Zaman Now

Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun diucapkan dalam sebuah percakapan.

Setelah itu, seperti biasa, banyak deh semua kejadian dihubungkan dengan istilah “jaman now”, seperti “kids jaman now’, “emak-emak jaman now”, “guru jaman now” dan lain-lain.

Saya mau berpendapat soal jaman now ini. Sebenarnya sih menurut saya, setiap masa, setiap generasi, setiap periode tertentu, pasti ada perbandingan antara yang lalu dengan yang sekarang. Biasa saja. (Kurang seru nih, saya tidak kekinian, jaman now itu “happening” lho, masak saya anggap biasa-biasa saja….hehe).

Membandingkan untuk mencari kelebihan, itu wajar kok. Pastilah terucap, semodel “lho kok sekarang lebih enak ya”, “dulu itu ya bersih deh sungainya”, “sekarang enak lho ada rumah lapis, eh kue lapis lezat”. Wajar kan?

Nah, yang kadang berlebihan pada saat membandingkan adalah penggunaan ungkapan “jaman now” yang kesannya mewakili dulu baik dan sekarang buruk. Bukankah kita semua akan mengalami fase perubahan dulu dan sekarang? Manusia sering lupa bahwa fase sekarangnya adalah kelanjutan dari dulunya. Dulu dia tidak mengalami lalu sekarang melihat kok ada yang mengalami dan itu harus dihindari, maka muncullah “anak jaman now kok suka clubbing, dulu mah kita main volley”. Ya kamu main volley, yang clubbing dulu juga banyak, kalau nggak, mana ada dulu Lipstick (ups, ketauan umur).

Anak remaja usia 16 tahun. “wah itu anak SD sekarang gayanya sok tua amat ya, berani lawan anak SMA, dasar anak jaman now”. Nah dulu kalian SD, merasa sudah besar belum? Lalu kalau anak SMA nya nakal, kalian sebagai anak SD tidak boleh melawan untuk kebenaran?

Ibu-ibu yang memiliki anak remaja. “Aduh Nak, kamu kok malas ya tidak mau belajar, main hape melulu. Dulu mama ini, belajar terus, kamu tuh ya anak jaman now, maunya enak saja…..” Mama, dulu mama kecil tidak ada hape soalnya, lalu sekarang mama punya hape yang diberikan secara sadar kepada anaknya (kecuali anaknya mencuri atau beli sendiri), mama suka belajar karena mama memiliki sifat itu, anak mama sekarang belajar juga(kadang baca dari hape sambil chat say hello dengan gebetan), anak mama memilih belajar yang dia sukai. Mama kesal? Iya wajar, sayapun maklum sekali. Tetapi yuk coba rasa kesal kita, kita bawa ke hal lain agar si anak remaja ini lebih menghargai waktunya.

Media gosip memberitakan artis yang diduga menjadi perusak rumah tangga orang lain. “Itu artis J, gak tahu malu ya, artis jaman now…….”. Ada yang dulu masih bayi berarti tidak dengar gosip mobil menabrak tembok rumah mewah 🙂

Bapak ibu Guru pusing melihat siswanya tidak belajar. “Aduh, anak jaman now, tidak bertanggung jawab dengan sekolah. Besok ujian, malah jalan-jalan ke mall dan di kelas tidak gigih berpikir untuk menjawab soal malah bobo”. Iya betul, ada yang begitu. Introspeksi kita apa? Hanya menyalahkan karena mereka anak jaman now, hidupnya keenakan dari lahir? Sementara kita melihat bahwa sistem pendidikan sekolah kita juga ada beberapa makin ngawur? KKM dibuat setinggi mungkin demi nama keren sekolah. KKM sekolah banyak yang 75 lho. Hebat kan. Lalu guru membuat soal ujian yang hebat sampai satu angkatan kelas harus mengulang karena terlalu banyak yang gagal? Sekolah yang efektif katakanlah 5 bulan, ada segala rupa ujian wajib bernama UTS, UAS/PAS. Ujian masih bersifat tertulis. Pelajaran tidak relevan bagi anak-anak. Banyak pelajaran harus dihapal mati. Dan jika siswa menjawab tidak sesuai kunci jawaban langsung salah pula.

“Murid jaman now, nyonteknya canggih”. Maksudnya mungkin bapak-ibu guru dulu kebetulan tidak suka mencontek dengan canggih tetapi hanya salin PR 🙂 hehe…. Bapak ibu tidak pernah mendengar cerita mencontek massal satu angkatan demi menghapal butir-butir Pancasila kan? Dulu belum lahir atau masih balita mungkin 😉

“Anak jaman now kurang tanggung jawab, terlalu dimanja dari lahir, semua-semua dipenuhi, hidup ini keras, kapan mau belajar?”. Pak, Bu, waktu lahir, bayi, anak kecil, bapak ibu tidak dimanja orang tuanya? Jika orang tua bapak ibu sanggup dengan finansialnya, bapak ibu pun bahagia dengan dipenuhi berbagai kebutuhan dan sedikit kemewahan kan? Bapak Ibu kecil dulu tahu kalau hidup bakalan keras? dulu makan kue batu? Periode per periode usia kita lah yang membawa kita lebih dewasa (semoga), lebih tahu, lebih bijak karena kita lebih dahulu mengalami berbagai persoalan dalam hidup. Kan kita lahir duluan. Dan lagi, bapak ibu guru bicara ini seperti menyalahkan orang tua, bapak ibu sudahkah jadi orang tua? Sudah sempurnakah gaya mendidik kita yang kebetulan menjadi guru ini terhadap anak-anak kita sendiri? Nanti guru-guru anak kita menyatakan hal yang sama, siapkah kita bapak ibu? Jadi tenanglah, manusia selalu memiliki masa / periode nya masing-masing 🙂

Jadi karena kita ada di periode sekarang, melihat yang terjadi sekarang, jika bukan bercanda, kurangilah membandingkan anak-anak sekarang dengan yang dulu kita alami. Beda. Dan tidak selalu relevan.

Contoh alat bantu mengajar saya jaman old dan jaman now 😉
                               

Mengapa OHP? Dulu tersedia di kelas.

Mengapa Apple TV? Tersedia Projector HDMI di kelas dan jaringan wifi.

Dua era yang berbeda bukan?

Sekolah Idaman

Definisi Idaman menurut kamus Bahasa Indonesia online adalah sesuatu yang dicita-citakan.
Jadi kalau sesuatu hal yang menjadi cita-cita kita, tentulah sah saja jika diidamkan sesuai yang diinginkan.

Kadang saya merenung memikirkan apa yang menjadi cita-cita Ki Hajar Dewantara. Ya memang, sudah terlalu banyak yang mengklaim menjadi sejarah tentang cita-cita beliau terhadap pendidikan bangsa ini.
Tetapi apakah ada hal yang tak tersebutkan selain yang diutarakan oleh para pengarang buku sejarah tersebut?

Seiring dengan bertambahnya tahun, berkembangnya jaman, bertambahnya jumlah manusia, maka, persepsi, paradigma, pola pikir, mendefinisikan sesuatu, juga sudah tentu menjadi semakin beragam.

