“Tirani” KKM

Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM di dunia pendidikan Indonesia. Siapa yang tidak tahu? Atau siapa yang tahu? Atau siapa yang peduli? Cerita lama sebenarnya, yang ingin saya tinjau kembali.

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa kurikulum pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum secara nasional seperti pada periode sebelumnya. Satuan pendidikan harus mengembangkan sendiri kurikulum sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan serta potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungannya.

Stop sampai di sini dulu….. “…..sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan serta potensi peserta didik…..” Tapi UN standar nasional kelulusan….fiuuhh membingungkan. Tapi (lagi), UN sekarang kan sudah mempertimbangkan nilai sekolah dengan persentase 60 : 40, lalu? “Nilai sekolah tolong dibaguskan dulu ya, biar bisa bantu nilai UN nya. Ini belum 60 nilainya, bapak ibu tega men-tak luluskan siswa bapak/ibu?” Sounds familiar?

Nilai sekolah tolong dibaguskan. Dibaguskan sampai mencapai target kkm. Kkm nya berapa? Tergantung sekolah masing-masing dong. Ditentukannya bagaimana? Ya itu, yang ideal berdasarkan link ini, silahkan ditinjau kembali.

Saya hanya ingin meninjau kembali permasalahan yang sudah dipersempit kepada sekolah-sekolah yang menetapkan kkm dalam operasional akademis sekolahnya. Bagaimana sebuah sekolah menetapkan kkm per bidang studinya? Apakah sudah mengikuti ketentuan yang disebutkan dalam petunjuk yang benar.

Mengapa sekolah-sekolah tertentu segitu mengejar kkm? Jawaban yang pernah saya dengar berkisar seperti berikut:
* Kkm menunjukkan kualitas sekolah yang baik. Makin tinggi kkm suatu mata pelajaran maka makin kelihatan sebagai sekolah yang kuat dan mumpuni di bidang akademis.
* Pengawas sekolah / dinas pendidikan tertentu ingin sekolah-sekolah binaannya memiliki standar kkm baik.
* Orang tua lebih senang jika kkm mata pelajaran tinggi sehingga anaknya pun kelihatan seolah- olah mendapatkan nilai yang bagus dan tinggi. Sebaliknya orang tua dapat berasumsi dengan mengatakan mutu suatu sekolah berkurang karena kkm nya rendah, “….eh tahu gak, pelajaran *beep* soalnya gampang-gampang banget, mutu sekolah itu jelek, habis kkm nya rendah….”

Kalau jawaban dan respon dan pengertian berkisar di hal-hal seperti tersebut di atas saja, ya tidak heranlah, kkm menjadi begitu “powerful”. Karena itu menjadi sebuah ‘roda berputar’, kkm yang penting tinggi, sekolah menjadi lebih ‘dipandang’, orang tua ‘puas’ karena nilai anaknya baik setingkat kkm semua.

Dinas pendidikan pun melalui sekolah-sekolah, menyatakan bahwa siswa dinyatakan naik kelas jika sudah memenuhi kriteria kkm per bidang studi, jika masih ada yang belum tercapai, ada “terms and conditions” yang diperlakukan di tiap-tiap sekolah bersangkutan. Sekolah yang “notabene baik” ingin mencapai suatu dokumentasi siswanya lulus / naik kelas setingkat atau di atas kkm. Caranya? ya banyak lah, kata mujarabnya “remedial”. Nilai rapot saja bisa diremedial.

Sekedar sharing tentang hal di atas. Keponakan saya sewaktu kenaikan kelas dari kelas 8 ke 9. Saya tanyakan “Bagaimana nih, sudah mau kelas 3 SMP, berapa nilai matematikamu?” Dia menjawab “ah, cuman 71”. Saya respon lagi “71 kok cuman, itu ya baik, kamu masih bisa ikuti pelajaran lah”. Direspon balik “ah, kata siapa? saya kan masuk kategori “probation” untuk matematika, karena belom sampe kkm 75″. Dan kembali saya respon “apaaaa???? 75??? tinggi sekali???? yakin teman-temanmu mampu mengatasi semua?” “Ah tak tahulah, sekolah sombong tinggi-tinggi amat bikin kkm”. Sekarang anak ini sudah duduk di bangku kelas 10 🙂

Beberapa waktu yang lalu, di FB seorang rekan, saya membaca statusnya yang kuatir melihat kemungkinan pengawas ujian yang sedikit lengah sehingga siswa mampu menjawab secara seragam jawaban isian yang notabene harusnya lebih susah “contekannya” dibanding soal pilihan berganda.Bukan kuatir pada lengahnya saja tetapi pada “sengaja lengah” supaya memberikan kesempatan siswa untuk mendapat nilai baik setingkat kkmnya. Karena ulangan umum tidak bisa ada ujian perbaikan?Jadi serba salah, ulangan umum ada remedial nanti dikatakan kurang punya kebanggaan ah sebagai ulangan umum. Sebaliknya jika tidak ada remedial, nanti dengan persentase final yang cukup besar, nilainya kurang, nilai akhir kurang juga dari kkm, ujungnya ya seperti remedial nilai rapor…… Susah juga…. Jadi, harus bagaimana?

Masihkah saya bisa meyakinkan diri sendiri jika sebenarnya tujuan awal, pemikiran awal dari kkm itu bisa jadi benar, disesuaikan dengan lingkungan sekolah dan masyarakat suatu daerah? Sulit sekali, mengingat yang dihadapi seringnya adalah beberapa contoh di atas? Sementara PP nya menyatakan seperti tercantum di atas sesuai satuan pendidikan bukan bersifat nasional tetapi lalu pemerintahnya sendiri secara nasional ingin mencapai target 75? 75 di Jakarta dan Jayawijaya, hampir pasti berbeda kan? (tolong jika ada yang tahu tentang standar nasional 75 ini, salah atau benar, saya ingin mendapat klarifikasi).

Jika kkm seperti idealnya ditentukan berdasarkan pengalaman belajar dan oleh guru bidang studi yang paham kondisi kelasnya, apakah semuanya harus disamaratakan dengan 70 atau 75 tadi?

Bisakah menciptakan susana belajar yang berbeda? Sudah yakinkah guru bisa melakukan dan menciptakan komponen penilaian yang beragam daripada sekedar tes tertulis? Atau setelah berbagai jenis penilaian dikembangkan, eh tapi ujung-ujungnya kan harus lapor kepada pengawas bahwa soalnya harus berjumlah sekian butir tipe PG, sekian butir isian, sekian butir essay atau apapun itu, jadi nilai siswa ya ditentukan di ujung penilaian formatifnya.

Siapkah dan sudah yakinkah bahwa guru mampu menjembatani proses harian siswa belajar di pelajaran tertentu. Bila seorang anak yang selalu gagal dalam setiap evaluasi, selalu pula si guru harus sigap membantu mengatasinya, remedial salah satu contohnya, kelas tambahan contoh berikutnya, berikan evaluasi dengan metoda lain, bukan sama seperti teman sekelas yang ikut tes tertulis saja. Contoh yang terakhir, paling sulit dibuat guru, karena harus kerja dobel, tidak sesuai rencana mengajar si guru, nanti disalahin sekolah lagi. Atau malah jalan pintas sekolah “….maaf nak, kamu tidak cocok di tempat kami, tidak mampu mengikuti pelajaran kami”.

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

~ Kongres Pemuda Indonesia – 28 Oktober 1928 ~

 

Mendengar kumandang Edo Kondologit di acara 100 tahun Kebangkitan Nasional (siaran ulangan versi TransTV) pagi ini, membuat saya merinding, bagus sekali lagu Indonesia Raya tanpa instrumen, hanya suara dia di tengah-tengah stadion GBK. Walau acara ulang dan tidak ada hubungan dengan peringatan hari ini, tetapi mendengar lagu itu menimbulkan niat mengeja ulang kata per kata lagu kebangsaan kita, dan bagi saya, kata-kata yang baik dan indah, tidak berlebihan, membangkitkan semangat,  iramanya pun indah 🙂

Sejarah mengatakan lagu Indonesia Raya itu memang diperdengarkan pertama kali saat kongres pemuda II di Jakarta oleh penciptanya sendiri WR Supratman. Jadi tepat hari ini, tepat saat lagu itu terdengar kembali di telinga, rasanya harusnya bangga menjadi bagian dari suatu bangsa. Itu pemersatunya lho. Tapi…..? wah bisa panjang deh….

Makna Sumpah Pemuda bagi tiap orang mungkin beda. Tuangkan maknanya menurut kalian masing-masing. Semakin banyak makna bagi kalian, semakin kaya keragaman bangsa kita. Ambil yang positif, jauhkan yang negatif. Belajar dari pengalaman yang lain, perkaya dengan variasi yang sesuai masing-masing. Berharap pada kondisi ideal, tidak selalu salah kok 🙂

Sering orang mengungkit makna mencintai bangsa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa asing mencerminkan tidak nasionalis. Makna persatuan bangsa dengan melakukan aktivitas kebersamaan. Benarkah demikian?

Pemakaian bahasa asing dalam percakapan sehari-hari, banyak dijumpai di sekolah-sekolah yang mengadaptasi kurikulum internasional. Ada kemungkinan hal ini dianggap tidak cinta bahasa Indonesia, tidak nasionalis. Tapi tentu saja tidak boleh semena-mena mengatakan demikian. Pandai berbahasa asing tentu saja tidak ada hubungan dengan sikap nasionalis seseorang.  Lalu ada lagi yang menyebutkan anak-anak tersebut menjadi tidak kenal budaya bangsa kan, tidak bisa berbahasa Indonesia, bagaimana bisa bilang menanamkan sikap nasionalis kalau bahasa saja dia tidak bisa ucapkan? Miris juga.

Sering saya melihat kasus seperti berikut ini. Anak yang pandai, sekolah dan lulus di dalam negri, dibandingkan dengan anak yang memiliki kesempatan besar dalam hidupnya bersekolah di luar negri karena keluarganya mampu. Begitu memasuki dunia pekerjaan, anak kedua yang mendapatkan penghargaan lebih untuk kategori memiliki kecakapan bahasa internasional yang lebih baik ditunjang dengan sertifikat asing. Bayangkan jika hal itu yang sering dihadapi, ya tidak menutup peluanglah, orang akan makin berpikir, jika ada kesempatan keluar, berbahasa asing lebih lancar, masa depan lebih terjamin, mengapa tidak?

Jadi seperti mana duluan, telur atau ayam? Siapa yang mulai bersikap demikian? Terlebih bahkan ada kasus anak asli bersekolah di dalam negri, memiliki nilai test TOEFL lebih tinggi dari anak yang berkesempatan sekolah di luar negri saja, ujungnya diperlakukan sebagai lulusan lokal, tidak dapat tunjangan sekolah luar negri… bayangkan 🙂

Sebagai guru matematika, sampai detik ini, saya masih mempercayai bahwa anak belajar matematika bukanlah dibedakan berdasarkan bahasa penyampaian, bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Matematika sebagai ilmu dasar, dipelajari untuk dipakai menunjang beberapa ilmu lain juga. Mathematical Notation are meant to be universal, encompassing any natural language. Why worry too much, when a child have to be tested in a certain natural language. Entahlah…..

Lanjut ke makna persatuan Indonesia, apakah bersatu identik dengan kebersamaan? “bersama-sama ya, tidak boleh ada yang lebih, tidak boleh ada yang kurang, kalau saya lebih-lebih sedikit, ya nanti kita bagi-bagi deh sama-sama” begitukah? “wah, pintar sekali kamu, jangan begitulah, kita sama-sama dong, kan kita teman. Kalau dia kurang, kita tutupi lah, dia kan teman kita, harus sama-sama” begitukah?

Akhirnya demi bersama, bersama-sama melawan arus di jalanan. Kalau di tegur jawabnya standar “belagu ya kamu, situ kan orang kaya, kita kan naik motor….” Ini ada faktor pengalaman, motor-motor yang melawan arus dan cepat-cepatan mungkin takut ketahuan polisi, mereka yang menyerempet saya selaku pejalan kaki, mereka yang “marah” “jalan yang benar dong”. Prof. Iwan Pranoto dalam account twitternya beberapa kali menulis, bangsa Indonesia perlu pemimpin sinting…. Nah bagi saya, pengendara motor tadi bukan anekdot kesintingan seorang pemimpin, tetapi sinting sungguhan.

Kembali ke Sumpah Pemuda, semalam, Matthew anak saya, menyiapkan topi karena katanya “aku ada upacara, siap siap ah”. Simpel, tapi buat saya berpikir, ini contoh paling kecil dari siswa yang sadar ingin ikut upacara peringatan salah satu sejarah bangsa ini. Lalu apa lagi ya, hmm, mungkin buang sampah pada tempatnya, mencintai lingkungan berarti mencintai tanah air kita. Gunakan bahasa yang baik diperkaya dengan penggunaan bahasa asing. Tidak mentertawakan kasus vicky dengan vickinisasi yang terus menerus jadi candaan, padahal mungkin diri sendiri masih dalam level kemampuan bicara yang kurang lebih mirip.

Tulisan ini saya sudahi di sini, menyisakan tanda tanya besar kembali bagi saya, sambil membaca berita Gerakan Mahasiswa Jawa Barat yang menolak Sumpah Pemuda karena tidak sesuai dengan ideologi agama tertentu.

God Bless Indonesia

 

 

Using Google SketchUp “3D for everyone”

Students in Primary and Junior high level, usually get introduced to 3D basic shapes through topics of finding the surface area and its volume. I’m not sure how deep they get into the idea and concept about it. Sometimes it can be so  hard for the children to see things in 3D or perspective.

Basic 3D shapes are prisms, cylinder, pyramid, cone and sphere. There are many prisms based on its bases. Rectangular prism means a prism with rectangle form base. Hexagonal prism means a prism with hexagon form base. Prisms and pyramid have flat faces, while cylinder, cone and sphere have curved surfaces.

They also focus on learning of rectangular prism or sometimes called cuboid (“balok” in Indonesian), there are some terms used to represent part of it.

1. Face Diagonal: is a diagonal on one of the faces. Since there are 6 faces in rectangular prism then the total is 12 face diagonals.

2. Body Diagonal / Space Diagonal: is a diagonal passing through the interior of the polyhedron, so there are 4 body / space diagonals.

3. Plane Diagonal: When two opposite face diagonals connected, a plane diagonal is formed. There are 6 plane diagonals.

Beside 3D basic shapes, there are composite 3D, such as capsules, combination between cube and pyramid, pendulum.

There are many 3D modeling softwares, and teachers can choose one that is more suitable for their students. For me, to help my students develop their three dimensional visualization ability, I found that Google SketchUp is a very useful software tools. A little bit of SketchUp, SketchUp is a 3D modelling program for a broad range of applications such as architectural, civil, mechanical, film as well as video game design — and available in free as well as ‘professional’ versions.

The concept of using Google SketchUp, is the basic knowledge of mathematics when students need to study how they find the volume. You just find the base area and measure how height it will be. That is volume. SketchUp tells you after drawing 2D shape as its base, “pull up” as height as you want then booommm 3D shape has been made. Easy to connect with Primary or Junior High level, isn’t it?

When I said about diagonals in a cube above, pictures below are the result when it’s drawn in Google SketchUp:

From left to right: cube 1, 2 and 3 describe plane diagonals (plane diagonal is in 2D shape), cube 4 describes face diagonals and cube 5 describes body / space diagonals.

diagonals' types

Below are some basic steps how to use Google SketchUp to create 3D shapes (my student Chika helped me with the tutorial)

How to make prism (4 sides)?

1.  First make a rectangle using this button tool rectangle

on layer rectangle

2. Press  pushpull tool  button then select the rectangle and pull the rectangle into a prism 4 sides.

rectangular prism

How to make pyramid (rectangle base)?

1.  First make a rectangle.

on layer rectangle

2.  Press line tool  button then make one line on the first diagonal of the rectangle.

face diagonal

3. Then take another line on the other diagonal.

two face diagonals

4. Then use button move tool , put on the intersection point of two face diagonals, move up, to make it into pyramid.

pyramid

How to make a cone?

1. Make a circle using this button circle tool

on layer circle

2. Then use line tool  button and put it on the center of the circle and drag it up, vertically on blue axis.

height of cone

3. Still use line tool button to draw a line from the top to one side of the circumference.

slant height

4. Still use line tool button and draw the third line connects the two end points, it becomes a right angle triangle.

before follow me

5. Press  tools  and press follow me lists in tools, then drag the triangle around the circle.

cone being followed

After creating 3D basic shapes, students explored and practiced themselves (under my supervision) to create many shapes and objects. Capsules and torus are combined as follow and students might end up with a very interesting cartoon character 🙂

Grisel's cartoon

This kind of active learning is one of the example of metacognition (The idea of controlling our thinking processes and becoming more conscious of our learning).  When higher-order thinking skills are what teachers are striving for in the classroom, then, teachers should make sure each student know their basic building blocks, and know how to combine it into more complex knowledge.

First, students installed the software. Second, they recognised and learned the tools. And finally, they created 3D shapes (started from the basic one – from simple composite 3D up to complex 3D object).

As their teacher, I also created one 3D object and use it to challenge them. This based on the metacognitive principles to include three essential skills:

  1. Planning: refers to the appropriate selection of strategies and the correct allocation of resources that affect task performance.
  2. Monitoring: refers to one’s awareness of comprehension and task performance.
  3. Evaluating: refers to appraising the final product of a task and the efficiency at which the task was performed. This can include re-evaluating strategies that were used.

Enjoy Learning! 🙂

After the lesson, then I received “A Gift” 🙂 love it…

(Seni)nya Belajar

“In teaching our pupil’s school subjects, we fail lamentably on the whole in teaching them how to think. They learn everything except the art of learning”

Membaca kutipan dari Dorothy Sayers di atas, membuat saya merasa tergelitik dan merefleksikan bahwa mungkin sekali sebagai guru lupa menekankan betapa belajar itu bukan hanya belajar sebagai bisa atau tidak, benar atau salah, tetapi lebih dalam lagi sebagai sebuah seni.

Dengan memberikan kerangka untuk kualitas bagi anak-anak pelajar itu, kita turut membantu mereka untuk mengembangkan kreatif, semangat tangguh untuk belajar dan peningkatan kinerja yang akan menjadi katalisator seumur hidupnya untuk sukses.

Tetapi pertanyaannya, apa saja yang masuk dalam kerangka kualitas tersebut? Setiap orang merasa akan memiliki kerangka sesuai pola pikir masing-masing. Mungkin tidak ada benar atau salah di sini, melainkan kombinasi ide dan situasi kondisi yang dihadapi di lingkungan kita sebagai pendidik dengan para siswa sebagai yang dididik.

Berikut ini mungkin contoh yang bisa atau pernah terjadi. Siswa mendapatkan nilai tes yang baik di mata pelajaran yang diampu seorang guru. Banggakah siswa dan guru? Jelas. Bagaimana respon guru menanggapi hasil memuaskan si siswa? “Wah nak, kamu pandai sekali ya”, atau bercanda sesama guru “siapa dulu dong gurunya”, atau “saya bangga lho dengan usaha dan kerja kerasmu”. Kualitas respon mana yang lebih baik menurut anda?

“Bangga dengan usaha dan kerja keras” menunjukkan jika si guru sangat menguasai proses belajar siswanya. Jauh lebih bangga bagi kita jika mendapati siswa yang menjadi lebih suka belajar atau lebih mau belajar dalam proses bersama gurunya. Banyak sekolah dan guru terjebak dengan keuntungan memiliki siswa sebagai sumber daya yang sudah memiliki kemampuan / bakat menonjol baik akademis maupun bukan. Bangga dengan berbagai kejuaraan yang disandang walau kadang miris juga melihat kebanggaan guru yang sebenarnya “wong anaknya sudah pintar dari sananya”. Atau guru yang sudah terlihat apriori bahkan membuat label jika anak yang bersangkutan sudah pasti nilainya kurang. “Pasti remedial”… hmm, sadar tidak ya guru dan sekolah, bagi sebagian siswa, mereka mampu memanfaatkan remedial sebagai jalan keluar. “Ulangan? Pasti gagallah, tunggu saja nanti juga remedial”. Katalisator guru seperti itu jelas-jelas beda dengan katalisator yang dimiliki sebagian siswa. Siswa dari berbagai kalangan seringkali bertanya untuk apa saya belajar pelajaran ini? Belajar topik ini? Kaitannya di masa depan saya apa?

Belajar adalah seni. Seni apa? Ya itu dia, salah satu seninya belajar adalah menghargai proses. Setiap kali di kelas waktunya belajar, itulah proses. Dalam proses belajarnya, siswa dibimbing, dibantu oleh gurunya. Tapi jangan lupakan dalam proses itu juga, siswa menunjukkan kinerjanya dan secara formatif hal tersebut dapat dites-kan. Yang sering saya amati sebagai “gap” nya adalah si guru merasa tes yang harus formal dong, guru kan dituntut professional, harus dalam format tes rapi, sekolah akan menentukan jumlah soal, soal-soal didokumentasikan dengan rapi, nanti diperiksa pengawas sekolah, nanti untuk diperiksa dinas, supaya akreditasi baik…..yaaaa panjang deh urusan pendidikan di negeri ini. Kalau saya berkomentar, memang dalam proses tadi tes tidak dapat diformalkan? Dengan rubric score yang baik, sangat bisa. Jangan-jangan si guru dan sekolah yang merasa “rugi” karena siswa lagi sedang paham-pahamnya terhadap pelajaran lalu diambil nilainya. Kalau lewat 1-2 minggu kan siswa belajar ulang, usaha dong supaya harus bisa…. (moga-moga bukan yang terakhir itu X_X).

Di samping menghargai proses, membimbing dengan contoh juga merupakan satu bentuk lain dari seni belajar. Membimbing dengan contoh saya yakini sebagai bagian dari “meta cognition” (berpikir untuk berpikir, belajar cara belajar).

Pada saat memberikan tugas kepada siswa, “memberikan contoh tugas” diyakini banyak pihak sebagai menutup peluang siswa berpikir dan berkembang atau dengan melontarkan pernyataan bahwa siswa harus kreatif dong. Itu dia, meminta siswa menjadi kreatif tetapi tidak dibimbing bagaimana mencari “kreatif” itu sendiri, tidak adil dong bagi siswanya. Kreatif kan bukan tujuan, bukan pula menunjukkan diri jadi guru yang kreatif, tetapi justru bagaimana si guru menciptakan peluang mencari cara menjangkau siswa dengan metode dan bahasa yang mereka mengerti, baru mudah-mudahan dari situlah metode kreatif akan muncul dengan sendirinya.

Percayalah, contoh yang kita berikan, tidak ada apa-apanya dibanding kemampuan mereka mengeksplor sendiri. Pancingan contoh kita membuat mereka berusaha menjangkau level kemampuan seperti itu bahkan tidak jarang bertekad mengalahkan level kemampuan itu (tergantung juga dengan kemampuan si siswa sendiri).

Contoh lain, guru tidak asing kan dengan kata kisi-kisi atau notifikasi untuk evaluasinya? Maukah guru memberikan kisi-kisi? Pasti beragam juga cara guru menjawab 🙂 “wahh muridnya nanti keenakan, mereka kan harus tahu belajar sendiri”, “sudah SMP, sudah SMA, sudah besar, bukan SD lagi, nanti keenakan”, “UN kan ada kisi-kisi, kita juga harus ada dong”, “tidak boleh sama sekolah, sekolah memiliki kebijakan tidak boleh kasih kisi-kisi”, “ah percuma, sudah capek-capek dibantu dengan kisi-kisi, belajar juga tidak, malah fotokopinya dibuang”… Atau sebaliknya justru ada sekolah yang mewajibkan buat kisi-kisi untuk formal tes nya, tetapi si guru yang sungkan memberikan lalu cukup dengan “outcomes” seperti “siswa dapat menyelesaikan soal aljabar” 😉 aljabar itu luassssss, yang mana? Berharap anak usia 12-16 tahun jadi jenius tahu aljabar semua?

Pernahkah guru mengajarkan pada siswanya bagaimana membaca kisi-kisi / notifikasi tadi? Bisa dicoba dengan mengajarkan kalimat-kalimat “outcomes” tersebut menjadi rangkaian kalimat soal dalam evaluasi yang akan dilakukan. Ajak mereka membuat soal-soal sendiri atau diawali dengan mencari kembali pada referensi buku teks atau catatan mereka soal-soal yang mencerminkan outcomes tersebut. Ajar mereka untuk melakukan prediksi, mencari alur dan koneksi dalam belajarnya akan kemungkinan soal-soal yang akan muncul dalam evaluasi nanti.

Untuk mengatasi ekspektasi yang tinggi dari anak-anak yang berkemampuan di atas rata-rata, guru juga dituntut sanggup memberikan materi lebih berarti juga perhatian lebih serta mengakomodasi sesuai dengan kebutuhan individual siswa. Jadi saat evaluasi berlangsung, siswa yang berkemampuan seperti ini juga layak mendapatkan ekstra bobot soal yang lebih mengundangnya untuk berpikir.

Jadi, belajar adalah sebuah seni yang akan terus menerus mengalir, tidak akan mati. Selamat belajar! Selamat mencoba berbagai metode / teknik pembelajaran baru / mengkombinasikannya! Semoga bermanfaat!

Arsenal vs The Dream Team

                            arsenal

Arsene Wenger datang ke Indonesia, si “the professor”? Woww, kalau itu 25 tahun yang lalu, berarti cuma ilusi. Tetapi seperempat abad kemudian, bummm mudah sekali sekelas Mr Wenger datang. Sir Alex sudah duluan (?), AC Milan all stars, siapa lagi ya?… hmm lupa, menunjukkan sudah begitu lamanya saya tidak mengikuti berita persepakbolaan. Sudah bukan era saya untuk ikutan mencari tahu semua berita bola 🙂 Sebenarnya ya boleh-boleh saja sih tetap mengikuti, tetapi ya memilih mundur saja deh dari kegemaran menonton, mengikuti berita serta mengumpulkan kliping berita dan gambarnya. Menyebut bukan era saya lagi, serasa membuka “aib” “ow nooo everyone will know my age” 😀

Wuiihh, dengar-dengar dua pekan depan giliran “the blues” yang akan datang…. Luar biasa…Then Liverpool, ckckck hebat. Dulu Ian Rush salah satu favorit saya 🙂 Kesan yang tertangkap, ekonomi Indonesia sudah sangat membaik, antara 300 ribu – 750 ribu sudah tidak jadi masalah, harga naik setiap Senin (lhoo kok jadi ke iklan rumah itu? :p). Kesan lain, di era globalisasi ini, semua menjadi lebih mudah, “world” sudah ada di genggaman kita jika kita mau menggenggamnya. 1994 cuma bisa bersedih yang datang hanya Dejan Savisevic, tapi 2012 lalu nyata hadir Paolo Maldini di GBK… masih kagum bahwa “people change, world change, everything change”.

Atau ini bagian dari perjalanan sebuah politik? hmm, bisa jadi, tapi saya tidak mengerti politik, kita lihat saja nanti.

Kembali ke pertandingan antara Arsenal dan Timnas, saya menonton hanya sebagian babak pertama saja kok (melalui televisi pula), jadi tidak berhak melakukan “judgement” apapun (menurut saya). Rasanya stadion itu bukan GBK lagi, tetapi menjadi Highbury atau Emirates. Dengan fisik penontonnya adalah orang Indonesia tetapi berseragam dan ber-yel-yel Arsenal….hehehe menarik ya.

7-0….astagahhh, “everything change” tadi tidak berlaku untuk tim sepakbola nih kayaknya. 1994, Daniel Massaro, Dejan savisevic dkk membantai 8-0 …. 18 tahun kemudian mirip juga?? eh, tapi lebih baik deh, selisih satu itu lumayan kok. Dan sebelum-sebelum ini juga lebih baik jumlah kebobolannya. Yahh tidak apa-apa semoga lebih baik. Dan yang namanya belajar, ya tidak boleh mati, tidak boleh stop. Berjuang terus timnas!!

Saya sebenarnya bingung dengan para anggota timnas kita ini…itulah akibat kurang baca berita dan perhatian lagi terhadap sepak bola. Sudah sejak beberapa tahun juga sih, ada istilah naturalisasi segala. Lalu mengapa jadi banyak orang asing (Belanda)? Lalu mengapa menyebut diri “dream team”, apakah tidak terlalu sombong dan percaya diri berlebihan? Cinta tanah air dan nasionalisme sih jelas mutlak dibutuhkan tetapi kaitan dengan prestasi dan skill masih jauh, masih angan-angan. Mungkin penggunaan istilah tersebut menjadi berlebihan jika tanpa dibarengi prestasi (saya terbayang the dream team basket Amerika era Michael Jordan, Magic Johnson, Scottie Pippen di Olimpiade 1992).

Mau undang tim manapun, sebagai latih tanding, sah-sah saja. Keputusan manajemen PSSI mungkin dengan pejabat terkait. Silahkan saja. Tetapi siapapun pemberi bumbu-bumbu istilah itu harus ada yang rem, jangan terlalu optimis dan jangan pula malah menjadi bumerang sendiri. Kita tahu tim Arsenal siapa, belajar dengan mereka saja, bukan menjuluki diri sendiri sebagai tim impian walau dengan embel-embel “hanya nasional” ya tetap saja “sounds weird”. Bukan “the dream team” tetapi jadi “day dreaming team”. Apalagi, ujungnya lautan GBK menjadi “the gunners”, jadi kasihan deh para pemain timnas itu. Menurut saya, ini latih tanding dan hiburan bagi masyarakat pencinta bola. Sudah, dibuat begitu saja. Titik tidak pakai koma 😀

Semoga Timnas makin maju ya. Sepak bola makin dicinta <3

Yaaa tulisan di atas ya hanya sebatas pendapat pribadi, sebagai ibu dari seorang anak yang menjelang remaja dan menggilai sepak bola 🙂

Penggunaan SocMed dan Online Class:

Belajar menjadi warga dunia digital
 
Mengusung pengajaran dan pembelajaran abad 21, seorang pendidik perlu memahami ketrampilan yang wajib dibekali kepada para siswa sekaligus wajib dimiliki oleh pendidik agar mampu menjembatani siswa dengan jamannya. Ketrampilan abad 21 didefinisikan dalam bermacam cara, dengan komponen utamanya adalah ketrampilan belajar dan berpikir (pemikiran yang lebih tinggi, perencanaan, pengelolaan, kerjasama), melek teknologi (menggunakan teknologi dalam pembelajaran), dan ketrampilan menjadi seseorang pemimpin (kreatifitas, etika dan menciptakan produk). Benang merah dari semua ketrampilan itu adalah teknologi dan bersama dengan teknologi, terkait masalah kultural dalam kehidupan ber-internet, dimana salah satunya adalah etiket.
 
Teknologi komunikasi adalah sebuah kenyataan hidup sekarang ini. Menghadapi anak-anak generasi Z ini kadang membuat kita terperangah dan berpikir “ini anak-anak kok bisa semua ya? Kapan mereka belajarnya?” Saya sering berseloroh, sambil mengatakan kalau anak-anak ini memang tidak perlu belajar lagi, dari lahir saja dia sudah tahu.
 
Sebaliknya, jika kebetulan seorang pendidik memiliki “gadget” canggih, dipakai untuk apakah “gadget” tersebut? Foto-foto di dalam kelas, tempat menaruh daftar nilai siswa, di bawa masuk dan keluar kelas (baca: ditenteng). Salah? Tidak, tapi hati-hati, siswa kita lebih paham bahwa kita belum maksimal menggunakan atau memanfaatkan alat tersebut untuk membantu pembelajaran mereka. Apalagi kalau hanya ujung-ujungnya semua bentuk pengajaran si guru masih terpaku pada cara kaku dan belum memacu diri untuk berkembang dan menjangkau siswa lewat cara yang mereka ketahui dan pelajari.
 
Dalam usaha menjangkau siswa-siswa saya, ada beberapa point yang saya temukan. Beberapa diantaranya saya coba bagikan dibawah ini:
 
Bisa dimulai dengan menggunakan social media sebagai pengganti papan pengumuman+.
 
Untuk pengumuman bersifat internal yang melibatkan siswa dan guru mata pelajaran tertentu, buatlah menjadi sebuah pengumuman resmi melalui social media yang melibatkan mereka. Hindari buat pengumuman di facebook atau twitter tetapi belum menginformasikan “username” kita di sana :p . Ajak mereka untuk saling menyebarkan informasi tadi melalui banyak jalur yang memungkinkan bagi mereka.
 
               pengumuman_wm
 
Distribusikan bahan rangkuman melalui situs web, Lakukan Tanya jawab soal melalui socmed.
 
Bahan ajar yang kita sajikan di kelas dapat kembali diakses oleh siswa. Banyak dari kita memulai dengan memberikan “handouts” atau “worksheet” kepada siswa, dilanjutkan dengan memberikan presentasi PPT yang disajikan di kelas dalam bentuk soft copy, mengijinkan siswa mengambil foto menggunakan kamera ponsel pada hasil pelajaran yang tertera di papan tulis, mem-video-kan hasil pembelajaran dari layar papan tulis virtual (seperti contoh ini). Guru tidak perlu merasa bersaing dengan siswa karena bagian yang guru berikan baru sebagian kecil dari apa yang akan siswa kita alami di kemudian hari. Pembekalan untuk mereka bukan hanya dari satu mata pelajaran kita, tetapi ajaklah siswa mengenal lebih banyak hal positif untuk menunjang masa depannya.
 
                moodle
 
bagi worksheet_wm
 
Setelah dipostkan melalui situs web, dan siswa mengulang kembali pelajarannya, maka sediakan waktu untuk sebisanya menjawab soal ataupun materi yang belum dimengerti melalui social media. Di sisi ini, kita melatih siswa, membantu siswa mengasah kecerdasan interpersonalnya di mana salah satunya adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Siswa belajar mengamati dalam forum social media, sudahkah ada pertanyaan serupa yang diajukan temannya kepada kita gurunya, memahami maksud dengan cepat untuk 140 karakter tulisan saja, jika ada teman yang ikutan bertanya dan masih salah interpretasi soal maka dirinya tergerak untuk menjawab dan membantunya.
 
Dengan melakukan hal inipun, guru ikut belajar dan (semoga) makin mengenal pribadi siswanya. Saya mengalami siswa yang sangat terbuka di depan public social media untuk bertanya dan merespon apa adanya, tapi saya juga mengalami pribadi siswa yang cenderung tertutup mengungkapkan pertanyaan di public karena mungkin kurang nyaman, atau nanti ketahuan, lalu siswa tetap berinisiatif mengontak saya secara personal. Sebisa mungkin pula, saya mengajarkan kepada mereka bahwa forum tanya jawab di social media justru bisa menjadi lebih positif karena siswa terasah secara social untuk beradaptasi, mencermati pembicaraan yang telah terjadi maupun yang sedang dan akan terjadi. Jika ada siswa yang merasa malu atau tidak percaya diri, sangat wajar. Tugas gurulah yang mampu membaca situasi dan membantu menjembataninya.
 
CapsMeirry_wm  capsOliv_wm
 
 
                                 saling sharing di socmed_wm
 
Lakukan Quiz online dengan berkali kali kesempatan menjawab.
  
Jika seorang guru kebetulan sudah menggunakan kelas online, coba lah untuk menjalankan quiz dengan kesempatan lebih dari sekali untuk menjawab pertanyaan pada quiz online. Ragukah guru melakukan ini? Masing-masing guru rasanya memiliki argumen yang berbeda. Tapi mungkin ini bisa menjadi salah satu kiat. Memberikan kesempatan mengerjakan soal pada menu quiz online di kelas online lebih dari satu kali, berarti membantu siswa belajar lebih banyak dari biasanya. Jika guru dapat menyiapkan feedback dari setiap persoalan yang ditampilkan, maka siswa menjadi lebih belajar lagi menemukan kesalahannya di mana dan setelah dia mengerti dari feedback yang disediakan, siswa merasa terpacu untuk menerima tantangan kedua yakni kesempatan kedua untuk kembali mengerjakan quiz online. Tentu saja tips ini bukan selalu harus seperti ini, bisa saling dikombinasikan dengan cara lain. Guru harus memiliki niat positif bahwa siswanya akan mau belajar secara mandiri,  jauhkan dulu rasa cemas bahwa itu akan membuat siswa malas karena menunggu jawaban, karena hasil utama dari quiz dengan kesempatan berkali-kali bukanlah nilai, tetapi proses dan pembentukan mental.
 
     dua kali attempt_wm
 
Unggah hasil kerja anak, baik foto maupun file kerjanya dalam situs social.
 
Salah satu bentuk apresiasi guru kepada siswa adalah menghargai hasil kerjanya. Hasil kerjanya beragam, dapat berupa “project” , PR (Pekerjaan Rumah) bahkan kegiatan belajar di kelas. Jika hasil kerja mereka kita abadikan dengan cara mengunggah di situs web ataupun social media, maka hal ini bisa membangun rasa percaya diri siswa akan apa yang sudah dia lakukan.
 
    karyasiswa1_wm   Jennifer_wm
 
Guru tidak harus secanggih siswa dalam penggunaan, tetapi harus aktif dan berani belajar.
Akhirnya sebuah ungkapan guru juga pelajar :), bukan seorang yang harus menguasai semuanya. Percayalah bahwa rekan siswa kita bisa menjadi jauh lebih canggih karena mereka memang datang dan lahir di era ini. Adaptasi mereka menjadi jauh lebih mulus dari pada para orang tua dan guru mereka sendiri. Mengajak siswa menjadi warga dunia digital. Tetapi bagaimana mereka bisa terdidik sebagai warga dunia digital kalau guru mereka membentengi dirinya tidak mau terjun di sana, tidak mau mencoba menggunakannya dengan beribu alasan. Cobalah menjadi terlibat dan bukan sekedar update status, tetapi gunakan dalam pembelajaran mereka.
 
* Berikut contoh sampel dari saya sebagai gurunya X_X dan mereka yang masuk kategori sangat baik:
 
                             contoh rumah saya_wm
 
karyasiswa3_wm   karyasiswa4_wm
 
karyasiswa2_wm
Atau jika ingin membaca cerita investigasi ala matematika (binary number) dapat diklik pada link berikut: HOMICIDE STORY
 
Terbentur dengan tidak mampu? Berani belajar, itu salah satu kata kuncinya. Berani aktif, berani mencoba, dan tidak menganggap siswa sebagai ajang bersaing kecanggihan (karena itu akan sia-sia), maka rekan guru akan lebih mudah beradaptasi dan membantu memacu  kita belajar, baik akademis sekaligus non akademis.
Semoga!!

Belajar Berpikir Kritis

Dalam sebuah forum pengembangan profesi yang saya ikuti beberapa waktu lalu, kami membahas tentang pemikiran kritis menurut artikel Daniel Willingham yang berjudul Critical Thinking: Why is It Hard to Teach yang dimuat dalam American Educator Journal edisi musim panas 2007. Saya pikir hasil bahasan itu menarik untuk dibagikan kembali, apalagi dengan segala pembahasan mengenai “kepatuhan” yang dibawa “calon” Kurikulum 2013 serta budaya umum kita yang saya anggap masih kurang diisi pemikiran kritis.

Pembahasan kami dimulai dari pertanyaan: Apakah berpikir kritis adalah suatu ilmu yang bisa diajarkan kepada peserta didik? Puluhan tahun riset kognitif mengemukakan jawaban yang mengecewakan yaitu “tidak pasti”.

Dalam artikelnya Willingham menulis bahwa berpikir kritis menurut ilmuwan kognitif adalah:

  • penalaran
  • membuat penilaian dan keputusan
  • penyelesaian masalah

Jika kita perhatikan, anggapan diatas agak berbeda dari anggapan orang awan tentang berpikir kritis

  •  Kemampuan melihat kedua sisi dari sebuah permasalahan.
  • Terbuka untuk bukti baru bahwa ide seseorang tidak kuat atau tidak tegas.
  • Penalaran tanpa perasaan
  • Klaim dan meaning harus didukung oleh bukti
  • Menyimpulkan kesimpulan dari fakta-fakta

Dengan bahasa yang lebih membumi lagi, khalayak umum merangkumkan dalam Wikipedia bahwa Berpikir Kritis adalah penalaran reflektif tentang keyakinan dan tindakan. Suatu cara untuk memutuskan apakah klaim selalu benar, kadang-kadang benar, sebagian benar, atau salah. Berpikir kritis dapat ditelusuri dalam pemikiran Barat dengan metode Sokrates Yunani Kuno dan, di Timur, ke Buddha kalama sutta dan Abhidharma. Berpikir kritis merupakan komponen penting dari kebanyakan profesi. Ini adalah bagian dari pendidikan formal dan semakin signifikan sebagai kemajuan siswa melalui universitas untuk pendidikan pascasarjana, meskipun ada perdebatan di kalangan pendidik tentang makna yang tepat dan ruang lingkupnya.

Mengajar siswa berpikir kritis bukanlah hal yang baru, tetapi walau begitu, dengan definisi di atas, mengajar berpikir kritis tetaplah sulit.

Beberapa strategi mengajar siswa untuk berpikir kritis adalah:

  • Bukan mengajarkan secara khusus dalam program special
  • Berpikir kritis sebaiknya diajarkan dalam konteks mengajarkan bersama dengan mata pelajaran lain
  • Guru perlu sadar bahwa berpikir kritis bukan hanya ditujukan untuk siswa yang memiliki talenta lebih saja
  • Pengalaman siswa menawarkan hidangan konsep-konsep yang kompleks
  • Dalam mengajarkan siswa berpikir kritis, buatlah mereka mengaitkan dari faktor eksplisit dan latih mereka di sana.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengembangkan pemikiran yang lebih kompleks adalah Frayer Diagram yang sebenarnya adalah alat pengembangan kosakata. Berbeda dengan pendekatan pengajaran yang hanya berdasarkan pada satu definisi, model ini membantu untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang konsep-konsep yang kompleks. Siswa mengidentifikasi tidak hanya pada sesuatu yang benar dan diketahui saja, tapi juga pada sesuatu yang salah dan belum diketahui. Pusat diagram memperlihatkan konsep yang ditetapkan, sedangkan kuadran sekitar konsep digunakan untuk memberikan rincian.

Bagaimana jika kita mencoba melihat cara mengkritisi cara berpikir? Sebagai guru mata pelajaran, yang amat menarik perhatian saya adalah penggunaan pendekatan “Enam Aspek Pemahaman yang Terencana” (penjelasan, interpretasi, empati, pengetahuan diri, aplikasi, perspektif / six facets in UBD).

Berikut ini adalah contoh-contoh usaha berpikiran kritis dengan menggunakan Frayer diagram atas konsep Enam Aspek Pemahaman yang Terencana dari perspektif mata pelajaran Bahasa Inggris, IPA dan Matematika.

penjelasan_DF interpretasi_DF

empati_DF  pengetahuan diri_DF

aplikasi_DF   perspektif_DF

Semoga materi ini dapat membantu para pembaca mencoba menggali lebih jauh bagaimana mengajarkan Berpikir Kritis. Jika ada bagian dari materi diatas yang terlihat tidak asing lagi, mungkin juga memang sebenarnya para pembaca sudah mempraktekannya selama ini tanpa menyadari bahwa hal itu merupakan kerangka berpikir kritis. Bagi yang sudah, selamat terus berkembang, dan bagi yang menemukan hal baru, selamat mencoba!

Dengan berpikir kritis, kita belajar, untuk belajar. Semoga Bermanfaat!