Catatan Harian UN (hari ke-1)

Bahasa Indonesia

Rencana mau agak beda, dengan bangun lebih pagi dan sebagainya. Hasilnya? Biasa saja, bangun jamnya biasa, semua normal. Haha, which is okay, karena sebagai mama yang berprinsip “ah cuman UN”, ya wajar pula anaknya demikian.

Ini pelajaran yang bagi saya pribadi “ampun” susahnya. Ada sesuatu “rasa”, “penguasaan” dan “kecerdasan” dalam mengolah tata bahasa tadi. #menyerahsaya

Tapi itulah fungsinya “mama”, mama tidak ingin anaknya ikutan “menyerah” 😉 #egomama.

Jadi, mama yang satu ini, walaupun sudah mengalami dua kali UN melalui anaknya, selalu ingin terus memperbaiki diri agar tidak menjadi terlalu egois menjadikan anaknya “serupa” impiannya saat melahirkan anak ini. Semakin belajar menjadi orang tua yang memiliki kewajiban mendampingi, membantu, mengasihi dan menyayangi saja (eh, dan membiayai 😉 ).

Ok, akhirnya Bahasa Indonesia UN, lewat dengan baik. Semoga hasilnya baik deh. Anaknya sendiri menyatakan, “iya, cukup sulit, membutuhkan waktu baca yang cukup sebelum yakin menghitamkan”. “Menghitamkan” bulatan *sigh*, sedih sih, kecerdasan bahasa seseorang ditest dengan pilihan berganda.

Selesai hari pertama, siap-siap untuk hari kedua, hari yang kutunggu (mamanya yang sukaaa karena math #curang hehe).

Sekolah dan “Sekolah”

“Selamat Hari Pendidikan Nasional”

Apakah anak-anak / siswa kita pernah mengalami hal seperti gambar di bawah ini? Ataukah Bapak/Ibu Guru yang justru sibuk memberikan nama tes apakah yang akan dilalui siswa? *Bahan Perenungan*

Screen Shot 2016-05-02 at 7.18.47 AM
Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php

_____________________________________________________________________

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata “Sekolah” memiliki beberapa arti berikut:

se·ko·lah n 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan).

Sebagai bangunan / gedung, harus memiliki ijin mendirikan bangunan, Sebagai tempat memberi pelajaran, harus memiliki ijin operasional sekolah. Sebagai usaha siswa menuntut kepandaian, harus memiliki ijin sertifikat telah terakreditasi.

Belajar itu gratis, tetapi meraih sebuah catatan atas pengakuan akan hasil belajar di atas selembar kertas, membutuhkan biaya, demikian ungkapan seseorang di media sosial yang menarik perhatian saya.

Dulu, ungkapan anak harus sekolah untuk menjadi pintar. Sekarang, mungkin tidak sesederhana itu. Karena menjadi pintar banyaklah faktor pendukungnya. Anak itu sendiri, orang tua, lingkungan, dan sekolah. Ada anak yang baru masuk ke suatu SMP / SMA, lalu ikut kompetisi nasional, dan juara 1, lalu sekolah sangat bangga, pasang spanduk kemenangan di beberapa titik, padahal anak tersebut pintar karena sudah pintar. Sekolah bangga? iya, (kurang lebih) sebagai tempat tumpangan si anak mengambil ijasah formalnya saja.

Saya pribadi masih menyebut dan mengakui bahwa menempuh pendidikan usia sekolah itu penting. Bukan karena saya berprofesi sebagai guru, namun ada hal-hal yang memang baik bagi anak-anak untuk mengenal dunianya bersama teman sebaya melalui lembaga sekolah. Namun kadang menjadi miris jika memang sekolah hanya penting untuk sebuah pengakuan saja. Pengakuan telah berhasil melewati suatu level usia tertentu atau di jenjang tertentu. Belajar tak mengenal usia (teorinya), tetapi nuansa di sini, usia 12 tahun hendaknya selesai SD, usia 15 tahun hendaknya selesai SMP, usia 18 tahun hendaknya selesai SMA, usia 23 tahun hendaknya selesai S1, dan 26 tahun hendaknya selesai S2. Di luar itu, wah pasti anak ini ada masalah.

______________________________________________________________________

Senangkah orang tua jika anaknya dapat bersekolah? Rasanya sih iya. Sebagian orang tua (termasuk saya *hiks), lebih merasa aman dan senang anaknya berada di sekolah daripada liburan berkepanjangan dan “berisik” di rumah 😉 . Beruntungnya saya memiliki anak yang suka ke sekolah. “Yaahh libur (merengut)”, “mau tanding bola dulu ma di sekolah”, “asik ada peltam (pelajaran tambahan) jadi lamaan di sekolah”…. Sambil menambah kerjaan saya untuk berpikir, ini beneran suka atau “suka” 😉

Tapi tahukah para orang tua dan pihak yang berkompeten di sekolah (guru, kepala sekolah maupun pemimpin yayasan sekolah) bahwa si anak dengan mudah mengatakan “sudahlah, di sekolah yang penting bertemu teman, daripada di rumah “mager” (malas gerak), tadi gurunya menjelaskan apa juga saya tidak mengerti, nanti tanya guru les saja lah”. (Baru-baru ini, ada anak yang curcol demikian  #aduuhh).

Guru les lagi….. Memang sekarang sudah ada alih fungsi sekolah yang sebagai tempat belajar tadi kepada sekolah yang beneran hanya menjadi lembaga formal, tempat berkumpul teman sebaya, tempat berteman (siswa dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan guru, menambah jumlah teman di facebook dan social media lain). Karena sudah ada banyak “sekolah” lain yang mampu menyelenggarakan pendidikan akademis, kecuali mengeluarkan ijasah kelulusan suatu jenjang pendidikan secara formal.

Dari beragam sosial media pula saya menemukan lembaga bimbingan belajar yang menawarkan jasanya, yang selalu disertai dengan iming-iming bahwa “anda bisa”. Menjadi motivator memang sudah menjadi era “kekinian”.

Siswa memang sering dijadikan komoditi untuk bisnis berbalut pendidikan ini. Gaya promosi bimbingan les kian marak dan semakin menunjukkan kalau eksistensi mereka memang sangat dibutuhkan siswa dan orang tua. Menunjukkan foto-foto kertas ulangan siswa yang belajar di tempatnya dan memperoleh nilai ulangan di atas 90 di sekolah siswa masing-masing. “Kalian ingin seperti ….(nama siswa yang dipajang memegang kertas ulangannya yang di sekolah memperoleh nilai di atas 90)…., silahkan bergabung bersama kami….”

Luar biasa bukan? Beberapa foto siswa yang dipajang kebetulan saya kenal, dan saya memang tahu persis, bahwa anak-anak tersebut kebetulan memiliki kecerdasan akademis yang tinggi. Jadi tidaklah heran mereka memang menambah ilmu di les dan mendapatkan hasil yang baik pula.

Bagaimana dengan anak yang memang benar-benar harus mendapat perhatian lebih, dibimbing lebih? Di sekolah “seperti ditolak” oleh gurunya dan diminta belajar sendiri di rumah. Pergi ke tempat les, modelnya seperti sekolah kedua, isinya lembar kerja melulu dan lagi-lagi gagal.

Jika bimbingan belajar sudah bisa menyelenggarakan les dengan jumlah siswa mencapai 10 siswa per kelas dan memfasilitasi dengan lembar kerja yang dibuat dengan khusus untuk siswa sekolah tertentu, ruangan seperti ruang kelas, meja kursi seperti di sekolah formal, sebenarnya tinggal menunggu adanya UU resmi yang mengatur belajar di rumah bisa menjalani ujian kesetaraan sesuai standar resmi pemerintah yaitu mengikuti Ujian Nasional.

Kalau sampai bisa begitu, sekolah musti waspada dan mulai berpikir, apa benar sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar lagi? Saat ini memang masih banyak opini yang menyatakan sekolah bukan hanya tempat belajar akademis tetapi bersosialisasi, mendidik secara karakter, mencerdaskan anak bangsa secara umum karena sekolah menjangkau masyarakat luas, dan seterusnya. Jadi posisi sekolah masih aman sekarang karena semua “sekolah” (baca bimbel) itu kan hanya akademis. Namun, siapa yang tau akan jadi seperti apa dalam beberapa tahun ke depan.

___________________________________________________________________

Kadang sedih dan senyum sendiri melihat foto-foto kertas ulangan yang bertaburan nilai 90 dan 100, dari prestasi siswa-siswa yang berkemampuan tersebut. Tetapi adakah yang mau menyentuh siswa yang sangat biasa-biasa saja kemampuan matematikanya di sekolah, umpamanya?

Ada siswa yang sudah dua semester selalu mendapat nilai rata-rata ulangan 50%, menutup semester ketiganya dengan 61% atau bahkan 67%, bukankah sebuah kemajuan? Selalu terlihat masih gagal karena sudah terlalu banyak orang mematok dengan KKM. KKM 70, 65 adalah gagal. Usahanya meningkat 15% belum terlalu dipandang.

Atau adakah bimbingan belajar yang mau “mempromosikan” siswa yang frustasi tidak bisa menjawab soal dengan benar malah menjawab seadanya? Salah satu foto semacam ini tentu saja ada dan sering hanya sebagai “meme” lucu-lucuan. Bagaimana sikap kita menghadapi ini? Lucu benaran atau berpikir untuk mengganti pola test umum (tes individu berbeda untuk tipe anak macam begini?)

IMG_2414

Atau foto berikut, siswa yang mampu meningkat 15% namun tetap dianggap di bawah (karena di bawah KKM tadi?).

IMG_2528

Artikel ini saya akhiri dengan cerita berikut (sebagai perenungan lagi), saya kemas dalam bentuk menyerupai penulisan di  twitter, karena jika tidak, akan terlalu panjang menceritakan betapa masih ada (bahkan mungkin banyak) kejadian seperti di bawah ini:

Kemaren melihat lembar kerja matematika seorang siswa kelas 6. Nilai 50%, dan ditulis “malas berpikir”.  

Konon ini bukan yang pertama, beberapa kali ditulis “malas”, “tidak belajar”, “asal-asal”. Kata si anak, bukan hanya tulisan namun verbal.

Verbal? Jadi ingat guru yang suka melakukan ini. Rupanya mental begitu laris juga.

Anak ini bukan tergolong cerdas matematika, menghitung 12×45 saja masih suka grogi. Tetapi nilai rapor yang dicapai bisa 74 karena kkm sekolah 70 #tiranikkm 

Si anak stress dan semakin apatis. Si orang tua bingung, ingin mengajukan komplen sejak bbrp bulan lalu. 

Tetapi ditunda terus karena ketakutan berulang kejadian yang sama, sehabis didatangi sekolahnya, si anak jadi korban ditekan guru.

Sebagai guru saya ditanya, mengapa ada guru begitu? Saya tidak bisa menjawab, karena ikut tidak habis pikir, kok ya ada guru begitu. *ada lah Hed*

Guru yang bersangkutan mungkin tergolong guru “jeniyes” yang ingin “produk” jadi. Bukan urusan saya dong kamu gak bisa, les saja sana.

Pokoknya “under pressure” ke anak-anak supaya di akhir hari nilai UN nya bagus, tuh kan untung juga saya “kejam”, buktinya nilai bagus kan? #hiks

Mungkin beliyaw memiliki bisnis les besar-besaran. Memiliki jiwa sosial memakmurkan sesama guru les. 

Guru matematika sepertinya senang sekali berpikir kalau matematika itu mudah dan menyenangkan. #halah 

Ortu ini bercerita juga ada teman anaknya yang gara-gara sering dapat nilai jelek dan dikatai si guru dan ditulisi macam-macam di lembar kerjanya…

…maka anak tersebut sering dipukuli ibunya di rumah dan datang ke sekolah dengan tangan biru-biru    🙁 

Guru “jeniyes” ketemu ortu kurang paham dirinya ortu, klop. Bahkan menyadari siswanya mendapat masalah di rumahpun si guru tidak mampu. 

Transform What’s Possible – Part 2

“The only learning management system (LMS) that connects all the people, content, and systems that fuel education.”

When we open the first page of Schoology, we’ll see posts above.

Is it true? Is Schoology as the only one? I do not know exactly, because I never compare with other beside with MOODLE  (CMS – Course Management System).

I use Schoology for almost two years, as my LMS (follow the policy of the school where I shelter) with “basic” version. Basic version means free version while the paid version called “enterprise”.

Schoology has all the necessary equipment, especially to create compelling content, instructional design, and assess student understanding.

I believe that we do not need such a special training to use Schoology, because at the time of Schoology designed, they’ve designed it in thought as a user. Schoology combines the best of the “interface” that modern so it is easy to learn and access to relevant information on any devices (desktop, tablet or smartphone).

Have you tried Blended Learning or Flipped Classroom? Take an advantage of using Schoology as your platform for LMS to enable you to design and create the content, reach students individually and fulfil what they need, learning continues outside the classroom.

Carrying a motto that “connect all the people”, we can join into groups provided in Schoology and have connections with educators all over the world. We can also participate in discussions.

Last Year, on May 2015, I sent my story of using Schoology in my class. I didn’t know the result of it. Almost a year after that, Saturday, Feb 27, 2016, I received email from Dylan Rodgers, Creative Manager at Schoology:

“First off, congratulations! You were one of Schoology’s 2015 Educator of the Year Finalists! Thank you for submitting your story. It was more than challenging to pick only a few winners among so many great educators like you.

Second, I wanted to tell you that your story gets me pumped! It is so exciting for me to hear how you are changing the lives of your students and peers.

In fact, we liked your story so much that we turned it into an “educator spotlight” article that we plan to share with the Schoology Community on our blog soon. It will no doubt inspire many of your peers around the world.

Thank you for your dedication to great education. You are changing the lives those around you for the better and deserve recognition for that.”

Wow, I was so happy being acknowledged globally. My story published in Schoology’s blog with tag “Educator Spotlight” of the week (March 3 – 10). I can share my experience and story to all educators in the world. It is nice, isn’t it? I am more than happy, I think 🙂

In the same blog, you may read a lot of experiences from educators all around the world. You can increase and deepen your knowledge and perception of education. And the important thing, you shouldn’t be afraid of writing your stories, experience in teaching and learning and open a window into your work, so people can also learn from that.

Here is the Link:

The Art of Turning Math into a Social Learning Experience

Screen Shot 2016-06-03 at 6.42.19 AM

Play with S W A Y

“….add your content and we will do the rest….”

The purpose of Sway is to convey concepts quickly, easily and clearly. Unlike PowerPoint, it is primarily for presenting ideas onscreen rather than to an audience. Tutorials, topic introductions and revisions are the sort of things to which it lends itself.

Since Sway presentations are backed up to the cloud, and can be easily embedded in websites, so here is my Sway to my students as I reach them personally in class, at their house or in anywhere.

Menjelang Ujian Nasional (lagi)

“Sebuah Refleksi”

Mengikuti berita seputar Ujian Nasional, belum ada habisnya. Masih “seru” dan kadang benar-benar membuat gereget. Pro dan kontra di luaran sana kurang lebih terjadi sama seperti yang menjadi pemikiran saya selama ini.

Anak saya sekarang duduk di kelas 9. Semenjak Oktober lalu, sudah dua kali menjalani TUKPD atau UCUN (semacam “try out” menjelang UN). Walaupun saya bingung, mengapa trial sudah dari Oktober? Mengapa tidak dipakai untuk belajar? Mengapa masih “mendewakan” UN? Jadi sebenarnya kadar UN yang sudah tidak lagi sebagai standar kelulusan itu berarti atau tidak ya? Mengapa masih sangat penting peringkat UN di mata sekolah-sekolah yang bernaung di bawah dinas ini? (Memang ada sekolah yang tidak bernaung di bawah dinas? 😉 #pertanyaaniseng). Walaupun sekolah anak saya sudah menjelaskan bahwa dengan diadakan trial ini maka mau tidak mau para siswa akan belajar. Saya manggut-manggut (tanda mengerti sekaligus juga tanda tidak habis pikir, karena, iya betul siswa belajar, tetapi belajar dari kertas soal-soal yang dibagikan beberapa hari sebelum trial tadi untuk latihan, jadi ya itulah namanya “teaching for the test”).

Screen Shot 2015-12-16 at 3.03.55 PM
Tempo.co, January 2015

Tahun 1985, Ebtanas pertama digaungkan, dan saya adalah angkatan pertama yang terlibat dalam Ebtanas SD (Sebelumnya apa ya? Ada yang bisa bantu mengingatkan? Yang saya tahu ada kerabat saya yang tidak lulus SMA karena tidak lulus ujian akhir dan diminta mengulang setahun lagi yang menyebabkan dia “drop out”). Seingat saya, saya tidak merasa sekolah memperlakukan kami sebegitu takutnya akan nilai yang akan diraih. Yang ada adalah ketakutan akan kesukaran menjawab soal pilihan ganda, soal sebab akibat dan soal pilihan lebih dari satu. Entahlah, kurun waktu yang sudah sedemikian lama, bisa jadi menjadi tidak sahih lagi untuk diungkapkan karena faktor “lupa”.

Tahun berganti tahun, masa berganti, pemimpin berganti, Presiden baru ganti 7 kali 😉 , Menteri ya 7-9 kali ganti (tidak yakin), tapi sistem pendidikan berada di titik yang sama terus.

Apa lagi ya yang mau saya ceritakan? Menjadi pendidik / guru yang sudah menjadi pilihan dan panggilan hidup, mau tidak mau selalu membawa saya bersentuhan dengan yang namanya “Ujian Nasional” alias Ebtanas yang saya kenal pertama kali di tahun 1985 tadi.

Dulu di awal, saya meyakini sebagai bentuk ujian yang memang menjadi syarat kelulusan siswa dalam satu level / jenjang pendidikan untuk naik ke jenjang berikutnya. Setelah dua kali Ebtanas dan menjelang Ebtanas yang ketiga di kelas SMA 3, saya memiliki pemikiran ini “hmmm, saya kan sudah diterima di salah satu perguruan tinggi, dengan peringkat 2, cicilan uang masukpun sudah dibayarkan, dan ini terjadi sebelum UN  saya lakukan, jadi untuk apa saya ambil UN? Ini perguruan tinggi bercanda ya masih mencari nilai UN? Jadi label peringkat 2 test masuk, apa gunanya ya? Ada yang salah nih, pikir saya”. Kenyataannya, peringkat dua untuk pembayaran uang masuk yang lebih murah dari peringkat 5 🙂 dan ikut UN SMA untuk mengeluarkan ijasah SMA (saja).

Walaupun setelah itu, masih banyak orang yang menghibur dengan mengatakan bahwa nilai UN itu nanti untuk masuk perguruan tinggi negri, untuk masuk bla bla bla….. tetap saja saya merasa ada yang salah. PTN? kan ada SNMPTN (dulu Sipenmaru)…. ah gak benar deh, begitu terus terngiang. Imbasnya? Mudah sekalilah, semangat belajar menurun (aneh ya, bagi anak lain mungkin meningkat 🙂 ) membuat peringkat akhir SMA 3 saya turun 5 point, dari 1(atau 2 ya?) ke 6, terlebih ada faktor lain lagi yaitu saya pun sudah bisa mencari uang sendiri dengan memiliki murid les kurang lebih 10 adik-adik kelas 🙂 #outofrecord 😀

Panggilan hidup (demikian mungkin definisinya) membawa saya kembali bersentuhan dengan guru dan UN.

Namun tetap ada hal-hal yang saya yakini bahwa belajar itu memiliki tujuan akhir beragam:

1. Kebanggaan nilai hasil akhir yang tinggi dan memuaskan.

2. Kebanggaan untuk diri sendiri dan orang tua plus untuk “nama sekolah”.

3. Kebanggaan sebagai kenangan jika si siswa telah menjadi dewasa dan memiliki keturunan sendiri, saling berbagi kepada anaknya nanti.

4. Belajar itu tidak pernah habis dan tidak ada “due date” nya. Yang membedakan adalah tempat belajarnya, kadang ada orang yang tidak perlu lulus S2, S3, tetapi pengetahuannya sangat bagus, nalar dan logikanya sangat baik. Tetapi lingkungan sering memaksa orang harus bersertifikat level pendidikan tertentu untuk menjamin secara finansial. Lulusan S2, S3 tetapi sebenarnya hanya di selembar ijasah, apalagi dari luar negri, menjadi tampak “wah” kalau kembali bekerja di dalam negri.

5. Belajar untuk menjadi bisa, bukan belajar demi test dan test dan test dan test. Betul bahwa test dibutuhkan sebagai alat ukurnya, kadang sebagai garda terakhir menentukan seorang siswa berhasil atau tidak.

Hal ini kadang kurang disadari oleh kebanyakan orang, baik guru maupun orang tua. Kemampuan otak manusia yang beragam, tentu saja membuat siswa memiliki keistimewaan satu sama lain. Siswa mampu di bidang matematis belum tentu fasih berbahasa dan berkomunikasi. Siswa cantik di bidang seni, belum tentu terampil hitung matematis. Maka hal tersebut sejalan dengan gaya belajar siswa yang beragam. Mungkin ada beberapa orang sedikit bosan mendengar saya bicara hal ini lagi 🙂

6. Belajar untuk diri sendiri. Jangan hanya “lifelong learner” sebagai slogan saja, namun jadikan sebagai pribadi yang mau belajar dan berubah. Belajar memakai alat bantu teknologi baru, misalnya. Atau berubah sikap dengan tidak melulu menyalahkan siswa sebagai oknum yang tidak mau belajar.

Demikian, dalam 4-5 bulan ke depan, saya akan kembali berhubungan mesra dengan kata-kata UN (dan keluarganya) lagi. “Anakku ayo belajar….”, “kapan kamu akan Uprak?”, “kapan kamu akan Ujian Sekolah?”, “Ayo belajar….belajar…. besok ada try out (ke 1, 2, 3 atau 7 bahkan 10 #lebay)?