Contohnya mungkin datang dari diri saya sendiri. Saya ingin menuangkan paradigma sendiri akan semboyan Ki Hajar Dewantoro yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Di depan memberi teladan.  Teladan apa yang sudah kita berikan kepada siswa? Pernahkah sebagai guru ikutan mengerjakan project bersama mereka? Merasakan apa yang harus mereka lakukan dan kerjakan? Atau malah, lho, kita kan yang memberi project itu, mengapa kita yang harus pusing-pusing mengerjakan? Pernahkah sebagai guru menunjukkan diri sebagai guru yang terus menjadi seorang pembelajar? Atau malah berbangga hati telah menjadi seorang guru dan merasa sebagai pusat pembelajaran?

Di tengah memberi semangat. Pada saat siswa sedang berproses dalam belajarnya, apakah kepercayaan diri mereka terbangun oleh kata-kata kita, oleh gaya evaluasi kita terhadap mereka? Atau malah justru kita patahkan dengan memberikan soal-soal yang mereka tidak mampu kerjakan, kata-kata pedas / sindiran yang membuat mereka takut bertanya. Seberapa besar konsep kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan bisa dipahami oleh sang guru jika si guru hanya menginginkan nilai tes siswanya memenuhi kkm saja?

Di belakang memberi dorongan. Mendorong siswa makin menyadari bahwa sebagai manusia, sepanjang hidupnya harus dipenuhi dengan ragam belajar. Belajar dengan gembira. Anak-anak perlu dibantu pemahaman bahwa belajar adalah sebuah proses. Ketika menghadapi sesuatu hal dan kita mengabaikan proses, maka dengan mudah kita cepat menyerah, dan mengabaikan kemampuan kita sendiri untuk berpikir lebih dalam dan menganalisa persoalan tersebut.

Pertanyaannya kemudian adalah, di mana anak-anak dapat menemukan tempat belajar yang dapat membuat mereka menyukai belajar tadi? Di rumah? Atau di sekolah? Sekolah selayaknya menjadi tempat yang menyenangkan bukan? Namun nampaknya sekolah lebih cenderung sebagai tempat pendidikan formal belaka. Formal untuk mendapatkan sertifikat menyelesaikan jenjang tertentu.

Sekolah sebagai Taman Siswa, nampaknya hanya terjadi di sekolahnya Ki Hajar Dewantara. Bagaimana dengan sekolah di sekitar kita sekarang? Taman yang sekarang lebih identik dengan Taman Kanak-Kanak. Jadi kalau sekolah berbasis taman, apakah hanya akan dianggap kekanak-kanakan? Mendidik anak menjelang remaja harus keras, disiplin, bukan seperti terhadap anak TK. Benarkah demikian? “Raising Teenagers: Protect when you must, but permit when you can” demikian satu artikel dari NYT yang menarik tentang mendampingi remaja.

Jika saya masuk ke dalam mesin waktu dan terjatuh di ruang usia 13-18 tahun, kira- kira akan seperti apakah sekolah idaman bagi saya?

Tempat yang nyaman untuk belajar. Sebagian waktu saya akan dihabiskan di sekolah. Saya ingin belajar segala macam hal, belajar bagaimana cara belajar, bukan belajar untuk tes saja. Belajar mengungkapkan pendapat sendiri, belajar mencari literatur yang benar, belajar menuangkan ide berdasarkan teori yang sudah ada bahkan kalau saya memiliki talenta kepintaran yang luar biasa mungkin saja saya belajar menemukan teori baru 🙂 .

Dari web www.futurefocusvet.blogspot.com
Dari web www.futurefocusvet.blogspot.com Gambar di atas menunjukkan sebuah lingkungan pembelajaran yang modern – sebuah contoh bahwa semua sekolah di NZ sedang dibangun seperti ini.

Tempat yang menyenangkan untuk bermain. Bermain berbagai permainan baik tradisional maupun modern. Menggabungkan berbagai cara bermain dengan belajar.

Tempat mengenal banyak teman sebaya dan dewasa (guru-gurunya, staf sekolah, para pekerja pendukung keberhasilan sekolah). 

Tempat yang bukan hanya akan menilai saya pada saat tes saja. Lalu mendudukan saya di peringkat-peringkat tertentu.

Tempat yang akan membantu saya bertumbuh dan berkembang.

Tempat yang tidak akan pernah menakut-nakuti saya tentang nilai evaluasi pencapaian saya. Karena pencapaian saya dan siswa yang lain adalah refleksi dari sekolah yang menyelenggarakan pendidikan tersebut.

Tempat yang akan membantu dan mendampingi saya menjalani tes standarisasi atas apa yang sudah saya pelajari selama ini. Saya tidak menentang tes standarisasi karena saya menyadari bahwa ruang lingkup belajar kita berbeda, perlu ada setidaknya tes yang standar atas pengetahuan tertentu, apalagi bila selama tes tersebut cukup untuk merefleksikan apa yang sudah saya pelajari selama ini. Dan pihak penyelenggara tes tersebut tidak membuat berbagai peraturan yang tidak masuk akal dan mensosialisasikan sebagai sebuah tes yang super menyeramkan. Guru-guru yang akan membantu saya dan siswa lain belajar, bukan menakut-nakuti dengan anggapan jika ditakuti maka kami para siswa akan belajar.

suksesujiannasional1
Iklan 100% sebenarnya sangat menggambarkan bahwa ujian ini sarat dengan muatan politik. Untuk seorang anak bisa sangat menjatuhkan mental jika gagal lulus dan merupakan penyebab menjadi hanya 99,9% dalam suatu daerah tertentu.

Tempat yang antara siswa dengan guru saling menghormati. Guru tidak merasa sebagai pusat tempat bertanya siswa. Namun guru yang  tampil sebagai fasilitator dan teladan sebagai pembelajar.

image (1)

Tempat yang akan membangun karakter saya (siswa) secara natural. Tidak hanya mencekoki saya dengan ilmu keagamaan, tetapi memberikan contoh dan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah daftar bagaimana sekolah idaman di mata saya, bagaimana dengan anda?

UN oh UN

*Picture from 9GAG.com/GAG/5275652

UN berganti peran. Dari penentu kelulusan menjadi alat pemetaan kemampuan siswa. Sesuai putusan pemerintah melalui Mendikbud tanggal 29/12/14. Menteri mengatakan bahwa penentu kelulusan adalah kebijakan sekolah yang bersangkutan.

Selama ini, di Indonesia, memang selalu berlaku standar evaluasi saja (melalui UN) sebagai standar kelulusan siswa (lingkup kecil) dan indikator keberhasilan pendidikan (lingkup besar). Sementara masih ada tujuh standar keberhasilan pendidikan yang lain, meliputi:
1. Kompetensi lulusan
2. Standar isi
3. Standar proses belajar
4. Standar pendidikan dan tenaga kependidikan
5. Standar sarana dan prasarana pendidikan
6. Standar pengelolaan
7. Standar pembiayaan pendidikan.

Jadi idealnya, memang dalam mengevaluasi siswa itu bukan hanya mengandalkan dari evaluasi di ujungnya saja, tetapi juga banyak faktor lain. Akibat jika hanya mementingkan di ujungnya saja, maka banyak sekali model dan metoda belajar di sekolah yang tak beda dengan hanya sebuah “bimbingan belajar”.

Lalu jadinya apakah maksud dari UN tidak lagi sebagai standar kelulusan?

UN (ataupun UAN, ataupun Ebtanas) di mata saya.

