Reward and Punishment

If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed.  ~ Albert Einstein

Reward dan Punishment, masihkah relevan dengan pendidikan saat ini?

Kalau saya melihat masa hidup Einstein, yang lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1955, dan memberikan quote seperti di atas, rasanya Einstein melihat betul bahwa era kelahirannya di akhir revolusi industri sudah berbeda dengan era beliau beranjak dewasa.

Jadi seperti menegaskan, hati-hati dengan ungkapan Reward dan Punishment ini. Digunakan saat kapan, dan kepada siapa. Itu menjadi faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Jika kita menonton pertunjukan aksi hewan di sebuah sirkus katakanlah, kita menyaksikan secara langsung, sang pawang yang memberikan reward berupa ikan kecil kepada anjing laut apabila bisa melakukan atraksinya dengan benar. Lalu kita juga melihat ada semacam tali untuk dipecutkan, seolah-olah pelatih / pawang menegur hewan yang dilatih untuk tidak salah melakukan atraksinya seperti yang diajarkan, seperti memberi tanda “saya hukum kamu kalau tidak benar atraksinya”.

Lalu bagaimana menggunakan Reward dan Punishment di dalam pendidikan anak-anak? Menurut saya, definisi anak-anak pun harus terbagi dalam beberapa jenjang. Anak TK – SD kelas 2, kelas 3 – 5, kelas 6 – 8, kelas 9 – 10, dan kelas 11 – 12. Perlakuan kepada mereka harus dibedakan.

Saya bukan pakar dalam hal ini, namun pengalaman belajar dan mengajar, mendorong saya untuk menghindari Reward dan Punishment dalam manajemen kelas saya. Menghindar di sini bukan berarti tidak mendukung Tata Tertib Peraturan Sekolah. Peraturan tetap harus ada. Konsekuensi terhadap tidak berjalannya peraturan secara benar juga tetap ada.

Meyakini “Reward” adalah memberikan motivasi kepada siswa dengan metode “personalized learning” lebih bermakna bagi saya dibanding memberi reward dengan menambah point urusan akademik dan non akademik. Personalized learning membuat siswa tertentu merasa dihargai kemampuan akademiknya dan (semoga) lebih terpacu motivasi belajarnya. Berat melakukan personalized learning? Iya. Selalu melakukannya? Tidak.

Sama seperti meyakini “Punishment” adalah bukan sekedar menghukum siswa yang ketahuan tidur di kelas saya, yang datang terlambat, yang tidak mengerjakan tugas, yang tidak berseragam lengkap. Lebih bermakna dengan membangunkan siswa tersebut dan meminta cuci muka lalu membantu saya mengerjakan hal lain. Datang terlambat? Ayo duduk paling depan. Tidak mengerjakan tugas, mari kerjakan bersama saya di kelas, sekarang. Temanmu tugas B, kamu tetap A dan bersama saya.

Pasti seorang Guru bermimpi dan berangan untuk memiliki siswa ideal yang berkarakter baik, berdaya juang tinggi, rajin dan hormat kepada Guru maupun teman. Namanya saja ideal, semua ingin, tetapi hampir tidak mendapatkan kondisi ideal tersebut, bukan?

Membuat siswa muncul dengan karakter baik bukan hanya dengan diberi hukuman karena salah yang bisa ditolerir. Salah tidak buat tugas sekali dengan salah memukul teman, adalah dua hal berbeda. Salah karena telat masuk kelas juga berbeda dengan salah meninggalkan kelas karena pura-pura sakit. Atau sebaliknya dengan diberi penghargaan kalau melakukan hal yang benar, benar di mata siapa? Apakah penghargaan berhak didapat siswa jika dia “hanya” sekali dapat 60 dari sekian nilai 40 nya? Atau berhak untuk siswa yang ranking 1 di kelas saja? Atau siswa berpakaian paling sesuai aturan?

Guru dan sekolah masih sering terjebak pula dengan sistem ini. Satu sisi sekolah ingin mendisiplinkan siswanya. Sejarah menorehkan catatan sekolah yang terkenal dengan pendidikan disiplinnya dan nilai akademik akan selalu menjadi sekolah favorit dan diminati oleh calon siswa dan orang tuanya. Demikian pula sekolah yang lebih murah secara biaya tentu saja punya peminat tersendiri 🙂

Dibuatlah berbagai buku tiket (yang dirobek kalau mau dipakai), tiket keterlambatan, tiket kedisiplinan, tiket kelengkapan seragam, dan lain-lain sesuai nama dan fungsi buku tiket tersebut (mungkin). Atau semuanya dirangkum dalam satu tiket bernama tiket konsekuensi untuk apapun pelanggaran siswa. Dengan nama konsekuensi menjauhkan paradigma sebagai sebuah hukuman langsung.

Diberikanlah sangsi pengurangan nilai baik akademik maupun non akademik untuk mendapatkan penghargaan dari guru atau sekolah di akhir tahun akademik. Pengurangan nilai akademik digadang-gadang masih menjadi senjata ampuh untuk mengendalikan tindakan siswa. Pengurangan nilai non akademik yang dipakai sebagai alat ukur karakter siswa, secara individu atau grup. Penilaian grup dimaksud untuk mendidik kekompakan, kebersamaan dan toleransi di antara siswa dalam satu grup. Nilai yang tidak berkurang atau justru penambahan itulah akan menjadi Reward yang diberikan guru dan sekolah kepada siswanya.

Datang terlambat, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai sepatu seluruhnya hitam, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Seragam kemeja keluar dari celana atau rok, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak pakai dasi, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak memakai kaos kaki / kaos kaki hanya di bawah mata kaki, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidak membawa buku pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berbicara di dalam kelas dengan teman, dapat tiket. dan pengurangan nilai.

Tidak mengerjakan PR atau tugas atau proyek, dapat tiket.

Rambut siswa laki-laki menutup alis mata / siswa perempuan tidak diikat untuk panjang lebih dari sebahu, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Rambut dicat gelap natural orang Indonesia umumnya / pirang / warna warni, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Membalas kata-kata gurunya / berani berargumentasi dengan gurunya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Tidur di dalam kelas saat pelajaran, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Berkelahi / bercanda kasar di lingkungan sekolah, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mencuri uang atau barang bukan miliknya, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Mengucapkan sengaja atau tidak sengaja kata-kata tidak pantas, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Pelaku bullying / korban bullying yang membalas dengan tindakan yang menyebabkan perkelahian, dapat tiket dan pengurangan nilai.

Bapak Ibu ingin menambahkan daftar di atas? Silahkan 🙂 , dari saya sementara ini cukup dulu. Jenis pelanggarannya berbeda-beda bukan? Setujukah untuk tidak menghukum semuanya sama rata?

Kalau ingin siswa menghargai suatu pelajaran, mengapa dia diberikan tiket konsekuensi ngeyel / tidak sopan pada gurunya pada saat dia berargumen mencari kebenaran versinya sendiri akan pelajaran yang belum terlalu dimengerti olehnya.

Kalau ingin siswanya tidak tidur di dalam kelas saat guru menjelaskan atau saat diberikan evaluasi, mengapa tidak mencoba metoda pengajaran selain ceramah di kelas yang membosankan, mengapa tidak memberikan evaluasi / penilaian cara lain selain “pencil and paper based test”.

Kalau ingin siswanya mengerjakan semua tugas pelajaran dengan baik, mengapa guru-gurunya tidak memberikan berdasarkan jadwal yang baik, semua guru ingin nampak memberikan tugas yang “wah” (ingin menunjukan berada dalam kerangka SAMR di M-Modification, salah satunya meminta siswa dengan tugas melaporkan dalam bentuk video). Mengapa tidak menjalankan metode “Integrated Curriculum”. Satu tugas berintegrasi dengan beberapa mata pelajaran. Guru memberikan tugas kepada siswa membuat video selama 5 menit, pokoknya siswa harus kumpul video, tanpa pernah menjelaskan ataupun membantu “platform” video apa yang lebih mudah dan nyaman bagi siswa (jangan-jangan gurunya tidak mengerti, contohnya video laporan sampai 5 menit, sementara iklan di media saja cukup sekian detik sampai 1-2 menit. 5 menit? itu bukan laporan tapi membuat film pendek).

