How Technology help in my Class – an experience

I was invited to share my experience in GEGWJ +1 meet up, event to celebrate their first anniversary community in Google Educator Group West Jakarta, about “How technology help in my Class”.

Technology helps a lot, indeed.

So, I share one experience here, towards the event.

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.06 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.35 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.30.50 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.08 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.22 PM

Screen Shot 2015-09-25 at 5.31.36 PM

Writing on Penultimate during explanation in front of the class, compile into Evernote, share it through LMS Schoology.

And, when writing in class is not just enough like I said before, make video cast in Explain Everything, share it through LMS, as well.

LMS, another technology that helps me to assist online assessment, in class or at home.

Ini Daerahku, Carilah Daerahmu

Curahan hati pagi hari menjelang upacara memperingati Proklamasi RI ke 70. *ID* #RI70

Alkisah di suatu kota besar nan megah sebagai salah satu kota terbesar di dunia (metropolitan, katanya), ada suatu daerah perumahan megah nan permai, indah merona, aman sentosa, memiliki peraturan hidup yang maha dahsyat.

Di sudut-sudut perumahan ini banyak tertulis spanduk-spanduk peringatan bagi para warganya dan para pelintas yang menggunakan (katanya fasilitas) jalanan warganya.

“Bagi para pengendara, dilarang melawan arus”

“Mobil/motor dilarang ngebut-ngebutan”

“Ini bukan jalan umum untuk dilalui menuju sekolah’

Bagus bukan? Untuk mengingatkan kesadaran semua orang yang melalui jalan tersebut, jelas hal itu bagus dan bermakna. Manusia kalau tidak diingatkan, mudah sekali lupa.

Namun, sayangnya, begitu melewati jalanan utama perumahan yang lebarnya mencapai 10 meter (minimal), mudah sekali menjumpai para pejalan kaki pagi hari, menggunakan jalanan tidak sesuai aturan. Jalan / lari pagi di sisi kanan jalan, di tengah jalan, dengan wajah pongah menunjukkan “Ini punya kami, fasilitas ini kami yang bayar, jadi kami boleh begini. Peraturan itu untuk kalian yang tidak memiliki ini semua”. Mudah sekali membaca pikiran seperti itu dari wajah-wajah yang nampak.

Jadi ceritanya ada sekolah yang dibangun di ujung perumahan yang masih merupakan tanah fasum.

Jika jalanan itu merupakan akses menuju suatu bangunan di tanah fasum (fasilitas umum), maka fasum yang harus tahu diri. Demikian kira-kira jika setiap hari selalu dengan alasan baru menutup akses dengan mengunci pintu-pintu gerbang perumahan untuk mencapai lokasi sekolah yang berdiri di atas tanah fasum tadi.

“Kenapa dong, tidak permisi dulu kepada kita untuk bangun sekolahan di sini, sopan-sopannya situ tahu aturan dong bagaimana musti permisi dulu, kita jadi terganggu kan, masak kita jadi tidak bisa olahraga pagi, polusi, berisik, lalu lalang mobil kalau kalian lewat jalan ini.” Jadi kira-kira begini “Kalau kalian permisi kan kalian tahu tidak bisa bangun sekolah di sini karena kami tidak ijinkan” (oh begitukah?).

“Siapa Pemda yang memberikan ijin mendirikan bangunan sekolah di atas tanah fasum? Eks Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok? Ah mana cukup hanya mereka. Pemda tahu apa sih? Memang Pemda yang kasih makan kita? Memang Pemda yang kasih rejeki sama kita? Enak aja, kita beli kavling sendiri nih, kita kasih makan keamanan di sini buat jagain kita, situ jangan enak aja bilang dapat ijin Pemda……” (tarik napas dulu) Bagaimana tidak hal itu terus yang terngiang di benak saya setiap menyaksikan kejadian pemblokiran jalan yang sudah berlangsung tiga minggu belakangan ini.

Waktu saya tanyakan kepada pak Satpam dan meminta untuk dibukakan celah saja supaya jalan kaki bisa lewat, pak Satpam hanya bilang “kami hanya diperintah bu, kami saja tidak pegang kunci”…. dan seperti lingkaran setan yang butuh ditebas pedang mengkilat tajam, warga kecil dibayar warga ber-uang banyak, lalu harus patuh, melayani, mengikuti, supaya tetap dapat makan, rakyat kecil di bawah, rakyat besar (?) di atas, rakyat bawah sepatutnya ikuti rakyat atas….. Apapun itu, ada sistem yang memang jelas salah di Indonesia. Salah gak salah deh, kan isi Proklamasinya saja ada hal-hal yang mengenai pelaksanaan sebuah negara merdeka masih bagian dari “dan lain-lain” dan bebas saja mendefinisikan “dalam tempo sesingkat-singkatnya”, singkat menurut saya? menurut anda? menurut negara? menurut pendiri sekolah? menurut Pemda pemilik fasum? menurut warga setempat? 🙂

70 tahun sudah kemerdekaan, tetapi mau lewat jalanan umum (umum menurut saya dan pribadi menurut warga setempat) harus distop dan bahkan dilarang karena kunci dipegang penguasa setempat. Kunci “dan lain-lain” perijinan akan diberikan jika pihak sekolah dan Pemda mau bernegosiasi lagi “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Waktu bergulir hampir jam 7.15 dan siswa semakin banyak berdatangan dengan berjalan kaki melewati gerbang yang dipermasalahkan tersebut…… Semoga esok hari lebih baik dan sekarang saya harus bersiap-siap karena upacara akan segera dimulai jam 7.30 nanti.

Apapun itu, Dirgahayu Republikku! Makin maju dan jaya Indonesia!

 

Peran Guru atau Orang Tua (?)

image
Gambar diambil dari http://schools.dekalb.k12.ga.us/salem/parentresources/images/80F0BDFA2FEF4C08AE4DFB384073BC4B.gif

Dua minggu yang lalu, saya berkesempatan mengambil rapor Matthew. Dia sudah menyelesaikan kelas 8 dan akan menempuh kelas 9 semester depan. Sebagai orang tua tentu saja saya merasa “dag dig dug” menghadapi hasil evaluasinya nanti. Saya rasa kebanyakan orang tua mungkin mengalami perasaan yang sama, dengan kadar yang tentu saja berbeda-beda.

Orang tua mana yang tidak bangga mendapati anaknya yang memiliki nilai akademis terbaik atau ada dalam kelompok terbaik.

Atau orang tua mana yang tidak menjadi sedikitpun kuatir mendapati anaknya yang kurang secara akademis ataupun secara pergaulan. Memang betul, banyak sekali pelajaran berharga bagi kita para orang tua tentang kenyataan bahwa bagus tidaknya anak dalam prestasi akademis di sekolah tidak menunjukkan bukti konkret akan keberhasilannya di masa depan. Sayapun melihat, makin banyak orang tua yang makin menyadari bahwa prestasi itu beragam dan prestasi sekolah bukan kunci satu-satunya.

Saya pribadi, sebagai guru, memahami bahwa prestasi siswa atau anak bukan hanya melulu diukur melalui tingkatan peringkat di kelas saja, saya termasuk yang setuju bahwa sekolah yang masih mengedepankan ranking untuk siswanya adalah sekolah yang kurang menghargai proses belajar si siswa itu sendiri.

Kondisi ini berlanjut menjadi kultur di banyak sekolah (atau kalau boleh saya sebut sebut kultur pendidikan di negara kita). Seorang siswa saya dua tahun lalu, anggota penyanyi “Di atas rata-rata” pimpinan Gita Gutawa, anak cerdas, pintar, namun kesibukan dia dan seiring bertumbuhnya dia menjadi remaja, mendapati dirinya ternyata tidak lagi secemerlang waktu SD dalam hal prestasi akademis. Anak ini pernah mengungkapkan bahwa sebenarnya di rumahpun dia sering terkena marah, karena nilai akademis dari sekolah terlalu banyak angka 6. Sebagai gurunya, kita butuh menggali kreatifitas dalam mengajar, anaknya sulit diam, dia pasti banyak bergerak, bergumam lagu, dan pokoknya selalu bergerak, kepalanya, kakinya, tangannya. Coba bayangkan bagaimana dia harus bertahan 8 jam sehari di sekolah untuk duduk manis dan mendengarkan semua pelajaran. Hampir mustahil, bukan? Saya katakan padanya bahwa yang dia butuhkan adalah keseimbangan, seimbang antara kariernya, sekolahnya, dan cara belajarnya, dan berusaha memberi masukan bahwa nilai akademis jangan dijadikan patokan keberhasilannya semata, karena justru di usianya saat ini dia sedang belajar sekaligus dua hal, sebagai pelajar dan penyanyi. Tanggapan anak ini malah berbalik bertanya pada saya apakah saya bisa menjamin bahwa ada sekolah yang tidak menuntut nilai? Yang tidak melulu ribut nilai siswanya di bawah kkm? Yang tidak ributin harus lulus nilai UN?

Kembali pada saya. Sejujurnya, saya paling malas menjawab pertanyaan orang tua yang bertanya “anak saya ranking berapa ya? Kalau tahu rankingnya maka saya bisa mendorong anak saya lebih keras”. Dan banyak lagi pertanyaan seputar ranking tadi. Walaupun malas, ya tetap saja saya jawab pertanyaan-pertanyaan seputar hal itu, karena mungkin memang si orang tua ini ingin memiliki kebanggaan yang nampak saat ini, ya tidak apa-apa juga asal dalam porsi yang masih masuk akal. Tetapi saya pernah mendapati pernyataan yang lebih mengesalkan yaitu pernyataan bahwa si anak akan dapat sangsi jika tidak meraih peringkat satu….ah segitunya. 😊

Tiba waktunya bagi saya untuk mengalami peran sebagai orang tua siswa kelas 8. Di mana siswa ini, anak saya, si Matthew, anak aktif, berusaha kenal dengan semua siswa, sering diajak main gitar, tim futsal, ikutan basket pula, jadi ketua kelas dua semester, tetapi tidak mau bergabung dengan OSIS, sedikit “tipikal” anak abege yang makin cuek akan berasa makin “kewl”.

Tanpa perlu bertanya panjang lebar kepada guru wali kelasnya perihal ranking, yang mana saya juga tidak pernah bertanya duluan tetapi gurunya setiap semester pasti memberitahu perihal ranking (katanya rata-rata orang tua murid pasti bertanya), daftar nama 10 besar peringkat kelas terpampang di papan tulis. Reflek saya menegur Matthew, “wah, kamu merosot nih peringkatnya, kabur dari 10 besar”. Aduh, saya bicara demikian? Senyum sendiri sih tetapi tetap saja saya ambil kesempatan sebagai orang tua dan memberikan nasehat pada Matthew tentang belajar yang lebih tekun.

Matthew bilang ada rasa malu karena prestasinya menurun, otomatis dia menggunakan skala ranking tadi untuk mengukur dirinya. Wah dilema nih, bagaimana mengatakan yang cukup tepat kepadanya bahwa benar bukan ranking sebagai tujuan akhir tetapi ranking adalah imbas dari belajar serius. Di sisi lain, mau tidak mau saya membenarkan, bahwa Matthew harus menyadari kekurangannya. Ketidakseriusannya dalam belajar pelajaran sekolah setidaknya membuatnya berpikir lebih dewasa. Saat ini, di usianya sekarang ini, tugas utamanya berdasarkan status pelajarnya adalah belajar.

Tiba giliran saya berhadapan dengan guru wali kelasnya. Obrolan berlangsung cukup singkat, sang wali kelas mengatakan bahwa Matthew tidak ada masalah, pintar, mau membantu guru dengan tidak pernah mengeluh menjadi ketua kelas dua semester, siswa yang diandalkan bisa menggerakan motivasi kelas, jago futsal dan masuk tim, jago main gitar. Berbunga-bunga lah hati saya sebagai orang tua. Lalu saya mencoba menyeimbangkan pernyataan ibu wali kelas ini dengan menyinggung pelajarannya yang kurang memuaskan sambil melirik Matthew yang juga terlihat lega “tidak dimarahi” gurunya. Tetapi lagi-lagi ibu guru mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah, Matthew butuh sedikit lebih rajin membaca untuk beberapa pelajaran yang memang harus menghapal. “Ah, ibu, tidak apa-apa, itu mah bagus kok, tinggal ditingkatin lebih rajin saja, anak ibu sama sekali tidak ada masalah, pintar kok” demikian tepatnya kata-kata sang wali kelas.

Saya tersenyum sih dalam hati, sebagai guru (dengan idealisme yang saya sebutkan di atas), sadar betul bahwa Matthew meraih prestasi sekolahnya cukup baik, cukup imbang antara akademis dan sosialnya. Tetapi sebagai orang tua, jujur saja, masih gereget dengat kata-kata gurunya, berharap gurunya “menegur” Matthew dan mengatakan “kenapa fokusmu hanya futsal terus dan tidak belajar?” (Hahaha, ya benar sekali, saya seperti sedang mencari pembenaran melalui gurunya 😛).

Matthew pernah menuliskan sebuah catatan tentang pelajaran sejarahnya sewaktu dia kelas 5 SD, dan catatan itu menjadi sebuah artikel yang paling berperan memberikan “hit” terbanyak pada website saya.

Intinya, inilah yang saya katakan kepadanya, bahwa belajar untuk senang dulu pada pelajaran, maka kesenangan belajar akan muncul dengan sendirinya. Benar ada faktor luar yaitu sang pengajar alias guru, tetapi faktor terpenting tetaplah diri kita sendiri.
Jika kita mengabaikan belajar, maka kita yang akan ketinggalan, banyak tidak tahu dan menjadi tidak mau tahu bahwa berkembangnya ilmu di luar sana sudah sangat pesat. Ini bagian susahnya, dan terhadap anak sendiri, nampak lebih susah.

Kenyataan bahwa dunia pendidikan di Indonesia, melihat banyak faktor nilai dan peringkat, saya katakan sebagai bonus dan imbas apabila kita rajin belajar dan selalu siap menghadapi tes apapun, maka keuntungan ganda akan didapat, makin kaya ilmu sekaligus mempermudah kita melenggang ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Transform What’s Possible

Schoology

For me, Schoology is one of the best Learning Management System that I have used so far. Of course, the best one still hold by Moodle. I started use Schoology Basic since July 2014 regularly everyday in my classes.

I was very excited when my school planned to develop Schoology from Basic version into Enterprise. But then, not long from that, with some reasons, they decided not to apply Enterprise version for the next academic year. I am not sure why they postponed, but seems like I must wait for the next great opportunity 🙁 .  As a teacher in class, Schoology Basic is good enough. However, if we want to see the bigger picture as a school, Schoology Basic can not be controlled by school admin. When school enforce teachers and students to use this, it would be better if there is Admin who can control and check everything that has been done in Schoology.

I want to share my experience with Schoology Basic. Together, me and students, we build up a new environment about learning experience.

Things that I like from Schoology and the benefits for me and my students in learning are:

I can write mathematics equation very easy in Assignment, Tests / Quizzes, use equation or even LaTex, in “Insert Content”. When I use LaTex in my post, I open website equation editor like codecogs, then I can just do copy and paste into my LaTex post. Yes, I did Copy and Paste, but I also can learn how to write mathematical notation and mathematical expressions using LaTex. I also encourage my students to do this when submit assignment. It takes time to type mathematical expression, of course, but look at the good side, we save papers and apply “go green” in our daily activities.

When I installed Schoology apps in my Iphone, and turned on the notification, I can be easily contacted by my students anytime, anywhere. Once I sent the message or uploaded news, some of them send me back their responses. Same in opposite way, when they need to ask questions for homework or tasks, they send me an email, I receive it and even respons with answers to them in the same time. Our students live in social media era. I try to bring their school life too through Schoology as one of their medias.

SCH 1

Schoology is a friendly apps. I use my “Penultimate” as my white board in class, and the white board can be easily sent to Schoology as a picture in png format, or of course as a link from Evernote. I also arrange my flip classroom video in “Explain Everything” , and once exported to camera roll, I can upload the video in Media Album in my Schoology. And students can study individually based on their own pace at home.

I can have my own report card to all students and it does not need to be printed. It is updated anytime when we finish one assessment. They really can see their progress.

SCH 4 SCH 3

Sekolah Idaman

Definisi Idaman menurut kamus Bahasa Indonesia online adalah sesuatu yang dicita-citakan.
Jadi kalau sesuatu hal yang menjadi cita-cita kita, tentulah sah saja jika diidamkan sesuai yang diinginkan.

Kadang saya merenung memikirkan apa yang menjadi cita-cita Ki Hajar Dewantara. Ya memang, sudah terlalu banyak yang mengklaim menjadi sejarah tentang cita-cita beliau terhadap pendidikan bangsa ini.
Tetapi apakah ada hal yang tak tersebutkan selain yang diutarakan oleh para pengarang buku sejarah tersebut?

Seiring dengan bertambahnya tahun, berkembangnya jaman, bertambahnya jumlah manusia, maka, persepsi, paradigma, pola pikir, mendefinisikan sesuatu, juga sudah tentu menjadi semakin beragam.

Contohnya mungkin datang dari diri saya sendiri. Saya ingin menuangkan paradigma sendiri akan semboyan Ki Hajar Dewantoro yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Di depan memberi teladan.  Teladan apa yang sudah kita berikan kepada siswa? Pernahkah sebagai guru ikutan mengerjakan project bersama mereka? Merasakan apa yang harus mereka lakukan dan kerjakan? Atau malah, lho, kita kan yang memberi project itu, mengapa kita yang harus pusing-pusing mengerjakan? Pernahkah sebagai guru menunjukkan diri sebagai guru yang terus menjadi seorang pembelajar? Atau malah berbangga hati telah menjadi seorang guru dan merasa sebagai pusat pembelajaran?

Di tengah memberi semangat. Pada saat siswa sedang berproses dalam belajarnya, apakah kepercayaan diri mereka terbangun oleh kata-kata kita, oleh gaya evaluasi kita terhadap mereka? Atau malah justru kita patahkan dengan memberikan soal-soal yang mereka tidak mampu kerjakan, kata-kata pedas / sindiran yang membuat mereka takut bertanya. Seberapa besar konsep kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan bisa dipahami oleh sang guru jika si guru hanya menginginkan nilai tes siswanya memenuhi kkm saja?

Di belakang memberi dorongan. Mendorong siswa makin menyadari bahwa sebagai manusia, sepanjang hidupnya harus dipenuhi dengan ragam belajar. Belajar dengan gembira. Anak-anak perlu dibantu pemahaman bahwa belajar adalah sebuah proses. Ketika menghadapi sesuatu hal dan kita mengabaikan proses, maka dengan mudah kita cepat menyerah, dan mengabaikan kemampuan kita sendiri untuk berpikir lebih dalam dan menganalisa persoalan tersebut.

Pertanyaannya kemudian adalah, di mana anak-anak dapat menemukan tempat belajar yang dapat membuat mereka menyukai belajar tadi? Di rumah? Atau di sekolah? Sekolah selayaknya menjadi tempat yang menyenangkan bukan? Namun nampaknya sekolah lebih cenderung sebagai tempat pendidikan formal belaka. Formal untuk mendapatkan sertifikat menyelesaikan jenjang tertentu.

Sekolah sebagai Taman Siswa, nampaknya hanya terjadi di sekolahnya Ki Hajar Dewantara. Bagaimana dengan sekolah di sekitar kita sekarang? Taman yang sekarang lebih identik dengan Taman Kanak-Kanak. Jadi kalau sekolah berbasis taman, apakah hanya akan dianggap kekanak-kanakan? Mendidik anak menjelang remaja harus keras, disiplin, bukan seperti terhadap anak TK. Benarkah demikian? “Raising Teenagers: Protect when you must, but permit when you can” demikian satu artikel dari NYT yang menarik tentang mendampingi remaja.

Jika saya masuk ke dalam mesin waktu dan terjatuh di ruang usia 13-18 tahun, kira- kira akan seperti apakah sekolah idaman bagi saya?

Tempat yang nyaman untuk belajar. Sebagian waktu saya akan dihabiskan di sekolah. Saya ingin belajar segala macam hal, belajar bagaimana cara belajar, bukan belajar untuk tes saja. Belajar mengungkapkan pendapat sendiri, belajar mencari literatur yang benar, belajar menuangkan ide berdasarkan teori yang sudah ada bahkan kalau saya memiliki talenta kepintaran yang luar biasa mungkin saja saya belajar menemukan teori baru 🙂 .

Dari web www.futurefocusvet.blogspot.com
Dari web www.futurefocusvet.blogspot.com Gambar di atas menunjukkan sebuah lingkungan pembelajaran yang modern – sebuah contoh bahwa semua sekolah di NZ sedang dibangun seperti ini.

Tempat yang menyenangkan untuk bermain. Bermain berbagai permainan baik tradisional maupun modern. Menggabungkan berbagai cara bermain dengan belajar.

Tempat mengenal banyak teman sebaya dan dewasa (guru-gurunya, staf sekolah, para pekerja pendukung keberhasilan sekolah). 

Tempat yang bukan hanya akan menilai saya pada saat tes saja. Lalu mendudukan saya di peringkat-peringkat tertentu.

Tempat yang akan membantu saya bertumbuh dan berkembang.

Tempat yang tidak akan pernah menakut-nakuti saya tentang nilai evaluasi pencapaian saya. Karena pencapaian saya dan siswa yang lain adalah refleksi dari sekolah yang menyelenggarakan pendidikan tersebut.

Tempat yang akan membantu dan mendampingi saya menjalani tes standarisasi atas apa yang sudah saya pelajari selama ini. Saya tidak menentang tes standarisasi karena saya menyadari bahwa ruang lingkup belajar kita berbeda, perlu ada setidaknya tes yang standar atas pengetahuan tertentu, apalagi bila selama tes tersebut cukup untuk merefleksikan apa yang sudah saya pelajari selama ini. Dan pihak penyelenggara tes tersebut tidak membuat berbagai peraturan yang tidak masuk akal dan mensosialisasikan sebagai sebuah tes yang super menyeramkan. Guru-guru yang akan membantu saya dan siswa lain belajar, bukan menakut-nakuti dengan anggapan jika ditakuti maka kami para siswa akan belajar.

suksesujiannasional1
Iklan 100% sebenarnya sangat menggambarkan bahwa ujian ini sarat dengan muatan politik. Untuk seorang anak bisa sangat menjatuhkan mental jika gagal lulus dan merupakan penyebab menjadi hanya 99,9% dalam suatu daerah tertentu.

Tempat yang antara siswa dengan guru saling menghormati. Guru tidak merasa sebagai pusat tempat bertanya siswa. Namun guru yang  tampil sebagai fasilitator dan teladan sebagai pembelajar.

image (1)

Tempat yang akan membangun karakter saya (siswa) secara natural. Tidak hanya mencekoki saya dengan ilmu keagamaan, tetapi memberikan contoh dan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah daftar bagaimana sekolah idaman di mata saya, bagaimana dengan anda?

10 Hal Yang (mungkin) Anda Alami Sebagai Guru

photo (2)

Anda ingin membuat management kelas yang rapi.

Semua sudah tercatatkan dengan baik, sudah dijelaskan kepada siswa anda sendiri. Konsekuensi sudah ditetapkan antara anda dan siswa anda. Anda sudah merasa menjadi manajer yang baik di kelas anda. Tetapi dalam proses pembelajaran berlangsung, ternyata anda harus kejar-kejaran dengan waktu, mengajar banyak kelas, banyak siswa, banyak tingkat. Akibatnya sering merasa gagal sendiri, banyak hal menjadi tidak terpegang. Muncul perasaan bahwa orang lain dapat menganggap anda tidak konsisten.

Anda adalah seorang guru berarti anda harus siap dengan segala hal mendadak di luar rencana.

Tidak selalu “plan” anda dapat dilakukan. Tertunda jauh lebih baik daripada terpaksa harus batal. Tetapi jangan kecewa pula jika rencana anda memang harus batal dan digantikan oleh rencana yang lain. Memiliki lebih dari satu rencana adalah hal yang wajar. Jadi janganlah hanya sekedar memaksakan semuanya harus sesuai dengan satu rencana saja. Misalkan bila anda yang berhalangan hadir di kelas karena keperluan pribadi atau gangguan bencana seperti banjir dan hanya bersifat “temporer”, sebaiknya tidak menuntut guru pengganti anda melakukan serupa yang anda mau. Cukup “guideline” yang jelas dan pembelajaran terwakilkan.

Anda ingin melakukan modifikasi pada management kelas anda yang sudah disosialisasikan di awal tahun ajaran.

Ternyata, apa yang sudah anda tetapkan dan sosialisasikan memiliki kendala dalam pelaksanaannya karena rupanya siswa-siswa anda di tahun ini memiliki keunikan sendiri dan anda belum mengetahui dan menyadarinya sebelum bertemu langsung dengan mereka.

Bolehkah memodifikasi management kelas yang sudah anda tetapkan tadi? Tentu saja boleh. Buanglah kekuatiran akan pendapat rekan yang mungkin mengatakan anda tidak konsisten. Mengubah sesuatu bukan melulu sebagai tidak konsisten. Asalkan, anda benar bertanggung jawab akan apapun yang anda lakukan.

Ada contoh kasus seperti di bawah ini, yang nampaknya bisa membuat anda ragu untuk mengambil putusannya.

Tahun ini anda mulai mendapati jika siswa anda kebanyakan kurang memiliki kesadaran untuk belajar sendiri. Anda merasa memberikan tugas prasyarat kepada siswa sebelum mengikuti tes adalah suatu hal yang baik karena dapat memotivasi siswa untuk belajar mandiri. Anda tetapkan bahwa jika mengerjakan tugas prasyarat maka siswa berhak mengikuti tes. Anda berikan “worksheet” berlembar-lembar dalam waktu 2-3 hari. Anda lupa jika siswa anda memiliki 12 mata pelajaran lain yang rata-rata menuntut perhatian yang sama. Di hari tes yang ditentukan ternyata mayoritas siswa menunjukkan “worksheet” yang masih 80% kosong dan bermacam alasanpun dilontarkan mereka, antara lain tidak ada waktu, tidak tahu bagaimana mengerjakannya, tidak bisa. Anda panik, diijinkan tes atau tidak? Jika diijinkan, anda kuatir siswa akan merasa anda guru yang “tidak galak” dan yang pasti tidak konsisten. “Sense” anda terhadap siswa tersebutpun menjadi sedikit kacau, tiba-tiba anda mengalami kesulitan mendeteksi siswa ini bicara yang sesungguhnya atau tidak. Sementara, jika tidak diijinkan, kemungkinan besar anda akan dikomplen oleh siswa, orang tua atau kepala sekolah anda sendiri.

Andai saja anda lebih bijaksana di awal, dalam hal memberikan waktu tenggat pengumpulan tugas, maka kekuatiran / kepanikan di atas mungkin dapat dihindari.

Anda tentunya ingin memiliki hubungan yang baik dengan siswa bukan?

Anda masih muda, anda suka nonton, suka makan, suka traveling. Siswa anda berusia 5 – 10 tahun lebih muda dari anda. Anda sering diajak nonton bareng atau bahkan anda yang memfasilitasi acara nonton bareng dengan siswa. Hampir pasti hubungan anda dengan siswa anda akan terjalin baik sekali. Gunakan hubungan anda dengan sangat baik dan bijaksana, peserta nonton bareng bisa saja meliputi siswa tertentu dengan karakteristik tertentu (dengan kata lain anda hanya pergi dengan grup siswa tertentu), di mata siswa lain bahkan orang tua siswa, anda dapat dianggap bias dalam menjalankan tugas sebagai guru.

Anda adalah guru yang cakap melakukan banyak hal.

Anda cekatan, tepat waktu, punya inovasi. Pemimpin anda melihat potensi itu di dalam diri anda. Anda menjadi “langganan” diangkat oleh pemimpin di sekolah anda untuk menjadi penyelenggara sebuah acara. Mulai dari acara “memperingati peringatan keagamaan”, memimpin “study tour” siswa, ketua panitia acara tahun ajaran baru, dan banyak lagi. Mula-mula anda menyenangi semua penunjukan tersebut. Lambat laun anda merasakan bahwa tangan terbuka anda menjadi sebuah bumerang bagi diri anda. Kadang anda merasa bahwa beban tersebut sudah terlalu banyak dan tidak ada lagi yang namanya tim, tetapi lebih kepada melemparkan wewenang. Amati perilaku pimpinan anda, jika pimpinan anda memang “stand up” untuk anda, rasanya beban anda dapat didiskusikan dan anda boleh berpikir bahwa melakukan ragam pekerjaan itu malah akan makin memperkaya ilmu anda. Tetapi apabila pimpinan anda lebih mengutamakan kalimat bahwa pekerjaan anda adalah pelayanan anda, disertai dengan menasehati anda untuk tidak menjadi manusia perhitungan dan jalani “passion” anda, maka sebaiknya anda lebih hati-hati dan bijaksana, sampaikan hal-hal yang menjadi kendala anda pada atasan dengan sopan, kemukakan dengan jujur segala kelebihan dan kekurangan anda. Jika alasan anda cenderung diabaikan tanpa alasan yang jelas, mungkin sudah waktunya bagi anda untuk berpikir ulang 😉

Anda selalu merasa waktu anda tidaklah cukup untuk mengambil bagian tugas terhadap siswa maupun sekolah.

Anda ingin sekali menghasilkan sebuah kinerja yang baik, anda ingin dihargai dengan “Performance Appraisal” yang baik, selaras antara tugas mendidik siswa, menjadi fasilitator siswa di kelas dan tugas-tugas tambahan dari sekolah. Anda ingin sehari anda lebih dari 24 jam. Tugas dari sekolah demikian membludak, anda diminta secara kontinu membuat “lesson plan”, membuat peta kurikulum (kadang meramu kurikulum nasional dengan kurikulum adaptasi dari luar negri), memberi konseling kepada siswa beserta membuat laporannya, mengikuti berbagai pelatihan sekolah, mengajar 24 jam pelajaran, menjadi wali kelas, meeting yang beraneka jenis. Waahh, anda betul-betul menjadi stres dan kepikiran bagaimana mengatasi itu semua. Percayalah, tanggung jawab terbesar anda adalah siswa anda dan kejujuran kepada diri anda sendiri. Jujur bahwa anda melakukan proses pembelajaran kepada siswa dengan benar dan jujur bahwa anda melakukan semua tugas tersebut dengan benar dan secara kualitas baik, bukan sekedar kuantitas selesai atau tidak. Jika anda jujur pada diri sendiri, appraisal tertinggi bukan datang dari institusi anda tetapi dari diri anda sendiri bahwa anda seorang guru yang sangat hebat. Klise memang, di saat banyak guru yang berlomba mengejar segala tunjangan dan kemudahan.

Anda seorang guru wali kelas.

Di samping tugas anda mengajar bidang studi, anda diberi tanggung jawab lebih sebagai wali kelas. Anda tahu dan sadar jika tanggung jawab sebagai wali kelas tentulah memang lebih besar daripada sebagai guru bidang studi saja. Mudah sekali membuat anda menjadi lebih dekat kepada mereka. Wajarkah? tentu sangat wajar. Namun, hindari terjebak dengan sikap dan ucapan-ucapan “ini anakku, dia anakmu, anak si ….”. Ucapan yang demikian biasanya hanya akan menyebarkan aroma persaingan negatif. Anak anda biasanya akan anda bela agar tidak dihukum, anak dia ya harus diberi pelajaran. Jika pimpinan anda menerapkan sistem pemberian “award” untuk siswa kelas yang paling sedikit menerima konsekuensi, maka bisa berimbas kepada perilaku curang anda (yang mungkin tidak anda sadari) agar siswa di kelas anda tidak mendapatkan hukuman. Namun sebaliknya, jika anda melihat ada rekan anda yang bersikap seperti itu, bolehlah sekali-sekali anda yang mengingatkan. Guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam banyak situasi, bukan hanya sekedar siswa yang diwalikan saja. Apalagi semua anak-anak itu adalah siswa anda juga.

Anda memutuskan ingin menjadi guru dan sudah menjalani profesi ini.

Anda yang memiliki latar belakang sekolah keguruan tentu merasa memang menjadi guru adalah panggilan hidup anda. Bagi anda yang berlatar belakang kejuruan lain, kemungkinan besar awalnya anda pasti tidak berminat menjadi seorang guru, namun keadaanlah yang membawa anda menjadi seorang guru. Anda dihadapkan pada pilihan apakah ini pilihan yang benar, apakah ini sudah merupakan panggilan hidup anda, apakah ini hanya sekedar pekerjaan saja supaya tetap mendapat penghasilan? Silahkan putuskan sendiri. Tetapi sebaiknya janganlah membuat keadaan itu menjadi keterpaksaan dengan menambah perilaku “saya ingin jadi guru karena gampang tapi saya tidak mau mengajar ah, sudah capek mengajar, aduuuhhh capek ketemu anak setiap hari, tidak ngerti-ngerti lagi pelajarannya” 😉 Semoga anda tidak yang model demikian. Jika anda ternyata menemukan diri anda yang seperti itu, mungkin anda lebih cocok menjadi staf sekolah yang mendukung pembelajaran saja.

Anda guru yang sudah sangat berpengalaman.

Sangat berpengalaman di sini bisa didefinisikan berbeda bagi tiap orang. Lama mengajar, jenjang mengajar dan lain lain. Anda hebat telah membuktikan bahwa anda konsisten mengajar lebih dari lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun dan wow, suatu prestasi tersendiri. Namun terkadang anda perlu menyadarkan diri anda bahwa yang berpengalaman adalah anda sendiri. Siswa anda adalah siswa yang baru pertama kali bertemu anda setiap dimulainya tahun ajaran baru (umumnya) dan “zero” pengalaman di kelas anda. Jangan sampai terjebak dengan mengungkapkan “masak gini saja kamu tidak bisa, Nak, ini kan gampang” yang tidak pada tempatnya kepada murid. Jadi bijaksanalah menyikapi arti pengalaman anda.

Anda ingin mendapat penghargaan sebagai guru.

Penghargaan tentu saja bukan berarti hanya hadiah. Anda ataupun saya tentu akan senang sekali jika pelajaran yang disampaikan mendapat penghargaan oleh siswa, dengan cara siswa yang senang belajar, memperhatikan pelajaran dengan baik.

Bentuk penghargaan yang anda inginkan sebagai guru tentu saja beragam. Apakah ada dari anda yang menginginkan salah satu penghargaan itu adalah berbentuk nilai ujian/evaluasi siswa yang bagus? Ini suatu motivasi yang sah-sah saja tentunya. Namun, janganlah demi mengejar nilai ujian yang tinggi membuat anda melakukan pembelajaran hanya demi ujian “teaching for the test only”. Cukup umum melihat guru yang terjebak pada pola seperti itu.

Guru ingin penghargaan berupa gaji yang baik. Tentu juga wajar sekali. Gaji yang baik adalah gaji yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan layak (tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan). Kalau anda ingin berlebihan, anda boleh memilih menjadi CEO perusahaan saja.

Untungnya kita adalah guru-guru di Indonesia yang di kebanyakan sekolah tidak dinilai berdasarkan nilai ujian standarisasi siswa saja seperti di Amerika, tetapi berdasarkan “merit demerit system” (Benarkah? Semoga….. 🙂 . Namun ada sisi menarik di sini, sebagian besar guru-guru kita sudah “dinilai” dari tunjangan sertifikasi… | Betul ini menarik? Apakah ada hubungannya? 😉 Silahkan dilanjutkan sendiri).

Why use LaTEX?

The tool has always been as important as the technique. Once it was the slide rule, then the calculator, and now, computer is at the center stage.

LaTEX, a computer mark up language, is one of the tool that is still being used in scientific and academic community due to its precision, ease and portability. Unlike other commercial (although very popular solution), LaTEX is free and providing a simple introduction to the separation of content over style/formatting.

LaTEX might require some learning curve but the result is worth it. As an introduction, students might learn about LaTEX through editors like Codecogs before they can type it on their own.

My students use LaTEX to express trigonometry equations on their online assessment, below is the screen capture of one of my students’ work:

image

image