Sekolah dan Technoculture

Kutipan dari artikel harian Seputar Indonesia tanggal 29 Juni 2012 dan juga melalui sitenya di http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/507087/38/ dengan judul Kembangkan Sekolah Berbasis Technoculture paragraf ketiga dan keempat seperti berikut ini:

Dalam hal ini, Star Energy akan mengembangkan kompetensi sekolah (guru dan siswa) di bidang IT, Bahasa Inggris dan Lingkungan Hidup dengan melibatkan tenaga terampil Star Energy. Pada tahap selanjutnya akan dilibatkan instansi/personil dan praktisi yang berminat terlibat pada pengembangan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Di bidang IT akan dikembangkan lab multimedia terpadu membuka akses internet, sehingga daerah Siantan Timur meskipun letaknya cukup terisolir akan memiliki akses terhadap dunia global.

Melalui lab multimedia ini diharapkan siswa akan dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan global, membuat situs sekolah dan wilayah Siantan Timur, serta membuka akses wilayah ke tingkat nasional, regional atau internasional. Program ini juga diikuti oleh pengembangan kompetensi berbahasa Inggris yang menjadi bagian penting penunjang keberhasilan pengembangan pendidikan dalam interaksi yang lebih luas. Pengembangan pendidikan lingkungan hidup turut menjadi bagian penting program ini.

Saya mencoba melihat dari perspektif teknologinya terlebih dahulu.

Kagum dengan perusahaan Star Energy yang salah satunya membantu mengembangkan kompetensi sekolah di bidang IT, ingin menjangkau Siantan Timur agar memiliki akses dunia global.

Saya merenung dan berpikir, mengapa jauh-jauh sampai ke daerah itu dan salah satu idenya mengembangkan IT? Sebegitu pentingnyakah IT menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan dunia pendidikan? Rasanya memang saya tidak perlu berpikir lama untuk menyetujui dan menjawab “yes” bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan, masa depan sudah hadir di tengah-tengah kita hanya belum merata dirasakan oleh semua orang.

Ibu Salamah dari Guraru adalah seorang guru SD daerah pedesaan yang siswanya 100% anak desa, mencoba menggunakan teknologi video call dengan rekannya dari Jepang dalam salah satu sesi belajarnya sehingga siswanya mampu belajar sesuatu yang beda, langsung berkomunikasi dengan native speaker, mengajar siswanya “berani” untuk mengungkapkan diri, sekaligus mengenalkan teknologi kepada mereka yang secara umum masih asing terhadap teknologi, tetapi lihatlah antusiasme para siswanya.

Saya pernah berada di lingkungan sekolah yang 100% siswanya melek teknologi, siswa yang bahkan hidupnya sudah ada di dalam anggapan beberapa orang masih “masa depan” tadi….. Sekolah yang semua siswanya dapat dimanfaatkan secara positif dan berkesempatan bersama-sama dengan mereka melangkah di era teknologi modern ini.

Tetapi sekolah bukan hanya muridnya. Untuk melangkah sama cepat, ada institusi sekolah dan guru. Pertanyaannya adalah apakah guru juga siap bergerak dari jamannya sendiri untuk menuju ke jaman sekarang?
Saya setuju sekali bahwa kemampuan seperti storytelling tidak akan pudar, tetapi apakah tepat hanya mengandalkan kemampuan storytelling pada generasi yang sudah sangat dekat dengan teknologi multimedia? Generasi yang bahkan mendapatkan story mereka melalui beragam perangkat komunikasi.

Dari yang saya alami, seringkali memang murid berada pada posisi lebih siap untuk belajar. Mereka tahu kalau mereka di sekolah untuk mendapatkan sesuatu yang baru, sementara sekolah dan guru, berada pada posisi “tangan diatas” alias memandang dirinya sebagai pemberi.

Akhirnya yang saya lihat mental block memang bukan hanya terjadi pada siswa yang “takut” pada pelajaran tertentu, tetapi malah guru dan sekolah yang bisa mengalami mental block lebih kuat pada perkembangan jaman terutama teknologi.

Salah satunya dapat kita refleksikan pada copy paste. Murid mencari jawabannya dan menemukannya dengan pertolongan Google dan meng copy dan paste kan jawaban tersebut. Apakah guru lebih sibuk berseru-seru tentang plagiarisme daripada mengajari murid untuk mengutip dan cara “mengcopy” dan menuliskan kembali dengan benar?

Bukankah isu sebenarnya adalah kenapa jawaban copy paste dengan mudah diterima guru? Apakah alasannya karena guru yang tidak mau cross check isi jawaban dengan sumber-sumber lainnya, termasuk di internet? Tugas seperti apakah yang jawabannya mudah didapat dengan copy and paste?
Apakah guru masih akan berpendapat sama tentang “copy paste” jika dilakukan dengan cara menulis ulang dengan ballpoint dari buku tetapi tetap dengan kalimat yang sama? 🙂
Sepertinya memang tugas yang jawabannya dapat di copy paste via pencariaan Google berarti gurunya belum memberi tugas apa-apa.

Seringkali saya lihat bahwa guru sering lupa mempercayai siswa kalau mereka mampu membagi waktu belajar mereka sendiri. Atas nama “dignity of homework”, siswa dipaksa menggunakan metode yang sama dengan metode gurunya belajar puluhan tahun lalu dan sang guru lupa bahwa pekerjaan rumah dapat dipakai sebagai bahan latihan materi siswa.

Saya yakin apa yang sudah saya mulai dengan memiliki class online dan blog dalam satu website saya, jika diiringi dukungan oleh pihak sekolah, harusnya sudah berkembang dari jauh hari dan membawa perubahan pola pikir banyak rekan guru dalam memenuhi berbagai gaya belajar siswa, sebagai jembatan antara siswa terhadap pendidikan itu sendiri.

Jangan menganggap diri guru profesional jika guru belum mendedikasikan diri pada profesinya sekaligus berusaha untuk meningkatkan kemampuan.

The future is here, it is just not evenly distributed
~ William Gibson ~

Apa Kabar Presentasi Kelas?

Ingatan saya melayang ke jaman sekolah dulu, saya terkesan dengan seorang guru Fisika di SMA kelas 10, yang mengajar dengan menghadap papan tulis, mengisi papan tulis dengan kapur dari ujung ke ujung, jika penuh, hapus, balik lagi dari ujung ke ujung 🙂  Karena saya menyenangi pelajaran Fisika maka saya senang memperhatikan cara guru ini menjelaskan dan mampu mencerna pelajaran dengan baik.

Saat itu saya mulai merasa seharusnya ada variasi pada penggunaa media papan tulis ini , yang merupakan salah satu metode utama untuk menyajikan materi pada siswa. Mulai dari bagaimana sikap tubuh seorang guru harusnya tetap menatap siswa dan belajar menulis di papan tulis dengan posisi tubuh miring, sambil tentu saja digabung dengn kemampuan seorang guru menguasai kelas, mengatur kelas dan berinteraksi dengan siswanya.

Tetapi tentunya tidak berhenti disitu saja, apalagi karena papan tulis, alat bantu presentasi guru, sudah berkembang begitu jauh. Sebagai guru, saya mengalami masa di mana menggunakan kapur – papan tulis, marker – whiteboard, pemakaian OHP, hingga projector untuk menampilkan file presentasi Powerpoint, pemakaian adobe flash, sampai dengan pemakaian video instruksional.

Untuk menunjang tiga hal terakhir yang disebut di atas, dibutuhkan alat bantu yang memudahkan berinteraksi dengan siswa. Alat bantu yang berupa pen stylus dan alasnya seperti tablet.

Setelah berkenalan dengan writing tablet sebagai sebuah alat bantu presentasi di kelas di tahun 2008 yang walau alat itu sendiri lebih umum dikenal diantara “orang desain”, ternyata saya sangat menyukai alat tersebut walaupun saya bukan orang desain.
Dengan bantuan writing tablet itu, presentasi di kelas pun bisa lebih menarik menarik, file presentasi Powerpoint  bisa ditulisi dengan berbagai penjelasan langsung dengan perangkat seperti pena tersebut. Kebetulan, sudah bertahun-tahun saya selalu menyiapkan handouts dengan beberapa bagian penjelasan sengaja dikosongkan agar saat proses penjelasan berlangsung, siswa dapat mencatat point-point penting atau rumus-rumus yang didapatkan dari penjelasan tersebut. Sebaliknya, file worksheet tersebut bisa saya “corat-coret” langsung dilayar persis diatas diagram, atau grafik yang sedang diterangkan. 

Keuntungan lain dari penggunaan pen tool adalah selama bertahun-tahun pula saya telah menghemat spidol/marker dan lembar plastik OHP, berarti saya adalah bisa menjadi pendukung go green nomor satu dari tempat saya bekerja :p 🙂

Beberapa waktu lalu, rasanya ingin sekali memiliki writing tablet wireless, keinginan yang sampai sekarang belum terpenuhi… (berharap ada malaikat dari langit yang menjatuhkan benda tersebut di depan saya O:) wacom intuos 4 wireless)….. Bayangkan sebuah presentasi di kelas yang dapat saya kendalikan dari tengah-tengah kelas, dari depan siswa maupun dari antara siswa. Wow, asik sekali, bukan?

Presentasi PPT + writing tablet praktis bisa menjadi interactive whiteboard tersediri yang mungkin tetp jauh lebih ekonomis daripada interaktif whiteboard berukuran besar.  Dari metode presentasi ini, ada begitu banyak kemungkinan pengembangannya.  Worksheet interactive adalah salah satunya, worksheet yang di attach dengan video instruksional, dimana anak-anak bisa menutuskan apakah mereka akan memperhatikan instruksinya dilayar, melengkapi bagian kosongnya atau atau berusaha membuat soal-soal yang ada.

Banyak sekali yang dapat kita lakukan untuk membantu siswa / anak didik kita yang sekarang makin beragam metode belajarnya. Makin banyak pula siswa kita yang sudah mengalami hidup dalam era komputerisasi, dimana mereka dengan mudah mereka menghemat waktu untuk sekedar menggambar grafik parabola misalnya, dengan hanya sekali mengklik fungsi parabola pada kalkulator tipe tertentu atau pada software gratis yang dapat dengan mudah mereka akses lewat jaringan internet.

Lalu bagaimana kita sebagai guru / pendidik mampu menjembatani siswa demikian dalam era ini tanpa meninggalkan cara klasik yang memang tetap harus dikombinasikan dengan teknologi dan metode jaman sekarang, menjaga dan melengkapi serta mengembangkan berbagai metode dan gaya belajar siswa.

Seperti ditulis di www.guraru.org