Anak-anak dari kota besar (Jakarta contohnya), mungkin harusnya menyikapi UN bukan sebagai masalah, meskipun sebagai standar kelulusan. Jika dibandingkan dengan anak-anak dari daerah terpencil yang mau pergi sekolah saja harus menempuh jarak yang sulit, tenaga pendidik dan pengajar yang kurang, media belajar yang kurang, maka kinerja anak-anak tersebut dalam sebuah ujian berada jauh di bawah dari perkotaan. Di sinilah, saya merasa UN tidak dapat dijadikan sebagai standar kelulusan semata, tidak adil.

Jika siswa dari Jakarta tidak lulus, bisa jadi karena memang si siswa tidak belajar, malas belajar dalam kelasnya sehari-hari. Jangan semua disamakan dengan siswa yang “sial” tidak lulus karena nilai UN nya di bawah standar padahal kinerja hariannya siswa predikat juara. Yang kasus kedua inilah, justru yang harus makin membuat kita menyetujui bahwa janganlah menjadikan UN sebagai satu-satunya standar kelulusan siswa.

Namun sebaliknya, jika siswa dari daerah pedalaman, dengan segala kekurangan kelengkapan belajar tadi, dinyatakan tidak lulus karena gagal UN, maka kita bisa sekali dengan mudah menjatuhkan mental anak-anak tersebut (bahkan mungkin orang tuanya) yang akhirnya tidak mempercayai sekolah. Dalam benak mereka, untuk apa capai-capai menempuh perjalanan setiap hari ke sekolah, untuk apa iming-iming program “Ayo Sekolah” yang diharapkan mampu memperbaiki taraf hidup mereka kelak, jika akhirnya tidak lulus oleh sekali ujian, lalu tidak punya ijasah.

Namun di sisi lain, entah dimulai dari kapan, banyak sekali masyarakat di perkotaan, mencakup dinas pendidikan, sekolah, bahkan guru sekalipun menyiapkan mental para siswa bahwa ujian ini super sulit dan menentukan sekali kelulusan siswa dari suatu jenjang, tentu saja jenjang SMA paling “mengerikan” plus tahun kemaren dipakai sebagai syarat masuk PTN.

Bentuk “ketakutan” tersebut menjadi beragam. Ada yang wajib ikut bimbel (baik di dalam maupun luar gedung sekolah), katanya belajar trik, trik menjawab soal UN, belajar “past paper” sampai hapal. Selama soalnya ditetapkan hanya pilihan ganda, bagaimana bisa yakin membuat siswa belajar “content”, memahami soal terlebih dahulu, lalu berpikir kritis bagaimana menjawab soal tersebut. Ekstrimnya, dengan pilihan ganda, siswa cukup menebak pilihan a sampai d (atau kalau di SMA sampai pilihan e). Di beberapa daerah selain Jakarta, saya banyak membaca melalui media tentang adanya ritual doa-doa agar siswa dimudahkan jalannya dan tentu saja agar lulus. Ada lagi pendistribusian soal dari pusat ke daerah-daerah yang didampingi aparat keamanan negara (wow banget kan?).

Ada satu contoh pengalaman pribadi, sewaktu mengikuti PLPG. Beberapa guru saling sharing tentang UN. Ada seorang yang jujur mengatakan bahwa dia “berjuang” mendapatkan kunci jawaban jam 4 subuh “demi” para siswanya. Inipun atas “instruksi” kepala sekolah. Saya ingat kata-katanya ” ya, bagaimana ya, tugas kita bantuin anak, itu anak kita, kalau kita tidak usahain, lalu tidak lulus, kita juga kena dari atasan, bikin malu sekolah ada siswa tidak lulus. Ibu-ibu pasti ngerti kan gitu, Ibu Hedy sih enak ngajarnya di sekolah anak pintar dan kaya (sambil menunjuk saya), kalau kami, sekolah kecil, anaknya bandel-bandel (seperti minta pembenaran)”.

Tidak perlu dibahas kan? Silahkan pembaca menerjemahkan sendiri 🙂 Yang lebih miris adalah, saya dengar itu di acara pelatihan sertifikasi guru, dan hanya bisa menarik napas dan berguman “yaaa kenapa saya di sini ya?”

Berbagai Harapan Serta Masih Banyaknya Pertanyaan untuk UN 2015.

Setelah pak Anies Baswedan resmi memutuskan UN sebagai pemetaan pendidikan bukan sebagai standar kelulusan apalagi standar masuk PT, banyak pro dan kontra yang mengikutinya.

Tidak perlu membahas bagian yang pro, terutama bagian yang sebagai standar kelulusan, karena saya merupakan salah satu nya 🙂

Yang kontra, antara lain membahas tidak adanya standar secara nasional, bagaimana pendidikan di daerah pedalaman bisa maju jika tidak ditarik standar ke pusat/nasional. Agak terbalik logikanya menurut saya, justru itulah maka dibuat menjadi pemetaan.

Untuk apa mempertahankan UN yang bahkan makin tahun makin menunjukan kemustahilan juga kebohongan. Nilai sekolah di tahun 2014 lalu harus 70%, nilai UN asli harus 30%. Tapi nilai sekolah harus disetorkan ke dinas setempat, entah dari dinas kemana lagi, saya tidak begitu tahu prosedurnya. Berlomba-lomba sekolah “mempercantik” nilai sekolah para siswanya (bahkan cerita seorang rekan kepala sekolah bilang pada saat melapor nilai siswanya 50, “diminta dengan hormat” oleh dinas setempat untuk diubah menjadi 60, atau tergantung kkm terendah saat itu). Pendidikan sudah masuk ranah politik. Makin tinggi nilai siswa, makin tinggi kelulusan, makin besar peluang dinas pendidikan daerah mempertahankan posisinya bahkan naik tingkat.

Jika UN dijadikan sebagai sarana pemetaan pendidikan di Indonesia, sementara lulus tidaknya para siswa ditentukan oleh sekolah masing-masing, apakah perlu setiap tahun dilakukan UN dan diambil oleh seluruh siswa kelas 6, 9 dan 12?

Apakah sekolah-sekolah akan lebih percaya diri untuk menyelenggarakan ujian sekolahnya sendiri, tidak perlu kuatir “dikejar-kejar” aturan dari dinas. Karena kalau sudah menyangkut dinas, sekolah bisa tidak enak hati kalau tidak mengikuti kemauan mereka (sering dengar alasan ini 🙂 ). Atau saya bisa ikut bantu memberi semangat sekolah untuk “ayo para pengelola sekolah, kalian bisa melakukan ujian kalian sendiri, kalian punya standar sendiri asal benar dan jujur serta bertanggung jawab”. Atau memang sudah tidak ada lagi “jujur” tadi? Entahlah…..

Jika BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) katanya telah merangkum aturan UN yang baru, apakah akan sama saja perlakuannya seperti yang lalu? Misalkan, tetap ada ujian sekolah yang diseragamkan dalam hal kisi-kisi? Sehingga sekolah yang mengadaptasi tambahan kurikulum dari negara lain ujungnya pun melakukan sekolah kilat di jenjang kelas 9 maupun 12 untuk materi mata pelajaran yang ada di Indonesia sesuai kurikulum nasional? Karena jika benar bernama Ujian Sekolah, maka adalah sah harus topik yang sekolah tersebut tawarkan kepada para siswanya.

Tahun 2014 lalu, UN juga sebagai penentu masuk PTN, SNMPTN digantikan dengan hasil UN, sebagian ditentang, sebagian tetap ada yang pro. Alasan kontra rasanya lebih kepada logika bagaimana menilai performance seorang siswa jika hanya ditestkan secara pilihan ganda, siswa tidak diminta berpikir “higher order thinking” tadi.

Kalau hanya sebagai SNMPTN, siswa yang tidak ingin masuk PTN, logikanya tidak perlu mengambil UN bukan? Atau mungkin memang semua siswa diharapkan bersaing dulu di jenjang PTN baru dialihkan ke swasta 🙂

Sekedar pengalaman pribadi dulu sewaktu saya masuk ke Universitas swasta, bahkan sebelum Ebtanas, saya dan ratusan teman dari berbagai sekolah telah diterima dan resmi telah membayar sebagai calon mahasiswa dari Universitas tersebut. Hasil NEM hanya disisipkan sebagai dokumen pelengkap saja.

Jadi, tidak heran banyak siswa dan orang tua makin bingung, jadi ambil UN untuk apa? Apakah sampai sekarang jika ingin masuk PT swasta tetap harus menyisipkan hasil UN nya? Dengan alasan mengacu kepada UU yang mewajibkan semua siswa WNI wajib mengambil UN untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya seperti ke PT?

Habis di Indonesia ini agak aneh, siswa yang SD nya tidak memiliki ijasah dari mengikuti UASBN (atau apapun sebutannya setara Ebtanas jaman dulu atau UN kini), dia tidak dapat mengikuti UN di SMP, dan lanjut tidak dapat mengikuti UN di SMA, sehingga tidak memiliki ijasah nasional, maka siswa bersangkutan konon tidak dapat kuliah PT terutama di dalam negeri. Padahal jika siswa ini sekolah formal terus, berpindah dari luar negeri, usianya cocok di tempatkan di SMP, harusnya dia tetap berhak mengikuti UN SMP ataupun SMA, dan berhak melanjutkan ke PT di Indonesia. Rumit 🙁

Andai UN adalah sebuah ujian standar skala nasional yang hasilnya benar dapat dipertanggung jawabkan dan dapat diambil oleh siapapun siswanya yang berkepentingan dan telah memenuhi persyaratan jenjang pendidikan tertentu.

Andai UN adalah ujian yang ditekankan sebagai salah satu syarat untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya namun bukan digeneralisasi harus semua siswa ambil, tetapi diambil karena siswa sadar dan tahu fokus belajarnya ke arah mana. Konsekuensinya jenjang pendidikan di atasnya benar harus transparant akan menyeleksi siswa dari hasil UN, bukan sekedar atas faktor kejar-kejaran cari murid, penerimaan siswa telah berlangsung, administrasi pembayaran telah berlangsung namun si siswa yang bersangkutan ujian saja belum.

Andai UN adalah ujian berstandar nasional yang tidak perlu diperlakukan seperti selama ini. UN sama seperti ujian yang dilakukan oleh sekolah. Jangan jadikan hasil UN untuk kepentingan sekolah dan dinas semata tetapi pakai UN untuk mengevaluasi siswa apa adanya. Tidak perlu menekan siswa dengan mengatakan UN adalah satu-satunya ujian terpenting dalam hidup mereka. Menekan lalu menakuti. Lebih berharga jika bukan menakuti melainkan menyemangati siswa bahwa tes ini sebagai proses dalam hidup mereka, terlebih tes ini berdasar sebuah standar, malah siswa dapat mengukur kemampuan mereka terhadap tes yang distandarkan berdasarkan jenjang pendidikan yang telah mereka tempuh.

Dan andai-andai yang lainnya……

Jadi akan bagaimanakah UN mulai tahun 2015 ini? Kita lihat saja perkembangan selanjutnya 🙂

Additional Mathematics – Pilihan Kelas Siswa Pintar (kah?)

imageHampir 18 tahun menjadi guru matematika sekolah menengah pertama dan atas, ini menjadi tahun pertama saya menjalani tugas mengajar di kelas “Additional Mathematics”, sebuah kelas dari program Cambridge Curriculum. Dengan silabus yang telah disiapkan secara detil oleh mereka, kami para guru seperti biasa menjadi lebih mudah dengan mengikuti silabus dan skema kerja yang sudah rapi, dan kami hanya melakukan penjadwalan pembelajaran ulang mengikuti jadwal sekolah, yang dikenal dengan “lesson plan”.

Cambridge International Exam, menyediakan exam di kelas 10 (upper Secondary), dengan pilihan banyak mata pelajaran, salah satunya adalah Additional Mathematics (A-Math), yang konon diminati karena menunjukkan “kebanggaan” sekaligus “kemudahan”. Additional berarti tambahan, maka banyak materi yang ditambahkan dan lebih mendalam dibanding kelas matematika normal. Kebanggaan, karena dengan mengambil kelas ini, sudah menunjukkan punya dasar hitung matematika yang baik, konon pintar matematika cenderung pintar akan hal-hal yang lain. Kemudahan, karena konon jika ingin melanjutkan pendidikan di universitas unggulan yang berhubungan dengan jurusan teknik maka makin dipermudah dan memiliki peluang lebih besar.

Apakah benar? Menurut saya? Bisa jadi benar, tapi sangat tidak mutlak 100 persen.

Jika seorang siswa memiliki pengetahuan dasar hitung matematika yang baik, plus dia tetap rajin belajar dan mempertahankan ketekunannya tersebut, sudah pasti tidak akan mengalami kesulitan yang berarti pada saat mengambil kelas ini.

Sebaliknya, jika siswa masuk dalam kategori pengetahuan dasar hitung matematika yang  biasa-biasa saja tetapi punya niat dan semangat yang kuat dalam belajarnya, dia juga memiliki peluang berhasil lulus di mata pelajaran ini yang hampir sama dengan yang disebut duluan  di atas.

Namun yang perlu diingat, siswa tidak perlu berkecil hati jika tidak memiliki kemampuan luar biasa di dalam problem matematika. Ingatlah bahwa problem dalam kehidupan nyata memiliki banyak jenis dan variabel. Kecerdasan bernalar siswa bukan hanya dinilai dari kemampuan berhitungnya saja.

Terlepas dari masalah penalaran tadi, dengan keragaman variasi berhitung yang jauh lebih banyak, siswa yang masuk kategori tidak cerdas secara matematis tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti pembelajaran dan ujian di kelas ini. Ada kelas matematika dasar untuk level usia kelas 10 normal, yang juga sudah menyesuaikan tingkat kemampuan siswa, dengan dibagi lagi sebagai “core” (basic) dan “extended” (advance).

Permasalahan selalu terjadi pada pola pikir. Pola pikir orang tua yang ingin anaknya diterima di universitas ternama yang memberikan standar harus memiliki nilai dari A-Math. Lingkungan anak sendiri yang sesama teman saling gengsi, anak pintar matematika lebih favorit dan banyak teman. Dan yang paling menyedihkan mungkin datang dari sekolah sendiri yang  memiliki program jika siswa mengambil kelas pelajaran fisika dan kimia berarti sudah harus sepaket dengan A-Math. Kelas nomor satu 🙂

Sayapun mengamati,  banyak rekan guru yang mengajar matematika sering terpaku pada pola “soal susah harus membuat anak menjadi susah”. Dalam definisi saya, soal susah bukan berharap siswa akan kesusahan dan tidak dapat menjawab, tetapi berapapun susahnya soal itu justru memacu siswa untuk mencari solusinya dan mereka tetap bisa jawab.  Justru dengan soal susah itulah, siswa belajar mencari solusi dan tugas kitalah yang membantu membukakan solusinya, memberikan konsepnya, sehingga mereka dapat merekam pola jawabannya, mencampurnya dan menuangkan kembali jika dihadapkan pada soal lain.

Di perjalanan semester pertama ini, saya menerima satu siswa pindahan dari kelas mata pelajaran lain. Dia memiliki alasan bahwa dia menyukai tantangan dan senang berhadapan dengan angka dan walaupun telat akhirnya memutuskan bahwa mata pelajaran A-Math ini lebih cocok baginya dibanding bidang bisnis. Singkat cerita bergabunglah siswa ini di kelas saya dan saya setuju, siswa ini memiliki kecocokan bergabung di A-Math. Siswa yang cerdas, cerdas memilih yang tepat bagi dirinya dan yang terpenting anak ini bahagia dengan pilihannya.

Sementara di sisi sebaliknya, dua siswa di kelas saya, mengundurkan diri, dengan alasan yang kurang lebih sama, tidak mampu terus menerus berhadapan dengan angka, hitungan, rumus, aplikasi, dan semua kombinasinya. Satu dari dua siswa itu harus berhadapan dengan orang tuanya yang masih menaruh harapan agar tetap mengambil A-Math demi kemudahan memasuki universitas yang akan dituju nanti. Lambat laun, orang tua pun mengerti dan sangat mendukung sang anak. Sayapun bangga dengan anak ini, dia bisa menceritakan kesusahannya bergelut dalam belajar, berusaha mencari solusi, tiap hari sampai rumah jam 7 malam untuk pelajaran tambahan, tetapi yang terjadi, otaknya tidak sanggup menerima sebanyak itu, A-Math tetap “struggle”, pelajaran lain keteteran, merasa tertekan. Usia 14 tahun harus hidup setertekan itu? Tidak ada kegembiraan belajar lagi. Jadi saya sangat mendukung keputusannya dan percaya bahwa anak ini akan berhasil suatu hari nanti.

Sebagai siswa, jangan jadikan belajar sebagai beban apalagi jika siswa berada pada posisi diuntungkan dalam arti siswa mendapat kesempatan memilih mata pelajaran yang ingin diambilnya. Ambillah yang cocok dan memberikan lebih banyak peluang untuk bisa dikembangkan di kemudian hari.

Lebih ideal lagi, jika sebagai siswa bisa memahami apapun mata pelajarannya, kalau dijalankan dengan sebaik-baiknya, maka kemungkinan merasa terbeban bisa dihindari. Keuntungan bukan hanya diraih saat ini, tetapi bisa di kemudian hari. Belajar dan bahagia, dua kata bertolak belakang bagi siswa, benar bukan? 🙂

Percayakah sebagai siswa bahwa jika bahagia dengan apa yang kita pelajari maka apapun pelajarannya akan lebih mudah dipahami dan hasilnyapun (semoga) akan lebih baik. Seperti dalam hidup, kurang lebih sama, kita menjalani dan bersyukur, hidup kita senantiasa lebih bahagia.

Siswa juga kadang dihadapkan pada dua sisi, jika percaya diri mengatakan dirinya pintar, kesan pertama adalah sombong, lalu bagi orang tua atau teman beranggapan hal itu bukan disebut pintar tapi curang atau biasa saja. Tetapi jika selalu mengatakan dirinya tidak pintar, secara psikologis makin menghambat dirinya untuk percaya diri bahwa dirinya sanggup.

Karena pintar itu beragam dan setiap orang berhak mendefinisikan kepintarannya jika dibarengi dengan tindakan nyata dan hasil. Pintar berbahasa, pintar mengeluarkan pendapat, pintar mengatur keuangan, pintar menganalisa fakta sejarah, pintar mendisain / menggambar, pintar mengelola tangga nada, pintar dalam berolahraga, pintar  dalam kemampuan interpersonal, pintar memasak, dan segala pintar-pintar positif yang lain.

Kawan atau Lawan?

image

Pengantar

Siapa lawanmu? Siapa kawanmu? Seringkah pertanyaan itu dilontarkan kepadamu? Pepatah bijak seringkali mengatakan bahwa janganlah mengoleksi lawan tapi perbanyaklah kawan. Karena sudah bijak, saya tidak ingin memprotesnya, ataupun mengatakan tidak setuju. Sepakatkah untuk manusia normal ingin memiliki sejumlah kawan dari pada lawan?

Manusia menurut definisi sebagai serupa dengan Tuhan hakikatnya menjauhkan diri dari lawan dan membentuk komunitas kawan yang positif dan saling membangun. Ideal sekali, bukan? Kalau kondisi demikian ideal, saya rasa tidak ada kejahatan di dunia ini, semua manusia kembali kepada kodratnya ingin membentuk komunitas yang baik sebagai mahluk sosial. Tetapi mengapa kenyataan yang kita hadapi nyaris bertolak belakang?

Jikalau kamu ditanya, Palestina itu kawan atau lawanmu? Israel itu kawan atau lawanmu? Apa jawabmu? Serupa dengan pertanyaan Partai mana yang kamu usung? Dia kawanmu?

Apakah kawanmu selalu baik dan berpihak padamu dan lawanmu selalu berkebalikannya?

Bisakah kita tidak memiliki keduanya? Tidak perlu memiliki lawan, kita tidak perlu mencari perimbangan dengan mengorbankan orang lain, atau bertanding hanya untuk kepuasan sendiri. Tidak perlu juga berkata kawan jika mengenal dengan baik saja tidak, melakukan suatu hal bersama juga tidak pernah, hanya demi mengesankan kehidupan sosial yang baik berkata “dia kawan saya, kamu sahabat saya”.

Definisi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, lawan sebagai kata benda berarti imbangan, tandingan, bandingan. Sementara kawan berarti orang yg sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu (contoh bermain, belajar, bekerja).

Contoh mana kawan dan mana lawan

Dari definisi itu, siapa yang suka salah kaprah seperti berikut ini? Rekan kerja sering jadi dianggap lawan padahal kerjaan kita misalkan bagian marketing dan dia bagian finance, tidak imbang. Teman dari kelas lain dianggap lawan padahal jelas tidak imbang karena teman itu kelas 7 dan kita kelas 9. Sesama guru atau guru dengan kepsek seolah saling saingan menunjukkan kepiawaian menjalankan metoda pengajaran, padahal ya tidak imbang, kita guru, dia kepsek, kita guru biologi, dia guru seni musik.

Betul sekali tidak sesimpel itu, ada banyak hal dan faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir seseorang memperlakukan orang lain sebagai kawan atau lawan.

Rekan belajarmu seyogyanya adalah kawanmu. Bila rekanmu ini kemudian hanya memanfaatkan dirimu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sekolah kalian dan tanpa usahanya sendiri tetapi kalian selalu mendapatkan nilai sekolah yang sama, maka rekan ini telah berubah definisi dari kawan menjadi lawan (karena dia menganggap pekerjaan sekolah tersebut mempunyai imbangan, untung rugi, untung jika nilai kalian sama terus dan rugi jika nilainya kalah dengan nilaimu).

Tetanggamu adalah kawanmu karena kalian bersama-sama berhubungan misalnya dalam Rukun Tetangga yang sama atau anggota suatu rumah ibadah yang sama dan mungkin telah lama pula kita kenal. Tapi, secepat itu pula bisa langsung berbalik menjadi lawan jika sang tetanggamu selalu membandingkan rumput halaman rumahmu kok lebih hijau dibandingkan dengan dengan rumput halaman rumahnya (kata “bandingan” tadi sudah menjadi indikasi tetanggamu menjadikanmu lawan). Hmm atau kamu yang menjadikan tetanggamu itu dari kawan menjadi lawan? 🙂

Dalam Pemilu Presiden kemaren, capres 1 dan capres 2 saling menjadi lawan. Berdasarkan definisi, tentu benar, karena mereka sedang bertanding meraih simpati rakyat untuk memberikan suaranya dan suara terbanyak adalah pemenang. Harusnya telah selesai posisi saling menjadi lawan setelah hasil suara akhir KPU menyatakan capres 2 unggul dalam perolehan suara, tetapi seperti kita ketahui, pihak capres 1 masih saja bersikap menjadi lawan……

Bukan kawan apalagi lawan

Pimpinanmu di kantor terlihat sangat dekat denganmu dan selalu menyebut namamu di depan rekan kerja yang lain. Gembiralah, itu pujian untukmu. Tetapi, lihat apa kelanjutannya, jika hari demi hari hanya itu yang terlontar plus berbumbu dengan bualan kamu adalah sahabatnya yang baik, pakai namamu untuk menegur sesama rekan kerjamu, bahkan kamu sebenarnya tidak pernah di”appraisal” dengan baik, pimpinanmu bukan kawan, dia sedang memakaimu sebagai perimbangan dirinya agar terkesan bos yang baik. Dan mungkin saja rekan kerjamu memberi label lawan pada dirimu karena kamu dianggap tidak bersama-sama dalam tim kerja dan juga karena pekerjaan mereka selalu dibandingkan denganmu oleh pimpinan tadi.

Lalu apakah pimpinan yang demikian adalah lawanmu? Bukan juga. Anggaplah dia tetap sebagai pimpinanmu di tempat kerja.

Israel lawanmu? Kamu sedang mengalami perimbangan apa dengan mereka? Tidak ada? Berarti bukan lawanmu. Lalu menjadi kawanmu? Kamu kenal dengan mereka, pernah berhubungan dengan mereka? Tidak pernah? Berarti bukan kawanmu.

Pertanyaan yang sama untuk Palestina. Jangan-jangan Palestina adalah sebuah suku bangsa saja kita tidak paham. Bahwa Palestina bukan Muslim atau Kristen, kita juga tidak tahu sebelumnya.

Menurut hemat saya, bagi yang mengusung atas nama membela satu pihak karena alasan agama yang sama adalah tidak masuk akal.

Kemanusiaan, mengasihi sesama manusia, mahluk yang sama diciptakan oleh Tuhan, itulah gambaran yang paling tepat menaruh hati saya untuk menyikapi permasalahan mereka. Bukan sok pro sebagai kawan atau lawan.

Jadi siapkah mengatakan, kamu bukan lawan saya, kamupun bukan kawan saya. Kamu dan saya memiliki relasi yang tidak memerlukan kita melakukan sesuatu secara bersama sama. Kita adalah sesama mahluk sosial yang memang hakikatnya harus berinteraksi karena Tuhan telah menciptakan begitu banyak ragam manusia seperti sejumlah bintang di langit 🙂

 

ICT or No “TIK”

 Daur Ulang

After sharing and posting My son’s project into his page in this blog, I feel that the following is a reflection of one situation that I have encountered in recently.

Matthew’s school is one of the example of schools that will adopt  “Kurikulum 2013”.  They decided not to start this year, but they will, soon. No choices? I don’t know. For me, no matter what the curriculum is, the most important thing is the actual process happening in classes. How to a student get interested in a lesson and try to dig deeper the knowledge as he wants, is the real job of teachers.

It is a complicated situation in Indonesia regarding the removal of ICT lesson in SMP based on “kurikulum 2013”. I wonder how the authorities  in Department of Education (either the central or district) see this situation. Have they defined a strict boundary to what was written explicitly in the curriculum document itself? Or did they  give some freedom to interpret the meaning of it? No ICT means no ICT? If it is literally like that, for me, we are just following what Forrest Gump said that “stupid is as stupid does”

On the other side, schools and teachers, do they get trapped inside the curriculum? Or they purposely trap themselves into the curriculum? 🙂 .

When the schools and teachers know exactly the importance of having ICT lesson especially in this era of technology, they get stuck with the law. Instead of combining ICT into all subjects by assigning some time slot  for the ICT teachers to support other subjects, they worry too much of the administration that have to be reported to the government.

The report for the government indeed can be a snare by itself. Each teacher is required to teach 24 period per week by law. But, if they teach ICT, they can not be acknowledged as an ICT teacher (because there is no ICT subject anymore as per Kurikulum 2013) and their teaching periods will not be acknowledged.
When the number of periods do not comply with the law, or when they teach other subject but irrelevant to their formal  educational background, their name also can’t be registered in DAPODIK (Ministry of Education’s Teachers Registry) . No record in DAPODIK means no money for the  “professional teacher allowance” for those who had already certified by government through Department of Education . When school and teacher try to “just” fit the number of periods into 24 periods, sometimes “Dinas” found it as lie, then they can also cancel the data for the teacher allowance.

Until now, I’m not so sure what will be the next step from our government regarding the situation. Once, they said that the idea of “kurikulum 2013” with no ICT for SMP is to give  opportunity to have collaborative learning. All subjects must be supported by ICT. That means, subject teachers (including students) must also be supported by IT trainer, IT staff, people who are IT literate. When those kind of people (better known as Computer Teacher) do not feel  satisfied by the law (read: do not receive the promised tidy sum of ‘professional allowance’),  no wonder there are many petition letters shared and signed by teachers (or people) who against the law.

Confused? Or is it clear why Indonesia rank is so low in PISA?

It is a vicious circle, waiting for someone to cut it, rethink and decide on what’s right.

Schooling vs Learning

Mungkin sedikit penyegaran, bisa dibaca kembali artikel ini terlebih dahulu.

Beberapa waktu lalu, saya berjumpa dengan beberapa siswa yang pernah menjadi siswa di kelas matematika saya beberapa tahun yang lalu. Wah, rasanya senang sekali, melihat mereka bertumbuh lebih dewasa.

Bincang sana, bincang sini, sampailah pada hal yang cukup menggelitik dan menarik perhatian lebih bagi saya. Beberapa dari siswa tersebut memutuskan memilih “homeschooling” dibanding belajar di bangku sekolah resmi. Wow “this is it” seperti itulah kurang lebih pemikiran saya saat itu, apa yang sering menjadi visi ke depan seperti telah berada di depan mata dan sedang dijalani.

Apa yang istimewa dari hal tersebut? Sekilas nampak biasa saja kok. “Homeschooling” telah berjalan beberapa tahun di negri ini. Disebut orang sana sini, diberitakan orang sana sini, pesohor negri seperti Kevin Aprilio sudah menjalani saat dia di SMA, jadi di mana istimewanya?

Mungkin bagi saya, istimewanya adalah, ini terjadi pada anak-anak yang pernah menjadi bagian kehidupan proses belajar mengajar saya. Ini bukan hanya menjadi “pembicaraan di sana sini lagi”. Ini telah menjadi keputusan dan dijalankan oleh anak-anak itu sendiri yang akan bertanggung jawab pada kehidupannya kelak.

Saya tanya, apa pemikiranmu menyebut dirimu menjalani “homeschooling” itu? Seorang anak menjawab “oh, iya, saya dan beberapa teman menjalani homeschooling karena kita hanya belajar fokus sehari 3 jam di sebuah tempat pembelajaran. Kita belajar di sana untuk persiapan diri menghadapi ujian standarisasi dari IGCSE Cambridge, kita ambil lima subject yang akan membantu kita untuk meneruskan ke college”.

3 jam fokus belajar? Sisanya kalian melakukan apa? Muncul di benak saya pertama kali apa yang kira-kira akan mereka katakan pada saya, “come on Ma’am Hedy, we need to have our own life, we need social life, too…..” Senyum deh saya, dan lalu muncul di benak kedua, kalian memang pintar dan telah menunjukkan kepintaran kalian melalui pengambilan keputusan yang tepat, memfokuskan diri pada sebuah pilihan yang kalian anggap paling penting untuk diri dan kehidupan kalian masing-masing.

Jangan pernah menyamakan kehidupan kalian sendiri, sekarang apalagi rencana masa depan, dengan teman atau orang lain. Jangan pula keputusan kalian dipengaruhi atau dipaksa oleh orang lain, teman ataupun guru kalian. Orang tua saja yang mungkin bisa dan berhak menuntun, membantu anak-anaknya mengambil keputusan.

Berikutnya, jika saya angkat topi dengan mereka, apakah yang memutuskan tetap belajar di sekolah adalah salah? Tentu saja tidak. Kan seperti saya katakan, itu adalah pilihan hidup, sejauh mana kita bertanggung jawab dalam menjalani pilihan tersebut, itu yang harus dipertahankan.

Jadi untuk siswa yang tetap menjalani pendidikan formalnya hingga menyelesaikan level tertentu untuk mendapatkan sertifikat kelulusan, bertahanlah, dan tetap melanjutkan proses pembelajaran kalian melalui lembaga sekolah, tetap ceria dan belajar keras serta bertanggung jawab.

______________________________________________________________________

Perenungan berikutnya, sadarkah sekolah-sekolah akan maraknya pilihan meraih pendidikan dalam bentuk yang lain bukan melulu melalui jalur formal institusi atau sekolah tertentu?

Masih layakkah sekolah disebut sebagai satu-satunya tempat memperoleh pendidikan? Akankah kembali ke akarnya bahwa pendidikan itu adalah murni hak milik semua orang dan orang yang ingin melegalkan pendidikan dasarnya dapat mengambil tes standar dari lembaga manapun saja dari seluruh dunia untuk menunjukkan dirinya mutlak dinilai setara dengan anak – anak seusia yang dinyatakan lulus jenjang SD, SMP ataupun SMA?

Pilhan beberapa anak untuk meraih sertifikat dari IGCSE Cambridge dan memfokuskan diri mereka dengan hanya belajar  3 – 6 bulan pada lima mata pelajaran tertentu untuk mengambil test standard tersebut  memang patut diberi jempol. Mereka disamping membuktikan diri telah setara dengan siswa kelas 10 dari seluruh dunia juga telah secara sah menyelesaikan suatu pendidikan dasar.

Lima? dibanding 12-15 mata pelajaran di sekolah? Atau ada yang sampai 17-18? Semoga anak-anak ini sudah cukup tahu apa yang menjadi prioritasnya untuk pendidikan lanjutannya. Atau sebaliknya, untuk membuat prioritas tersebut, mereka telah mencoba fokus pada ilmu dasarnya saja.

Tetapi kan kalau hanya 5 mata pelajaran, anak-anak tidak mendapat ilmu yang cukup. Coba dengan 12-15 pelajaran, mereka diberi peluang untuk menentukan mana yang lebih cocok bagi mereka di pendidikan tingkat lanjutannya. Masa 3 tahun dipakai untuk memahami akan memilih jurusan pendidikan yang mana.

Iya, kalau memahami, memilih lalu menentukan. Bagaimana kalau mereka ‘hanya’ dijejali begitu banyak tugas, harus bisa semua, harus dites segi akademisnya melulu untuk tahu anak ini naik tingkatan kelasnya atau tidak. Tidak bisa matematika dan IPA menjadi wah anak ini tidak cocok di suatu sekolah unggulan tertentu. Tidak bisa mencapai kkm pelajaran tertentu, remedial terus, pokoknya harus memenuhi kkm, diberi kesempatan lho, nilai rapor kurang, remedial juga, luar biasa!!

Amatlah tidak mungkin kan seseorang yang tercatat pintar dan memiliki kecakapan IQ tinggi langsung masuk ke perguruan tinggi karena usianya yang sudah cukup tetapi tidak memiliki ijasah? Maka mungkin di sini tes standar dibutuhkan sebagai bukti, anak tersebut mampu dan layak melanjutkan pendidikan formal di institusi tertentu.

Sayangnya, sampai saat ini, di Indonesia seperti masih mimpi ya menjalankan pola seperti itu. SMP harus lulus UN SD (UN atau apapun namanya nanti dan lampau, (kabar terakhir UN SD resmi dihapus, disertai ada beberapa pendapat pro dan kontra, salah satunya yang terkesan ‘pro pakai tapi’ “kalau memang begitu aturannya dan sudah diputuskan ya sudah tetapi sebaiknya ujian sekolah kita buat seperti sistem UN agar siswa belajar”  nahh lhooo X_X), SMA harus lulus UN SMP, PT harus lulus UN SMA, sehingga ya UN kembali lagi di sini jadi momok, karena untuk ikut UN harus sekolah sepanjang 3 atau 6 tahun itu. Padahal kalau mau “yang penting lulus” ikut saja bimbel kilat, dijamin lulus UN (seperti slogannya) 🙂 karena ikut sekolah bisa jadi sama juga karena pembelajaran menjadi tidak ada tapi tergantikan dengan fokus persiapan ujian, teaching for the test.

Kok begitu? Ya begitulah, kan mempersiapkan siswa lulus agar mendapatkan suatu sertifikat tertentu. Kegembiraan belajar? jauh deh, yang ada pokoknya “saya harus lulus biar masalah beres dan hidupku lebih mudah di kemudian hari”. Proses pembelajaran toh semuanya tergantikan oleh instruksi di sekolah, “schooling” tadi. Instruksi tentang jadwal test, tentang materi test, tentang cara menjawab soal. Tidak ada bedanya kan dengan bimbel? 😉 Ada ungkapan “schooling the fish”, Schooling fish are usually of the same species and the same age/size. Fish schools move with the individual members precisely spaced from each other. The schools undertake complicated manoeuvres, as though the schools have minds of their own. Jadi? apa bedanya dengan sekolah anak manusia?

Kembali kepada fokus saya tentang sekolah – sekolah di kota besar, dan memiliki siswa – siswa dengan latar belakang finansial keluarga yang baik, memiliki siswa dan orang tua yang “open-minded” kepada dunia pendidikan yang sesungguhnya, bersiap-siaplah, apa yang bisa ditawarkan sekolah kepada anak-anak era abad 21 ini? Pendidikan Karakter yang diagung-agungkan itukah? Dijejalkan oleh segudang teori berkarakter baik, tanpa contoh karakter yang lebih tepat sasaran kepada usia mereka?

Atau sekolah yang menjual fasilitas fisik yang keren tapi kurang berdaya guna. Atau sekolah yang menjejal segudang mata pelajaran dan segudang tugas silih berganti dengan asumsi mempersiapkan anak, jangan sampai terjebak ‘membuat anak kreatif dengan dilatih kreatif tadi’ atau ‘supaya gurunya yang kelihatan kreatif’. Atau sekolah yang masih memiliki pola pemikiran yang namanya siswa harus mencatat, harus susah dong, masak enak saja tinggal minta soft copy.

Atau sekolah yang memaksakan pemakaian bahasa asing tapi lupa menyiapkan sumber daya gurunya dengan benar sehingga yang terjadi nasionalis menjadi terbawa-bawa dan selalu kata nasionalis tadi menjadi senjata untuk membuat pernyataan “masak kita terjajah lagi tidak boleh pakai bahasa nasional sendiri” 😉 Pemakaian bahasa Inggris menjadi dinilai salah antara “cuma sekedar yang penting ngomong Inggris, kalau tidak pakai bahasa Inggris, dapat konsekuensi” dengan “pemakaian bahasa untuk menunjang anak-anak di era global”.  *10 alinea khusus lagi kalau bicara masalah bahasa…… ahh*

Sekolah kadang merasa jika pendidikan secara akademis (berkurikulum, apapun kurikulumnya) terbaik bagi anak adalah didapat dari sekolah, di sisi yang bersamaan pula sekolah merasa pendidikan terbaik (non akademis) selalu datang dari latar belakang anak di keluarga. 8 – 10 jam di sekolah, tetap lebih sedikit jika dihitung secara persentase matematika, dibandingkan dengan lama waktu seorang anak di luar sekolah. Jadi pendidikan di keluarga nomer satu. Seperti bola salju jika kemudian muncul pula dua hal akibat dua sisi tadi. Kalau tidak di sekolah, bagaimana siswa dapat menemukan ujung dari prestasi akademisnya? Jadi sekolah adalah paling penting, anak butuh sekolah untuk melegalkan pendidikannya. Sekolah pongah. Tapi sisi satunya lagi, anak-anak ini kan lebih lama di luar sekolah, orang tua harus paling tahu cara mendidik mereka. Jika di keluarga pendidikan yang dijalankan orang tua terhadap anak mereka benar, maka di sekolah pasti anak-anak mampu belajar dengan baik. Kalau terjadi sesuatu di sekolah, maka sekolah mengembalikan kewajiban tadi kepada orang tua dengan cara konsekuensi skorsing umpamanya, atau lebih miris lagi, anak yang tidak mampu secara akademis dikembalikan kepada orang tua untuk dicarikan dipindahkan ke tempat sekolah lain yang lebih cocok.

Sekolah yang isinya belajar akademis keren, prestasi siswanya keren, sering menjuarai berbagai lomba akademis, mudah sekali melabelkannya menjadi sekolah favorit. Belajar melulu akademis? Di bimbel juga bisa sebenarnya (Di meja saya sekarang ada lembar kerja produksi bimbel ternama, rupanya tertinggal oleh siswa, penampilannya tidak berbeda dengan lembar kerja produksi beberapa guru di sekolah, termasuk saya ^_*). Lalu apa bedanya sekolah dengan bimbel semacam ini? Sekolah sering juga mengadakan persiapan khusus untuk anak-anak dalam rangka persiapan ujian tertentu, UN contohnya. Atau malah belajar di sekolah itu identik hanya untuk persiapan tes saja? 😉 Bimbel dalam kemasan sekolah. Di Bimbel tidak ada pelajaran karakter lho, kata seseorang di akun twitternya (di sekolah sih ada dong #katanya *senyum lebar*).

Atau masihkah sekolah beruntung dengan pemikiran banyak orang tua yang merasa tanpa sekolah anak mereka akan bodoh secara akademis dan sosialnya? Ada orang tua yang ingin anak mereka pendapat pendidikan yang mampu membawa anak mereka menjadi manusia dewasa yang baik secara mental, karakter dan juga ilmu pengetahuan. Ada orang tua yang merasa ‘terganggu’ jika anaknya tidak mendapatkan pekerjaan dari sekolah yang banyak berupa tugas-tugas, PR. Kok terganggu? karena anaknya jadi banyak bermain dan orang tua yang harus memberi waktu lebih banyak kepada anaknya padahal sudah merasa bayar mahal untuk biaya sekolah. #tricky

Masihkah sekolah merasa paling berhak menyeleksi anak-anak hanya berdasarkan nilai akademis berbasis tes tertulis saja yang hanya menilai “memorizing” tapi menggembar gemborkan “multiple intelligence”?

Sadarkah sekolah bahwa hal-hal tersebut bisa menjadi pemicu anak dan orang tua mengambil kembali tanggung jawab pendidikan itu kembali kepada diri mereka masing-masing? Karena dirasa “tempat penitipan anak” dalam balutan nama keren sekolah sudah tidak dapat merawat dan mendidik anak mereka lagi?

______________________________________________________________________

Terlepas dari semua perenungan di atas, perlu juga pemikiran bagaimana menjadikan sekolah sebagai tempat pembelajaran yang lebih ideal di era ini, lebih sesuai dengan “real life” anak-anak ini. Bagaimana sekolah tidak menjadi terjebak dengan pola pikir memberikan pelajaran-pelajaran dalam kemasan bidang studi pokok dan tidak pokok. Kurikulum benar-benar terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas dalam lingkungan sekolah.

Mata pelajaran Pkn bisa menjadi sebuah pembelajaran yang mampu memacu siswa mengenal negerinya lebih dalam, kritis bersikap atas berbagai informasi melalui media tentang negri sendiri maupun luar negri. Sikap kritis ditujukan dengan memunculkan ide dan opini, argumen positif dengan guru yang notabene sudah lebih dewasa. Melakukan trip belajar ke tempat-tempat luar sekolah, dll.

Mata pelajaran BI mengajak anak-anak menyenangi membaca, buku-buku sastra, menggali ide dan opini dalam mengungkapkan fakta atau hayalan, dalam struktur tata bahasa yang baik. Memberikan kesempatan seluas-luasnya siswa untuk menulis, memberikan bahan ajar cara menulis. Apresiasi bahasa melalui drama, puisi, pantun, apapun yang menjadi kelebihan siswa.

Mata pelajaran Matematika, memancing siswa mengungkapkan apa yang dia ketahui tentang penyelesaian suatu masalah, bukan semata-mata mencari jawaban benar atau salah saja. Sebenarnya mungkin saja lebih menarik perhatian siswa, jika dia dapat kesempatan mengungkapkan langkah seperti apa untuk menyelesaikan suatu soal, bukan hanya dituntut berhitungnya saja. Sebagai contoh, saya mendapati kertas ulangan seorang siswa yang menulis -6 > -x  diberi skor 3/10 untuk jawaban yang benarnya  x > 6 (skor 10/10), dibanding dengan yang salah semua dari awal tetap diberi skor 3/10.

Mengakhiri opini dalam artikel kali ini, saya tutup dengan artikel dari web berikut yang sangat menarik. Berikut kutipannya: It is not true that the more courses we offer students, the more they learn. Indeed, the opposite is true — the more courses we offer students, the more we lose sight of what students should be learning. {May, 1985, Adview Magazine} http://jesseshearin.com/learning-and-schooling/