Jika sekolah mendukung penggunaan teknologi secara tepat guna dan benar, pakar teknologi integrasi amat dibutuhkan. Pakar ini bisa membantu guru mendisain tugasnya, serta membantu siswa dengan solusi-solusi alat bantu yang tepat. Bayangkan, guru Bahasa Indonesia meminta tugas video drama, guru biologi meminta tugas video peredaran darah, guru Sejarah meminta tugas video drama sejarah, guru Pkn meminta video kunjungan museum dan kantor pemerintahan di Jakarta misalnya…… Kebayangkah bagaimana nasib sang siswa yang harus mengerjakan itu semua? Dia bingung, ditumpuklah sampai hari pengumpulan tiba dan hanya bisa bilang “susah bu, susah pak, gak bisa, minta tugas tambahan deh pak yang lain, remedial bu…..”.

Kalau ingin siswanya disiplin terus, baju seragam harus selalu dimasukkan, selalu pakai dasi, menurut saya sudah bukan di jaman yang tepat. Modifikasilah baju seragam menjadi tidak perlu model yang dimasukkan ke dalam celana atau rok. Dasi tidak perlu diwajibkan lagi, kalaupun tetap mau wajib, didisain dalam bentuk yang lebih modern bagi siswa perempuan, sementara bagi siswa laki-laki ada rompi modern penutup keseluruhan dasi yang tampak agar lebih modis saja, dan lain-lain.

Kerapian berseragam diberi Reward, itu seperti menyetujui bahwa setiap karakter anak harus sama. Definisi tiap individu bahkan anak tentang kerapihan selalu berbeda-beda satu dengan lainnya.

Mengingatkan anak terus menerus dengan contoh Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates, bisa menciptakan kebosanan. 3 atau katakanlah 200 orang seperti mereka dibandingkan +/- 7,3 Milyar penduduk dunia, tidak adil menurut saya didengungkan terlalu sering kepada siswa.

Sepakat, mereka bertiga dan banyak lagi contoh orang berhasil dan sukses, menjadi motivasi untuk menggiring kesuksesan siswa atau orang lain. Tetapi jika terlalu sering, siswa merasa ini aku datang ke sekolah belajar dengan guru atau kalian guru sudah berubah semua menjadi Merry Riana, sang motivator? Mengingatkan, setuju. Terus menerus, bosan.

Sekolah membantu siswa mendapatkan pendidikan formal. Karena formal, sekolah terjebak berbagai rutinitas. Sekolah membutuhkan dana, ada para guru dan staf yang membantu operasional sekolah dan profesional secara pekerjaan. Dana, berarti uang sekolah adalah salah satunya. Uang sekolah mahal, orang tua berharap anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik. Sekolah melalui para pembuat keputusan berpedoman bahwa pendidikan yang baik adalah seiring sejalan antara pendidikan karakter dan akademik. Karakter dan akademik dituntut untuk ditingkatkan. Jalan termudah, Reward dan Punishment. Terdengar umum? Iya, sebuah lingkaran setan mungkin 🙂 Disiplin dapat dikuatkan tanpa hukuman. Keyakinan dan pola pikir akan hal ini yang perlu hadir dulu dalam kelompok guru dan sekolahnya.

Saya masih terus merindukan sekolah yang seperti didengungkan untuk berubah di era abad 21 ini. Sekarang sudah hampir 18 tahun lewat dari awal abad 21. Lalu, masih begini-begini saja? Balik lagi berharap pendidikan anak harus dari karakter yang mana karakternya tercipta melalui teori dari pelajaran pkn, cb, pramuka, agama, sejarah, bahasa dan alat pacunya adalah Reward dan Punishment? Oh come on……

~Desember 2017~

Zaman Now

Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun diucapkan dalam sebuah percakapan.

Setelah itu, seperti biasa, banyak deh semua kejadian dihubungkan dengan istilah “jaman now”, seperti “kids jaman now’, “emak-emak jaman now”, “guru jaman now” dan lain-lain.

Saya mau berpendapat soal jaman now ini. Sebenarnya sih menurut saya, setiap masa, setiap generasi, setiap periode tertentu, pasti ada perbandingan antara yang lalu dengan yang sekarang. Biasa saja. (Kurang seru nih, saya tidak kekinian, jaman now itu “happening” lho, masak saya anggap biasa-biasa saja….hehe).

Membandingkan untuk mencari kelebihan, itu wajar kok. Pastilah terucap, semodel “lho kok sekarang lebih enak ya”, “dulu itu ya bersih deh sungainya”, “sekarang enak lho ada rumah lapis, eh kue lapis lezat”. Wajar kan?

Nah, yang kadang berlebihan pada saat membandingkan adalah penggunaan ungkapan “jaman now” yang kesannya mewakili dulu baik dan sekarang buruk. Bukankah kita semua akan mengalami fase perubahan dulu dan sekarang? Manusia sering lupa bahwa fase sekarangnya adalah kelanjutan dari dulunya. Dulu dia tidak mengalami lalu sekarang melihat kok ada yang mengalami dan itu harus dihindari, maka muncullah “anak jaman now kok suka clubbing, dulu mah kita main volley”. Ya kamu main volley, yang clubbing dulu juga banyak, kalau nggak, mana ada dulu Lipstick (ups, ketauan umur).

Anak remaja usia 16 tahun. “wah itu anak SD sekarang gayanya sok tua amat ya, berani lawan anak SMA, dasar anak jaman now”. Nah dulu kalian SD, merasa sudah besar belum? Lalu kalau anak SMA nya nakal, kalian sebagai anak SD tidak boleh melawan untuk kebenaran?

Ibu-ibu yang memiliki anak remaja. “Aduh Nak, kamu kok malas ya tidak mau belajar, main hape melulu. Dulu mama ini, belajar terus, kamu tuh ya anak jaman now, maunya enak saja…..” Mama, dulu mama kecil tidak ada hape soalnya, lalu sekarang mama punya hape yang diberikan secara sadar kepada anaknya (kecuali anaknya mencuri atau beli sendiri), mama suka belajar karena mama memiliki sifat itu, anak mama sekarang belajar juga(kadang baca dari hape sambil chat say hello dengan gebetan), anak mama memilih belajar yang dia sukai. Mama kesal? Iya wajar, sayapun maklum sekali. Tetapi yuk coba rasa kesal kita, kita bawa ke hal lain agar si anak remaja ini lebih menghargai waktunya.

Media gosip memberitakan artis yang diduga menjadi perusak rumah tangga orang lain. “Itu artis J, gak tahu malu ya, artis jaman now…….”. Ada yang dulu masih bayi berarti tidak dengar gosip mobil menabrak tembok rumah mewah 🙂

Bapak ibu Guru pusing melihat siswanya tidak belajar. “Aduh, anak jaman now, tidak bertanggung jawab dengan sekolah. Besok ujian, malah jalan-jalan ke mall dan di kelas tidak gigih berpikir untuk menjawab soal malah bobo”. Iya betul, ada yang begitu. Introspeksi kita apa? Hanya menyalahkan karena mereka anak jaman now, hidupnya keenakan dari lahir? Sementara kita melihat bahwa sistem pendidikan sekolah kita juga ada beberapa makin ngawur? KKM dibuat setinggi mungkin demi nama keren sekolah. KKM sekolah banyak yang 75 lho. Hebat kan. Lalu guru membuat soal ujian yang hebat sampai satu angkatan kelas harus mengulang karena terlalu banyak yang gagal? Sekolah yang efektif katakanlah 5 bulan, ada segala rupa ujian wajib bernama UTS, UAS/PAS. Ujian masih bersifat tertulis. Pelajaran tidak relevan bagi anak-anak. Banyak pelajaran harus dihapal mati. Dan jika siswa menjawab tidak sesuai kunci jawaban langsung salah pula.

“Murid jaman now, nyonteknya canggih”. Maksudnya mungkin bapak-ibu guru dulu kebetulan tidak suka mencontek dengan canggih tetapi hanya salin PR 🙂 hehe…. Bapak ibu tidak pernah mendengar cerita mencontek massal satu angkatan demi menghapal butir-butir Pancasila kan? Dulu belum lahir atau masih balita mungkin 😉

“Anak jaman now kurang tanggung jawab, terlalu dimanja dari lahir, semua-semua dipenuhi, hidup ini keras, kapan mau belajar?”. Pak, Bu, waktu lahir, bayi, anak kecil, bapak ibu tidak dimanja orang tuanya? Jika orang tua bapak ibu sanggup dengan finansialnya, bapak ibu pun bahagia dengan dipenuhi berbagai kebutuhan dan sedikit kemewahan kan? Bapak Ibu kecil dulu tahu kalau hidup bakalan keras? dulu makan kue batu? Periode per periode usia kita lah yang membawa kita lebih dewasa (semoga), lebih tahu, lebih bijak karena kita lebih dahulu mengalami berbagai persoalan dalam hidup. Kan kita lahir duluan. Dan lagi, bapak ibu guru bicara ini seperti menyalahkan orang tua, bapak ibu sudahkah jadi orang tua? Sudah sempurnakah gaya mendidik kita yang kebetulan menjadi guru ini terhadap anak-anak kita sendiri? Nanti guru-guru anak kita menyatakan hal yang sama, siapkah kita bapak ibu? Jadi tenanglah, manusia selalu memiliki masa / periode nya masing-masing 🙂

Jadi karena kita ada di periode sekarang, melihat yang terjadi sekarang, jika bukan bercanda, kurangilah membandingkan anak-anak sekarang dengan yang dulu kita alami. Beda. Dan tidak selalu relevan.

Contoh alat bantu mengajar saya jaman old dan jaman now 😉
                               

Mengapa OHP? Dulu tersedia di kelas.

Mengapa Apple TV? Tersedia Projector HDMI di kelas dan jaringan wifi.

Dua era yang berbeda bukan?

Gubernur vs Gabener

Uhm… Sudah 6 bulan 14 hari, kalau tidak salah, pak Ahok di penjara. 6 bulan? Bagi saya yang jadi guru, berasa cepat, satu semester ajaran telah berakhir. Bagi pak Ahok? euuh entahlah, pasti lama. Bagi keluarganya? Jelas lama banget.

Pak Ahok ini masih menjadi “the one and only” Gubernur saya sih. Sekarang ini Jakarta kehilangan Gubernur sebenarnya. Yang ada hanya penguasa dan yang merasa berkuasa. Sok… monggo…

Kata kaum sana, jika masih membicarakan pak Ahok, artinya belum bisa “move on”. Emang siapa di sini yang 42% bisa move on dari Gubernur kita? Kayaknya gak ada kan? Ya kalau kaum sana yang 58% marah dan tersinggung dengan ketidak “move on” an kita, ya silahkan dong, kan yang punya kelompok JKT58 ya kalian, bukan kami. Hehe…

Kenapa sih memilih tidak mau move on? Sebenarnya saya pribadi sih bukan masalah bisa move on atau tidak. Saya hanya tidak menganggap ada Gubernur lain setelah pak Ahok dan pak Djarot. Gabener sih ada dong, Gubernur yang tidak ada.

Bagaimana mau bener, kalau nafsu menang mengalahkan segalanya, menjual kata-kata manis untuk kebanyakan penduduk yang (maaf) memang masih bodoh. Mengancam lewat agama. Sumpah, itu sudah bagian yang paling menunjukkan kualitas manusia paling rendah. Wait…. emang Gabener manusia? Ya kali.

Apa ya contoh-contoh yang membuat Anies itu semakin tak ada nilainya di mata saya? Pertama, raut mukanya itu lho, ya ampun…… Tapi ya gitu, raut wajahnya menunjukkan ada keberpihakan dari suatu kegelapan, kemunafikan, ketamakan, keegoisan, kebodohan dan lain lain….

Apakah dia politikus sejati? Jika politikus didefinisikan sebagai jilat sana jilat sini, bicara sebentar A, sebentar B, bisa jadi si Anies ini politikus handal.

Dahulu mengatakan visinya yang ingin menenun kebangsaan, tetapi sekarang mendukung NKRI bersyariah. Dahulu menyatakan ormas tertentu tidak sesuai dengan Pancasila, saat Pilkada malah memuja sang ketua ormas di hadapannya bahwa inilah sang pemersatu bangsa. Gilak apa ya. Dahulu menyatakan kita adalah bangsa Indonesia, sekarang rebut Indonesia karena kita pribumi harus kembali mengambil alih negara ini. Super gila.

Bagi saya, yang paling “memuakan” dari kelakuan Anies adalah menyalahkan pak Ahok terlebih dahulu untuk sebuah keputusan gila yang dia perbuat. Harus salah pak Ahok dulu, lalu seenaknya berkicau ke mana-mana di media. Dan tertangkap basah telah salah bicara, enak saja bilang (contohnya) “salah alamat pengiriman masih bisa ditolerir”. Mau menaikkan APBD sedemikian besar? Tanggung jawabkan sendiri, ini malah menutupi borok dengan menyalahkan orang lain. Pengecut dan main kasar. Pak Ahok sedang dipenjara, beliau tidak bisa membela dirinya, lalu dua sontoloyo ini selalu melempar kesalahan kepada beliau? Duh, rendahnya.

Sebegitu takutnyakah mereka yang 58% memilih pemimpinnya yang seperti ini? Bolehkah saya bertanya, apakah penyebab ketakutan kalian akan pemimpin benar dan adil namun berbeda keyakinan dengan kalian? Yakin sih, gak bakal ada yang mau jawab. Sudahlah, saya tidak mau bermain pula dengan keyakinan dan Agama itu.

Memecah belah masyarakat dengan perkataan “kaum pribumi harus merebut kembali….”, tak apa asalkan santun. APBD melonjak, tak apa asal santun. Memfitnah orang lain, tak apa asal santun. Mendukung perubahan falsafah negara, tak apa asal santun. Anies termakan oleh gayanya dan pencitraannya sendiri yaitu ingin santun. Maaf, santun adalah jauh dari Anies. Lihatkah kalian cuplikan-cuplikan video Anies saat menjadi jubir Jokowi di tahun 2014 lalu? Dan bandingkan dengan gaya Anies di Pilkada dan saat ini? Seperti melihat kepribadian ganda kah? Atau lihat orang mabok? Hilang ingatan? Anda paham kan maksud saya?

APBD Jakarta 2018 mencapai lebih dari 77 trilyun rupiah (dari tahun sebelumnya 71 trilyun), yang mana di dalamnya terdapat sejumlah 28,99 milyar rupiah untuk TGUPP), dan dana hibah di beberapa bidang. Salah satunya HIMPAUDI 40.2 milyar dan PGRI 367 milyar. Lalu terbitlah selebaran yang berseliweran di grup WA guru-guru swasta tentang “Persyaratan Pendataan Guru Swasta Untuk Mendapat Tunjangan dari Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Wow bukan? 🙂 Lalu organisasi Guru yang lain seperti FSGI, IGI dan lain-lain merasa cemburu, mengapa dana hibah disalurkan hanya melalui PGRI…… jreng jreng jreng….. selamat lah kalian guru yang akan meminta dana hibah tersebut. Gaji guru swasta yang hanya 1 juta rupiah bersaing dengan yang sudah mencapai 10 juta rupiah, ditambah dengan tunjangan sertifikasi, sekarang berebut dana hibah. Saya hanya mampu berucap selamat mengejar hibahmu 😉   *Cari makan gak gitu-gitu amatlah tapi Anies Sandi mengadu domba guru semua.

Kebetulan dan untungnya di sini adalah, saya tidak pernah merasa terjebak “menyukai” sosok Anies yang di awal kemunculannya dahulu menyulut orang banyak untuk kagum dan terpesona dengan kata-kata yang santun dan bahasa-bahasa nan indah yang sering dia ungkapkan. Sejak awal, saya kurang menyukainya.  Mungkin karena saya tidak sreg dengan orang yang suka berkata-kata terlalu muluk, jadi rasanya ada yang tidak berkenan melihat sosok ini. Ya tentu saja ditambah gaya Anies yang kalau bicara disertai dengan memelet lidah ke bibir, entah apa maksudnya, tidak suka saja. Titik!!

Ketidaksukaan ini pernah saya ungkapkan dalam pembicaraan di media pesan online dengan seorang rekan senior yang kebetulan pula merupakan tetangga Anies semasa di Jogya. Rekan ini mencoba menasehati saya dengan mengatakan susah mencari orang baik sebagai pemimpin, Anies orang baik. Baiklah. Saya mencoba menyikapi dengan kebetulan mendapat undangan berada di ruang yang sama dengan “mantan Menteri Pendidikan” ini di suatu acara di bulan Mei 2016. Di mana rekan-rekan guru lain berebut mengambil foto bersama Anies, dan saya ingat saat itu saya merasa baiklah saya mau satu ruangan dengannya, tetapi ambil foto? gak lah, mending saya berfoto bersama Denny Chandra, sang host 🙂

27 Juli 2016, jabatan menteri pendidikan itupun dicopot oleh Presiden Jokowi. Pertanda apa? Hanya Presiden yang tahu persis dan Tuhan tentunya 🙂

Dicopot, lalu berambisi menjadi DKI 1, lalu berhasil menjungkalkan pak Ahok, bahkan sampai ke penjara.  Ow, tentulah, ini akan disanggah toh sama Anies, ya pasti dan tak apa-apa. Tetapi rekam jejak, kelakuan Anies dan tim sukses yang membawa agama ke dalam perpolitikan, jubir Pandji, penasehat Eep, kenyataan Riziek bisa satu lokasi dengan Anies, pak Djarot yang notabene Islam namun diusir dari Mesjid, semuanya makin menunjukkan bahwa Anies adalah penjilat, kemaruk kekuasaan, menghalalkan segala cara dan mengemasnya dengan kata-kata buaian yang menyejukkan sebagian orang yang menurut saya itulah hipnotis kata-kata oleh Anies. Alhasil, yang terpengaruh 58%, yang menjadi korban adalah kita semua. Terngiang kata-kata “Anies orang baik”……. saya percaya pada dasarnya semua manusia adalah baik, tetapi jika di hati seseorang ditumbuhkan jiwa iri, dengki, jahat, hawa nafsu menguasai, membuka diri untuk pengaruh ketidakbaikan tadi, maka yang seharusnya manusia adalah baik, lambat laun akan berubah menjadi manusia tidak baik.

Sedih memikirkan Jakarta. Setelah puluhan tahun hidup di Jakarta, paling berkesan dengan jaman pak Ahok, perubahan itu nyata, kali bersampah menjadi kali bersih, jalanan berantakan, menjadi jalanan lebih mulus, banjir menjadi berkurang di beberapa titik utama banjir selama ini. Dan kebaikan itu diganti bagai hujan sehari, oleh orang semodel Anies. Jika memang diganti oleh orang yang bukan Anies, menang Pemilu secara wajar, saya rasa kita sedih kehilangan tetapi akan melanjutkan dengan Gubernur baru.

Sekarang? sudah mual dengan Gabener Anies dan Sandi (tolong jangan dilupakan ini paket bersama 😉 ). Sulit untuk tidak sedih melihat kenyataan sehari-hari, ada saja berita-berita tentang mereka yang luar biasa tidak masuk akal.

Kangen pak Ahok, adalah ungkapan perasaan hati banyak rakyat Jakarta yang benar-benar memahami perubahan terbaik untuk Jakarta. Kangen ketegasan pak Ahok memelihara sejarah Jakarta, seperti Monas, dengan tidak mengijinkan dipakai sebagai sarana pesta keagamaan tertentu. Karena Monas adalah Monumen Nasional, bukan gedung / lapangan untuk tempat sembahyang. Yang oleh Anies kembali dipakai pertama kali untuk acara shalawat, lalu sebenarnya berlanjut untuk reuni (pasangannya reuda – red 🙂  jayus) 212. Kelihatan kan polanya, memberi ijin di awal, untuk sesuatu yang lebih besar demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, ingin mengubah falsafah negara Pancasila menjadi NKRI bersyariah. Pejabat Pemerintah ikut di dalamnya? Aneh? iya, bagi saya sangat aneh semua ini.

Tetap sehat di Mako Brimob ya pak Ahok. Berkarya dari balik jeruji. Kuatkan hati, iman dan fisik. Tuhan berkati.

GeoGebra @EduX – October 2017

On Saturday, 14 October 2017, I joined the event held by EduXpert, in Menara Kibar, Menteng. The event based on their motto, “with the aim of enhancing the integration of technology in the classroom, so that it directly impacts students’ learning attitude and the understanding of teaching materials”, fits for us, the educators.

I had opportunity to share my class with GeoGebra, a tool that exist from 2001. After 16 years, GeoGebra still commit to help students and teachers to discover Math deeper. Solve equations, graph functions, create constructions, analyze data, explore 3D math. Amazing!

Last month, in September 2017, they launched the shiny new GeoGebra Graphing Calculator and Geometry apps. The completely revised design and cool new features are available for all devices.

They also make “Turn your Phone into an Exam Calculator”. The exam mode has been developed to create an easy-to-use solution for paper based exams where phones or tablets with the GeoGebra Graphing Calculator app replace a traditional calculator. During exam mode, students are offline and can only use the GeoGebra app – nothing else.

I (and hopefully Math Teachers 🙂 )love GeoGebra because:

  • It allows me and teachers to continue teaching. GeoGebra doesn’t replace me. It helps me what I do best – teach.
  • It allows me and teachers to plan and deliver better lessons. GeoGebra gives me the freedom to create lessons that I know know my students will find interesting.
  • It allows me and teachers to connect to other teachers as a part of a global math community.

I really do hope for my students and all students who use GeoGebra, to love it, too, because:

  • It makes math tangible. GeoGebra makes visual way, students can finally see, touch and experience math.
  • It makes math dynamic, interactive and fun (fun?? 🙂 ), that goes beyond whiteboard and leverages new media.
  • It makes math accessible and available.
  • It makes easier to learn. The interactions created by GeoGebra fulfill the students’ need in order to absorb mathematical concepts.

So teachers, don’t just wait, please go and explore GeoGebra as much as you can to fulfill your mathematics class’ need and makes your students absorb more concepts 🙂

Below are photos and a video during my sharing session sparks:

 

GESS Indonesia 2017

 

This year, I had opportunity again to join GESS as one of the speaker in their Conference Section.

I shared twice. My personal sharing session on 28 September 2017, and as an Microsoft Innovative Educator Expert on 29 September 2017.

In my personal sharing, I shared about Desmos Classroom Activities, a collection of unique and engaging digital activities, which are free for you and your students.

You can choose bundles from other teachers sharing and use them in your class. Or even you can create your own activities that fit for your students and see how they will learn Math and love learning Math.

Here is my presentation:

In my second sharing, I shared OneNote Class Notebook in Classroom. OneNote is a member of the Microsoft Office family. With OneNote, I bring my students together in a collaborative space or give them individual support in private notebooks. And no more print handouts. I can also organize lessons and distribute assignments from a central content library.

Here is my presentation: