10 Hal Yang (mungkin) Anda Alami Sebagai Guru

photo (2)

Anda ingin membuat management kelas yang rapi.

Semua sudah tercatatkan dengan baik, sudah dijelaskan kepada siswa anda sendiri. Konsekuensi sudah ditetapkan antara anda dan siswa anda. Anda sudah merasa menjadi manajer yang baik di kelas anda. Tetapi dalam proses pembelajaran berlangsung, ternyata anda harus kejar-kejaran dengan waktu, mengajar banyak kelas, banyak siswa, banyak tingkat. Akibatnya sering merasa gagal sendiri, banyak hal menjadi tidak terpegang. Muncul perasaan bahwa orang lain dapat menganggap anda tidak konsisten.

Anda adalah seorang guru berarti anda harus siap dengan segala hal mendadak di luar rencana.

Tidak selalu “plan” anda dapat dilakukan. Tertunda jauh lebih baik daripada terpaksa harus batal. Tetapi jangan kecewa pula jika rencana anda memang harus batal dan digantikan oleh rencana yang lain. Memiliki lebih dari satu rencana adalah hal yang wajar. Jadi janganlah hanya sekedar memaksakan semuanya harus sesuai dengan satu rencana saja. Misalkan bila anda yang berhalangan hadir di kelas karena keperluan pribadi atau gangguan bencana seperti banjir dan hanya bersifat “temporer”, sebaiknya tidak menuntut guru pengganti anda melakukan serupa yang anda mau. Cukup “guideline” yang jelas dan pembelajaran terwakilkan.

Anda ingin melakukan modifikasi pada management kelas anda yang sudah disosialisasikan di awal tahun ajaran.

Ternyata, apa yang sudah anda tetapkan dan sosialisasikan memiliki kendala dalam pelaksanaannya karena rupanya siswa-siswa anda di tahun ini memiliki keunikan sendiri dan anda belum mengetahui dan menyadarinya sebelum bertemu langsung dengan mereka.

Bolehkah memodifikasi management kelas yang sudah anda tetapkan tadi? Tentu saja boleh. Buanglah kekuatiran akan pendapat rekan yang mungkin mengatakan anda tidak konsisten. Mengubah sesuatu bukan melulu sebagai tidak konsisten. Asalkan, anda benar bertanggung jawab akan apapun yang anda lakukan.

Ada contoh kasus seperti di bawah ini, yang nampaknya bisa membuat anda ragu untuk mengambil putusannya.

Tahun ini anda mulai mendapati jika siswa anda kebanyakan kurang memiliki kesadaran untuk belajar sendiri. Anda merasa memberikan tugas prasyarat kepada siswa sebelum mengikuti tes adalah suatu hal yang baik karena dapat memotivasi siswa untuk belajar mandiri. Anda tetapkan bahwa jika mengerjakan tugas prasyarat maka siswa berhak mengikuti tes. Anda berikan “worksheet” berlembar-lembar dalam waktu 2-3 hari. Anda lupa jika siswa anda memiliki 12 mata pelajaran lain yang rata-rata menuntut perhatian yang sama. Di hari tes yang ditentukan ternyata mayoritas siswa menunjukkan “worksheet” yang masih 80% kosong dan bermacam alasanpun dilontarkan mereka, antara lain tidak ada waktu, tidak tahu bagaimana mengerjakannya, tidak bisa. Anda panik, diijinkan tes atau tidak? Jika diijinkan, anda kuatir siswa akan merasa anda guru yang “tidak galak” dan yang pasti tidak konsisten. “Sense” anda terhadap siswa tersebutpun menjadi sedikit kacau, tiba-tiba anda mengalami kesulitan mendeteksi siswa ini bicara yang sesungguhnya atau tidak. Sementara, jika tidak diijinkan, kemungkinan besar anda akan dikomplen oleh siswa, orang tua atau kepala sekolah anda sendiri.

Andai saja anda lebih bijaksana di awal, dalam hal memberikan waktu tenggat pengumpulan tugas, maka kekuatiran / kepanikan di atas mungkin dapat dihindari.

Anda tentunya ingin memiliki hubungan yang baik dengan siswa bukan?

Anda masih muda, anda suka nonton, suka makan, suka traveling. Siswa anda berusia 5 – 10 tahun lebih muda dari anda. Anda sering diajak nonton bareng atau bahkan anda yang memfasilitasi acara nonton bareng dengan siswa. Hampir pasti hubungan anda dengan siswa anda akan terjalin baik sekali. Gunakan hubungan anda dengan sangat baik dan bijaksana, peserta nonton bareng bisa saja meliputi siswa tertentu dengan karakteristik tertentu (dengan kata lain anda hanya pergi dengan grup siswa tertentu), di mata siswa lain bahkan orang tua siswa, anda dapat dianggap bias dalam menjalankan tugas sebagai guru.

Anda adalah guru yang cakap melakukan banyak hal.

Anda cekatan, tepat waktu, punya inovasi. Pemimpin anda melihat potensi itu di dalam diri anda. Anda menjadi “langganan” diangkat oleh pemimpin di sekolah anda untuk menjadi penyelenggara sebuah acara. Mulai dari acara “memperingati peringatan keagamaan”, memimpin “study tour” siswa, ketua panitia acara tahun ajaran baru, dan banyak lagi. Mula-mula anda menyenangi semua penunjukan tersebut. Lambat laun anda merasakan bahwa tangan terbuka anda menjadi sebuah bumerang bagi diri anda. Kadang anda merasa bahwa beban tersebut sudah terlalu banyak dan tidak ada lagi yang namanya tim, tetapi lebih kepada melemparkan wewenang. Amati perilaku pimpinan anda, jika pimpinan anda memang “stand up” untuk anda, rasanya beban anda dapat didiskusikan dan anda boleh berpikir bahwa melakukan ragam pekerjaan itu malah akan makin memperkaya ilmu anda. Tetapi apabila pimpinan anda lebih mengutamakan kalimat bahwa pekerjaan anda adalah pelayanan anda, disertai dengan menasehati anda untuk tidak menjadi manusia perhitungan dan jalani “passion” anda, maka sebaiknya anda lebih hati-hati dan bijaksana, sampaikan hal-hal yang menjadi kendala anda pada atasan dengan sopan, kemukakan dengan jujur segala kelebihan dan kekurangan anda. Jika alasan anda cenderung diabaikan tanpa alasan yang jelas, mungkin sudah waktunya bagi anda untuk berpikir ulang 😉

Anda selalu merasa waktu anda tidaklah cukup untuk mengambil bagian tugas terhadap siswa maupun sekolah.

Anda ingin sekali menghasilkan sebuah kinerja yang baik, anda ingin dihargai dengan “Performance Appraisal” yang baik, selaras antara tugas mendidik siswa, menjadi fasilitator siswa di kelas dan tugas-tugas tambahan dari sekolah. Anda ingin sehari anda lebih dari 24 jam. Tugas dari sekolah demikian membludak, anda diminta secara kontinu membuat “lesson plan”, membuat peta kurikulum (kadang meramu kurikulum nasional dengan kurikulum adaptasi dari luar negri), memberi konseling kepada siswa beserta membuat laporannya, mengikuti berbagai pelatihan sekolah, mengajar 24 jam pelajaran, menjadi wali kelas, meeting yang beraneka jenis. Waahh, anda betul-betul menjadi stres dan kepikiran bagaimana mengatasi itu semua. Percayalah, tanggung jawab terbesar anda adalah siswa anda dan kejujuran kepada diri anda sendiri. Jujur bahwa anda melakukan proses pembelajaran kepada siswa dengan benar dan jujur bahwa anda melakukan semua tugas tersebut dengan benar dan secara kualitas baik, bukan sekedar kuantitas selesai atau tidak. Jika anda jujur pada diri sendiri, appraisal tertinggi bukan datang dari institusi anda tetapi dari diri anda sendiri bahwa anda seorang guru yang sangat hebat. Klise memang, di saat banyak guru yang berlomba mengejar segala tunjangan dan kemudahan.

Anda seorang guru wali kelas.

Di samping tugas anda mengajar bidang studi, anda diberi tanggung jawab lebih sebagai wali kelas. Anda tahu dan sadar jika tanggung jawab sebagai wali kelas tentulah memang lebih besar daripada sebagai guru bidang studi saja. Mudah sekali membuat anda menjadi lebih dekat kepada mereka. Wajarkah? tentu sangat wajar. Namun, hindari terjebak dengan sikap dan ucapan-ucapan “ini anakku, dia anakmu, anak si ….”. Ucapan yang demikian biasanya hanya akan menyebarkan aroma persaingan negatif. Anak anda biasanya akan anda bela agar tidak dihukum, anak dia ya harus diberi pelajaran. Jika pimpinan anda menerapkan sistem pemberian “award” untuk siswa kelas yang paling sedikit menerima konsekuensi, maka bisa berimbas kepada perilaku curang anda (yang mungkin tidak anda sadari) agar siswa di kelas anda tidak mendapatkan hukuman. Namun sebaliknya, jika anda melihat ada rekan anda yang bersikap seperti itu, bolehlah sekali-sekali anda yang mengingatkan. Guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam banyak situasi, bukan hanya sekedar siswa yang diwalikan saja. Apalagi semua anak-anak itu adalah siswa anda juga.

Anda memutuskan ingin menjadi guru dan sudah menjalani profesi ini.

Anda yang memiliki latar belakang sekolah keguruan tentu merasa memang menjadi guru adalah panggilan hidup anda. Bagi anda yang berlatar belakang kejuruan lain, kemungkinan besar awalnya anda pasti tidak berminat menjadi seorang guru, namun keadaanlah yang membawa anda menjadi seorang guru. Anda dihadapkan pada pilihan apakah ini pilihan yang benar, apakah ini sudah merupakan panggilan hidup anda, apakah ini hanya sekedar pekerjaan saja supaya tetap mendapat penghasilan? Silahkan putuskan sendiri. Tetapi sebaiknya janganlah membuat keadaan itu menjadi keterpaksaan dengan menambah perilaku “saya ingin jadi guru karena gampang tapi saya tidak mau mengajar ah, sudah capek mengajar, aduuuhhh capek ketemu anak setiap hari, tidak ngerti-ngerti lagi pelajarannya” 😉 Semoga anda tidak yang model demikian. Jika anda ternyata menemukan diri anda yang seperti itu, mungkin anda lebih cocok menjadi staf sekolah yang mendukung pembelajaran saja.

Anda guru yang sudah sangat berpengalaman.

Sangat berpengalaman di sini bisa didefinisikan berbeda bagi tiap orang. Lama mengajar, jenjang mengajar dan lain lain. Anda hebat telah membuktikan bahwa anda konsisten mengajar lebih dari lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun dan wow, suatu prestasi tersendiri. Namun terkadang anda perlu menyadarkan diri anda bahwa yang berpengalaman adalah anda sendiri. Siswa anda adalah siswa yang baru pertama kali bertemu anda setiap dimulainya tahun ajaran baru (umumnya) dan “zero” pengalaman di kelas anda. Jangan sampai terjebak dengan mengungkapkan “masak gini saja kamu tidak bisa, Nak, ini kan gampang” yang tidak pada tempatnya kepada murid. Jadi bijaksanalah menyikapi arti pengalaman anda.

Anda ingin mendapat penghargaan sebagai guru.

Penghargaan tentu saja bukan berarti hanya hadiah. Anda ataupun saya tentu akan senang sekali jika pelajaran yang disampaikan mendapat penghargaan oleh siswa, dengan cara siswa yang senang belajar, memperhatikan pelajaran dengan baik.

Bentuk penghargaan yang anda inginkan sebagai guru tentu saja beragam. Apakah ada dari anda yang menginginkan salah satu penghargaan itu adalah berbentuk nilai ujian/evaluasi siswa yang bagus? Ini suatu motivasi yang sah-sah saja tentunya. Namun, janganlah demi mengejar nilai ujian yang tinggi membuat anda melakukan pembelajaran hanya demi ujian “teaching for the test only”. Cukup umum melihat guru yang terjebak pada pola seperti itu.

Guru ingin penghargaan berupa gaji yang baik. Tentu juga wajar sekali. Gaji yang baik adalah gaji yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan layak (tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan). Kalau anda ingin berlebihan, anda boleh memilih menjadi CEO perusahaan saja.

Untungnya kita adalah guru-guru di Indonesia yang di kebanyakan sekolah tidak dinilai berdasarkan nilai ujian standarisasi siswa saja seperti di Amerika, tetapi berdasarkan “merit demerit system” (Benarkah? Semoga….. 🙂 . Namun ada sisi menarik di sini, sebagian besar guru-guru kita sudah “dinilai” dari tunjangan sertifikasi… | Betul ini menarik? Apakah ada hubungannya? 😉 Silahkan dilanjutkan sendiri).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *