Dumb Student, Smart Student

Sewaktu kita sekolah atau kuliah, atau sekarang yang sedang menjalani profesi sebagai pendidik atau orang tua, murid / mahasiswa di kelas dapat dibagi dalam 3 kategori: murid pintar, murid rata-rata dan murid bodoh. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya masuk ke kategori pertama yaitu murid yang pintar dan menghindari yang terakhir atau murid bodoh.
Orang tua seringkali mendaftarkan anaknya untuk kursus ini, kursus itu, agar nilai anaknya menjadi bagus. Orang tua seringkali memfokuskan pada kelemahan anaknya dan berusaha menutup kelemahan anaknya itu.

Ada suatu kejadian begini: dalam sebuah workshop, seorang peserta ditanya: jika anda mempunyai anak yang menyukai menggambar tetapi nilai matematikanya tidak bagus. Keuangan anda hanya cukup untuk membiayai 1 jenis kursus, kursus apa yang akan anda berikan ke anak anda? Hampir semua peserta menjawab: KURSUS MATEMATIKA….. 🙂
*hmm ide menarik nih, buka kursus saja ya penulis? :)*

Persepsi berikut ini sering muncul di benak kita:
Murid yang pintar biasanya adalah tipe yang ngotot dalam belajar, mereka takut jika tidak bisa mengerjakan ujian, stress jika mendapat nilai buruk. Tipe murid inilah yang biasanya ikut les ini dan itu, karena mau SEMUA pelajarannya mendapat nilai baik.
Murid yang bodoh biasanya adalah tipe orang yang masa bodoh, mereka tidak terlalu memikirkan akan dapat nilai berapa. Murid tipe ini biasanya mempunyai sesuatu yang sangat mereka sukai dan mereka lebih suka melakukan hal itu daripada belajar.
Sedangkan murid rata-rata berada di antara 2 kategori itu.

SUKSES DI SINI HARUS DIBEDAKAN DENGAN KAYA

Menjadi kaya berarti mempunyai lebih banyak uang, sedangkan sukses berarti mengerjakan hal yang mereka sukai dan menyukai yang mereka kerjakan, dan orang-orang menghargai apa yang mereka kerjakan.

Dalam banyak kasus, banyak murid yang katanya bodoh semasa sekolah dan kuliah menjadi orang yang sukses, dan banyak pula yang menjadi sukses dan kaya.

Sedangkan murid yang dulu pintar banyak juga yang menjadi kaya tapi sedikit yang sukses. Mengapa demikian? Karena dari kecil murid yang bodoh sudah terbiasa FOKUS kepada KEKUATAN yang dia miliki dan tidak terlalu peduli dengan kelemahannya. Sedangkan murid yang pintar biasanya TIDAK FOKUS pada sesuatu, terlebih lagi mereka terbiasa mendahulukan perbaikan pada kelemahan.

Beberapa contoh berikut:
Tipe kurang pintar berakhir dengan kesuksesan dan kaya:
Semua pasti mengenal Deddy Corbuzier, ternyata yang semasa sekolahnya juga tidak termasuk murid yang cemerlang, tetapi sejak kecil telah menunjukkan kecintaan yang mendalam dengan dunia sulap.

Anggun, dari usia 12 tahun sudah pamer kebolehan sebagai artis, sulit untuk mengatakan eksis saat sekolah dulu, tekad luar biasa, meninggalkan tanah air untuk berkarier go international. Talent yang luar biasa untuk oleh vokal, my favorite, sekarang menjadi seorang yang “very famous in France”.

Tipe pintar berakhir dengan kesuksesan dan kaya:
Agnes Monica, kebetulan saya sempat mengajar dia saat kelas 7, siswa yang super cerdas, cantik, pintar, segalanya, idaman orang tua dan impian guru mengajar siswa yang mudah mencerna pelajaran. Di saat dihadapkan pada pihan menekuni sekolah atau karier, dengan bijaksana tetap memilih berkarier, dan sangat sukses. Karier pun dengan cerdas dilaluinya.

Kembali ke dunia nyata, yang banyak kita amati di sekitar, yang dulunya murid yang pintar, serngkali berakhir dengan bekerja di kantoran, mungkin saja mereka menghasilkan banyak uang tetapi belum tentu mereka sukses, karena mungkin saja mereka tidak terlalu menyukai apa yang mereka kerjakan. Hal ini karena mereka dari kecil diarahkan untuk memperbaiki kelemahan dan kurang memperkuat apa sebetulnya kekuatan mereka.

Jika ada siswa kita atau anak kita termasuk dalam kategori pintar, jangan terlalu cepat senang dahulu. Tetaplah tugas kita mejalani panggilan sebagai seorang pendidik dan orang tua untuk menggali apa yang mereka sukai, apa yang dengan senang mereka lakukan, berilah support agar mereka melakukan apa yang mereka senangi bukan hanya belajar terus menerus.

Jika mereka termasuk dalam tipe bodoh dan lebih menyukai kesenangannya daripada belajar, cobalah kita yang dewasa sebagai pendidik dan orang tuanya mencari suatu alasan tentang pentingnya tetap belajar untuk mendukung kesenangannya itu. Buatlah pembelajaran yang menarik, ajaklah bertukar pikiran, berikan semangat dan motivasi yang positif, sayangi dan cintai mereka lebih, percayalah bahwa dibalik kata-kata ciptaan manusia sebagai “bodoh”, ada sesuatu emas dalam diri anak-anak seperti itu.

Matthew 25:9 ~ For everyone who has will be given more and he will have an abundance. Whoever does not have, even what he has will be taken from him.

Sumber:
MatzS’tat ~ edisi sebelas 09.2004
Mutiara Inspirasi ~ Internet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *