Artikel Yang Tertunda (Lagi-lagi Kurikulum 2013)

Sudah sejak Juni 2014 lalu, artikel ini tertunda, karena ada perasaan bingung mau menuliskan dari pola pandang yang mana 🙂

Kepala juga terasa buntu, karena terlampau banyak yang ingin dituangkan dalam sebuah judul. Idealnya harus dibagi menjadi beberapa sub judul 🙂

Belum lagi perasaan “ajaib” membaca KI / KD yang luar biasa, seperti: “Memiliki perilaku jujur dan disiplin tentang proses daur air rangkaian listrik, sifat magnet, anggota tubuh (manusia, hewan, tumbuhan) dan fungsinya, serta sistem pernapasan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia”.

Menjadi sulit bagi saya untuk membuat ulasan tentang sisi mana yang bisa diangkat ataupun yang untuk dikritik karena rasanya semua sudah kacau.

Namun sekarang sepertinya sudah sah jika artikel ini tertunda bahkan ya distop saja (setidaknya menurut saya, haha), karena kurikulumnya pun telah dihentikan per Desember 2014 (yang konon katanya sementara dulu sampai semua instrumen ditinjau dan dievaluasi kembali).  Sekolah – sekolah yang baru satu semester menjalankan kurikulum 2013, boleh langsung menghentikan pelaksanaannya . Sementara yang sudah melewati tiga semester (+/- 6000 sekolah yang diujicobakan) boleh memilih untuk melanjutkan kurikulum 2013 atau boleh juga kembali ke kurikulum 2006.

Sekedar sharing pemikiran sebelum resmi dihentikan oleh pak Mentri 🙂 (punya bayangan saja bahwa pemberhentian ini akan terjadi dan benar).

_______________________________________________________________________

Sisi Lain Kurikulum 2013

Dalam Perspektif saya…..

Kurikulum 2013 masih menebar “pesona” menjadi “primadona” berbagai tulisan seputar pendidikan di Indonesia.

Semenjak menjelang dua tahun terakhir, saat didengungkan akan muncul sebuah kurikulum baru, sebagai kurikulum paling sempurna yang pernah dimiliki Republik ini, sudah banyak terjadi pelatihan-pelatihan dengan sasaran sekolah (para kepala sekolah) ataupun guru-guru bidang studi. Dan proses sedikit demi sedikit konon sudah terjadi di beberapa sekolah yang diminta maupun yang mengajukan diri sendiri untuk melaksanakan di kelas 1, dan 4 SD, 7 SMP dan 10 SMA.

Lalu mulai tahun ajaran Juli 2014 ini, diharapkan telah terjadi implementasi untuk jenjang 1, 2, 4, 5 SD, 7 , 8 SMP dan 10, 11 SMA.

Semangat dan niat menggebu-gebu dari kemendiknas untuk implementasi kurikulum ini mungkin patut diacungi jempol. Sampai kadang terlihat pokoknya bergabung deh ikut pelatihan, tugas di sekolah, titip tugas saja, ada guru pengganti. Bukan hal baru, ingat PLPG 11 hari, tugas guru pengganti, saling melengkapi, saling membantu, setelah cair bagi-bagi rejeki, sounds familirar, isn’t it? 🙂

Saya mengamati seolah-olah ada dua kubu, pro dan kontra terhadap kurikulum 2013. Yang kontra tentu saja menentang habis implementasi kurikulum yang dianggap sebagai konsep tidak jelas dengan bahasa KI (Kompetensi Inti) yang aduhai. Kurikulum pembodohan, kurikulum dengan konsep seragamnya, kurikulum yang menghilangkan kesempatan guru TIK berkarya (walau menurut saya tidak begitu, bisa dibaca di sini). Yang pro sebagian melihat karena ini sudah jauh lebih enak, administrasi sudah banyak yang disiapkan terpusat, tugas guru menjadi lebih ringan. Atau mungkin untuk menjembatani guru yang masih dalam tahap belum mampu menyiapkan pembelajarannya maka dibantu langsung dengan pemusatan ini.

Saya pribadi belum sreg dengan implementasi kurikulum 2013 🙂

Mengapa selalu membandingkan kelemahan kurikulum yang lama? Dengan tabel perbandingan antara kurikulum terbaru dengan yang lama, selalu menyajikan data bahwa yang lama selalu penuh dengan kekurangan. Seperti pada tabel pelajaran matematika dari bahan pelatihan kurikulum 2013 berikut:

kur2013-1

Saya yakin ada guru telah menggunakan tindakan kolom kanan karena dari beberapa kurikulum yang pernah ada di Indonesia yang selalu mengesankan yang terbaru adalah yang terbaik, mereka   mengkombinasikan mana yang terbaik dan tepat bagi siswa mereka masing-masing.

For me, no matter what the curriculum is, the most important thing is the actual process happening in classes. How to a student get interested in a lesson and try to dig deeper the knowledge as he wants, is the real job of teachers.

Berikut cuplikan kompetensi inti yang diharapkan dimiliki oleh para peserta setelah mengikuti pelatihan kurikulum 2013: (diambil dari sini)

1.  Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013.
2.  Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013.
3.  Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional, elemen perubahan, SKL, KI dan KD, serta strategi implementasi).
4.  Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Buku Guru, dan Buku Siswa.
5.  Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013.
6.  Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan Scientific secara benar.
7.  Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Discovery Learning.
8.  Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar.
9.  Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut, benar, dan santun.
Idealnya kompetensi inti tersebut sudah merasuki jiwa para guru yang sudah terlibat pelatihan, bukan begitu?

Kendala dari implementasi kurikulum 2013

Beberapa kendala yang menjadi isu sulitnya implementasi kurikulum ini adalah:

1.  Sepertinya tidak dibagi jelas topik pelajaran pada jenjang yang mana sehingga menimbulkan persepsi pengulangan di tiap jenjang. “Mindset” dari yang telah terbiasa adalah ada acuan jenjang dan topik pelajarannya apa.

2.  Sistem penilaian otentik. Penilaian otentik di sini didefinisikan sebagai pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, ketrampilan dan pengetahuan. Penilaian ini juga harus menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain lain. Wow.

Penilaian seperti ini tentu saja dilandasi proses pembelajaran otentik yang “scientific” dan “contextual”.  Berikut tabel dari bahan pelatihan kurikulum 2013 level SMP IPA:
kur2013-2

Ada sekolah yang sudah cukup baik menerapkan rubrik penilaian sebelum melakukan suatu kegiatan pembelajaran. Di”sharing “kan terlebih dahulu kepada siswa agar siswa benar tahu dan paham akan struktur asesmen yang diperlakukan pada dirinya. Tetapi ada pula banyak sekolah yang bahkan gurunya tidak paham apa itu rubrik penilaian.

Ada sekolah yang sudah baik dengan sistem asesmen dan rubrik, tetapi gurunya masih tetap beranggapan bahwa penilaian tersebut kurang sah, karena belum dites secara kognitif kemampuan siswanya dalam menghapal pelajaran seperti IPS ataupun menjawab soal “sulit” dalam matematika sampai kalau tidak dapat dijawab siswanya itu menunjukan “skill” nya sebagai guru “killer” di matematika. Bahkan untuk mengkombinasikan penilaian tersebut satu sama lain saja masih berasa sulittttt sekali.

Ada pula sekolah yang terlalu sering mengisi kegiatan belajarnya dengan beragam test. Dengan bahasa yang berbeda tetapi semua berarti test, try out, trial, mock, uji coba, apapun lah. Lalu karena terlalu banyaknya test menyebabkan waktu efektif belajar siswa berkurang, berkurang karena harus melakukan test itu sendiri ataupun berkurang karena harus diliburkan sebagai imbas dari ruang kelas yang tidak cukup atau guru yang harus mengawas test-test tadi. Tanpa belajar, pemberian “worksheet” jalan terus. Belajar mandiri dipakai sebagai dalih.

Belum lagi ada sekolah-sekolah yang memberikan pelajaran tambahan resmi (memungut biaya kepada siswa) dan menggunakan waktu tersebut untuk sesi pelajaran yang tertinggal di kelas, dan yang tidak ikut menjadi “yaaahh salah sendiri tidak ikut”.

Diakhiri dengan penerapan remedial. Remedial di ujung performance siswa. Bisa berupa test perbaikan, bisa berupa pemberian tugas / proyek singkat. Kadang berkesan seperti yang penting perbaikan, diberi tugas deh, apa saja, supaya kelihatan siswa dan guru ada usaha. Miris. Tapi hayoo ini demi kkm lho, peringkat sekolah ini urusannya, jangan sampai dinas yang menemukan nilai siswa di bawah kkm. Dinas itu pembimbing sekolah, kan? 🙂

Lalu kalau cerita seperti beberapa tersebut di atas, dimana bagian saintifik, kontekstual dan otentiknya ya?

3. Guru hanya perlu membuat RPP saja sebagai administrasi. Beberapa kali saya baca dan mendengar seolah-olah “as simple as that”. Sudah sadarkah akan ‘ketrampilan’ guru dalam menduplikasi silabus bahkan ktsp nya sendiri? *sindiran untuk diri sendiri juga*. Mental mengambil ini bukan hanya silabus lho, tapi juga RPP, ganti tanggal, hari, pertemuan dll. RPP lengkap juga dibuat saat akan dinilai kinerjanya oleh kepala sekolah…..ckckckck.

Niat mulianya ingin membuat si guru fokus pada operasional dia sehari-hari yaitu rpp tadi.

Coba simak pada bagian RPP mengacu pada Silabus, Silabus pada KI/KD, KI dengan 4 kelompok utama, 2 kelompok pertama KI1 dan KI2 sebagai “indirect teaching” bagi kelompok KI3 dan KI4….. Sama sekali tidak simpel 🙂

Apakah pada pelatihan implementasi kurikulum 2013 para guru dibekali dengan tips membuat RPP? Apakah ada rambu-rambu suatu RPP dinilai benar/salah atau baik/kurang baik? Kadang hal tersebut masih dibutuhkan oleh guru. Karena ujung-ujungnya menilai kinerja seorang guru lebih sering mengacu pada kualitas kerja administrasinya (RPP tadi, silabus waktu jaman ktsp, lanjut sampai dokumen PTK), padahal yang terjadi di kelas jauh dari standar bagusnya pembelajaran di kelas yang telah divideokan untuk keperluan sebagai “role model” yang dengan mudah dapat diunduh dari youtube.

Jika RPP menjadi ujung tombak, jangan heran nanti untuk membuat satu RPP, akan lebih lama menguras energi si guru dibanding waktu dia mengalami proses belajar mengajar bersama siswanya di kelas. Demi bagus RPP, “bapak tidak bisa masuk kelas dulu ya, ada urusan penting nak, ini tugasnya dikerjakan lalu dikumpulkan”.

Sejalan dengan administrasi RPP tadi, dengan penyesuaian SI (Standar Isi) menjadi KI/KD, dan KI yang harus menonjolkan sikap spiritual dan sosial, maka mungkin sekali guru membutuhkan trik untuk memadu padankan hal tersebut.

Cerita rekan pada saat pelatihan

Beberapa guru yang telah mengikuti pelatihan sempat menuturkan mengapa porsi besarnya bukan tips menerapkan kurikulum dalam kegiatan sehari-hari, tetapi malah lebih ke hal landasan hukum / Undang-Undang, teori perubahan “mindset”,  bincang sana bincang sini ( tapi itu biasa kan? 😉 ).

1. Ada pelatih / pembicara yang berucap “bapak ibu guru jangan bingung wong kami saja masih bingung”. Jujur sih, tetapi jujur yang tidak perlu dan malah aneh diucapkan dalam kapasitas mau menerima beban jabatan sebagai pelatih.

2. Pembicara yang berkomentar berkenaan dengan administrasi kurikulum 2013, dengan segala sistem asesmen nya, mengatakan “sebaiknya siswa bapak/ibu yang kelas 8 dan 11 dinaik kelaskan saja. Karena kalau siswa tinggal kelas, dia harus menyesuaikan diri dengan kurikulum baru dan gurunya pun nanti repot menyesuaikannya”. Memang siswa paham liku-liku kurikulum itu seperti apa? Siswa hanya tahu dan paham proses belajarnya di kelas, itulah kurikulum yang dia dapat.

3. Guru tidak lagi bertindak sebagai pemberi pelajaran saja, tetapi sebagai fasilitator. Pernyataan yang sebenarnya tidak baru lagi, sudah cukup banyak diterapkan berkenaan dengan pendidikan abad 21 pula. Anggaplah ini sebagai pengingat berulang bagi kita para guru.

4. Penekanan pada Integrasi antara mata pelajaran. Ada dua contoh di sini:

a.  TIK sebagai media bagi mapel lain. Yang masih aneh bagi saya adalah ungkapan “sebagai media”, memang untuk dapat sebagai media, dia tidak perlu dipelajari? Nanti jadi guru berpikir ke siswanya begitu saja tidak bisa pada saat meminta siswa membuat presentasi berbentuk animasi. Memang gurunya pasti bisa? 😉

b.  Dengan KI yang berlaku sama untuk semua mata pelajaran maka semakin memudahkan guru antar mata pelajaran berintegrasi. Dengan KI1 dan KI2 berisi karakter dan dituangkan dalam KI3 dan KI4 sebagai pengetahuan dan penggunaan bahasa yang logis di dalam RPP nya. Terkesan akan lebih mudah bagi para guru membuat kolaborasi antar mapel dengan KI yang sama ini, padahal jujur sih bagi saya baca KI itu bingung dan rancu, saya merasa definisi tiap orang bisa berbeda-beda. Bagaimana mendefinisikan perilaku jujur, disiplin pada KI2 menjadi perilaku patuh dalam menjumlahkan dan mengurangkan dalam mapel matematika. *tervickinisasi*

Contoh:

1. Dalam pelatihan selalu disebut contoh nyata penggabungan antar mapel maupun mengintegrasikannya dengan karakter.

2. Dalam mapel Matematika kelas 8. Topik bangun datar segiempat belah ketupat. Siswa diminta mengenakan ulos yang bermotif  belah ketupat, lalu terciptalah pembelajaran matematika mengenal bangun belah ketupat dan mengenal budaya ulos dari mapel Seni Budaya. Serta membentuk karakter siswa yang mencintai tanah air dari budayanya tadi.

Menurut saya, hal di atas lebih cocok disebut sebagai aplikasi pembelajaran dibanding kan integrasi atau kolaborasi. Itupun aplikasinya kurang cocok bagi sekolah di Jakarta / daerah lain selain Sumatera Utara.

Apakah kurikulum akan berjalan baik?

Jadi, bagaimana kurikulum 2013 ini akan berjalan? Akan berhasilkah? Tidak dapat dipastikan karena tidak juga ada katalisator pasti yang menyebutkan dan membuktikan kurikulum SI KTSP 2006 berhasil atau gagal. Pendidikan karakter yang terus didengungkan dengan kata-kata indah di KI kurikulum 2013 dapat menjadi bumerang sendiri. Muluk-muluk dan malah menciptakan siswa yang siap menjawab dan bersikap baik jika dibutuhkan saja (siswa menjadi paham kapan dia diminta berlaku normatif).

Mengapa pelajaran matematika siswa harus patuh berhitung? Lalu di lain pihak diminta menghargai jawaban salah tetapi kreatif? (kriteria kreatif siapa?). Atau apakah menciptakan siswa patuh dalam berhitung itu berarti dia tidak boleh salah hitung sementara teknologi sudah memiliki alat hitung paling canggih sekalipun, sehingga jika salah hitung hasil akhir saja seluruh cara dan nalar yang sudah tertuang di jawaban siswa langsung disalahkan?

Kita lihat saja. Pokok utama dari ini semua adalah siapkah kita berubah? Maukah kita berubah? Maukah kita merubah paradigma belajar kita sendiri dan para siswa? Maukah guru merubah sosoknya tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang ingin digugu dan ditiru saja?
Masih panjang…..

Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *