Souvenir from Indonesia Digital Learning 2016

We teach 21st century students, we are from 20th century teachers, we teach in 19th century school and in 18th century classroom design.

IMG_4043

I joined seminar held by PT Telkom Indonesia, “Indonesia Digital Learning 2016” at hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta.

I was pretty excited with this chance. I went there with idea to meet, to learn and relearn. To meet and greet my colleagues from many school around Jakarta. Lucky me, I met several teachers from outside Jakarta and Java. And also met my “online” colleagues from the blog that we join and follow.

IMG_4057 (1) IMG_4178

 

 

 

 

 

Seminar was held for two days. The key speaker was Prof. Richardus Eko Indrajit. With all materials can be downloaded from IndonesiaDigitalLearning.com website, Prof. Eko still conveyed his speech so interesting. He did very well, for “not a new thing anymore” , which means not over information about 21st century learning skills. I believe, we need to be reminded as teachers, but not too over as now we almost past 20 years of our 21st century 😄.

Teaching with technology is not only teaching use gadgets as tools. Some people still need to shift the paradigm about it. Tools for teaching doesn’t make you as the teachers who applies technologies in 21st century learning, only some parts of it.

The most important thing is how you handle situation in your teaching and learning environments. You use handy, cool, and powerful gadgets, but you still tell your students that they can not use those stuff or even calculator to help them calculate in class, means you totally misunderstanding and misinterpretation the idea of technology itself.

Back to the event, I saw bunch of teachers in different necessities, those who really want to learn new things, the other one who want to share, some want to be reminded the idea of technology in education (like me, probably 🙂 ). With many reasons, we were there and tried to do as the best as we could to involve in education, where ever we are.

__________________________________________________________________________

IDL is one of CSR program from PT Telkom Indonesia for Improving Indonesian Education. It is amazing. Our education really need to be supported from many aspects. They also encourage teachers from all over Indonesia to involve with the improvement of the education itself.

The IDL program is to increase teachers’s competences in ICT for teaching and learning process.

One of the encouragement given is competition. Yeaaahh most people like competition, they like to compete to others. And the title for the winners is A HERO :).  For me, personally, it is kinda weird terms. You compete to be a winner, not to be a hero.

To be chosen as 45 finalists from hundreds (almost a thousand) teachers, will be a proud for teachers mostly. It’s natural feeling, isn’t it? How can you be in the 45 teachers and in few days, will come up with 8 heroes? What is the consideration from the Jury? Is it fair enough? Is the chance really for everyone? Are they looking for the real hero from all over school in Indonesia? Or they have concerns on choosing someone to be the brand of “My Teacher My Hero”? Pro and Cons come from this event.

Talking to myself, if they want to find the real Hero, they should spread the chance widely. If only given to some people and same people, their program does not work in well.

Jakarta, May 2016

Classroom Management and Personalised Learning

Throwback to my class in 2010 – 2011

There are many learning methods that can be used by a teacher.

One that I used to develop my class is through multimedia activities.

Using a classroom management software, students learned what they had acquired in accordance with the speed they was absorbing the lesson.

My Math class (6 years ago) in class.ipeka.net provided a variety of features that were engaging to students.

What I have done are putting worksheet and teaching materials, provide assessment online, provide step by step videos for personalised learning and create forum.

There are so many aspects to explore from materials and features to help students adopts multimedia technologies in learning process.

For my class, this is one method to bridge gen Z with the learning style and techniques of the past.

Catatan Harian UN (Hari ke-4)

IPA

Akhirnya tibalah di hari terakhir. IPA, dengan pemusatan pada Fisika dan Biologi. Lumayan banyak materinya. Ada sering disebut belajar kimia, seperti pernah saya menuangkan dalam artikel di sini. Namun, pada saat pemusatan konsentrasi belajar untuk UN, tidak ada lagi materi yang pernah dipelajari tersebut. Dan saya yakin, anak ini pasti akan lupa pada saatnya belajar kimia dasar nanti di SMA 🙁 *hiks*

Tidak banyak cerita yang dibawa dari sekolah, selain “Fisika lebih lancar ma kerjainnya, Biologi yaaa begitulah…”. “Begitulah” itulah yang kadang bikin “seru” 😉 .

So, tiga tahun telah berlalu dari cerita UN SD, tahu-tahu pun sekarang sudah selesai UN SMP. Akankah tiga tahun dari sekarang, UN masih ada dan memiliki aturan baru (lagi) ? Kita lihat saja nanti.

————-

Jakarta, 12 Mei 2016

<3

mama

Catatan Harian UN (hari ke-3)

Bahasa Inggris

Agak telat nih menuliskan catatan hari ini, karena……mamanya marah, si Matthew pulang sekolah terlambat, gara-gara sehabis ujian, berlanjut dengan main basket di lapangan sampai lebih dari dua jam.

Ya ya ya, mensana incorpore sano, dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat, maka jika sehat semua, belajarpun menjadi lebih ringan dan lancar.

Namun, mamanya tetap marah, karena selain sehat ada hal lain yang harus dipelajari yaitu belajar menahan diri, mengatur waktu dan yang terpenting belajar menghargai sebuah proses. Saat ini sedang proses 4 hari ujian, hanya 4 hari, lalu berpanas-panas olah raga tanpa kaos olah raga, bagaimana jika sakit, atau lemas. Badan malah jadi drop, tidak mampu performa dengan baik, yang rugi siapa?

Begitu deh kira-kira, omelan sore ini.

Konon dari 3 hari UN ini, mengerjakan soal bahasa Inggris adalah yang paling lumayan (demikian Matthew bercerita), walau selama ujicoba, bahasa Indonesia selalu lebih tinggi dari bahasa Inggris.

Ok lah jika merasa lebih lancar mengerjakan soal-soal, karena memang itulah yang diharapkan kamu dan mama, bukan? Mama masih menantang kamu untuk lebih “berani” bercakap dalam bahasa Inggris, bukan hanya secara uji tertulis. Gimana? 😉

Yaaahh, tinggal sehari lagi, malam ini akan berlanjut dengan belajar IPA (fisika dan biologi). Semoga sehat selalu dan tidak “kecapekan” gara-gara berterik ria di panas matahari demi basket, dan besok bisa lancar juga menjawab soalnya 🙂

Catatan Harian UN (hari ke-2)

Matematika

Semalam, pas sedang belajar, Matthew berceloteh “nah, ini baru seru, pelajaran yang Matthew suka” #pembuathatimamasenang. Paling bisaaa deh kamu.

Anyway, setelah menghabiskan dua sampai tiga puluhan lembar paket matematika sejak 5 Oktober lalu, semalam, anak ini lumayan lancar lah latihan soal terakhirnya.

Astagahhh!!! puluhan lembar??? haha kesannya belajar gila-gilaan amat ya, padahal tentulah setelah lewat beberapa bulan, terlihat wah banyak sekali, termasuk di dalamnya TO saja 8 kali toh 😉 . Dan pengarsipan selama belasan tahun mengajar, habis dalam sekejap #lebay (mamanya kan suka kumpulin soal UN tapi hanya sampai 2012 lalu haha, habis itu ya malas, tinggal googling langsung ketemu semua).

Anakku ini lumayan rajin kok. Salah satu buku belajarnya seperti gambar berikut, rapiiii kan untuk ukuran anak laki-laki??? *mama minta pengakuan*. Iya salah satu buku belajar dari salah lima kaliiii 🙂 . Tidak apa-apa kok, yang penting berniat belajar dan ingin bisa bukan menghapal jawaban.

IMG_4264

Jadi, jika memang punya niatan untuk mencoba jurusan bidang study IPA di SMA nanti, ya harus memulai dengan menyukai belajar yang lebih rapi di bidang Matematika dan IPA (Fisika maupun Biology) di SMP ini. Supaya, dengan materi yang semakin banyak nantinya, tidak akan keteteran lagi. Semoga ya Matt 🙂

Hari kedua telah usai *tarik napas panjang*. Ok, kita lanjut dengan persiapan hari ketiga ya, bahasa Inggris.

___________________________________________________________________________

Setelah dua jam kemudian…….

Baru mendapat kabar kalau UN Matematika susaaahhhh 😉 *dari anakku* Nah lhooo

Kalau mudah, ya ketebak semua dong, tidak ada lagi logika berpikir lagi dalam menjawab soal. Bisa karena biasa, ya bagus kok, artinya konsisten belajarnya, namun bisa karena ada masalah baru, itu yang harusnya kita biasakan kan?

“Aku protes ma sama gurunya, kok soalnya susah??? Lalu kata gurunya sebab UN nya berdasarkan kurikulum 2013. Pantesan maaaa”. Ngomel si Matthew.

Langsunglah saya browsing ke http://un.kemdikbud.go.id. Jelas tertulis kalau UN 2016 menggunakan kisi-kisi soal yang merupakan irisan kurikulum 2006 dan 2013. Yang di luar irisan, tidak dimasukkan.

Jadi, nak, sorry, mama tidak bisa menyetujui kalau alasannya adalah “korban bukan kurikulum 2013” 🙂

Susah atau mudah, memang terkadang tipis perbedaannya. Susah yang digambarkan oleh Matthew, lebih kepada logika berpikir yang lebih panjang, dan dia “stuck” tidak mampu mengembangkan tipe soal perbandingan yang biasanya hanya satu variabel, hari ini mendadak menemukan dua. Belum lagi soal mencari Toko mana dari tiga toko yang memberikan diskon termurah (biasanya hanya satu toko dan langsung ditanya diskonnya saja).

Dalam waktu 2 jam, dia keteter beberapa soal, dan panik memberikan laporan kepada saya. Lalu, apa reaksi saya??? *hmm apa ya* “apaaa nak? kamu tidak bisa semuanya? jadi kemana saja kamau selama ini kurang sih belajarnya……” Hehe… Ada sih di kepala itu, tapi setelah tarik napas, ya sudah berubah menjadi “ok lah, itu artinya pemerintah makin mencari perimbangan membuat soal yang lebih berbobot Matt, cara belajar kita (kalian) saja yang selama ini seperti membiasakan diri (saja) untuk menyambut soal ujian tertentu.

“Tapiii maaa curang, mama liat sendiri kan kemaren dan beberapa hari terakhir, Matt gak pernah nanya mama lagi, Matt sudah bisa…” *jitak-jitak* “Iya sayang……”

Catatan Harian UN (hari ke-1)

Bahasa Indonesia

Rencana mau agak beda, dengan bangun lebih pagi dan sebagainya. Hasilnya? Biasa saja, bangun jamnya biasa, semua normal. Haha, which is okay, karena sebagai mama yang berprinsip “ah cuman UN”, ya wajar pula anaknya demikian.

Ini pelajaran yang bagi saya pribadi “ampun” susahnya. Ada sesuatu “rasa”, “penguasaan” dan “kecerdasan” dalam mengolah tata bahasa tadi. #menyerahsaya

Tapi itulah fungsinya “mama”, mama tidak ingin anaknya ikutan “menyerah” 😉 #egomama.

Jadi, mama yang satu ini, walaupun sudah mengalami dua kali UN melalui anaknya, selalu ingin terus memperbaiki diri agar tidak menjadi terlalu egois menjadikan anaknya “serupa” impiannya saat melahirkan anak ini. Semakin belajar menjadi orang tua yang memiliki kewajiban mendampingi, membantu, mengasihi dan menyayangi saja (eh, dan membiayai 😉 ).

Ok, akhirnya Bahasa Indonesia UN, lewat dengan baik. Semoga hasilnya baik deh. Anaknya sendiri menyatakan, “iya, cukup sulit, membutuhkan waktu baca yang cukup sebelum yakin menghitamkan”. “Menghitamkan” bulatan *sigh*, sedih sih, kecerdasan bahasa seseorang ditest dengan pilihan berganda.

Selesai hari pertama, siap-siap untuk hari kedua, hari yang kutunggu (mamanya yang sukaaa karena math #curang hehe).

Sekolah dan “Sekolah”

“Selamat Hari Pendidikan Nasional”

Apakah anak-anak / siswa kita pernah mengalami hal seperti gambar di bawah ini? Ataukah Bapak/Ibu Guru yang justru sibuk memberikan nama tes apakah yang akan dilalui siswa? *Bahan Perenungan*

Screen Shot 2016-05-02 at 7.18.47 AM
Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php

_____________________________________________________________________

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata “Sekolah” memiliki beberapa arti berikut:

se·ko·lah n 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan).

Sebagai bangunan / gedung, harus memiliki ijin mendirikan bangunan, Sebagai tempat memberi pelajaran, harus memiliki ijin operasional sekolah. Sebagai usaha siswa menuntut kepandaian, harus memiliki ijin sertifikat telah terakreditasi.

Belajar itu gratis, tetapi meraih sebuah catatan atas pengakuan akan hasil belajar di atas selembar kertas, membutuhkan biaya, demikian ungkapan seseorang di media sosial yang menarik perhatian saya.

Dulu, ungkapan anak harus sekolah untuk menjadi pintar. Sekarang, mungkin tidak sesederhana itu. Karena menjadi pintar banyaklah faktor pendukungnya. Anak itu sendiri, orang tua, lingkungan, dan sekolah. Ada anak yang baru masuk ke suatu SMP / SMA, lalu ikut kompetisi nasional, dan juara 1, lalu sekolah sangat bangga, pasang spanduk kemenangan di beberapa titik, padahal anak tersebut pintar karena sudah pintar. Sekolah bangga? iya, (kurang lebih) sebagai tempat tumpangan si anak mengambil ijasah formalnya saja.

Saya pribadi masih menyebut dan mengakui bahwa menempuh pendidikan usia sekolah itu penting. Bukan karena saya berprofesi sebagai guru, namun ada hal-hal yang memang baik bagi anak-anak untuk mengenal dunianya bersama teman sebaya melalui lembaga sekolah. Namun kadang menjadi miris jika memang sekolah hanya penting untuk sebuah pengakuan saja. Pengakuan telah berhasil melewati suatu level usia tertentu atau di jenjang tertentu. Belajar tak mengenal usia (teorinya), tetapi nuansa di sini, usia 12 tahun hendaknya selesai SD, usia 15 tahun hendaknya selesai SMP, usia 18 tahun hendaknya selesai SMA, usia 23 tahun hendaknya selesai S1, dan 26 tahun hendaknya selesai S2. Di luar itu, wah pasti anak ini ada masalah.

______________________________________________________________________

Senangkah orang tua jika anaknya dapat bersekolah? Rasanya sih iya. Sebagian orang tua (termasuk saya *hiks), lebih merasa aman dan senang anaknya berada di sekolah daripada liburan berkepanjangan dan “berisik” di rumah 😉 . Beruntungnya saya memiliki anak yang suka ke sekolah. “Yaahh libur (merengut)”, “mau tanding bola dulu ma di sekolah”, “asik ada peltam (pelajaran tambahan) jadi lamaan di sekolah”…. Sambil menambah kerjaan saya untuk berpikir, ini beneran suka atau “suka” 😉

Tapi tahukah para orang tua dan pihak yang berkompeten di sekolah (guru, kepala sekolah maupun pemimpin yayasan sekolah) bahwa si anak dengan mudah mengatakan “sudahlah, di sekolah yang penting bertemu teman, daripada di rumah “mager” (malas gerak), tadi gurunya menjelaskan apa juga saya tidak mengerti, nanti tanya guru les saja lah”. (Baru-baru ini, ada anak yang curcol demikian  #aduuhh).

Guru les lagi….. Memang sekarang sudah ada alih fungsi sekolah yang sebagai tempat belajar tadi kepada sekolah yang beneran hanya menjadi lembaga formal, tempat berkumpul teman sebaya, tempat berteman (siswa dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan guru, menambah jumlah teman di facebook dan social media lain). Karena sudah ada banyak “sekolah” lain yang mampu menyelenggarakan pendidikan akademis, kecuali mengeluarkan ijasah kelulusan suatu jenjang pendidikan secara formal.

Dari beragam sosial media pula saya menemukan lembaga bimbingan belajar yang menawarkan jasanya, yang selalu disertai dengan iming-iming bahwa “anda bisa”. Menjadi motivator memang sudah menjadi era “kekinian”.

Siswa memang sering dijadikan komoditi untuk bisnis berbalut pendidikan ini. Gaya promosi bimbingan les kian marak dan semakin menunjukkan kalau eksistensi mereka memang sangat dibutuhkan siswa dan orang tua. Menunjukkan foto-foto kertas ulangan siswa yang belajar di tempatnya dan memperoleh nilai ulangan di atas 90 di sekolah siswa masing-masing. “Kalian ingin seperti ….(nama siswa yang dipajang memegang kertas ulangannya yang di sekolah memperoleh nilai di atas 90)…., silahkan bergabung bersama kami….”

Luar biasa bukan? Beberapa foto siswa yang dipajang kebetulan saya kenal, dan saya memang tahu persis, bahwa anak-anak tersebut kebetulan memiliki kecerdasan akademis yang tinggi. Jadi tidaklah heran mereka memang menambah ilmu di les dan mendapatkan hasil yang baik pula.

Bagaimana dengan anak yang memang benar-benar harus mendapat perhatian lebih, dibimbing lebih? Di sekolah “seperti ditolak” oleh gurunya dan diminta belajar sendiri di rumah. Pergi ke tempat les, modelnya seperti sekolah kedua, isinya lembar kerja melulu dan lagi-lagi gagal.

Jika bimbingan belajar sudah bisa menyelenggarakan les dengan jumlah siswa mencapai 10 siswa per kelas dan memfasilitasi dengan lembar kerja yang dibuat dengan khusus untuk siswa sekolah tertentu, ruangan seperti ruang kelas, meja kursi seperti di sekolah formal, sebenarnya tinggal menunggu adanya UU resmi yang mengatur belajar di rumah bisa menjalani ujian kesetaraan sesuai standar resmi pemerintah yaitu mengikuti Ujian Nasional.

Kalau sampai bisa begitu, sekolah musti waspada dan mulai berpikir, apa benar sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar lagi? Saat ini memang masih banyak opini yang menyatakan sekolah bukan hanya tempat belajar akademis tetapi bersosialisasi, mendidik secara karakter, mencerdaskan anak bangsa secara umum karena sekolah menjangkau masyarakat luas, dan seterusnya. Jadi posisi sekolah masih aman sekarang karena semua “sekolah” (baca bimbel) itu kan hanya akademis. Namun, siapa yang tau akan jadi seperti apa dalam beberapa tahun ke depan.

___________________________________________________________________

Kadang sedih dan senyum sendiri melihat foto-foto kertas ulangan yang bertaburan nilai 90 dan 100, dari prestasi siswa-siswa yang berkemampuan tersebut. Tetapi adakah yang mau menyentuh siswa yang sangat biasa-biasa saja kemampuan matematikanya di sekolah, umpamanya?

Ada siswa yang sudah dua semester selalu mendapat nilai rata-rata ulangan 50%, menutup semester ketiganya dengan 61% atau bahkan 67%, bukankah sebuah kemajuan? Selalu terlihat masih gagal karena sudah terlalu banyak orang mematok dengan KKM. KKM 70, 65 adalah gagal. Usahanya meningkat 15% belum terlalu dipandang.

Atau adakah bimbingan belajar yang mau “mempromosikan” siswa yang frustasi tidak bisa menjawab soal dengan benar malah menjawab seadanya? Salah satu foto semacam ini tentu saja ada dan sering hanya sebagai “meme” lucu-lucuan. Bagaimana sikap kita menghadapi ini? Lucu benaran atau berpikir untuk mengganti pola test umum (tes individu berbeda untuk tipe anak macam begini?)

IMG_2414

Atau foto berikut, siswa yang mampu meningkat 15% namun tetap dianggap di bawah (karena di bawah KKM tadi?).

IMG_2528

Artikel ini saya akhiri dengan cerita berikut (sebagai perenungan lagi), saya kemas dalam bentuk menyerupai penulisan di  twitter, karena jika tidak, akan terlalu panjang menceritakan betapa masih ada (bahkan mungkin banyak) kejadian seperti di bawah ini:

Kemaren melihat lembar kerja matematika seorang siswa kelas 6. Nilai 50%, dan ditulis “malas berpikir”.  

Konon ini bukan yang pertama, beberapa kali ditulis “malas”, “tidak belajar”, “asal-asal”. Kata si anak, bukan hanya tulisan namun verbal.

Verbal? Jadi ingat guru yang suka melakukan ini. Rupanya mental begitu laris juga.

Anak ini bukan tergolong cerdas matematika, menghitung 12×45 saja masih suka grogi. Tetapi nilai rapor yang dicapai bisa 74 karena kkm sekolah 70 #tiranikkm 

Si anak stress dan semakin apatis. Si orang tua bingung, ingin mengajukan komplen sejak bbrp bulan lalu. 

Tetapi ditunda terus karena ketakutan berulang kejadian yang sama, sehabis didatangi sekolahnya, si anak jadi korban ditekan guru.

Sebagai guru saya ditanya, mengapa ada guru begitu? Saya tidak bisa menjawab, karena ikut tidak habis pikir, kok ya ada guru begitu. *ada lah Hed*

Guru yang bersangkutan mungkin tergolong guru “jeniyes” yang ingin “produk” jadi. Bukan urusan saya dong kamu gak bisa, les saja sana.

Pokoknya “under pressure” ke anak-anak supaya di akhir hari nilai UN nya bagus, tuh kan untung juga saya “kejam”, buktinya nilai bagus kan? #hiks

Mungkin beliyaw memiliki bisnis les besar-besaran. Memiliki jiwa sosial memakmurkan sesama guru les. 

Guru matematika sepertinya senang sekali berpikir kalau matematika itu mudah dan menyenangkan. #halah 

Ortu ini bercerita juga ada teman anaknya yang gara-gara sering dapat nilai jelek dan dikatai si guru dan ditulisi macam-macam di lembar kerjanya…

…maka anak tersebut sering dipukuli ibunya di rumah dan datang ke sekolah dengan tangan biru-biru    🙁 

Guru “jeniyes” ketemu ortu kurang paham dirinya ortu, klop. Bahkan menyadari siswanya mendapat masalah di rumahpun si guru tidak mampu.