1

Artikel Pilihan Kompasiana

Tak ada seorang anak sekolahpun di dunia ini yang tidak mengalami proses belajar mengajar dari rumah selama pandemi Covid 19.

Tulisan ini didasari atas pengalaman pribadi, pengamatan lingkungan sekitar, curhat rekan-rekan orang tua dan siswa-siswa dari berbagai sekolah, social media, maupun media online. Saya sangat yakin, dari survey yang katanya 3 juta guru dan hanya 2,5 % yang berkualitas itu, adalah banyak sekali rekan-rekan di sekitar saya. Namun sebagai refleksi diri, mungkin tulisan ini bisa membantu pola pikir rekan-rekan sekalian baik yang sudah melakukan serupa atau berbeda, untuk saling melengkapi. Karena kita guru adalah yang benar-benar terlibat dengan siswa, yang sebarisan dengan siswa, bukan hanya berbicara di forum sebagai pelatih guru atau bukan sebagai pengamat pendidikan yang cenderung bercakap pada sebuah usulan dan kritik.

Covid 19 memaksa setiap orang melakukan pengaturan jarak secara fisik. Pertemuan berkelompok yang mungkin paling besar adalah pertemuan di sekolah. Ya, anak-anak sekolah yang dalam satu kelas bisa terdiri dari 15 – 40 siswa. Waktu istirahat yang makan di kantin dan sebagainya. Itulah dari sejak awal pandemi ini ada di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, kegiatan nomer 1 yang dihentikan adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dimulai dari keputusan pemerintah daerah setempat, maka berlakulah pembelajaran dari rumah.

Pada saat ini akan terjadi, saya ingat medio Maret 2020, beberapa rekan guru dan orang tua memulai dengan kebingungan, beberapa siswa memulai dengan kegembiraan.

Mengapa guru bingung? Karena sebagian terbiasa dengan pola mengajar sangat tradisional. Bahwa pembelajaran hanya terjadi apabila ada tatap muka. Bahwa belajar harus fokus tidak boleh ada distraksi dari perangkat digital semacam “laptop” atau “telepon genggam”. Bahwa belajar harus runut sesuai RPP atau program tahunannya, dan setiap habis belajar siswa wajib menerima evaluasi.

Mengapa orang tua bingung? Karena sebagian orang tua berpikir dan berpendapat bahwa menyekolahkan anak-anaknya adalah sebagian kecil dari membagi tugas rutin pengontrolan anaknya. Beberapa orang tua mungkin harus jujur juga bahwa dengan sekolah 5 – 8 jam di luar rumah maka orang tua merasa ada sedikit “kebebasan” menjalankan tugasnya yang lain. Dengan kondisi anak-anaknya sekarang harus di rumah? Tentu tidak terbayang. Belum lagi orang tua yang punya motivasi perang ranking bagi anak-anaknya, wah bisa gagal nih cita-cita ranking 1-3.

Mengapa siswa gembira? Karena berpikir secara kebiasaan bahwa belajar itu adalah kegiatan di sekolah. Di rumah adalah beristirahat dan bermain. 

Dan dimulailah masa-masa yang disebut sebagai “Home based Learning”, “Distance Learning”, “Remote Learning” dengan sebuah paradigma baru.

Banyak sekolah yang menerapkan belajar dari rumah ini sebagai memberikan tugas-tugas. Semoga tidak hanya tugas namun disertai dengan penjelasan. Namun bagaimana metodanya? Nah ini menarik karena metoda yang diyakini sebagai yang termudah dan tercepat adalah melalui video pertemuan. Dengan platform yang sangat gencar dipromosikan oleh agen-agen perubahan produk tersebut, maka cara mengundang siswa melalui video menjadi paling laris. Terjadinya pembelajaran pada saat video tadi dan para guru akan berharap siswa fokus mendengarkan dan memperlihatkan wajah melalui video. Jadi pola pikirnya sesederhana memindahkan kelas tradisional ke dalam layar komputer.

Lalu bolehkah para siswa, anak-anak itu merasa sungkan hadir di video meeting memperlihatkan ruang belajar pribadinya, kamar pribadinya? Apakah guru hanya berkata, tidak boleh malu, kalian punya kewajiban untuk belajar dan kami absen. Pernahkah melihat acara “Tonight Show” saat Desta menceritakan betapa anaknya tanpa video menjawab pertanyaan dengan lancar namun begitu di depan kamera, mendadak terbata-bata? Ataukah guru hanya berpatokan pada GNM (anak artis) atau MSJ (selebgram cilik), yang di depan kamera selalu cepat sekali beraksi dan pandai dengan memainkan mimiknya.

Apakah guru juga berpikir jika anak yang sudah besar, maka hal di depan kamera adalah lebih lumrah? Ingat saja, belum tentu, apapun ada kondisi anomali.

Apakah dengan pertemuan melalui video maka pembelajaran sudah lengkap? Dan cenderung menyalahkan siswa jika masih tidak mengerti, pokoknya benar-benar merasa seperti suasana di dalam kelas yang mana semua anak wajib punya pandangam satu arah ke papan tulis? Semoga minimal yang masih begini. Mulailah dengan menikmati berbagai metode mengajar. Teknik individual kadang lebih bermakna bagi siswa yang membutuhkan. Fleksibelkah guru-guru? Tetap dengan PR dan tugas yang harus dikumpulkan setiap hari? Setiap dua tiga hari sekali tergantung jam pelajaran? 

Ingatlah, PR sebagai pekerjaan rumah, dan anak-anak ini setiap hari berada di rumah, jadi bolehlah kita pertimbangkan untuk memberikan berdasarkan jumlah, durasi maupun tingkat kerumitan.

Orang tua harus dilibatkan dong? Setuju. Orang tua sebaiknya duduk di sebelah anaknya saat pemetikan nilai. Sekaligus tanda tangan pakta integritas bagi anaknya. Lho? Iya biar anak sadar harus jujur dan tidak berusaha nyontek atau mencari jawabannya melalui chatting dengan teman atau pencarian di internet. Kalau orang tuanya tidak sempat, orang tua tidak perhatian terhadap anak. Kalau orang tua sudah tidak ada, kan ada wali siswa. Kalau orang tua mendadak ada kesulitan lain, tidak bisa pokoknya harus ditemani. Tiba-tiba saya bersyukur sekali bahwa anak saya telah lulus SMA tahun lalu.

Ya sudah, jangan merepotkan orang tua, siswa memakai kamera luar yang terhubung dengan video pertemuan, jadi guru dapat memantau situasi dan lokasi sekitar siswa yang sedang dipetik nilainya. Orang tua senang tidak direpotkan, guru senang bisa melihat kejujuran siswa, siswa senang bisa dilihat oleh gurunya. Eh, tunggu dulu, ini untuk kelompok siswa dan orang tua yang memiliki kemudahan fasilitas ya, memiliki kamera sekunder atau kamera telepon genggam yang bagus. Kalau tidak memiliki itu? Uhm, ya, kita akan pikirkan cara lain *o-ow*

Cara lain? Aha, cara membuka menutup soal dari platform e-learning. Nah ini efektif. Pertanyaan dibuka selama beberapa menit sesuai bobot soal, lalu siswa menjawab di selembar kertas (mata pelajaran dengan ada hitungan, misalkan), lalu upload ke e-learning, soal ditutup, pindah ke soal lain. Iya, menarik banget ini cara. Hanya faktor tidak memberikan kepercayaan sama sekali (zero trust) kepada siswa. Selama ini menghadapi siswa tukang berbohong maka harus mendapat perlakuan seperti ini. Lho? hmm.

Mari instrospeksi diri, di level manakah para guru berada? 

Para siswa, apakah kalian menikmati suasana belajar dari rumah, alias tidak pernah memperdulikan panggilan email atau pesan dari gurunya? Pura-pura saja tidak tahu nanti tinggal beri alasan “saya kok tidak terima email ya?”. Lalu mengambek dengan bilang “saya tidak suka cara ini, saya mau dijelaskan bertemu muka. Ini bukan gaya saya.” Atau justru kalian ada di tipe yang menyambut suka cita bahwa inilah waktunya saya tampil karena biasa di kelas sering tertinggal, saya mau menunjukkan bahwa sekarang saya mampu berusaha. Atau kalian yang memiliki akademis sangat baik, dengan kebiasaan kalian yang selalu tepat waktu, menjadi tergopoh-gopoh dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan dan dikumpulkan secara online dengan batas waktu tertentu. 9 mata pelajaran artinya 9 tugas. 13 mata pelajaran artinya 13 tugas. Lalu kalian mengambil kesimpulan “aaaahhh kami ingin kembali ke sekolah, cara ini membuat gila dengan tugas tidak ada putus-putusnya.” Sabar ya, Nak 🙂

Secara umum kondisi belajar dari rumah ini memiliki kendala yang berbeda-beda. Bahwasanya seorang Menteri Pendidikan kemaren diberitakan terkejut menemukan kondisi di pedesaan yang tidak berlistrik dan memiliki akses internet. Bahkan ada guru yang di saat menjaga jarak ini, malah harus berkeliling antar kampung untuk memastikan siswanya belajar sesuai yang dia instruksikan. Kalau melihat secara global, iya, sulit sekali.

Satu hal yang saya pahami adalah bahwa di Indonesia khususnya, Menteri Pendidikan sudah memberikan surat edaran mengenai penyesuaian pengajaran, tidak wajib menyelesaikan satu silabus kurikulum, lalu mengajar dengan cara sesuai yang dipahami guru dan siswa, tidak perlu melakukan ujian tradisional seperti di dalam kelas. Saya pikir hal-hal tersebut sudah menggambarkan diberikannya sebuah “kebebasan” untuk berkreasi dalam porsi kita sebagai guru. Namun, masih banyak pula guru-guru mengeluh yang diwakilkan oleh para pengamat pendidikan, pejabat-pejabat organisasi guru, mengatakan bahwa guru kebingungan di lapangan musti melakukan apa, lalu didesaklah Kemendikbud untuk membuat kurikulum darurat karena guru cenderung berusaha menyelesaikan silabusnya.

Nah, di sinilah letak miskomunikasi dan mispersepsi. Sudah diberikan kebebasan tetapi masih minta diatur supaya guru tidak salah langkah. Terus terang lelah membaca berita seputar itu. Tapi sayapun tidak pada kapasitas mampu memberikan solusi.

Belum lagi, sekolah yang mengadaptasi kurikulum international, sama seperti UNBK, semua ujian akhir bersifat “high stake exam” sudah dibatalkan periode Mei-Juni ini. Maka dengan batal, marilah guru bereksplorasi sesuai dengan potensi guru dan siswa kita. Namun masih banyak pula guru dan sekolah dengan pola pikir tetap ujian secara tradisional. Boleh buat proyek, boleh buat portofolio. Ah, namun bagi guru tetap lebih mudah adalah ujian online. Kita butuh bukti (“evidence”), ya benar. Namun tidak pernah pernyataan bukti itu adalah nilai ujian bersifat “high stake”. Benar-benar perubahan pola pikir, bukan?

Sehabis mengajar, kalau tidak diujiankan, maka siswa tidak mau belajar. Jadi orang tua pun menuntut ada tes. Iya benar. Namun tes atau evaluasi tadi bisa dipakai yang bersifat formatif saja. Tapi bagaimana kalau ada yang berpendapat tetap harus sumatif? Silahkan, karena sumatif bukan melulu “high stake” tadi kan? Jika dalam kondisi normal seorang guru ada yang memberikan evaluasi setiap minggu, maka dalam kondisi tidak normal ini, mungkin jangan mempertahankan kebiasaan tersebut. Walau kebiasaan baik tetapi kondisi “new normal” ini membuat kita ditantang untuk melakukan semua jenis penyesuaian.

Banyak cara lama yang musti disesuaikan atau bahkan diubah. Jangan ragu untuk berubah. Jangan takut untuk merubah. Siapa tahu ini menjadi keadaan normal hingga beberapa tahun ke depan? Jangan kuatir dikatakan terlalu fleksibel oleh rekan-rekan guru lain atau dianggap merusak “tatanan” peraturan baku guru yang tidak pernah tertulis tetapi tersirat, karena yang paling penting di saat ini adalah anak-anak yang mau belajar. Belajar yang tentu beragam kemauan, ada yang 100% mau, ada yang 30% mau bahkan masih ada yang 0% mau. Tetapi anggaplah mereka semua mau. Sepakat kan? 🙂 

Di kenormalan baru ini, tantangan bagi saya adalah, membuat siswa lebih tertarik belajar, bukan lebih tertarik dapat nilai saja. Ini sulit, budaya belajar di sekolah adalah demi penentuan peringkat sudah mendarah daging. Legitimasi pintar dan tidak pintar sudah menempel di benak semua orang dan lembaga pendidikan. Juara di SD, masuk SMP mudah, masuk SMA mudah, masuk universitas mudah, masuk kerja awal mudah. Sukses? Berpenghasilan tinggi dari nilai akademisnya? Itu yang bukan pegangan. Tetapi budaya kita sudah mengakar, semua diawali dari peringkat akademis. 

Jadi, marilah kita belajar. Guru belajar, Siswa belajar, Orang tua belajar. Dalam porsi masing-masing. Selamat Belajar!

 

 

 

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake