Reward and Punishment

If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed.  ~ Albert Einstein

Reward dan Punishment, masihkah relevan dengan pendidikan saat ini?

Kalau saya melihat masa hidup Einstein, yang lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1955, dan memberikan quote seperti di atas, rasanya Einstein melihat betul bahwa era kelahirannya di akhir revolusi industri sudah berbeda dengan era beliau beranjak dewasa.

Jadi seperti menegaskan, hati-hati dengan ungkapan Reward dan Punishment ini. Digunakan saat kapan, dan kepada siapa. Itu menjadi faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Jika kita menonton pertunjukan aksi hewan di sebuah sirkus katakanlah, kita menyaksikan secara langsung, sang pawang yang memberikan reward berupa ikan kecil kepada anjing laut apabila bisa melakukan atraksinya dengan benar. Lalu kita juga melihat ada semacam tali untuk dipecutkan, seolah-olah pelatih / pawang menegur hewan yang dilatih untuk tidak salah melakukan atraksinya seperti yang diajarkan, seperti memberi tanda “saya hukum kamu kalau tidak benar atraksinya”.

Lalu bagaimana menggunakan Reward dan Punishment di dalam pendidikan anak-anak? Menurut saya, definisi anak-anak pun harus terbagi dalam beberapa jenjang. Anak TK – SD kelas 2, kelas 3 – 5, kelas 6 – 8, kelas 9 – 10, dan kelas 11 – 12. Perlakuan kepada mereka harus dibedakan.

Saya bukan pakar dalam hal ini, namun pengalaman belajar dan mengajar, mendorong saya untuk menghindari Reward dan Punishment dalam manajemen kelas saya. Menghindar di sini bukan berarti tidak mendukung Tata Tertib Peraturan Sekolah. Peraturan tetap harus ada. Konsekuensi terhadap tidak berjalannya peraturan secara benar juga tetap ada.

Meyakini “Reward” adalah memberikan motivasi kepada siswa dengan metode “personalized learning” lebih bermakna bagi saya dibanding memberi reward dengan menambah point urusan akademik dan non akademik. Personalized learning membuat siswa tertentu merasa dihargai kemampuan akademiknya dan (semoga) lebih terpacu motivasi belajarnya. Berat melakukan personalized learning? Iya. Selalu melakukannya? Tidak.

Sama seperti meyakini “Punishment” adalah bukan sekedar menghukum siswa yang ketahuan tidur di kelas saya, yang datang terlambat, yang tidak mengerjakan tugas, yang tidak berseragam lengkap. Lebih bermakna dengan membangunkan siswa tersebut dan meminta cuci muka lalu membantu saya mengerjakan hal lain. Datang terlambat? Ayo duduk paling depan. Tidak mengerjakan tugas, mari kerjakan bersama saya di kelas, sekarang. Temanmu tugas B, kamu tetap A dan bersama saya.

Pasti seorang Guru bermimpi dan berangan untuk memiliki siswa ideal yang berkarakter baik, berdaya juang tinggi, rajin dan hormat kepada Guru maupun teman. Namanya saja ideal, semua ingin, tetapi hampir tidak mendapatkan kondisi ideal tersebut, bukan?

Membuat siswa muncul dengan karakter baik bukan hanya dengan diberi hukuman karena salah yang bisa ditolerir. Salah tidak buat tugas sekali dengan salah memukul teman, adalah dua hal berbeda. Salah karena telat masuk kelas juga berbeda dengan salah meninggalkan kelas karena pura-pura sakit. Atau sebaliknya dengan diberi penghargaan kalau melakukan hal yang benar, benar di mata siapa? Apakah penghargaan berhak didapat siswa jika dia “hanya” sekali dapat 60 dari sekian nilai 40 nya? Atau berhak untuk siswa yang ranking 1 di kelas saja? Atau siswa berpakaian paling sesuai aturan?

Guru dan sekolah masih sering terjebak pula dengan sistem ini. Satu sisi sekolah ingin mendisiplinkan siswanya. Sejarah menorehkan catatan sekolah yang terkenal dengan pendidikan disiplinnya dan nilai akademik akan selalu menjadi sekolah favorit dan diminati oleh calon siswa dan orang tuanya. Demikian pula sekolah yang lebih murah secara biaya tentu saja punya peminat tersendiri 🙂

Dibuatlah berbagai buku tiket (yang dirobek kalau mau dipakai), tiket keterlambatan, tiket kedisiplinan, tiket kelengkapan seragam, dan lain-lain sesuai nama dan fungsi buku tiket tersebut (mungkin). Atau semuanya dirangkum dalam satu tiket bernama tiket konsekuensi untuk apapun pelanggaran siswa. Dengan nama konsekuensi menjauhkan paradigma sebagai sebuah hukuman langsung.

Diberikanlah sangsi pengurangan nilai baik akademik maupun non akademik untuk mendapatkan penghargaan dari guru atau sekolah di akhir tahun akademik. Pengurangan nilai akademik digadang-gadang masih menjadi senjata ampuh untuk mengendalikan tindakan siswa. Pengurangan nilai non akademik yang dipakai sebagai alat ukur karakter siswa, secara individu atau grup. Penilaian grup dimaksud untuk mendidik kekompakan, kebersamaan dan toleransi di antara siswa dalam satu grup. Nilai yang tidak berkurang atau justru penambahan itulah akan menjadi Reward yang diberikan guru dan sekolah kepada siswanya.

Datang terlambat, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai sepatu seluruhnya hitam, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Seragam kemeja keluar dari celana atau rok, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak pakai dasi, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai kaos kaki / kaos kaki hanya di bawah mata kaki, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak membawa buku pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berbicara di dalam kelas dengan teman, dapat tiket. dan pengurangan nilai.

Tidak mengerjakan PR atau tugas atau proyek, dapat tiket.

Rambut siswa laki-laki menutup alis mata / siswa perempuan tidak diikat untuk panjang lebih dari sebahu, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Rambut dicat gelap natural orang Indonesia umumnya / pirang / warna warni, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Membalas kata-kata gurunya / berani berargumentasi dengan gurunya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidur di dalam kelas saat pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berkelahi / bercanda kasar di lingkungan sekolah, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mencuri uang atau barang bukan miliknya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mengucapkan sengaja atau tidak sengaja kata-kata tidak pantas, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Pelaku bullying / korban bullying yang membalas dengan tindakan yang menyebabkan perkelahian, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Bapak Ibu ingin menambahkan daftar di atas? Silahkan 🙂 , dari saya sementara ini cukup dulu. Jenis pelanggarannya berbeda-beda bukan? Setujukah untuk tidak menghukum semuanya sama rata?

Kalau ingin siswa menghargai suatu pelajaran, mengapa dia diberikan tiket konsekuensi ngeyel / tidak sopan pada gurunya pada saat dia berargumen mencari kebenaran versinya sendiri akan pelajaran yang belum terlalu dimengerti olehnya.

Kalau ingin siswanya tidak tidur di dalam kelas saat guru menjelaskan atau saat diberikan evaluasi, mengapa tidak mencoba metoda pengajaran selain ceramah di kelas yang membosankan, mengapa tidak memberikan evaluasi / penilaian cara lain selain “pencil and paper based test”.

Kalau ingin siswanya mengerjakan semua tugas pelajaran dengan baik, mengapa guru-gurunya tidak memberikan berdasarkan jadwal yang baik, semua guru ingin nampak memberikan tugas yang “wah” (ingin menunjukan berada dalam kerangka SAMR di M-Modification, salah satunya meminta siswa dengan tugas melaporkan dalam bentuk video). Mengapa tidak menjalankan metode “Integrated Curriculum”. Satu tugas berintegrasi dengan beberapa mata pelajaran. Guru memberikan tugas kepada siswa membuat video selama 5 menit, pokoknya siswa harus kumpul video, tanpa pernah menjelaskan ataupun membantu “platform” video apa yang lebih mudah dan nyaman bagi siswa (jangan-jangan gurunya tidak mengerti, contohnya video laporan sampai 5 menit, sementara iklan di media saja cukup sekian detik sampai 1-2 menit. 5 menit? itu bukan laporan tapi membuat film pendek).

Jika sekolah mendukung penggunaan teknologi secara tepat guna dan benar, pakar teknologi integrasi amat dibutuhkan. Pakar ini bisa membantu guru mendisain tugasnya, serta membantu siswa dengan solusi-solusi alat bantu yang tepat. Bayangkan, guru Bahasa Indonesia meminta tugas video drama, guru biologi meminta tugas video peredaran darah, guru Sejarah meminta tugas video drama sejarah, guru Pkn meminta video kunjungan museum dan kantor pemerintahan di Jakarta misalnya…… Kebayangkah bagaimana nasib sang siswa yang harus mengerjakan itu semua? Dia bingung, ditumpuklah sampai hari pengumpulan tiba dan hanya bisa bilang “susah bu, susah pak, gak bisa, minta tugas tambahan deh pak yang lain, remedial bu…..”.

Kalau ingin siswanya disiplin terus, baju seragam harus selalu dimasukkan, selalu pakai dasi, menurut saya sudah bukan di jaman yang tepat. Modifikasilah baju seragam menjadi tidak perlu model yang dimasukkan ke dalam celana atau rok. Dasi tidak perlu diwajibkan lagi, kalaupun tetap mau wajib, didisain dalam bentuk yang lebih modern bagi siswa perempuan, sementara bagi siswa laki-laki ada rompi modern penutup keseluruhan dasi yang tampak agar lebih modis saja, dan lain-lain.

Kerapian berseragam diberi Reward, itu seperti menyetujui bahwa setiap karakter anak harus sama. Definisi tiap individu bahkan anak tentang kerapihan selalu berbeda-beda satu dengan lainnya.

Mengingatkan anak terus menerus dengan contoh Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates, bisa menciptakan kebosanan. 3 atau katakanlah 200 orang seperti mereka dibandingkan +/- 7,3 Milyar penduduk dunia, tidak adil menurut saya didengungkan terlalu sering kepada siswa.

Sepakat, mereka bertiga dan banyak lagi contoh orang berhasil dan sukses, menjadi motivasi untuk menggiring kesuksesan siswa atau orang lain. Tetapi jika terlalu sering, siswa merasa ini aku datang ke sekolah belajar dengan guru atau kalian guru sudah berubah semua menjadi Merry Riana, sang motivator? Mengingatkan, setuju. Terus menerus, bosan.

Sekolah membantu siswa mendapatkan pendidikan formal. Karena formal, sekolah terjebak berbagai rutinitas. Sekolah membutuhkan dana, ada para guru dan staf yang membantu operasional sekolah dan profesional secara pekerjaan. Dana, berarti uang sekolah adalah salah satunya. Uang sekolah mahal, orang tua berharap anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik. Sekolah melalui para pembuat keputusan berpedoman bahwa pendidikan yang baik adalah seiring sejalan antara pendidikan karakter dan akademik. Karakter dan akademik dituntut untuk ditingkatkan. Jalan termudah, Reward dan Punishment. Terdengar umum? Iya, sebuah lingkaran setan mungkin 🙂 Disiplin dapat dikuatkan tanpa hukuman. Keyakinan dan pola pikir akan hal ini yang perlu hadir dulu dalam kelompok guru dan sekolahnya.

Saya masih terus merindukan sekolah yang seperti didengungkan untuk berubah di era abad 21 ini. Sekarang sudah hampir 18 tahun lewat dari awal abad 21. Lalu, masih begini-begini saja? Balik lagi berharap pendidikan anak harus dari karakter yang mana karakternya tercipta melalui teori dari pelajaran pkn, cb, pramuka, agama, sejarah, bahasa dan alat pacunya adalah Reward dan Punishment? Oh come on……

~Desember 2017~

GeoGebra @EduX – October 2017

On Saturday, 14 October 2017, I joined the event held by EduXpert, in Menara Kibar, Menteng. The event based on their motto, “with the aim of enhancing the integration of technology in the classroom, so that it directly impacts students’ learning attitude and the understanding of teaching materials”, fits for us, the educators.

I had opportunity to share my class with GeoGebra, a tool that exist from 2001. After 16 years, GeoGebra still commit to help students and teachers to discover Math deeper. Solve equations, graph functions, create constructions, analyze data, explore 3D math. Amazing!

Last month, in September 2017, they launched the shiny new GeoGebra Graphing Calculator and Geometry apps. The completely revised design and cool new features are available for all devices.

They also make “Turn your Phone into an Exam Calculator”. The exam mode has been developed to create an easy-to-use solution for paper based exams where phones or tablets with the GeoGebra Graphing Calculator app replace a traditional calculator. During exam mode, students are offline and can only use the GeoGebra app – nothing else.

I (and hopefully Math Teachers 🙂 )love GeoGebra because:

  • It allows me and teachers to continue teaching. GeoGebra doesn’t replace me. It helps me what I do best – teach.
  • It allows me and teachers to plan and deliver better lessons. GeoGebra gives me the freedom to create lessons that I know know my students will find interesting.
  • It allows me and teachers to connect to other teachers as a part of a global math community.

I really do hope for my students and all students who use GeoGebra, to love it, too, because:

  • It makes math tangible. GeoGebra makes visual way, students can finally see, touch and experience math.
  • It makes math dynamic, interactive and fun (fun?? 🙂 ), that goes beyond whiteboard and leverages new media.
  • It makes math accessible and available.
  • It makes easier to learn. The interactions created by GeoGebra fulfill the students’ need in order to absorb mathematical concepts.

So teachers, don’t just wait, please go and explore GeoGebra as much as you can to fulfill your mathematics class’ need and makes your students absorb more concepts 🙂

Below are photos and a video during my sharing session sparks:

 

GESS Indonesia 2017

 

This year, I had opportunity again to join GESS as one of the speaker in their Conference Section.

I shared twice. My personal sharing session on 28 September 2017, and as an Microsoft Innovative Educator Expert on 29 September 2017.

In my personal sharing, I shared about Desmos Classroom Activities, a collection of unique and engaging digital activities, which are free for you and your students.

You can choose bundles from other teachers sharing and use them in your class. Or even you can create your own activities that fit for your students and see how they will learn Math and love learning Math.

Here is my presentation:

In my second sharing, I shared OneNote Class Notebook in Classroom. OneNote is a member of the Microsoft Office family. With OneNote, I bring my students together in a collaborative space or give them individual support in private notebooks. And no more print handouts. I can also organize lessons and distribute assignments from a central content library.

Here is my presentation:

 

 

Siswa Terbaik

Bapak/Ibu Guru, apa definisi siswa terbaik / pelajar teladan / siswa berprestasi menurut anda?

Kebanyakan akan menjawab dengan definisi siswa yang pelajarannya menghasilkan nilai paling tinggi. Pelajar yang keseluruhan dirinya menjadi teladan bagi teman-temannya. Siswa yang seringkali memenangkan pertandingan / perlombaan baik akademis maupun non akademis. Siswa kesayangan guru (? 😉 ).

Singkat kata, siswa dengan definisi di atas adalah siswa idaman para Guru, bukan? Bahagianya kita dengan pekerjaan yang otomatis menjadi enak ini, tidak perlu mendidik berlebihan, tidak perlu bersusah payah menyampaikan pelajaran dengan berbagai metode yang dianggap cocok. Siswa sudah cakap dari “sananya”, dari lahir maksudnya.

Tapi, yang di atas itu kan masih secara umum. Saya masih meyakini ada perbedaan pandangan atau tidak terfokus pada satu stereotip saja. Terbaik, bisa saja menjadi sama-sama baik dalam satu kelompok, bisa terbaik mengalami kemajuan, atau bisa juga terbaik dalam usaha dan perjuangan selama dia bersekolah.

Kadang saya bingung juga jika ada siswa yang “protes” kepada saya, kok saya bilang bagus untuk sebuah nilai yang menurutnya biasa-biasa saja. Maaf, saya datang dari era “pak Tino Sidin” yang selalu bilang bagus untuk karya anak-anak yang dikirimkan kepada beliau 😉 . Jawaban serius saya salah satunya adalah “Jangan menilai dirimu terlalu tinggi di luar batasmu, nak. Tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi. Jangan samakan dirimu dengan si jenius A, si cerdas B, tapi kamu adalah kamu yang sudah istimewa bagi saya memberikan hasil seperti ini”. Idealkah jawaban itu? Balik lagi, tergantung pandangan anda sendiri. Bukan berarti siswa puas dengan jawaban tersebut, mungkin saja malah menggerutu, “aduuuh ini guru kok nyebelin banget ya, jelek dibilang bagus” 😀

Entahlah, tetapi saya percaya, terbaik saat ini, belum tentu melulu menjadi terbaik di masa depan. Tidak semua yang berprestasi sangat baik saja yang mampu menjadi lulusan hebat dari pendidikan tinggi mereka. Selama 21 tahun di sekolah, rasanya saya cukup melihat bukti, bahwa biasa-biasa saja di sekolah, sekarang telah menjadi dokter, menjadi eksekutif di bidang tertentu. Karena siswa yang biasa atau kurang bagus secara akademis tadi, bukan berarti kalah, mereka hanya berproses lebih lama dari teman-temannya untuk menjadi terbaik di jenjang sekolah. Kan tidak mungkin juga semua menjadi terbaik kalau ujung-ujungnya sekolah diminta membuat peringkat tetap memilih yang “ter-” tadi. Atau contoh lain, malah siswa terbaik di SMP dengan mengambil mata pelajaran “all sciences” di SMA, sudah dibanggakan akan menjadi calon dokter, ternyata setelah menyelesaikan dua gelar sarjana, memilih menjadi penulis, dan bukan sembarang penulis, minggu ini buku perdananya diluncurkan oleh penerbit Gramedia. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sebagai Guru, sebagai sekolah, sebenarnya, apa sih tuntutan kita kepada mereka anak-anak? Ingin anaknya berhasil baik dalam hal nilai / prestasi akademis? Untuk siapa? Kebanggaan bapak/ibu? Peringkat sekolah? Bangga posting foto anak-anak itu di pagar sekeliling sekolah? Belum tentu anaknya suka sih fotonya selebar spanduk dipajang di pinggir jalan raya (hmm, sekolah apa ya? adaaa aja 😉 ). Tidak salah menjadi bangga kok, itu hal normal dan manusiawi. Guru memiliki target, sekolahpun sama memiliki target. Namun yang saya sedang bahas di sini adalah dari sisi siswanya.

Sejujurnya saja, namanya manusia yang hidupnya memiliki target, gurupun kadang merasa tantangan mencapai target tadi seperti sebuah perlombaan untuk mengantar siswanya meraih peringkat tertinggi, contohnya waktu saya sedang ikut berdoa bersama siswa menjelang ujian (kebetulan mata pelajaran saya), setelah selesai berdoa, ada rekan yang menghampiri saya dan berkata “wahh doa nih yee supaya dapat bintang”……… Dia tidak tahu kan isi doa saya, jadi “malesin banget” ditanggapi kalau kata anak-anak sekarang, walaupun bisa saja itu hanya ujaran bercanda 😀 .

Sebagai penutup cerita, ada cerita menarik dari seorang siswa yang baru menyelesaikan jenjang SMA, siswa yang hasil nilai akademisnya selalu kurang memuaskan. Dia diganjar predikat siswa terbaik untuk mata pelajaran seni musik. Seorang rekan melontarkan pertanyaan kepada saya, “Tidak salah siswa tersebut mendapat predikat terbaik? (kalimat asli sudah diganti agar lebih halus untuk keperluan tulisan ini 🙂 ). Sebelum saya sempat menjawab atau melawan pernyataan tersebut, guru seni datang menghampiri dan pertanyaan serupa kembali dilontarkan kepadanya. Dan jawabannya, sungguh teramat keren (bagi saya), “eh, justru saya kasih dia yang terbaik karena dia dari tidak bisa apa-apa, sekarang ada niat dan menjadi bisa”. Jawaban Juara <3

Kisah Sedih di tahun ke-45

1984

Kelas 4 SD. Pelajaran PMP (dulu bernama PMP sebelum menjadi PPKn dan PKn), saya terlibat adu mulut dengan sang guru. Beliau namanya pak Titus (hmm kemana ya bapak itu sekarang? Kalau baca ini, masih ingatkah dengan saya? Anak kecil tidak gendut tapi selalu berbadan besar (dari kecil) 😀 ).

Yang saling kami argumenkan adalah pernyataan “Yang dapat dipilih menjadi seorang Presiden RI adalah harus orang Indonesia asli” menurut pak Titus. “…..(sama) dan beragama Islam” menurut saya.

Pak Titus menyatakan saya tidak boleh sembarangan berbicara, karena tidak ada buktinya. Di dalam UUD 45 pasal manapun tidak ada yang menyatakan harus beragama tertentu. Selaku anak SD yang suka iseng (nyolot dikit sih), saya tidak kalah galaknya menyatakan pernah membaca tulisan harus beragama itu. “…..yang mau jadi pemimpin negeri ini harus Islam pak, kok bisa gak adil gitu sih?” Lugas banget saya bicara saat itu. Tapi ujungnya ya diam (namanya saja anak SD kan) apalagi karena tidak bisa membuktikannya.

Singkatnya, mengapa kalimat “…. harus beragama Islam” melekat sekali di dalam benak saya sebagai anak kelas 4 SD? Siapa yang merecoki saya dengan pernyataan itu? Sampai sekarangpun tidak bisa pasti saya jawab karena saya tetap tidak ingat dapat dari mana buah pemikiran tersebut. Namun rasanya, kita dari kecil kan belajar sejarah “yang diingini sebagai sejarah oleh era ORBA”, jadi tahu dong ada yang namanya Piagam Jakarta yang cikal bakalnya pembukaan UUD 45 ada isi “menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” sebelum disempurnakan menjadi sila pertama Pancasila. Dan belakangan saya memahami mungkin saja saya membaca sepotong penggalan cerita dari usulan KH Wahid Hasyim yang berbunyi “Presiden ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam”. Dan betul hal tersebut tidak pernah menjadi resmi ada di dalam suatu pasal UUD 45 selanjutnya.

Jadi, pak Titus benar, saat itu saya tidak bisa membuktikan.

1985 – masuk SMP, kenyang penataran P4

1988 – masuk SMA, gembul kekenyangan penataran P4

1991 – masuk kuliah, muntah akibat terlalu eneg penataran P4.

Hampir 30 tahun berlalu, hal-hal yang berhubungan dengan “pendidikan kewarganegaraan”, lewat begitu saja, toh saya tidak pernah tertarik dengan dunia politik, jalanin saja, terserah lah semua mau jadi apa. Silent Majority.

1998 – kerusuhan Mei. Ketegangan tiada terkira. Saya tidak mau bahas. Yang saya tahu, Engkau Cina? pergilah selagi kamu mampu, tinggalkan Indonesia, tidak guna kalau di ujung jaman, kamu ditindak seperti ini.

2011 – walaupun Ahok sudah malang melintang di Belitung, saya tidak kenal, tahu namanya saja tidak. Siapa dia? Ow sempat dengar sekilas soal anggota DPR, tapi sangat minimlah. Lalu, pak Ahok ini digandeng Gerindra untuk menjadi calon wakil Gubernur Jakarta mendampingi pak Jokowi. Whatt?? Ngapain sih ini Cina satu? Bikin kacau nanti, sudahlah jangan ikutan politik, kelas berat lagi Gubernur Jakarta, nanti ujungnya kami para etnis ini yang akan sedih dan sulit.

Gila Hedy, lu egois banget. Lu yang gak mau ngapa-ngapain lalu minta pak Ahok juga gak boleh ngapa-ngapain? Apa yang lu kerjakan untuk negara? Uppss, hati saya sendiri bicara begitu? Omagat (kata anak-anak kekinian). Menjadi warga yang baik, taat membayar pajak, mematuhi aturan, saya merasa telah berbuat untuk negara, tetapi itu tidaklah sama bagi orang lain. Terlebih terhadap pak Ahok, saya tidak berhak menjustifikasi pilihan hidupnya. He is a good guy, a good leader in our government.

2012 – Horeee, pak Ahok dan pak Jokowi menang dan menjadi Gubernur dan Wakilnya bagi saya dan seluruh warga Jakarta. Pelan-pelan, hari demi hari, bulan demi bulan, saya merasakan ada peningkatan, perbaikan. Langsung signifikan? Belum, terlalu banyak yang musti dibenahi.

2014 – pak Ahok ditinggalkan oleh pak Jokowi yang naik menjadi Presiden. Rasanya sudah jatuh cinta sama bapak berdua. Senang, bahagia, mendukung, menyaksikan perubahan, dan terpenting, tidak merasa takut karena rasanya benar-benar bhinneka yang seutuhnya. Pikiran masa kecil yang ketakutan lama-lama terkikis. Kami kaum merdeka, sama seperti yang lain.

2016 – pak Ahok dituduh menista Agama Islam. Beliau hadapi semua, 23 kali persidangan tanpa absen sekalipun, karena beliau memiliki keyakinan bahwa beliau tidak menodai ataupun menista ataupun ujaran kebencian pada pidatonya di Kepulauan Seribu, 27 September 2016. Bukan karena saya Cina, bukan karena saya mempercayai Kristus yang sama, tetapi sungguh mati saya tidak melihat adanya penodaan di sana. Dia berucap, iya betul, dia mengibaratkan kejadian kalau pembohong bisa memakai ayat kitab suci. Astaga, bandingkan dengan corong pengajian yang sering banget saya dengar perkataan memojokan kaum kristiani. Belum lagi yang teriak-teriak “bunuh”, jelas-jelas menghina kaum agama lain, namun tidak ada perkara sama sekali.

2017 – 19 April …… pak Ahok sudah kalah dari kancah pemilihan Gubernur. Sedih banget. Antara sedih dan bahagia, saat itu saya masih berpikir, sudahlah pak Ahok, suatu hari akan terbukti kalau pak Ahok akan dibutuhkan kembali, bisa di Jakarta, di daerah lain, di Indonesia. Sedih saja memikirkan bodohnya beberapa kaum yang tidak memilih beliau dan pak Djarot hanya karena alasan agama. Takut tidak terselamatkan kalau memilih pemimpin tidak seiman. Konyol, namun mau bilang apa. Belum lagi, para 9 naga (konon) yang berfoto sambil memamerkan senyum sebagai perayaan kemenangan paslon 3. Segitunya kalian (salah satunya saya kenal sebagai orang tua mantan siswa saya).

Saya paling malas pakai kata mayoritas, minoritas, sejijik saya mendengar tenun kebangsaan dan keberpihakan. Namun kali ini saya betul-betul merasa kaum minoritas seperti pak Ahok (dan kebetulan saya), sedang dikerjai. Hingga ucapan pak Ahok beberapa hari lalu tentang “jangankan jadi mentri atau apapun, jadi Gubernur aja gak bisa karena kafir” itupun dianggap pak Ahok menantang akan putusan sidangnya sendiri dan membuat perpecahan. Di mana logika? Yang beliau katakan itu tidak ada artinya sebagai menghujat. Kalian yang bilang pak Ahok membuat resah dangan teror perkataan, sanggup kalian untuk duduk 23 kali sidang dan dituding di depan hidung kalian dibilang cina, kafir, mau dibunuh, bakar, penggal. Sanggup kalian???

2017 – 9 Mei……… Super kelabu. Pihak pak Ahok akan banding. Do the best pak Ahok dan tim. Saya tidak bisa membantu secara fisik, tetapi doa selalu untuk bapak sekeluarga. Saya juga tidak bisa seperti orang-orang yang bawa-bawa Agama terus dan mengatakan bahwa ini jalannya Tuhan, menyamakannya seperti Yesus, pakai berbagai ayat alkitab, menghibur diri mengabarkan ada maksud Tuhan dibalik ini semua. Entahlah, saya tidak suka deh itu semua, dituduh menista agama, dibalas dengan gaya agama pula. Pak Ahok saja orang yang tidak gemar bawa-bawa agamanya sendiri. Membayangkan beliau yang dibui dan kita harus bilang, ini jalan Tuhan? NO Wayyy, saya tidak bisa. Bagi saya, kalau mau bergabung mendukung, terlibatlah bersama aksi pendukung pak Ahok yang menyerukan ketidakadilan hukum bagi beliau, dengan menyanyi, menyalakan lilin, berdoa bersama, dalam koridor yang benar.

Semoga pak Ahok mendapatkan kebebasannya kembali secepatnya, karena dia orang baik dan telah berjasa bagi negeri ini.

.

.

.

.

.

.

Lalu apa yang tersisa di benak saya?……

….. bahkan anak kecil kelas 4 SD puluhan tahun lalu merasa negara ini masih kerdil, terlebih ucapannya dulu serasa terbukti benar hari ini……

🙁 🙁 🙁

 

 

 

Catatan Sehari Pilkada

(Sebelum dan Setelah)

image1

Sewaktu press conference setelah debat 3 berlangsung kemaren tanggal 10 Februari 2017, Agus ada menyatakan jika dia tidak suka ditanya kemungkinan kalah karena dengan berani maju sebagai calon gubernur artinya harus mengupayakan sebuah kemenangan. Jangan berpikir kalah. Saat itu saya langsung agak ngeri mendengarnya. Satu sisi, saya mengerti ada semangat kalau bertanding, milikilah mental juara jangan berpikir kekalahan. Tetapi bagi saya, ini bukan soal tanding biasa, ini politik dan itulah yang membuat rasa ngeri tadi.

Sempat terpikir, gila nih, apa yang akan terjadi jika Agus beneran kalah. Akankah dia mencak-mencak dan seluruh pasukan mantan presiden juga akan mengacak-acak Jakarta? Lebay sih saya, tapi iya, saya ngeri.

Lalu seiring munculnya “pepo” kembali di layar curhat twitter, di mana isinya menuduh sana sini, menuduh Presiden Jokowi, menuduh pemerintah, menuduh siapapun yang tidak pro dia seolah-olah menfitnah dan menzoliminya, semakinlah saya melihat sosok Agus segitunya hanya karena demi peponya, tidak mampu lagi berpikir realistis dan menunjukkan karakternya sendiri bukan bentukan pepo dan “memo” nya.

Melengkapi kejengahan pada Agus adalah dengan munculnya pembela Agus di twitter, instagram (dan path?) dari Ibas dengan “wahai rakyatku”nya, Aliya yang membela Ibas, memo dengan ya begitulah, Anisa yang dari sebelum-sebelumnya juga hmm….. Capai lho lihat dan bacanya. Capai karena bagi saya segitu saja seorang SBY, Jendral, yang merasa tampuk kekuasaan hanya milik keluarganya sehingga dari dirinya harus jatuh kepada anaknya. Dia pikir ini kerajaan Indonesia? Prihatin saya.

Hari pilkada datang. Saya memilih no.2, pak Ahok. Sudah pastilah saya memilih beliau. Rawabuaya, area tempat tinggal saya, yang masuk TV hanya karena banjir, sudah tidak ada genangan dua tahun terakhir ini. Setiap saya melewati pinggir kali di belakang jalan Daan Mogot (area Indosiar), sudah bisa melihat sungai yang walau tidak bersih 100%, tetapi tidak hitam lagi dengan bau menyengat dan sampah yang menumpuk di atasnya. Tempat-tempat sampah rapi berjejeran di pinggir sungai. Melewati daerah Menteng, Banjir kanal, sama rapinya. Melewati daerah Grogol, apartemen “Season City”, baik sungai maupun sepanjang jalan tepi sungai telah bersih dan rapi. Terlalu banyak daerah yang akan disebut untuk menunjukkan keberhasilan Ahok. Jadi singkat cerita, hatiku padamu pak Ahok.

Dan terjadilah Agus di urutan terakhir (ke-3). Ada sedikit kuatir, wah bakal ada apa nih ya? Puji Tuhan, semua baik-baik saja. Dan yang makin membuat baik adalah sikap Agus yang cukup “gentlemen” dan rendah hati dengan menelpon Ahok dan Anies (Anies tidak sempat terhubungi saat itu) untuk memberikan selamat telah sukses di putaran pertama dan berhasil masuk ke putaran kedua. Di press conference nya semalam, Agus mengatakan hal tersebut dan yang saya tangkap, Agus menerima kekalahannya dengan baik dan mengakui bahwa kali ini ada yang lebih baik dan seperti namanya pertarungan, ada yang kalah dan ada yang menang.

Wah senangnya hati ini, yang saya kuatirkan tidak terjadi dan malah sebaliknya merasa tenang. Selamat pak Agus, anda menunjukkan kualitas yang baik. Perasaan saya saat ini kepada Agus adalah perasaan beberapa waktu lalu yang menghargai seorang Agus tidak terpengaruh dengan panas politik ayah dan keluarganya, namun memilih berkarir sendiri di bidang militer (terlepas katanya karir dibeli dan tidak ada prestasi), terserah apa kata berita tetapi saya lihatnya begitu. Makanya kaget juga waktu dia melepas karir militer demi pencalonan ini. Agus seperti ditunggangi pepo memonya untuk jadi penerus tahta kerajaan. Eneg lah kita, wajar. Padahal Agus punya (konon) segudang prestasi di bidang lain.

Setidaknya Agus tidak seperti penampakan mengerikannya (menurut saya) sewaktu mengatakan tidak boleh kalah. Malah cenderung memperlihatkan tatapan teduh dan lapang dada.

Apakah inilah yang namanya politik? Dulu lawan, sekarang kawan, ataupun sebaliknya. Tidak memiliki “perasaan” orang biasa lagi, siapa menguntungkan diambil, siapa merugikan dibuang? Entahlah. Mereka memang para pemain politik, sementara saya hanya warga jujur yang lihatnya dari kacamata hitam atau putih saja. Suka dan tidak suka. Ingat dulu memiliki rekan kerja dengan jabatan kepala sekolah saja tetapi politicking rasanya sudah mau muntah. Apalagi politik negara. (Sudahlah, mengajar lagi saja Hed…….*Red* 🙂 )

Balik kepada pilihan saya, saya tidak suka dan meradang dengan semua keadaan yang memojokkan Ahok, sindiran-sindiran Agus, Anies, Sylvi, Sandi yang menyerang Ahok sewaktu debat resmi. Bikin eneg dan mau muntah. Belum lagi ada kenalan di grup WA yang tiba-tiba mengirim tulisan tentang dijatuhkannya ayat dari Tuhan tentang memilih pemimpin harus seiman. Capeklah main iman. Kalau main iman, jelas saya pilih Ahok karena seiman dengan saya. Tetapi bukan itu sama sekali.

Sekarang, menghadapi putaran kedua, kita lihat siapa yang akan menjadi gubernur lima tahun ke depan. Ahokers, kalau saya boleh sebut begitu, bermain jugalah yang fair. Jangan jadi pembuli. Menunjukkan sama saja kalian tidak punya kualitas dan “dignity”. Jika terus-terusan menghina dan membuli kelompok lain, apa tidak nanti hasilnya akan sama saja kalian yang diperlakukan demikian? Sedikitlah berubah. Bagaimana kita tunjukkan posisi di atas angin, bukan sombong, bukan nantangin, bukan anggap enteng, tetapi elegan.

Sementara, calon pasangan 3, yang akan menuju putaran 2 bersama Ahok, yaitu Anies……….hmm……. saya berhenti dulu sampai di sini. Kehabisan kata-kata menggambarkan Anies ini. Saya guru, 20 tahun mengajar, tetapi belum pernah tersentuh dan terkesima dengan ucapan, ungkapan, motivasi dia yang konon untuk menenun kebangsaan. Nanti sajalah urusan tenun menenun kalau dalam 3 tahun terakhir saja, yang ditunjukan sifat kutu loncat kesana kemari, politicking kesana kemari. Saya cukupkan dulu sampai di sini.

Salam Dua Jari image1

Apple Leadership Camp 2016

I was chosen to attend Apple Leadership Camp last month, 23rd – 25th September 2016 in Singapore by my School. With my IPad use in class, I really think that I was lucky and this would be my advantage, personal and people around 🙂 *happy*.

I went to Singapore together with three colleagues from Springfield School.

Day 1:

My first day was started with visiting United World College of South East Asia (UWCSEA) in Tampines, Primary School section. Actually, I chose to visit Singapore American School, Secondary level. However, the capacity for the participant was over limit.

UWCSEA also have Secondary school section, but we only visited to the Primary. That was okay, because through Primary school, I also could see how they applied their curriculum to:

  • develop a child’s natural curiosity
  • use an integrated approach to learning
  • encourage an international perspective
  • extend learning beyond the classroom
  • use specialist teachers for single subject areas
  • use information technology and library resources to support learning
  • recognise parents as partners in a child’s learning process
  • develop a child’s awareness of the importance of service to others

And all are still relate with my G9 and G10 students.

UWCSEA has been recognised as an Apple Distinguished School for 2013–2016 for its strong focus on pedagogy and teacher practice within a technology-rich learning environment.

This is to answer some questions from my colleagues friends, even though teachers and students there use IPad for teaching and learning, they use it sometimes as the tool only, the education software and applications can be taken from many things not just from Apple products. Truly reflects where the Apple Distinguished School designation is reserved for programmes that meet criteria for innovation, leadership, and educational excellence, and demonstrate Apple’s vision of exemplary learning environments.

From UWCSEA East, I continued my trip to Equarius Hotel at Sentosa Island, and join the opening Camp Program as their main session.

A lot of sharing, and two impressed me so much. Sandhya Bala, a-G12 girl from Singapore American School shared her experience to make an apps like Quizlet for Apple. The apps will be released around Feb 2017. Can’t wait to see it. Second one, OMAi CEO Josef Dorninger has a background as a social worker and youth educator. At this occasion, he talked about the story and underlying vision of Tagtool for educational use. This was followed by a brief performance and a hands-on session for the audience.

Day 2:

Breakout session started. On this day, there were 5 sessions that I attended.

Session 1: United World College SEA
Recognised as a leader in research-based pedagogical development, the UWCSEA Learning Technology Team shared their story through a mixture of conversation and case-studies. How they started with solid, shared understandings of good pedagogy and drive all classroom practice, including technology use, from that common start point. They also showed how this approach quickly shifted the conversation from “if” or “why” to “when” and “how”. They support teachers in different areas via the development of subject or pedagogy toolkits.

Session 2: Singapore American School
The Quest program. The program around 4 pillars: Skills for lifelong learning, Personalisation, Community of learners, and Time to be inspired. The program purposefully prioritises skills over content and enriches college applications. Quest advisors and students shared their perspective on the program development, early successes and challenges and how it is impacting students.

Session 3: Defining Your Success: Understanding Ideas and Tools for meaningful measurement and reflection ~ Dr. Damian Bebell
For many educators and school leaders, measurement and data are associated with national testing initiatives, exam results and performance tables. Dr Bebell shared the latest generation of ideas, tools and best practices for putting empirical and simple research based approaches within easy reach of schools which use real-time data visualisations and infographics to portray data collected from international school settings. He also showed us to explore how leveraging simple research and reflection activities may serve to better inform our communities through data stories.

Session 4: Jakarta Intercultural School
How do you use your time and organise your people? How do members of your organisation spend their time? How do you know if you have designed the strongest teams?

Day 3:

Session 5: United World College SEA
Continuing from the first session, this time they showed how they measure the success of technology supported classroom practice and discuss various issues and approaches to measuring the success of technology supported teaching and learning. So many examples given, and some of them already used by me *Horraayy* . EDPuzzle, Desmos, Geogebra, Recording your Feedback or creating mini lessons, Khan Academy, etc.

Finally, I finished all my session here and back to Jakarta with happy feelings <3 Thank you, School, for this opportunity.

Below are pictures taken from my trip. Enjoy!! 🙂

Click [Show as slideshow] below, to open the pictures in slideshow view. To see the title of each picture, move your mouse pointer over the picture.

More photos, can be seen through my google photo album.

Tagtool transforms your iPad into a live instrument for inspired visuals. Paint with light, create animated graffiti or tell improvised stories. Use Tagtool for jams, performances or guerilla interventions. Light up your imagination!