Meresponi Kritik Pak Abraham Samad

Saya tertarik sekali dengan berita di bawah ini. Sejak ditayangkan di harian online ini tanggal 26 November 2013 lalu. Maka saya kutip 90% beritanya berikut:

JAKARTA, KOMPAS.com — Sistem pendidikan nasional kembali menuai kritik. Kali ini kritik datang bukan dari tenaga pendidik atau aktivis pendidikan, melainkan dari Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Kampus Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, Selasa (26/11/2013).

Menurut Abraham, ada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Ia menilai pendidikan lebih menitikberatkan kecerdasan kognitif dan melupakan kecerdasan emosional. Tolok ukur kecerdasan terletak pada nilai hasil ujian, bukan pada proses siswa mendapatkan nilai tersebut.

“Ada yang salah dengan dunia pendidikan kita. Contohnya sistem UN (Ujian Nasional), pemerintah menerapkan standardisasi, artinya, pendidikan kita berorientasi memacu anak-anak pintar secara intelektual saja,” kata Abraham.

Sistem pendidikan seperti itu, kata Abraham, hanya akan mendorong siswa fokus pada hasil akhir. Padahal, seharusnya pemerintah dapat membuat sistem pendidikan yang membangun kecerdasan emosional siswa agar dapat berperilaku jujur sejak bangku sekolah.

Andai saja saya mengenal beliau, ingin rasanya memperpanjang sedikit diskusi mengenai seputar pendidikan ini (Satu putaran sajalah, jangan terlalu berputar-putar nanti makin bias dan membingungkan 🙂 ).

Maksud pak Abraham dengan “Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Mendorong siswa fokus dengan hasil akhir…” kalau boleh saya komentari adalah lebih kepada “sikap”, “mindset” kebanyakan orang Indonesia yang memperlakukan ujian akhir sepertinya harus didewakan. Lupa akan proses belajar.

Mengapa saya sebut dengan kebanyakan orang Indonesia? Karena walaupun mungkin menggunakan tambahan kurikulum dari luar negri tetapi sikap mental dalam mengaplikasikan kurikulum tersebut sama saja, tiada berbeda. Pengajaran banyak berlangsung apa adanya, tidak ada pengendalian mutu para pendidiknya. Dan yang terpenting adalah mengejar ujian akhirnya saja, yang seperti UN.

“Teaching for the test” , ya begitulah yang saya rasakan. Jika memiliki jam belajar tatap muka yang memadai dengan siswa, mengapa harus dipaksakan hanya belajar model “drilling” saja?  Apa yang mau ditularkan turun temurun kepada para siswa itu? Bahwa jika waktu kepepet, yang penting semua selesai dan tercover dengan baik tanpa perlu mendalami lagi isi dan permasalahannya?

Walaupun sekarang masuk dalam kategori “pendidik muda” tapi akibat jiwa turun temurun tadi, ya tetap saja memperlakukan semua bentuk pembelajaran, mau datang dari kurikulum KTSP,  kurikulum 2013 sekalipun maupun kurikulum dari luar negri, bermodel seperti drilling tadi. Apa bedanya dengan UN? Yang beda adalah paling bentuk soal, di mana ujian standarisasi asing mungkin lebih membuat siswa berpikir bukan menebak pilihan jawaban. Standarisasi UN yang terparah karena dia menentukan lulus atau tidaknya siswa.

Sampai mirisnya adalah jika seorang pemimpin sekolah menyebut bahwa dirinya masih mempercayai bahwa metode “drilling” itu pasti akan membuat siswa dapat menjawab soal. “What do we expect, people come from the best drill camp will treat students nowadays to do the same thing”.

13 – 17 mata pelajaran tingkat SMP – SMA, dan masih banyak guru yang mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk memberikan tes mereka yang paling akurat adalah tes tertulis. Ada bukti, sah, tertulis. Kecerdasan kognitif selalu lebih mudah diukur. Jadilah tampak kecerdasan ganda hanya penyebutan saja tapi selalu yang terukur lebih diagungkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *